Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 43. Rasa iri yang sempat menghinggapi Clarencia


__ADS_3

Clarencia menunggu kedatangan Mahalini ke ruangannya, di mana Clarencia menunggu di sana dengan hati tak tenang, karena Mahalini pergi ke ruangan meeting sangat lama, dan sampai saat ini Mahalini masih belum kembali juga ke ruangan nya.


Beberapa menit kemudian, pintu di buka dari luar, membuat Clarencia melirik ke arah pintu, di mana di sana sudah ada Mahalini dengan nafas yang masih ngos ngosan, ada kemungkinan Mahalini berlari dari ruangan meeting tadi.


''Kenapa lho,'' tanya Clarencia dingin, lebih tepat nya pura-pura bersikap dingin kepada Mahalini. ''Kena omel kan?'' tambah nya lagi.


Mahalini hanya menggeleng pelan, dan membuka lemari pendingin, Mahalini mengambil sebotol air minum dan meneguk hingga habis.


''Terus, kenapa nafas kamu seperti orang habis di kejar an*jing,'' papar ny dengan menatap tajam ke arah Mahalini, Clarencia mencari kebohongan di setiap gerakan Mahalini.


''Aku nggak kena omel kok, lagipula gara-gara aku jawab tadi semua tamu Tuan Muda banyak yang request, kopi seperti itu,'' jelas nya dengan mengelap ujung bibir nya yang masih ada sisa air minum nya.


''Beneran??'' selidik Clarencia. Mengingat Tuan Muda nya bukan lah orang yang gampang di bujuk sebelum nya.


''Beneran, masak iya sich aku bohong?'' celetuk Mahalini dengan nada kesal, karena rekan kerja nya tidak percaya dengan penuturan nya.


Mahalini membuka bekal makan siang nya dan makan begitu saja tanpa menawari Clarencia lebih dulu.


''Kamu selalu bawa bekal, memang nya nggak bosen dengan masakan rumahan,'' tanya Clarencia melihat bekal Mahalini.


''Mana ada bosen nya sich Mbak, lha kan ini masakan Lini sendiri, masak iya harus bosen githu,'' gerutunya, ''Kalau sudah mulai bosen sama masakan sendiri? berarti hampir hampir ezt,'' lanjut nya, yang menggantungkan sebagian ucapan nya.


''Hampir apa Lini??'' tanya Clarencia penasaran.


''Hampir mati,'' tukas nya dengan singkat, dan sukses mendapatkan tonyoran dari rekan kerjanya di lantai tersebut.

__ADS_1


''Lagian Mbak Clarencia ada ada saja dech,''


''Bilang saja kamu mau ngirit uang makan, iya kan?'' sambung Clarencia menggembungkan pipi nya.


''Nah itu tau, tapi kenapa masih nanya githu sich?'' balas Mahalini dengan terus menyuapkan nasi goreng yang sudah tinggal seperuh itu.


''Lagian kamu, cuma bilang begitu apa susah nya sich,'' Clarencia sudah ngegas melihat sikap Mahalini yang seperti anak kecil itu.


''Sudah ach, aku mau ngerjain tugas kuliah dulu, mumpung waktunya masih ada,'' ucap nya ketika sudah mencuci bersih kotak bekal nya.


Clarencia hanya memandangi wajah Mahalini dari samping, dan tersirat rasa iri di hati Clarencia saat ini, namun detik kemudian, Clarencia menyingkirkan rasa iri yang menyelimuti dirinya.


'Kenapa aku bisa punya rasa iri ini sich, aku sama Mahalini sudah berteman baik, dan aku tidak mau pertemanan ini hancur karena kebodohan ini,' batin nya, dan menatap ke arah kertas yang sudah ada di depan teman kerja nya.


''Aduch... tugas nya susah banget sich, gini nich beberapa hari bolos nggak ngampus, pekerja'an sudah numpuk seperti ini,'' keluh nya menatap kertas kertas yang di kirim teman kuliah nya tadi pagi.


''Sebenarnya, kemarin ada insiden yang terjadi Mbak, dan mengharuskan aku di rawat di rumah sakit juga, jadi aku ijin kerja dan juga ngampus nya,'' jawab Mahalini dengan jujur.


''Insiden, di rawat inap? kenapa kamu tidak ngabari aku sich Lin?'' Ujar Clarencia dengan ke khawatiran nya.


''Sudah nggak apa apa kok Mbak, aku juga sudah sehat sekarang dan juga mulai kerja lagi kan?'' balas Mahalini dengan perasa'an senang, mengingat masih ada orang yang menghawatirkan nya juga.


Mahalini membuka lengan baju nya sedikit ke atas, dan di sana masih nampak sedikit luka dan juga memar di lengan nya, Clarencia menutup mulutnya tidak percaya dengan keada'an Mahalini yang benar-benar tidak baik baik saja.


''Badan kamu seperti ini, masih bilang tidak apa apa,'' lagi lagi Clarencia meninggikan suaranya ketika melihat luka di tubuh Mahalini.

__ADS_1


''Sudah jangan berisik oke,'' sahut nya seraya menarik turunkan alis nya, membuat Clarencia menepuk jidad nya, karena dia juga sudah tidak tau lagi berkata apa kepada Mahalini yang selalu bersikap baru bar di depan nya.


...****************...


Di sisi lain, Devano tengah di sibukkan dengan segala pekerja'an nya, dengan di temani kopi dan juga camilan buatan istri nya.


Beberapa hari Devano tinggal bersama dengan Mahalini, membuat dirinya bersikap aneh, seperti sekarang ini. Devano tengah tertawa sendirian mengingat tadi pagi yang di suguhkan sarapan nasi goreng di apartemen nya.


''Seperti inikah rasanya memiliki istri, apa apa ada yang nyediain, dan juga kopi ini? kenapa dia bisa tau kalau aku memiliki riwayat lambung,'' gumam nya dengan menatap secangkir kopi yang sudah dingin di hadapan nya.


Devano menatap jam yang melingkar di tangannya, di sana sudah menunjukkan pukul 3 sore, yang berarti Mahalini sudah pulang dari kantor nya dan menuju ke kampus di mana dia tengah menempuh kuliah nya.


''Naik apa dia ke kampus nya,'' gumam Devano penasaran dengan sang istri.


''Kenapa lho bengong seperti itu, bukan nya senang karena semuanya sudah menyetujui, dan itu semua berkat Mahalini tau nggak Van?'' Ujar Riki yang baru masuk ke dalam ruangan nya, dengan beberapa berkas yang harus di tanda tangani langsung oleh pemilik perusaha'an.


''Kenapa, jadi berkat Lini? ini semua kerja kerasku dalam membujuk semua klien klien itu,'' jawab nya dengan nada yang tak senang, karena sangat asisten lebih memilih memuji Mahalini ketimbang dirinya.


''Ya, karena bujuk dan kopi buatan Mahalini lah, mereka semua bisa menyetujui itu semua nya, masak iya kamu tidak menyadari sich,'' balas Riki dengan nada yang sama.


''Sudahlah, sekarang kamu keluar?'' usir Devano kepada sang asisten.


Riki hanya mencebik kesal dengan sikap Devano yang tak mau mengakui kepandaian istri nya, ''Oke, nanti aku akan menjemput Lini, tadi kita sudah janjian untuk mengantar dia pulang ke rumah nya sebentar, buat ambil motor nya yang masih ada di sana,'' seru Riki, yang memang sengaja menggoda bos nya.


''Awas saja kamu, kalau sampai berani macam macam sama dia,'' sarkas nya dan melemparkan sebuah dokumen ke arah Riki yang masih berdiri di ambang pintu ruangan nya.

__ADS_1


''Si*alan, kenapa harus minta tolong sama Riki coba, apa dia tidak menganggap aku ada atau memang tidak akan bisa bersikap baik sama aku,'' gerutu Devano.


__ADS_2