
Sore harinya, Riki sengaja pulang lebih dulu dari bos nya, dia sengaja menggoda sang bos dengan mengatakan? di suruh menjemput Mahalini di kampus nya, padahal Mahalini sama sekali tidak pernah meminta Riki untuk menjemput nya di kampus nya, seharian itu Mahalini hanya bertemu dengan Riki di ruangan ketika mereka semua sedang rapat tadi.
Devano menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar, ketika melihat meja sahabat nya sudah kosong, dan berarti yang di katakan oleh Riki tadi adalah benar, pikir Devano.
Devano sempat merasa ingin marah, namun mau marah sama siapa? di kantor nya saat ini tidak ada Riki dan juga Mahalini yang sudah berbuat ulah. Akhirnya Devano memutuskan untuk pulang ke apartemen, karena sudah tidak ada mood lagi untuk mengerjakan semua pekerja'an yang belum selesai itu.
Di kampus, Mahalini sedang berdiri di pinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang melewati rumah nya, tapi tak lama kemudian ada sebuah mobil yang merapat, mobil itu pun langsung menurunkan kaca mobilnya dan menampakkan laki-laki tampan di dalam nya, ya meski lebih tampan suaminya di apartemen, pikir nya.
''Lini, ayo masuk?'' ujar nya dengan melongok kan kepalanya keluar jendela.
''Pak Riki,'' jawab Mahalini mengernyit kan alis nya.
''Ayo masuk, aku di suruh suami kamu buat jemput kamu di sini,'' bohong Riki dengan mengatakan di suruh Devano untuk menjemput Mahalini ke kampus nya.
''Tapi Lini masih mau ke rumah dulu Pak? mau ambil motor di sana,'' balas Mahalini yang tak enak dengan ajakan Riki.
'Tadi aku kan sudah bilang kalau mau mampir ke rumah, buat ambil motor di sana,' gumam Mahalini di dalam hatinya.
''Tak apa? aku antar sampai ke rumah kamu kok, tadi Bos juga sudah bilang? kalau kamu mau mampir ke rumah kamu,'' bohong nya lagi. 'Ternyata berbohong lebih susah ya, tapi ya nikmati sajalah? kapan lagi mau manfaatin nama Bos di depan istri nya, cantik sich? tapi kok ya Bos go*blok banget ya,' batin Riki yang masih terus menatap wajah Mahalini yang sangat cantik dengan tanpa make up di wajah nya.
''Ayo naiklah,'' ajak Riki lagi, kali ini Mahalini malah menganggukkan kepalanya pelan, tanpa ia sadari dia begitu percaya dengan semua ucapan Riki barusan.
Mahalini membuka pintu depan, tepatnya di samping Riki yang memegang setir bulat nya, sesekali Riki mencuri pandang ke arah Mahalini yang fokus melihat jalanan di depan nya.
''Kenapa kamu mau ambil motor kamu, kan kamu satu kantor dengan Bos, dan juga tinggal satu atap juga dengan dia,'' tukas nya dengan sedikit menyelidik.
''Sebenarnya tidak apa apa sich Pak Riki, tapi aku lebih gampang lagi kalau mau pergi ke kampus, aku tak mungkin nyusahin Bos kan di kantor. Di tambah lagi dengan pekerja'an nya yang lumayan banyak, dan menyita waktu juga,'' jawab Mahalini mencari alasan yang masuk akal, dia tidak mungkin membongkar identitas nya dengan mengatakan kalau dirinya hanya menikah kontrak dengan sang Tuan.
''Kamu memang wanita mandiri, dan maunya sendiri sendiri tanpa mau merepotkan orang orang di sekitar kamu, kalau aku yang jadi suami kamu? mau sesibuk apapun di kantor, aku pasti akan menyempatkan untuk mengantar istri ku ke kampus nya,'' Ujar Riki panjang lebar.
''Wanita kan, memang selalu minta di manja seperti itu, kalau nggak di manja sedikit saja, si wanita bakalan marah marah nggak jelas?!'' lanjut nya dengan terus menatap jalanan. Riki juga tidak akan berani melirik kepada wanita sang Tuan, bisa bisa dia di kirim ke perkampungan yang jarang di lewati oleh orang orang, pikir Riki.
Mahalini tertawa mendengar penuturan dari asisten suaminya, ''Tidak semua wanita bersikap seperti itu Pak, wanita yang bersikap seperti itu hanya di saat dia sedang hamil atau sedang meminta waktu untuk bermanja sebentar. Kalau setiap hari hanya bermanja manja terus, suaminya nggak akan bisa bekerja? memang nya istri dan anak nya mau di kasih makan batu??'' celetuk Mahalini yang di benarkan oleh Riki.
''Iya sich, lagian si laki lakinya bodoh banget, gampang di rayu dan tidak memikirkan makanan apa buat esok nya. Batu, batu juga lebih efisien tak usah beli tinggal ngambil di jalanan saja,'' tukas nya dengan sedikit lawakan nya.
__ADS_1
''Hahaha, Pak Riki bisa saja? bisa bisa wanita nya kabur begitu saja, kalau di beri makan batu,'' sahut Mahalini dengan kekehan nya.
Riki juga ikutan tertawa juga, mengingat Mahalini orang yang begitu asik buat di ajak mengobrol, hanya laki-laki yang tidak tau di untung saja, mengabaikan kehadiran Mahalini di dalam kehidupan nya.
Tanpa sadar, mobil Riki sudah memasuki halaman rumah Mahalini yang sangat minimalis itu.
''Sudah sampai,'' kata Riki yang tak terima, kalau Mahalini turun dari mobil nya.
''Terima kasih Pak Riki, ayo mampir dulu sebentar? akan aku buatkan minuman,'' ajak Mahalini yang merasa tak enak hati tanpa mengajak Riki masuk ke dalam rumah nya.
''Tidak usah Lini, mungkin lain kali saja aku akan mampir? tapi di apartemen saja ya, takutnya si singa jantan ngamuk ngamuk,'' seru Riki dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya.
''Baiklah Pak, terima kasih sudah mau mengantat Lini sampai rumah,'' ucap Mahalini dengan senyuman manis di bibir nya, membuat semua orang yang melihat senyuman manis Mahalini meleleh karena saking manis nya. Bahkan mungkin kalau bikin kopi tidak harus pakek gula kali yaπ€π€.
''Aku pergi dulu,'' pamit Riki dengan menutup kaca mobil di sebelah nya.
''Hati hati Pak Riki,'' seru Mahalini ketika mobil Riki sudah keluar dari halaman rumah nya. Mahalini bergegas masuk ke dalam rumah nya untuk segera mengeluarkan motor kesayangan nya, yang selama ini selalu menemani nya ke kantor dan juga ke kampus nya.
Mahalini kembali lagi teringat dengan ucapan asisten suaminya, yang mengatakan kalau dia di suruh sang suami untuk menjemput di kampus dan mengantarkan pulang ke rumah nya.
''Neng Lini pulang?'' tanya seorang wanita paruh baya yang baru keluar dari kamar nya.
''Iya Bi, Lini hanya mau ambil motor Lini saja, setelah itu mau langsung balik ke apartemen Mas Vano,'' sahut Mahalini yang menyebut suaminya dengan sebutan Mas, biasanya dia kan selalu memanggil Tuan kalau sedang berdua.
''Memang nya neng Lini tidak mau makan dulu di sini? biar Bibi masakin sekarang,''
''Tidak usah Bi, Lini juga harus memasak buat makan malam Mas Vano di apartemen, mungkin beliau sudah berada di apartemen sekarang,'' lagi lagi Mahalini menolak dengan halus semua yang di ucapkan oleh sang Bibi, yang selama beberapa bulan ini sudah menjaga dirinya di rumah yang kecil namun sangat nyaman di dalam nya.
''Ya sudah kalau tidak mau, neng Lini hati hati di jalan ya,'' kata Bi Ijah memperingatkan anak majikan nya.
''Iya Bi, kalau githu Lini pamit ya, assalamu'alaikum,'' ucap Lini dengan menaiki motor matic nya.
''Waalaikum salam,'' jawab Bi Ijah dengan melambaikan tangan ke arah Mahalini, ketika sudah pergi dari rumah nya. Rumah kecil itu saat ini di tempati oleh Bi Ijah sendirian. Karena Mahalini harus ikut sang suami untuk tinggal di apartemen nya.
Motor matic Mahalini membelah jalanan kota Jakarta, dengan perasa'an yang tak menentu, Mahalini merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya di belakang nya, Mahalini melihat ke belakang? tak ada siapapun di sana, hanya beberapa mobil yang memang berlalu lalang saja. Iyalah berlalu lalang, kan memang jalan umum dan juga masih sangat sore ketika pukul masih menunjukkan pukul 6 sore di jam yang melingkar di tangan Mahalini.
__ADS_1
Mahalini menambah laju kendara'an nya ketika ada kesempatan, namun siapa sangka kalau mobil yang tengah mengikuti Mahalini dari belakang sudah berpindah alur, Devano sengaja mengikuti Mahalini dari belakang setelah dia mengetahui Mahalini sudah mengendarai motor nya.
Yang mengikuti Mahalini tadi adalah Devano, karena Mahalini lama pulang nya.
Devano memarkirkan mobil nya dan segera berlari ke apartemen nya yang ada di lantai 20. Devano bersikap seperti biasa biasa saja yang tengah menunggu kedatangan Mahalini, yang sebentar lagi akan membuka pintu apartemen nya.
Devano memberi tahu Mahalini pintu untuk keluar masuk apartemen nya, kalau sewaktu waktu dirinya pulang sendiri dan Devano sedang di perusaha'an nya juga.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini yang sudah membuka pintu apartemen, dan melihat Devano sudah melipat kedua tangan di depan dada nya.
''Kemana saja, kok baru pulang!'' tukasnya dengan nada sedikit lebih tinggi.
''Mbok ya di jawab dulu salam ku toh, baru nanya,'' jawab Mahalini yang merasa tidak bersalah kepada suaminya.
''Waalaikum salam, puas!'' Pekik nya dengan menatap tajam ke arah Mahalini yang masih berdiri di depan nya.
''Kok marah marah sich? memang nya Lini salah apa coba,'' Mahalini sebisa mungkin bersikap seperti biasanya, ketika sedang berkata dengan teman teman nya dan juga kepada Riki.
''Kamu dengan enteng nya bilang aku marah marah nggak jelas githu maksud kamu,'' tanya Devano yang sudah mulai kesal dengan jawaban Mahalini.
''Kemana saja baru pulang sekarang, dan kenapa kamu tadi minta di jemput sama Riki waktu di kampus, mau kamu apa ha!!'' teriak Devano yang sudah tidak bisa lagi menahan amarah nya.
''Kok malah Lini yang salah sich, bukan nya Tuan yang sengaja menyuruh Pak Riki untuk menjemput aku di kampus? dan mengantarkan qku ke rumah buat ngambil motor?'' jawab Mahalini yang semakin bingung dengan apa yang ia dengar. Di sisi lain Riki mengatakan kalau dia di suruh Devano menjemput nya, dan di sisi lain? Devano tidak mengakui kalau dirinya sudah menyuruh asisten nya tadi untuk menjemput dan mengantarkan ke rumah nya.
Puyeng kan jadinya, dasar Devano saja yang tidak menyadari, kalau sahabat nya lah yang sedang bermain main dengan nya, Riki juga githu? berani berani nya dia mengganggu istri Bos besar nya, atau Riki sudah bosan tinggal di kota besar seperti Kota Jakarta iniπ€π€.
.
.
.
Bersambung
Terima kasih yang sudah mampir dan selatan dukung karya receh Almahyra, jangan lupa like, komen, dan favorit kan ya kak, semoga menghibur???
__ADS_1
Terima kasihππππππππ