
...Keluarga besar Al-mahyra mengucapkan, Minal aidzin walfaidzin....
^^^Mohon maaf lahir dan bathin.^^^
^^^untuk para readers yang selalu setia mendukung karya karya receh ku selama ini 🙏💕🙏💕🙏💕.^^^
...****************...
Happy Reading.
Di rumah sakit.
Almira sungguh sakit saat ini, dan dia juga selalu memanggil sang Papa. ''Sudahlah Mira, kamu tidak usah panggil panggil Papa kamu itu lagi dech, Papa kamu tidak akan pulang untuk saat ini, dan kamu juga harus ingat! kemarin kamu juga pernah menyuruh Mama untuk berbohong kepada Papa kamu juga kan?,'' ujar Mama Agnes kesal dengan puteri nya.
''Tapi Mira kangen sama Papa? Ma, Mira ingin bertemu dengan Papa,'' jawab Almira dengan nada lemah nya.
Mama Agnes tak lagi menanggapi ucapan Almira yang membuat dirinya semakin pusing, karena suaminya juga sudah mengatakan kalau dirinya tidak akan pulang, hanya dengan alasan Almira sakit.
Mama Agnes melangkah pergi ke sofa yang ada di ruan rawat Almira, Almira terkena DBD dan juga lambung, karena hidup dia yang tidak sehat, dan juga sering telat makan, jadilah dia seperti itu saat ini.
Mama Agnes memejamkan matanya, untuk menghilangkan rasa ngantuk nya yang sudah menyerang sejak tadi.
Almira yang melihat sang Mama molor berdecak kesal, karena dia tidak bisa ngapa ngapain lagi, karena tangan nya terpasang selang infus, dan kepalanya juga terasa sangat pusing ketika mencoba bangun dari tidur nya.
''Mama, Mira mau ke kamar mandi?'' Ucap Almira kepada Mama Agnes, namun tidak ada pergerakan sama sekali sama Mama nya.
''Terus, kalau Mama nggak bangun? Mira mau minta bantuan dari siapa dong?'' gumam nya pelan sembari tangan nya memencet tombol yang ada atas kepalanya.
Dengan sangat terpaksa Almira meminta kepada sang suster, siapa lagi yang akan ia pinta tolong lagi, kalau bukan perawat di rumah sakit ini.
''Ada apa Nona,'' tanya sang suster ketika sudah membuka pintu ruangannya.
''Suster, aku minta tolong antarkan aku ke kamar mandi,'' ucap Almira dengan sedikit rasa malu yang tiba-tiba menyerang nya.
''Baiklah, mari Nona,'' balas sang suster dengan sangat ramah.
Almira turun dari brankar dengan di bantu sang suster. ''Apa Nona bisa sendiri, atau masih saya bantu,'' tanya sang suster lagi memastikan kalau pasien nya dalam keada'an baik baik saja.
''Aku bisa sendiri, suster tunggu di luar saja,'' jawab nya dengan duduk di atas closed, Almira menatap ke sekeliling nya, dan dia memejamkan matanya sejenak, mengingat kejadian masa lalu yang di mana dia juga sedang sakit, dan di samping nya selalu ada Mahalini yang menjaga nya, dan juga selalu membantu dia kalau mau ke kamar mandi, sekarang momen itu hanya tinggal kenangan saja, tak ada Mahalini lagi yang mauenjaga nya, mau membantunya ke kamar mandi.
Sedangkan sang Mama sudah berlarian di alam mimpinya, tanpa mempedulikan puteri nya yang sedang sakit.
Almira menarik nafas panjang nya, dan menghembuskan dengan sangat perlahan, mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyelinap di dalam dada nya.
Almira memutat knop pintu kamar mandi, dan di sana masih ada suster yang berdiri menunggu Almira keluar dari kamar mandi.
''Sudah selesai Nona?'' tanya nya sopan.
''Sudah suster, aku ingin berbaring saja,'' jawab Almira dengan melangkah perlahan seraya memegang lengan suster nya, karena rasa pusing itu kembali datang menghampiri nya.
Setelah sang suster membantu Almira berbaring, suster tersebut masih bertanya lagi, takutnya kalau nanti di tinggal dan masih ada yang Almira inginkan, susi utu akan kembali di panggil ke ruangan nya.
__ADS_1
''Ada lagi Nona,'' tanya nya lagi.
''Tidak suster, aku hanya ingin tidur sekarang,'' jawab nya dan menarik selimut ke atas, sehingga menutupi sebagian dada nya.
''Kalau begitu saya permisi Nona,'' pamit nya dengan setengah membungkukkan badan nya.
''Iya terima kasih suster,'' jawab Almira pelan, selama ini Almira tidak pernah mengucapkan kata terima kasih kepada semua orang, namun hati ini sangat berbeda sekali, mungkin ini adalah awal baik buat Almira berubah baik.
Setelah kepergian sang suster, Almira memejamkan matanya untuk mengusir rasa pusing nya, ''Mungkin dengan memejamkan mata sebentar, rasa pusing ini akan hilang?'' gumam nya seraya menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut rumah sakit.
...****************...
📩 -Aku sudah ada di depan gerbang,'' isi chat dari Devano kepada Mahalini.
📤 -Sebentar lagi, Lini akan ke sana?'' balasnya dengan singkat.
Devano tidak lagi mengirimi Mahalini chat, karena menurut Devano itu semua sudah cukup.
30 menit Devano menungy di dalam mobil dengan gelisah, karena Mahalini masih belum keluar juga dari gerbang nya, Debay melongo kan kepalanya keluar dari jendela mobil nya.
Nampak di sana Mahalini sedang berjalan bersama dengan seorang wanita dan beberapa cowok di samping nya, senyuman merekah di kedua bibir Mahalini, ketika bersama sama dengan semua teman teman kampus nya.
Pan dangan seperti itu membuat hati Devano memanas, karena melihat sang istri sedang bersenda girang bersama teman teman nya.
Tiba di gerbang kampus Mahalini berpamitan kepada semua teman teman nya, dan berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
''Maaf, sudah lama nunggu nya ya Mas,'' ucap nya dengan sangat lembut, seraya mengambil tangan suaminya dan menciumnya.
''Mas Vano kenapa?'' tanya Mahalini yang melihat sikap suaminya yang sudah berubah dingin.
''Aku nggak apa apa kok, cuma lelah saja nunggu kamu di sini sendirian,'' sahutnya dengan nada yang sama.
Mahalini menghela nafas menyikapi perubahan suaminya, tadi pagi dia masih bersikap jangan, entah kenapa sore ini wajah Devano terlalu dingin dan juga sedang menyimpan kekesalan juga.
Mahalini memandangi jalanan, dia tidak mau kalau suaminya kembali marah, Devano hanya melirik ke arah Mahalini yang kini sedang bersandar di pintu mobil.
'Entah kenapa aku tidak suka, kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, meskipun itu adalah teman sekampus nya.' lirih nya.
''Kita berhenti di depan sebentar Mas,'' ucap Mahalini ketika melihat mini market di depan tak jauh lagi.
Devano melirik seraya bertanya, ''Mau beli apa di mini market,''
''Kemarin bahan bahan kue di apartemen sudah habis, jadi Lini akan membeli lagi, lagipula persedaiu camilan di sana juga sudah habis, iya kan?'' jawab nya dengan memandang wajah suami tampan nya.
''Kamu tidak usah terlalu capek, lebih baik kamu beli yang sudah jadi saja,'' ujar Devano yang mau melihat istri tercintanya terlalu kelelahan.
''Cuma bikin ini saja tidak capek kok, lagian lebih sehat bikin kue sendiri, dari pada harus beli di toko toko,'' balas nya dengan membuka pintu mobil, namun Devano mencegah sang istri.
''Kenapa Mas, cuma sebentar kok?'' ucapnya dengan menatap Devano.
''Pakai ini,'' Devano memberikan black card kepada Mahalini.
__ADS_1
''Lini masih ada uang juga kok, jadi Mas Vano simpan saja uang nya,'' Mahalini mendorong tangan suaminya agar dia memasukkan kembali black card ke dalam dompet nya.
''Aku tidak mau dengan penolakan,'' tukasnya dengan sedikit ketus, tak ingin menambah kemarahan suaminya, Mahalini menerima kartu tersebut dengan memaksakan senyumannya.
Mahalini beranjak keluar dari mobil dengan menggerutu, ''Dasar pemaksa,'' umpat nya dengan hela'an nafas yang sangat tidak mengenakkan sama sekali.
Mahalini membuka pintu mini market dengan sambutan ramah dari pegawai di sana.
''Assalamu'alaikum kak,'' ucapnya dengan menangkup kedua tangan di depan dadanya.
''Waalaikum salam,'' jawab Mahalini tak kalah sopan seraya mengulas senyum di bibir ranum nya.
Mengambil keranjang dan berjalan menyusuri lorong mencari bahan kue yang tersedia di sana, terigu, mentega, pengembang dan juga teman teman nya yang lain, seperti baking soda, baking powder, pengempuk, mauripan dan juga yang wajib ia beli adalah vanili, biar jue kue bikinan nya harum.
Mahalini tidak pernah jajan sembarangan, hanya sesekali saja Mahalini membeli snack di mini market.
Selesai semuanya Mahalini berjalan menuju kasir di mana di sana sudah mulai mengantri. ''Maaf kak, kakak membeli perlengkapan kue? memang selalu bikin kue,'' tanya salah seorang yang juga sama-sama mengantri.
''Saya selalu bikin kue kalau di rumah, hanya untuk camilan malam saja,'' pungkas nya tak lupa juga Mahalini tersenyum ke arah nya.
''Kalau kakak nya bisa bikin kue, bagaimana kalau aku pesan sama kakak saja kue kue itu,'' kata seorang wanita yang juga mengantri.
''Tapi Bu, saya tidak terlalu pintar dalam hal membuat kue, lagi pula kue bikinan saya cuma di makan sendiri,'' balasnya yang tak ingin menambah pekerja'an nya, apalagi sekarang? suaminya sedang di mode dingin.
''Kakak pikirkan saja dulu, kalau kakak nya minat? nanti tubuh saya, dan ini kartu nama saya, mau kue apa saja terserah yang penting enak,'' jawab sang wanita itu dengan sangat antusias.
Mahalini mengambil kartu nama wanita tadi dan menyimpan nya di dalam tas selempang nya.
Sesudah membayar belanja'an nya Mahalini berjalan menuju mobil suaminya dengan raut wajah yang tak bisa di tebak, ada kebahagiaan di sana, ada juga kegelisahan membuat Mahalini tak semangat masuk ke dalam mobil suaminya.
''Kamu kenapa, kok lesu githu,'' tanya Devano ketika melihat wajah istri nya.
''Aku nggak apa apa kok Mas, hanya saja sudah lapar lagi? padahal kan tadi siang sudsh banyak makan nya, kenapa masih sore begini sudah merasa lapar ya,'' jawab nya dengan memegang perut datanya.
''Lapar ya makan, jangan di tunda lagi buat makan, atau kamu mau mengalami sakit maag seperti orang lainnya,'' sambung Devano dengan mengendarai mobil nya menuju restoran favorit nya.
''Tapi Kini mau makan Mie ayam saja,'' rengek Mahalini ketika Devano sudah membawa ke restoran mahal, tempat biasa dia nongkrong bersama rekan kerja nya dan juga klien nya.
''Sudah, jangan ngebantah,'' ucap Devano menatap wajah Mahalini, Mahalini mencebikkan bibir nya karena kesal dengan ucapan suaminya yang selalu tidak mau menuruti perminta'an istri nya.
Devano sangat gemas dengan penampilan Mahalini yang seperti ini, dia mencubit pelan pipi chubby istri yang menurut dia sangat imut dan juga lucu ketika Mahalini sedang ngambek atau marah kepada nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕