Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 100.


__ADS_3

''Ya siapa tau orang tuanya sedang kesulitan dengan biayanya Bu, makanya dia menitipkan gadis ini ke yayasan ini,'' kata Mahalini pelan, sedangkan sang gadis kecil sudsh berlari bersama teman teman nya, setelah sang Ibu pengasuh menyuruh salah satu anak asuh nya, untuk mengajak gadis tersebut.


''Entahlah, Ibu juga heran dengan Ibu Ibu sekarang, bikin nya mau, giliran sudah jadi? ech malah tidak mau untuk mengurus nya, anech banget,'' balas nya dengan mengambil dedek bayi yang terbangun karena ngompol.


Sang Ibu pengasuh mengambil sang bayi dari ranjang nya, dan berniat untuk mengganti pampers nya, tapi langsung di cegah oleh Mahalini.


''Biar Lini saja yang gantiin pampers nya Bu, itung itung sambil belajar juga, kan sebentar lagi Lini akan menjadi seorang Ibu juga,'' tukas nya dengan mengambil alih sang baby, dan membaringkan di tempat yang sudah di sediakan, tak jauh dari ranjang nya.


Mahalini tampak sangat telaten dalam mengurus sang bayi, sosok keibuan nya sudah keluar ketika sedang berhadapan dengan sang baby.


''Ini sangat lucu Bu, pipi nya gembul banget, gemoy dech,'' ucap nya dengan mencium pipi gembul sang babygirl.


''Iya, dia termasuk sangat cepat pertumbuhan nya, dari pada yang lain nya,'' sambung nya.


''Kalau bayi seperti ini, masak iya selalu di buang gitu saja sich Bu sama orang tuanya,'' tanya Mahalini penasaran, karena di dalam yayasan ini terdapat beberapa bayi yang baru berusia 2 bulan, 3,4 dan juga 5 bulan.


''Tidak semua di tarok begitu saja kok Non, ada juga yang di titipkan? karena Ibu nya mau bekerja, karena tidak punya suami atau suaminya kecela'an dan meninggal, jadi dia menitipkan di sini, dengan mengirimkan uang tiap bulan nya,'' jelas nya dengan duduk di dekat Mahalini.


''Lini kira semuanya di tarok begitu saja di depan pintu Bu, tapi bersyukur sekali anaknya ketika dia tidak benar-benar di buang oleh sang Ibu,''


Ibu pengasuh hanya mengangguk pelan seraya mengajak Mahalini ke meja makan, karena sudah di panggil oleh Bunda Kinanti untuk makan siang bersama.


''Mari Non, Bunda suddh memanggil kita,'' ajak nya dengan mengambil alih sang bayi dari gendongan Mahalini.

__ADS_1


''Kok Ibu bisa tau gitu, kalau Bunda Kinanti memanggil untuk makan siang sich,'' tanya nya penasaran, karena tidak ada anak anak yang memanggil mereka langsung.


''Tadi kan bel nya sudah berbunyi, jadi waktu nya kita makan siang bersama,'' jawab nya meletakkan sang baby ke dalam tempat tidur nya lagi, karena sang baby sudsh kembali tidur, setelah di ganti popok oleh Mahalini.


Setelah meletakkan sang baby, Mahalini dan juga Ibu pengasuh bergegas keluar dari kamar bayi, di mana semua bayi menjadi satu, itu semua di lakukan? agar ketika menjaga nya bisa lebih enak dan juga tidak berlari larian kesana dan kemari, menurut Bunda Kinanti seperti itu.


Sesampainya di ruang makan, Mahalini takjub melihat semua adek adek yang tinggal di dalam yayasan tengah berkumpul, mengantri giliran untuk mengambil makanan nya, agar tidak berebut dengan sesama teman teman nya.


''Wah, asik banget ya? Lini boleh ikutan nggak,'' cetus nya dengan sedikit kencang.


Bunda Kinanti, Mama Clara dan juga Mami Amora terkejut mendengar ucapan sang putri, yang mau ikut mengantri mengambil makanan, padahal makanan buat mereka sekeluarga sudah di hidangkan di atas meja.


''Sayang, ini sudah di siapkan buat kita semuanya,'' kata Mama Clara, yang mengerutkan keningnya karena perkata'an sang menantu.


''Lini cuma ingin tau rasanya mengantri makanan kok Ma, selama ini Lini selalu gampang makan nya, tinggal duduk dan makan dech,'' celoteh nya, yang langsung di sambut kekehan kecil oleh ke 4 wanita di samping nya.


Mahalini yang begitu penasaran dengan antrian, segera melangkahkan kakinya menuju sudut yang tadi sudah di tunjuk sang pengasuh, diawngambil sesuai dengan arahan sang pengasuh.


Kini Mahalini sudah menunggu giliran untuk mengambil makanan, yang memang ada seseorang yang membagi sama rata dengan yang lain.


Ada tempe goreng, ayam kecap dan juga teh dingin yang tersedia di ruang makan hari ini.


Sedangkan tadi makanan yang di bawa Mahalini, untuk menu makan malam.

__ADS_1


Mahalini nampak bahagia dengan menu makanan siang ini, meski Mahalini mendapatkan makanan nya sangat lama, karena harus mengantri bersama adek adek yang lain nya juga.


''Kak Lini kok ngikutin kami sich, bukan nya di atas meja sana sudah terhidang makanan yang sama juga dengan ini kak?'' kata sang adek laki-laki yang sejak tadi memandangi Mahalini, karena dia juga ikutan antri.


''Kakak hanya ingin merasakan seperti kalian juga, mengantri hanya untuk makan siang saja, apa sarapan pagi dan makan malam juga akan mengantri seperti ini,'' tanya Mahalini yang kini sudah bergabung du adek adek di meja makan yang sangat panjang.


''Ya memang seperti itu terus kak, kalau tidak seperti itu, mereka semua berebut dan akan mengambil banyak makanan, pada akhirnya adek adek yang lain tidak kebagian makanan, karena sudah di ambil yang lain nya,'' jawab nya dengan secara detail.


Mahalini mengangguk pelan, seraya bergumam pelan. ''Pantas saja, semua makanan di tata rapi agar semua nya bisa merasakan semua nya,''


Mahalini mengulas senyuman nya, seraya menyuapkan makanan nya ke dalam mulut dengan tangan nya langsung.


Betapa beruntung nya dia selama ini, meski dulunya hidup nya tidak terlalu nyaman, tapi Mahalini merasa sangat bersyukur, karena masih masih bisa makan enak meski hanya sesekali.


Sedangkan sekarang, Mahalini sudah memiliki semuanya yang dulu pernah ia minta sama Allah SWT, karena do'a yang ikhlas dan juga sabar akan di ijabah oleh Allah SWT.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2