Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 140.


__ADS_3

Devano terperanjat kaget ketika sang Mama menghubunginya, dan mengatakan kalau dirinya akan menjadi seorang Ayah untuk kedua bayi kembar nya.


-''Mama jangan bercanda seperti itu dong, ini tidak lucu dan Vano juga tidak akan percaya begitu saja kepada Mama,'' sahut Devano di seberang.


-'' Kamu tidak percaya sama Mama, iya,'' bentak Mama Clara, karena putra nya tidak mempercayai nya.


-''Sudah lah Ma, lebih baik aku tanya langsung sama Mahalini saja,'' ucap Devano dengan menutup telfon nya.


Devano memutuskan sambungan telfon nya secara sepihak, membuat Mama Clara berdecak kesal.


''Kebiasa'an banget nich laki-laki kulkas,'' dengus nya, dengan meletakkan ponsel nya di atas nakas.


Devano segera mencari nomor Mahalini istrinya, beberapa kali Devano mencoba menghubungi sang istri, tapi tidk juga di angkat oleh sang empu.


''Kemana sich kamu sayang? kenapa kamu tidak mengangkat telfon ku sich,'' gumam Devano yang masih terus mencoba menghubungi ponsel Mahalini.


Devano yang sudah khawatir dengan keada'an istri nya memutuskan untuk segera pulang ke rumah nya, karena panggilan nya tak kunjung di terima oleh sang istri.


''Riki,'' panggil Devano ketika melihat sang asisten masuk ke ruangan nya.


''Iya Tuan,'' jawab sang asisten sopan.


''Tunda semua meeting hari ini, aku mau pulang ke rumah, karena aku khawatir dengan Mahalini,'' ucap nya datar.


''Baiklah Tuan, apa masih ada lagi yang harus aku kerjakan?'' tanya Riki lagi.


''Tidak ada, aku balik sekarang? dan titip kantor juga,'' balas nya dengan meneouk punggung Riki, asisten sekaligus sahabat nya.


Selama menuju lantai dasar, semua para karyawan di kantor Devano membungkuk hormat ketika bertemu dengan Devano, Devano hanya membalas dengan anggukan kecil sembari senyuman kecil di bibir nya, ya, semenjak Devano menikah dengan Mahalini, Devano selalu bersikap ramah kepada semua karyawan nya, dan tak lupa juga dwngan senyuman yang selalu mwnghias di bibir nya, bukan nya mau pecicilan? tapi menurut Mahalini senyuman itu adalah ibadah, meski kita tidak bersedekah dengan uang, kita juga bisa bersedekah dengan senyuman, sehingga membuat hati orang lain merasa berbunga bunga.


Jadi mulai sekarang, bersedahlah dengan senyuman manis di bibir nya, ingat ya selalu tersenyum agar hidup nya lebih berwarna dari sebelum nya. Jangan hanya manyun dan cemberut yang tiada artinya, sehingga membuat orang salah paham dan mengira yang bukan bukan kepada kita semua.


Jalanan begitu lengang, karena semua orang yang bekerja belum pada oulang, karena hari masih sangat terik.


Tak butuh waktu lama, Devano untuk menuju ke kediaman nya yang biasa huni bersama dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


''Kenapa kamu sudah pulang,'' seru Mama Clara yang melihat putra nya masuk ke dalam rumah.


''Di mana istri ku Ma, kenapa Mama hrus memaksa istri Vano untuk USG, mungkin dia sekarang sedang sedih atau juga sedang menangis juga di kamar, iya kan??'' Devano mwenebak yang tidak tidak tentang Mama nya.


''Enak saja, istri kamu sedang istirahat di kamar nya, dan bagaimana dia bisa menangis? sedangkan dia begitu bahagia dengan kenyata'an yang begitu indah,'' balas Mama Clara yang tidak mau kalah dari putra nya.


Debay tidak menggubris ucapan Mama nya, dia melangkah terus menaiki anak tangga dengan cepat, agar dirinya segera sampai di lantai dua, di mana kamar nya berada.


''Sayang, kenapa kamu tidak menjawab telfon ku,'' ujar Devano ketika sudah membuka pintu kamar nya, tak ada sahutan dari dalam, karena Mahalini sedang tidur di tempat tidur nya.


''Astaghfirullah, Mas sangat khawatir sama kamu sayang, tapi kamu malah tidur seperti kebo saja,'' gumam nya dengan menyisipkan rambut nya yang menutupi sebagian wajah nya, ya karena Mahalini membuka hijab nya di saat dia tidur dan sedang berada di dalam kamar nya.


''Kamu sangat capek ya, sehingga Mas datang kamu tidak merespon sama sekali,'' lagi lagi Devano bergumam di kala istri nya tengah terlelap.


Devano mencium puncak kepala Mahalini, dan tiba-tiba pintu kamar terbuka, siapa lagi pelakunya, kalau bukan Mama Clara.


''Jangan ganggu menantu Mama, dia sangat capek, setelah oulang dari rumah sakit tadi.


''Kenapa Mama harus memaksa istri Vano untuk melakukan USG sich Ma, Vano sudah menerima apapun jenis kelamin nya nanti, dia akan tetap anak Devano,'' ujar nya dengan menatap ke arah Mama Clara.


''Lebih baik kita bicara ini di luar saja, biar tidur menantu Mama tidak terganggu dengan obrolan kita ini,'' ajak Mama Clara dengan menarik lengan Devano putra nya.


Devano hanya pasrah mengikuti Mama nya yang entah mau di bawa kemana dirinya, mengingat dia masih memakai baju lengkap kantor nya, karena Devy belum sempat membersihkan tubuh nya, tapi sudah berkata dengan sang istri yang sedang tidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan kedatangan Devano dan juga Mama Clara.


''Mama mau ngomong apa sich, aku mau bersih bersih dulu, nanti istri Vano bangun lagi,'' seru Devano yang melepaskan tangan nya dari genggaman sang Mama.


''Kamu tadi kan tidak percaya dengan ucapan Mama di telfon, sekarang kamu lihat sendiri hasil USG tadi,'' Mama Clara memberikan kertas kepada Devano, kertas tersebut hasil USG tadi siang.


''Ini apa Ma, Vano tidak paham dengan gambar ini,'' tunjuk Devano dengan memberikan kertas itu lagi kepada sang Mama.


''Ini bayi kalian, dan bayi kalian ada dua, lebih tepat nya sepasang, cewek dan laki-laki,'' tutur Mama Clara dengan semangat 45.


''Beneran? Mama tidak bercanda kan, atau Mama sedang ngeprank Vano lagi,'' balas Devano dengan memelototkan matanya.


Mama Clara mencubit perut Devano yang tengah memelototinya. ''Terserah kamu saja, percaya iya, nggak percaya ya sudah, yang penting hari ini Mama sangat bahagia, karena tak lama lagi cucu cucu Mama akan lahir ke dunia ini, dan jangan sampai sifat bayi laki-laki nya seperti Ayah nya, yang tidak pernah percaya kepada orang tuanya,'' ucap nya dan pergi meninggalkan Devano sendirian, Devano masih mematung di tempatnya, dia masih terus mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita yang sudah melahirkan dan juga membesarkan nya.

__ADS_1


''Apa aku sedang bermimpi, sehingga Mama mengatakan kalau aku akan memiliki sepasang bayi kembar?'' gumam nya pelan seraya menggeleng pelan.


Dia pun berjalan ke kamar nya untuk melihat istri tercintanya, sudah bangun atau masih terus tidur.


''Kalau benar, kamu sedang mengandung sepasang anak kita, aku akan bersujud syukur sayang, karena sudah memberikan hadiah yang begitu besar dan juga indah, kamu memang benar, Tuhan tidak akan pernah salah dalam memberikan rezeki dan juga keberkahan, bathin Devano yang mencium pipi chubby Mahalini.


Merasa tidur nya di usik, Mahalini menggeliyat dan membuka matanya, ''Mas Vano sudah pulang?'' tanya Mahalini ketika matanya bersi tatap dengan suaminya.


''Iya sayang, Mas terpaksa menunda meeting hari ini, karena Mas sangat khawatir kepada mu, sungguh di saat kamu tidak menjawab panggil dari Mas, hati Mas tergerak ingin segera pulang, dan inilah akibat nya,'' jawab nya dengan panjang lebar.


Mahalini terkekeh geli melihat suaminya yang begitu khawatir kepada nya, dia juga sangat bersyukur karena di berikan keluarga yang begitu menyayangi nya.


''Mas Vano lebay dech, aku sedang tidur mana bisa ngangkat panggilan Mas coba,'' balas Mahalini dengan kekehan kecil nya, sehingga menampakkan deretan gigi putih nya.


''Oiya Mas, pasti Mama sudah mengatakan semuanya sama Mas kan??'' tanya Mahalini yang mengingat sesuatu kabar yang begitu gembira.


''Kabar apa sayang??'' Devano pura pura tidak tau dengan pertanya'an istri nya.


''Ya sudah, tapi kamu harus janji ya tidak akan kaget dengan ucapan yang akan aku katakan ini,'' kata Mahalini yang kini sudah merubah tubuh nya dengan duduk di depan sang suami, dengan melipat kakinya.


''Sebenarnya ada apa sich sayang?'' Devano merasa sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh istri kecil nya.


''Kita akan memiliki bayi kembar Mas, dan di sini sudah sepasang bayi kembar, laki-laki dan juga perempuan, aku tidak menyangka sama sekali, kalau Allah akan memberikan kepercaya'an kepada kita dengan dua bayi sekaligus, kemarin aku mengira perut besar ku hanya kebanyakan air saja, karena selama aku hamil selalu minum terus dan juga suka ngemil, tak aku sangka ternyata di dalam sini ada dua nyawa Mas?'' Mahalini menjelaskan kepada suaminya kabar gembira nya, Mahalini mengambil tangan Debay dan di bawa ke perut besar nya.


''Ya Allah, ternyata ini semua bukan mimpi, engkau sungguh murah hati. kepada keluarga kecil hamba ya Allah, terima kasih ya Allah, engkau sudah memberikan kebahagia'an yang tiada kira,'' bathin Devano dengan terus mengelus perut besar istri nya.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2