
Devano sengaja terus menempel kepada Mahalini, agar semua orang tau kalau Mahalini adalah milik nya dan miliknya saja.
''Mas, bisa geser tubuh nya nggak, Lini ngap? lagian kenapa harus dekat seperti ini terus sich, malu di liatin orang,'' gumam nya pelan, saat berada di dalam toko baju, sedangkan Mama Clara sedang berkeliling mencari baju untuk sang menantu.
''Bucin banget!'' seru Mama Clara ketika melihat Devano masih berada di belakang nya.
''Sudah Mama saja yang berbelanja, biar Lini sama aku saja di sini.'' jawab nya dengan nada datar nya.
Mahalini melihat ada beberapa baju di tangan Mama Clara, ''Mama sudah belanja nya,'' tanya nya dengan lembut.
''Belum sayang, setelah ini kita ke toko tas dan sepatu juga,'' jawab Mama Clara berjalan ke meja kasir.
''Mas Devan tidak mau beli sesuatu,'' tanya Mahalini ketika melihat Devano masih berada di belakang nya.
''Tidak,'' jawab nya singkat. Sesekali Devano melihay jam tangan nya yang melingkar di lengan nya.
Mama Clara menggandeng tangan Mahalini untuk di bawa ke toko sepatu dan juga tas yang kemarin Mahalini singgahi.
''Ayo, kamu pilih saja sayang,'' suruh Mama Clara seraya mengajak nya berjalan mencari sepatu yang kitanya cocok dengan kaki Mahalini.
''Wanita yang kemarin itu lagi ya,'' bisik para karyawan yang masih mengingat dengan wajah Mahalini.
''Iya, tapi sekarang dia malah bawa dua orang ke toko ini,'' balas nya dengan berbisik, Mahalini menarik nafas panjang mendengar semua ucapan beberapa karyawan di Toko sepatu da juga tas itu.
''Ukuran berapa sepatu kamu,'' tanya Devano ketika Mahalini masih sibuk menata hati dengan bisikan para pegawai toko.
''Tidak usah Mas, sepatu Lini masih bagus kok? dan kemarin Lini juga sudah beli sepatu juga di sini,'' jawab Lini dengan mengulas senyum kepada sang suami.
''Katakan nomornya,'' desak Devano sehingga membuat Mahalini merasa takut.
Dan tiba-tiba, keluarlah wanita kemarin yang melayani Mahalini di toko ini juga.
''Ech kakak yang kemarin itu kan? mau beli sepatu lagi kak,'' tanya sang pegawai dengan ramah kepada Mahalini.
''Iya, carikan sepatu yang sesuai dengan kaki dia,'' perintah Devano ketika melihat pegawai yang mendatangi Mahalini.
''Seperti kemarin apa model lain kak,'' tanya nya dengan semangat.
__ADS_1
''Aku tidak mau beli sepatu Mas, kemarin juga sudah membeli pakek uang pemberian mas Vano itu,'' ucap Mahalini dengan suara kecil nya.
''Mbak, tolong carikan sepatu yang seperti ini buat menantu saya,'' ujar Mama Clara mendatangi pegawai ramah tersebut.
''Maaf Nyonya, menantu Nyonya tidak ikut ke sini,'' tanya sang pegawai karena tidak tau kalau Mahalini lah menantu Nyonya tersebut.
''Sayang, sini coba sepatu ini,'' Mama Clara memanggil Mahalini agar dia bisa menghampiri nya.
''Jadi, kakak ini menantu Nyonya,'' ucap nya kaget, mengingat kemarin wanita inilah yang di hina oleh seorang wanita yang beda beberapa tahun saja dengan dia.
Mahalini tersenyum canggung, mengerikan pegawai yang kemarin melayani nya sedikit kaget. ''Kalau buat kakak nya harus nya nomor 39 ya kak,'' gumam nya dengan mengambilkan sepatu yang sama persis dengan yang di pegang mama Clara.
''Mama, Lini tidak mau beli sepatu lagi, sepatu Liniasih bagus dan juga kemarin Lini juga sudah beli kok,'' tutur nya dengan perasa'an tak enak hati.
''Sudah, turuti kemauan mama saja,'' balas Devano yang sudah berada di samping kiri nya. Bagai bodyguard yang setia menemani sang majikan kemanapun majikan nya pergi.
Mahalini yang selalu di desak akhirnya menuruti kemauan Mama Clara dan juga Devano sebagai suaminya, sedari tadi sudah bilang yidak usah masih saja terus ngotot untuk membelikan dia sepatu.
Beberapa sepatu dan juga beberapa sandal sudah berada di kasir, kini Mama Clara beralih ke tas tas branded yang terpajang rapi di dalam etalase, Mama Clara tidak lagi bertanya kepada Mahalini, karena Mama Clara sudah hafal dengan sifat sang menantu yang tak mau dengan semua kemewahan, hanya sebagian dari sekian banyaknya wanita yang tidak mau dengan kemewahan. Mahalini selalu berpenampilan sederhana, ketika bertemu dengan seseorang mereka tidak akan percaya kalau dirinya adalah istri dari pengusaha terkenal dan juga terkaya.
Ketiga nya masuk dengan di sambut oleh seorang pelayan. ''Selamat datang Tuan dan Nyonya,'' sapa pelayan wanita yang bertugas menyapa tamu pengunjung restoran.
Mahalini tersenyum seraya menganggukkan kepalanya kepada sang pelayan, dan di balas dengan sebuah senyuman juga oleh sang pelayan.
Mama Clara, Devano dan juga Mahalini duduk di dekat jendela sesuai permintaan Mahalini sebelum dia masuk ke dalam restoran.
''Mau pesan apa?'' tanya Devano menatap wajah lelah Mahalini.
''Apa saja, terserah Mas dan Mama saja,'' jawab Mahalini dengan melihat jalan raya yang berlalu lalang melalui jendela restoran.
Mama Clara dan Devano sudah memesankan beberapa makan siang buat Mahalini.
Di sisi lain ada seseorang yang terus mengikuti pergerakan Mahalini dan juga yang lain nya, tapi orang itu lebih fokus kepada Mahalini.
''Wanita ini yang sedang di incar Bos, tapi buat apa coba? masak iya Bos masih doyan yang bening bening sich,'' gumam nya ketika dia sedang menatap gadis yang berada tak jauh dari mereka.
-''Bos menyuruh kamu untuk segera menghadap,'' ujar seseorang dari seberang telfon.
__ADS_1
-''Kenapa sangat buru buru si Bos ingin bertemu dengan ku, aku masih lihat wanita yang sedang di incar oleh Bos, betapa cantik nya dia,'' tukasnya dengan penuh semangat dan percaya diri, kalau rekan yang sedang menghubungi nya akan mendengarkan celotehan nya, tapi tanpa dia sadari sambungan sudah terputus sejak tadi.
''Dasar nyebelin! bukan nya di dengerin dulu malah langsung di matiin begitu saja,'' gerutunya dan beranjak pergi dari restoran, menuju markasnya? di mana sang Bos sudah menunggu kedatangan nya.
...****************...
''Sore Bos,'' sapa Ali kepada sang bos yang sudah duduk santai di kursi kebesaran nya.
''Cuma mencari tahu tentang gadis itu, kamu membutuhkan waktu dua hari,'' ujar nya dengan tatapan tajam yang menghunus ke arah Ali.
''Bukan nya gitu Bos, ternyata gadis yang di suruh bos cari tahu informasi nya, ternyata sangat cantik aslinya bos,'' seru nya dengan mengajak sang bos sedikit bercanda.
''Aku menginginkan informasi itu secepatnya, bukan mau mendengarkan ocehan kamu yang nggak jelas itu,'' balas nya sudah tidak sabaran, dengan informasi anak buah nya itu.
Ali menaruh sebuah map di depan sang Bos yang masih menatap nya dengan tajam, Sang bos segera mengulury tangan nya untuk mengambil map yang di taruh Ali di meja nya.
''Wanita itu sudah menikah dengan Devano Bagaskara, dan dulunya kehidupan wanita itu sangat tidak mengesankan sama sekali, karena Ibu dan saudara angkat nya selalu bersikap jahat dengan wanita itu, oiya Bos? wanita itu bernama Risty Mahalini,'' ucap nya menceritakan sebagian kepda sang bos.
Laki-laki paruh baya yang di depan nya mengangguk ngangguk pelan, mendengarkan setiap kalimat yang di keluarkan oleh sang anak buah.
''Kalau boleh tau, kenapa bos malah mencari tau tentang wanita ini? bos tidak menyukai nya kan,'' ujar nya dengan asal jeplak, karena apa yang sedang ia pikirkan di otak nya, itulah yang keluar begitu saja dari mulut nya.
''Sudah lah, aku hanya ingin mencari tau keberada'an puteri ku yang dulu hilang, dan semua itu mengarah kepada wanita ini,'' sang bos menunjuk foto di dalam map yang sedang ia pegang saat ini.
Sang anak buah hanya melongo mendengarkan cerita dari bos nya, bagaimanapun juga seorang puteri tiya akan bisa di tukar dengan apapun, apalagi kini puteri bis nya sudah 20 tahun lama nya menghilang, karena tragedi perebutan harta, antara saudara dan juga saudara tirinya setelah kematian kedua orang tua dari bos Ali.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕
__ADS_1