
Mahalini berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan, karena dirinya juga belum terbiasa memakai pakaian panjang, sehingga dia harus lebih berhati-hati lagi dalam menuruni anak tangga, yang adandi rumah mewah suami nya.
Seandainya dia masih sendiri, pasti dia akan berlari menuruni anak tangga, karena Mahalini sendiri tidak bisa berjalan pelan pelan seperti saat ini, ''Kayak siput saja,'' gumam nya perlahan.
''Bilang apa barusan,'' tanya Devano yang sempat mendengar gumaman istri nya.
''Iya, kalau jalan seperti ini, kayak siput saja Mas, lama sampek nya,'' balas nya dengan memutar mata malas nya.
''Ya, kan kamu harus hati hati juga sayang, kamu tidak sendiri lagi, di dalam sini sedang tumbuh malaikat kecil kita,'' Devano mengingatkan Mahalini, seraya mengusap perut buncit nya, yang sudah tidak terlihat karena pakaian Mahalini yang kedodoran.
''Iua iya, Lini ingat kok? kalau Lini sedang hamil,'' jawab nya dengan berjalan menjauh setelah sampai di anak tangga terakhir.
Mahalini berjalan ke arah dapur, sedangkan Devano menghampiri sangat Ayah yang sedang duduk di ruang keluarga.
''Wau, bagus banget tumpeng nya Ma, Lini telat dech,'' ucap nya dengan melihat tumpeng yang sudah jadi, dan saat ini sedang ia hias bersama mbak mbak yang bekerja di sana.
''Tidak apa apa kok sayang, ini Mama di bantu mbak nya juga kok?'' sahut nya dengan terus menaruh hiasan di atas tumpeng nya. ''Oiya, Papi sama Mami kamu sudah di beri tahu belum?'' tanya Mama Clara, mengingat dirinya belum memberi tahun acara hari ini kepada besannya.
Mahalini menggeleng pelan, ''Belum Ma, tapi Lini coba hubungi sekarang, siapa tau Papi belum berangkat kerja,'' jawab nya dengan merogoh saku gamis nya, untuk mengambil ponsel nya.
Mahalini mencari nomer Mami Amora untuk memberi tahu kalau dirinya akan mengadakan acara syukuran kecil kecilan di kantor suaminya.
Tut tut tut
Panggilan yersambung tapi belum juga di angkat oleh sang empu, tak lama kemudian Mami Amora menerima panggilan dari putri nya.
-'' Assalamu'alaikum, sayang?'' ucap Mami Amora, setelah menggeser layar ponsel nya.
-'' Wa'alaikum salam Mi, Mami sama Papi sedang sibuk nggak hari ini,'' tanya Mahalini setelah menjawab salam dari Maminya.
-''Memang nya kenapa sayang?'' tanya nya menatap wajah Tuan Sagara yang memandang nya.
-''Enggak apa apa sich, cuma? kalau Mami dan Papi tidak sibuk? nanti siang bisa tidak datang ke acara syukuran di kantor Mas Vano,'' ucap nya dengan sangat hati hati, Mahalini mengerti kalau orang tuanya sangat lah sibuk, di tambah lagi ada beberapa proyek yang sedang di kerjakan oleh Papi dan juga sang Mami.
-''Baiklah sayang, Mami akan usahain datang nanti siang,'' jawab nya dengan mengulas senyum bahagia nya.
-''Terima kasih Mami, kalau gitu Lini matikan ya,''
__ADS_1
-''Baiklah, Assalamu'alaikum,'' ucap Mami Amora dengan menutup sambungan telfon nya, setelah Mahalini menjawab salam nya.
''Siapa Mi,'' tanya Tuan Sagara setelah istri nya mematikan sambungan telfon nya.
''Putri kita mengundang kita nanti siang Pi, dia bilang akan mengadakan acara syukuran kecil kecilan di kantor suaminya, apa Papi bisa datang?'' jawab nya dengan menoleh ke arah suaminya.
''Pasti, Papi pasti datang ke acara itu, apalagi putri kita yang mengundangnya,'' balas nya dengan membalas senyuman Mami Amora.
''Papi memang selalu tersenyum the best dech,'' sambung Mami Amora, yang kini duduk di samping suaminya.
Mereka berdua akhirnya pergi dari rumah besar nya, karena Mami Amora sendiri sudah punya janji, dengan para sahabat sahabat nya untuk membahas pembangunan yayasan yang sudah tidak layak di huni.
Sedangkan Tuan Sagara pergi ke kantor nya untuk mengurus semua usaha nya, Tuan Sagara selalu berdo'a, kalau dirinya akan segera mempunyai penerus yang menggantikan usaha nya kelak, tapi saat ini putri nya tidak akan bisa mengurus semua usaha nya, dan Devano juga sedang sibuk dengan perusaha'an nya, sehingga mau tak mau Tuan Sagara mengurus semuanya sendirian.
''Ada beberapa orang, yang menjadi orang kepercaya'an nya, tapi Tuan Sagara juga butuh pewarisnya untuk mengurus semuanya kelak.
...****************...
Di rumah catering.
Semuanya sudah siap dan sudah di paking dengan rapi, tinggal di bawa ke kantor suaminya saja, di dalm box tersebut ada nasi dan juga ada snack box nya juga.
''Sudah Bu Bos,'' jawab nya dengan serentak.
''Sejak kapan kalian panggil aku dengan sebutan Bu Bos sich?'' Mahalini kesal dengan para pegawai nya, karena panggilan tersebut.
''Ya nggak apa apa kok Lini, kan kamu memang Bu Bos di sini, iya kan teman teman,'' seru Zarine meminta pendapat dari semua teman kerja nya.
''Benar banget mbak Lini yang di katakan Zarine,'' sambung pegawai yang satunya.
''Aku nggak setuju dengan panggilan itu ya, aku lebih baik di panggil mbak? dari pada di panggil Bu Bos, lagian aku tanpa kalian tidak akan menjadi seperti ini sekarang,'' papar nya dengan mengingatkan para pegawai nya lagi.
Mahalini memang selalu merendahkan kepada semua pegawai yang bekerja sama dengan dia, meski dari awal awal dia merintis usaha nya, Mahalini yidak pernah meninggikan dirinya, karena dirinya sudah sukses dan juga berjaya seperti sekarang ini.
''Kalau kalian ada yang panggil Bu Bos lagi, jangan salahkan aku kalau..'' Mahalini menggantung kan ucapan nya membuat para sebagian pekerja nya was was mendengar nya.
''Kalau apa Lini?'' tanya Zarine yang sudah di landa rasa penasaran.
__ADS_1
''Kalau apa ya, jadi lupa dech,'' jawab nya dengan santai, membuat semua orang menghela nafas, karena ulah sang Bos yang suka bikin hati pegawai nya dag dig dug ser.
Mahalini tak menggubris gumaman para pegawai nya, Mahalini berjalan menuju dapur untuk bertemu dengan Pak Djarot yang masih sibuk membantu sang koki di sana.
''Sibuk banget sich Pak, memang nya tidak capek kerja terus?'' tanya Mahalini dengan sangat ramah.
''Tidak juga kok neng, cuma membantu koki saja, ngiris bahan bahan yang akan di masak sebentar lagi? apa neng Lini butuh sesuatu,'' tanya nya menghentikan pekerja'an nya sejenak.
''Sebenarnya Lini sich mau ngobrol sama Bapak, kalau Bapak sibuk ya nggak apa apa, Lini akan mengatakan di sini saja?'' ucap nya dengan hati hati.
''Bicara saja neng, Bapak dengerin kok,'' sahut nya dengan mengulas senyum kepada Mahalini, meskipun Pak Djarot sudah mulai berumur, tapi beliau masih sangat rajin dalam bekerja.
''Bagaimana, kalau rujak buah bikinan Bapak, Lini masukin ke dalam menu? siapa tau banyak pelanggan yang mau dengan rujak buah bikinan Bapak, jadi Bapak kerja nya cuma bikin rujak buah saja di sini, bahan bahan nya Lini akan siapin, bagaimana Pak?'' tanya nya.
''Tapi, bagaimana kalau tidak ada yang minat dengan rujak buah bikinan Bapak neng, nanti neng Lini yang rugi? kalau sampai tidak ada yang tidak pesan,''
''Kalau tidak ada yang pesan, ya kita makan sama sama Pak, iya kan Bang?'' tanya Mahalini kepada sang koki yang sedang menatap nya.
''Boleh juga itu neng, Pak Djarot jangan pesimis dulu, nanti pasti ada yang pesan juga kok, kalau belum ada ya berarti belum rezeki nya, nanti kita di sini saling bantu mengerjakan semuanya, seperti kemarin malam dan pagi tadi Pak,'' cetus nya dengan nada santai nya.
Sang koki sangat beruntung sekali, karena di pilih Tuan Sagara, dan di pekerjakan di rumah catering putri nya, yang hamble dan juga baik, Mahalini tidak pernah membeda bedakan para pegawai nya, sikap Mahalini kepada semua pegawai nya sama rata.
''Jadi boleh Pak?'' tanya Mahalini sekali lagi.
''Boleh neng, tapi jangan salahkan Bapak kalau tidak ada yang pesan ya neng?'' jawab nya dengan nada lirih, Pak Djarot hanya takut rujak buah nya tidak laku, dan malah membuat Mahalini merugi, hanya itu saja yang ada di pikiran Pak Djarot saat ini.
''Lini tidak akan pernah menyalahkan Bapak kok, ini semua kan ide Lini sendiri, jadi Bapak tidak usah berpikiran ke sana oke, semua nya Lini yang akan tanggung,'' balas nya dengan kekehan kecil, sifat seperti ini yang selalu membuat para pegawai nya betah bekerja dengan Mahalini, selalu tersenyum dan mengajak para pegawai nya bercanda tawa bersama.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.