
Mahalini memanglah selalu bisa membawa kecerian kepada semua orang, sudah banyak orang yang salah dalam menilai sifat Mahalini yang selalu merendah di depan semua teman maupun di depan rekan Devano suaminya. Tapi tak bisa di pungkiri dengan sifat rendah hati nyalah yang membuat dia selalu di sayangi orang orang di sekeliling nya.
''Sekarang kita mau kemana lagi,'' tanya Deavano setelah pulang dari sebuah restorant mewah, bertemu dengan klien nya, yang awalnya meeting nya akan dibatalkan tapi sang klien tidak mau, karena besok dia harus lawatan ke negara sebelah, untuk membahas krha sama dengan prusaha'an sebelah.
Dan akhirnya Deano mengiyakan saja perminta'an klien nya tersebut, di tambah lagi dia sedang berdua dengan sang istri yang selalu mengunyah apapun yang ada di depan nya.
''Kenapa Mas menatapku seperti itu, apa aku aneh ya. Dan lagi tadi di depan klien nya, ada seorang wanita yang selalu menatap Mas Vano begitu intens, bikin kesal saja dech,'' Adu Mahalini kepada suminya.
''Kok aku tidak tau soal itu semua,'' tanya Devano pelan, seraya menoleh ke arah istrinya yang tengah sibuk dengan kue nya.
''Masak sich kamu nggak tau, padahal dia sangat cantik lho, nggak kayak aku yang sudah gendut banget,'' balas nya yang heran dengan suami nya, ''Memang nya kamu merhaiin apa sich tadi, sampai sampai kamu nggak tau githu,'' tanya Mahalini.
''Aku merhatiin bidadariku yang sangat cantik di banding asisten yang tadi, biarpun dia gendut, tapi menyukai dia,'' sahut nya dengan kerlingan mata nakal nya.
''Ach sudahlah, ngomong sama kamu hanya bikin aku tambah lapar saja, lebih baik kita mampir ke mini market di depan saja, aku mau membeli sesuatu dulu di sana,'' tukas nya dengan mengelap tangan nya dengan tissu.
Devano heran dengan istrinya yang meminta dia untuk berhenti di mini market lagi, karena dia mengingat makanan yang di makan istrinya baru saja habis, tapi dia sudah mau membeli lagi di mini market.
'Ngemil mulu kerja'an nya,' bathin Devano menatap wajah sang istri yang semakin cantik dengan penampilan nya saat ini, meski dia sudah memakai hijab, tidak semerta merta Devano melirik wanita lain. Karena Devano lah yang meminta Mahalini untuk memakai hijab, mengingat istrinya yang begitu cantik dan juga seksi, membuat Devano mengubah pandangan nya, walaupun Mahalini sudah memakai hijab, masih banyak laki laki yang kagum dengan kecantikan nya, bukan lagi tertarik dengan Mahalini melainkan kagum dengan wanita secantik Mahalini.
Mhalini bejalan di lorong mini market dengan terus mengambil barang barang yag di rasa ia perlu.
''Kenapa kamu mengambil pembalut sich sayang, bukan nya kamu sedang tidak datang bulan,'' tanya Devano heran.
''Sudah jangan berisik, Mas lihat saja dulu, nanti Lini bilang dech,'' jawab nya dengan memutus pertanya'an pertanya'an yang akan di lontarkan kepada Mahalini lagi nantinya.
''Sekarang Mas Vano bayar saja dech semua belanja'an ini,'' perintah Mahalini.
''Kan kamu punya kartu yag aku kasih itu sayang,'' ucap Devano dengan menatap wajah istrinya.
''Aku lupa nggak bawa kartunya, hanya bawa uang cash saja, itupun akan kurang dengan belanja'an ini semua nya,'' balas nya dengan pelan.
Ya Mahalini tidak pernah membawa kartu limited edition pemberian suaminya.
''Totalnya berapa mbak,'' tanya Mahalini dengan ramah.
''Total semuanya 2.675.000 Nona, mau di bayar cash apa pakek kartu,'' tanya nya tak kalah ramah dari Mahalini.
''Kartu saja mbak,'' jawab nyadengan memberikan kartu pemberian suaminya barusan.
__ADS_1
Setelah membayar belanja'an nya, Mahalini mengajak suaminya menuju ke Yayasan yang biasa ia datangi.
''Kita mampir ke yayasan kasih Bunda dulu Mas, kebetulan mobil kita lewat sana kan,''
''Baiklah,'' sekarang Devano mengerti dengan belanja'an istrinya di mini market tadi, semuanya untuk anak anak yayasan kasih Bunda.
''Kok aku tidak paham dengan pemikiran istriku, aku juga tidak pernah terpikirkan untuk datang ke sana juga, dulu aku hanya akan menitipka semua uang yang aku sumbangkan untuk yayasan kepada Riki asisten ku saja, tapi setelah aku bersama dengan Mahalini, aku tau arti dalam berbagi,''
''Mas, apa yang sedang kamu pikirkan sich, kok diam githuu,''
''Tidak apa kok sayang, Mas hanya lupa dengan hari ini saja,'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir tebal nya.
''Nggak apa apa kok, kan sudah aku yang akan selalu mengingatkan kamu, di tambah lagi nanti, bakalan bertambah dua orang lagi yang akan mengingatkan Mas Vano,'' jawab nya dengan menepuk punggung tangan suami nya.
''Terima kasih sayang,'' Devano mengecup tangan Mahalini dengan sangat lembut, lalu Devano beralih mengelus perut sang istri yang besar dari biasa nya.
''Ayo kita turun sekarang, tuh kita sudah di tunggu adek adek di depan,'' ajak Mahalini.
Adek adek yang ada di Yayasan kasih Bunda segera menghambur ke mobil Mahalini, ada juga yang berlari untuk memanggil sang Bunda ke dalam.
''Assalamu'alaikum adek adek, bagaimana kabar nya hari ini,'' tanya nya dengan membungkukkan tubuh nya, agar terlihat sama dengan tinggi adek adek yang sudah datang menghampiri nya.
''Waalaikum salam, Alhamdulillah? kami baik baik saja kak,'' jawab nya hampir bersama'an.
Devano menghampiri gadis tersebut, dan membungkuk di depan nya, ''Kak Lini sedang hamil sayang? jadi perut nya besar seperti ini,'' jawab nya dengan lembut.
''Hamil itu apa paman? kok kakak kakak di sini tidak ada yang hamil sich,'' tanya nya lagi dengan polos nya.
Devano yang sudah tidak memiliki jawaban, lalu memandang ke arah sang istri yang sedang menahan tawa nya.
''Hamil itu adalah, ketika dia orang sudah berikrar akan hidup sejati dengan nya, makan dia akan hamil? sama seperti kak Lini sekarang,'' jawab nya ngasal.
Entah apa yang akan mereka pikirkan ketika mendengar jawaban Mahalini barusan.
''Sudah kak, jangan di ladeni lagi pertanya'an nya, sekarang lebih baik kakak masuk saja ke dalam,'' ajak seorang anak laki-laki yang usianya sudah beranjak remaja.
''Kenapa tidak masuk Nak Lini?'' tiba tiba suara datang dari arah belakang, di mana di sana sudah berdiri Ibu pengasuh Yayasan.
''Iya Bu, tadi ini nich banyak tanya sama kak Lini, jadi masih terus di luar dech,'' sahut yang lain dengan menunjuk gadis kecil tadi yang sudah banyak bertanya.
__ADS_1
''Ya sudah, ayo masuk dulu, takut nya malah kecape'an lagi berdiri di sini terus,'' ajak sang Ibu pengurus dengan lembut.
''Baik Bu, tapi kami keluarkan barang barang dulu dari mobil,'' kata Mahalini menunjuk mobil nya.
''Kamu masuk saja sayang, nanti biar Mas yang akan membawa nya ke dalam,'' sambung Devano menganggukkan kepala nya mantap.
''Adek adek, mau kan bantuin kak Vano bawa masuk barang barang di dalam mobil?'' ujar Mahalini kepada adek adek yang masih berdiri di samping nya.
''Siap??'' jawab nya girang.
Mahalini menggeleng pelan dengan kekehan di bibir nya, melihat suaminya hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
''Sudah, Mas Vano tidak usah khawatir lagi, sekarang anak buah kamu sudah siap membantu barang barang nya ke dalam,'' kata Mahalini tersenyum.
''Iya, ternyata di sini aku punya anak buah ya,'' jawab nya tertawa.
''Ayo Bos, cepat bawa ke dalam, saya sudah tidak sabar lagi mau ngemil?!'' seru anak anak laki-laki yang gemoy.
Semua nya tertawa mendengar ucapan nya, dan dengan semangat 45 mereka bahu membahu membawa barang barang dalam sekejap mata, dan sekarang sudah bersih dari mobil yang mereka kendarai.
Di ruang tamu.
Mahalini tengah berbincang bincang dengan Ibu Yayasan. Dan tak lama kemudian Devano juga sudah duduk di samping nya dengan langsung menyeruput teh nya yang sudah dingin.
''Bagaimana Mas,'' tanya Mahalini ketika melihat suaminya yang terlihat sangat lesu.
''Mas capek banget sayang, ternyata mengasuh anak anak sebanyak ini tidak segampang yang sering aku bayangkan ya, capek? bener bener capek dan menguras tenaga juga,'' jawab nya dengan panjang lebar.
Ya tadi, setelah memasukkan semua barang barang ke dalam, Devano menyempatkan untuk bermain dengan anak anak kecil yang tengah bermain di lapangan, tepat nya di samping bangunan Yayasan.
''Memang kamu saja yang jarang olahraga Mas, makanya cuma main sebentar saja sudah ngos ngosan seperti itu,'' sambungnya dwngan kekehan kecil, Devano hanya mendengus kesal melihat istri nya tidak membela dirinya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.