Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 104.


__ADS_3

''Oiya sayang, bagaimana kabar Pak Djarot sekarang sama istri nya,'' tanya Mama Clara yang baru ingat beliau berdua.


''Mereka berdua sehat sehat kok Ma, dan beliau pun sering datang ke rumah catering, membantu di sana?'' jawab nya dengan bermanja manja sama suaminya.


''Alhamdulillah, kalau begitu,'' balas nya.


''Tapi sayang, jangan lupa juga di kasih uang lho? meski beliau berdua cuma membantu di sana?'' Devano mengingatkan Mahalini.


''Ya tentu dong Mas, masak iya Lini makan gaji para pekerja, kan nggak!'' celetuk nya dengan mendorong tubuh Devano. 'Aku tidak sekejam itu juga kali ferguso,' gumam nya di dalam hati.


''Ya kali, nggak di kasih gaji, karena bilang nya cuma membantu saja,'' sambung nya dengan tersenyum devil's.


''Enak saja, emang tampang Lini sekejam itukah?''


''Hahahaha,'' mereka semua tertawa mendengar celetukan Mahalini yang spontan itu.


''Sudah sudah, kayak nya kamu senang banget bikin menantu Mama yang cantik ini sedih,'' Mama Clara beranjak dari duduk nya dan memeluk sangat menantu nya.


''Peluk terus? peluk terus, di sini anak nya Mama sebenarnya siapa sich, dikit dikit peluk Lini, dikit dikit peluk Lini, achh... sudahlah capek?!'' ujar Devano yang sangat cemburu dengan kedekatan Mama dengan istri kecil nya.


''Kan anak Mama memang Mahalini, kamu siapa? dan kenapa kamu malah ada di sini,'' balas Mama Clara, membuat Devano terperangah mendengar ucapan Mama nya.


''Yang benar saja, Mama sudah tidak mengenali anak nya sendiri,'' Devano menjambak rambut nya sedikit kasar, 'Masak iya, Mama kandungku sendiri tidak mengenali ku lagi sich,'' gumam nya pelan.


''Tadi kan bahas Pak Djarot, kenapa sekarang jadi melow gini sich?'' seru Papa Devano yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan ketiga nya.


''Iya juga sich, kenapa kita bahas anak siapa ya?'' pikir Devano yang langsung merubah mimik wajah nya.


''Pak Djarot dan istri nya, sudah tidak jualan rujak manis lagi Ma, Pa, beliau sering bantu Lini di rumah catering, karena rumah beliau dekat dari rumah catering, tapi sesekali? Lini suka minta di buatin rujak buah githu sama Pak Djarot, hehehe lumayan lah, kalau Lini sedang pengen,'' jelas nya dengan menutup mulut nya.


''Kamu tuh ya, kenapa tidak bawain Mama sekalian, kalau Pak Djarot bikinin kamu rujak buah, Mama kan juga pengen sayang?'' kali ini Mama Clara yang sedang merengek kepada menantu nya, layak nya anak yang sedang memohon kepada sang Mama, tapi kenapa kebalik ya🤔, Mama mertua merengek kepada menantu nya.


''Nanti dech, Lini bawain yang banyak buat Mama, Mama mau buah apa, nanti Lini beli terus nyuruh Pak Djarot bikinin,'' sahut nya dengan menepuk pelan punggung sang Mama.


''Benar ya, kamu tidak bohong kan? kalau githu Mama ikut saja dech,'' yukas nya dengan membenarkan duduk nya.


''Gini saja dech, bagaimana? kalau Rujak buah bikinan Pak Djarot masukin ke menu saja, biar semua orang pada tau saja, kalau di sini masih ada yang jual rujak buah yang seenak bikinan Pak Djarot,'' usul Devano, Mahalini terdiam sejenak, dan tak lama kemudian mengangguk menyetujui usulan dari suami nya.

__ADS_1


''Tapi kalau Pak Djarot tidak mau bagaimana Mas,''


''Kan bahan bahan nya dari kita sayang, Pak Djarot dan istri nya cuma ngeracik bumbunya, sedangkan pegawai yang lain nya juga bisa bantu ngucapin buah buah nya, kalau ada pelanggan yang memesan rujak buah tersebut, bagaimana?''


''Benar juga sich, tapi Lininhatus tanya dulu sama Pak Djarot dulu besok, takut nya beliau tidak mau? terus aku malah kesan nya maksa beliau lagi,'' papar nya yang tidak enak dengan pasangan suami istri yang pernah ia bantu.


''Iya, kamu benar sayang, lebih baik kita tanya saja dulu kepada Pak Djarot, mau tidak kalau rujak buah nya kita masukkan ke menu catering,'' sahut Mama Clara, yang memang sudah paham dengan sikap menantu nya.


Mahalini memang tipe orang yang tidak ingin memaksa kehendak nya sama orang lain, tapi kenapa sama suaminya dia selalu merengek, dan juga selalu memaksa gitu, pikir Mama Clara.


Setelah lama mereka mengobrol, akhirnya mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing, karena hari semakin malam, dan Mahalini tidak boleh tidur terlalu malam.


Di dalam kamar, pasutri yang kini masih di landa kasmaran, sedang bermanja manja kepada istri tercinta nya. Devano mengendus leher jenjang Mahalini yang putih bersih, dan baunya juga harum banget, sehingga siapa saja yang mencium nya bisa mabuk kepayang, karena saking wanginya.


''Apa sich Mas, kenapa Mas seperti ini sich, bikin risih saja dech,'' humam nya yang mulai menjauh dari istri nya.


''Apa sich sayang, kenapa kamu seperti itu sama Mas, Mas kan cuma mau mwncium kamu? dan kenapa kamu bisa sewangi ini juga sich?'' Devano heran saja dengan istri nya, padahal sabun dan parfum di pakai berdua dengan Mahalini, tapi kenapa bau Mahalini sangat beda. Pikir Devano yang selalu yerbuai dengan wangi tubuh istri nya.


''Sudah, Lini besok mau pergi ke rumah catering, jadi Lini harus segera tidur, agar besok lebih semangat lagi kerja nya,''


''Terus, bagaimana dengan suami kamu ini,'' tanya nya dengan mengerutkan kening nya.


Melihat Mahalini sudah tidak berontak dengan perilaku nya, Devano teeus mencumbu pipi Mahalini.


...****************...


Adzan subuh sudah berkumandang dengan sangat merdu, memanggil umat nya untuk segera melaksanakan sholat subuh, Mahalini yang sudah terbangun sejak tadi, karena Mahalini selalu menyempatkan diri untuk sholat sunnah di sepertiga malam nya, kini tengah membangunkan sang suami yang masih terlelap dalam tidur nya.


''Mas, bangun sudah subuh,'' Mahalini menggoyang goyangkan tubuh Devano yang masih sangat pulas tidur nya.


''Kenapa sayang?'' tanya nya pelan, Devano masih belum ngeh dengan istri nya, yang kini sedang membangunkan nya.


''Sholat subuh dulu, ayo cepat bangun? mandi dan kita sholat berjama'ah oke,'' ajak nya, dengan masih menggoyang goyangkan tubuh Devano yang memejamkan matanya kembali.


Devano menyingkap selimut nya dan Mahalini langsung menutup wajah nya dengan telapak tangan nya, karena Devano sendiri sedang tidak memakai baju.


''Apa sich sayang, kamu juga sudah hafal dengan milik ku ini,'' goda nya dengan mengedip ngedip kan matanya.

__ADS_1


''Apa sich Mas, sudah mandi sana. Kalau tidak cepat mandi? biar Lini sholat dulu saja,'' jawab nya masih dengan menutup wajah nya.


Devano berjalan begitu saja ke dalam kamar mandi, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk membersihkan tubuh nya dari keringat.


Kini Devano sudah duduk di sajadah nya dengan berpakaian bersih dan juga rapi, pakek sarung, baju koko dan tak lupa peci sudah nangkring di atas kepala nya.


Devano menjadi imam, dan Mahalini sendiri menjadi makmum yang selalu mengikuti Imam nya.


Devano sejak menikah dengan Mahalini selalu melaksanakan sholat berjama'ah bersama, ketika ada waktu yang cukup untuk kedua nya, tapi Devano akan selalu menyempatkan diri untuk sekedar pulang ke rumah nya hanya untuk sholat berjama'ah dengan sang istri.


Kedatangan Mahalini sendiri membawa keberuntungan di dalam rumah tangga nya, selain Mahalini baik, rajin, sopan? dia juga taat dengan semua perintah yang maha Kuasa, selalu berbagi ke sesama yang membutuhkan, dan benar saja, kalau sedekah yidak harus menunggu kita kaya dulu.


Devano memanjatkan do'a untuk kesehatan istri dan juga calon baby nya, yang kini sedang tumbuh di rahim istri nya, tak banyak yang Devano minta saat ini, hanya minta kesehatan dan juga kelancaran rezeki, berkah barokah untuk keluarga kecil maupun keluarga besar nya.


Mahalini mencium punggung tangan suaminya, seraya berkata. ''Mas, hati ini Lini mau ke rumah catering, nanti siang kita datang ke kantor? sesuai rencana semalam?'' ijin nya dengan menatap wajah suami nya.


''Memang nya beneran, kita akan mengadakan syukuran di kantor, maksudku acara syukuran kecil kecilan di kantor,'' tanya nya lagi, semalam Devano masih belum yakin dengan ucapan istri nya, yang mengatakan akan mengadakan acara syukuran besok.


''menag nya tidak keteteran ya sayang?'' tambah nya lagi, yang sedikit khawatir dengan keada'an istri nya, yang sekarang sedang hamil muda tersebut.


''Semalam Lini sudah memberitahukan pada koki dan semua pegawai di sana, semuanya mengatakan sanggup kok Mas, dan mereka semua terlihat bahagia juga kok,'' jawab nya dengan sungguh-sungguh, karena Devano masih belum terlalu percaya kepada nya.


Devano hanya menghela nafas nya, dan mwnghembuskan dengan kasar, melihat semangat istri nya yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Devano mengangguk pelan, lalu melipat sarung dan sajadah nya, sedangkan Mahalini mengganti baju nya, dia hendak keluar kamar, namun di hentikan oleh Devano.


''Sayang yakin akan memakai pakaian panjang seperti itu,'' tunjuk nya kepada baju yang sedang Lini kenakan saat ini.


''Insya Allah yakin Mas, do'ain saja yang terbaik ya, semoga hijab nya menyusul,'' sahut nya dan melangkah pergi, setelah berpamitan kepada Devano.


Sedangkan Mama Clara dan beberapa asisten nya sedang sibuk dengan masakan dan juga sedang menata tumpeng yang akan ia bawa ke kantor putra nya nanti siang.


dengan pasrah


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2