Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 51.


__ADS_3

Masih dengan sarung dann kaos oblong, Mahalini turun dari anak tangga menuju meja makan nya, karena matahari semakin tinggi.


Devano sudah siap dengan baju kantor nya, sedangkan Mahalini hanya bisa menatap nya saja tanpa bertanya, apakah dia boleh bekerja pagi ini, atau harus ijin lagi.


''Pakaian kamu kok seperti ini sayang?'' seru Mama Clara ketika melihat sang menantu turun hanya dengan memakai kaos bekas Devano dan juga sarung yang sering di gunakan sholat.


''Lini lupa nggak bawa baju ganti Ma, jadi Lini hanya bisa pakek ini saja,'' sahut nya dengan malu dan menundukkan kepalanya.


''Masih cantik kok Ma,'' seru Devano yang kini sudah memakan roti selai nya.


''Iya cantik, tapi nggak harus pakek sarung juga sayang?'' kata Mama Clara menghampiri Mahalini yang masih berdiri karena malu.


Mahalini hanya terkekeh mendengar ucapan suami dan juga Mama Clara, karena dia masih memuji nya dengan kata cantik, padahal kan buluk, pikir Mahalini.


''Mas, hari ini Lini mau bekerja? takutnya Lini kena SP kalau sering ijin, kematian kan sudah satu minggu tidak kerja, terus tiga hari, dan kemarin juga ijin,'' aku Mahalini dengan mengingat ingat sudsh beberapa kali tidak masuk kerja.


''Sudah, sekarang biar aku yang ijinin kamu langsung ke HRD, kamu temani Mama saja di sini,'' ujar Devano yang masih menginginkan Mahalini di rumah, dan menemani Mama nya.


''Tapi Lini tidak punya baju ganti juga,''


''Bukan nya kamu tadi bilang suka pakai baju seperti itu,'' jawab Devano dengan menatap Mahalini yang terus saja menunduk.


''Sudah, jangan bahas itu lagi, biar Mama pesan kan baju buat Mahalini saja,'' potong Mama Clara yang ingin pagi ini ada perdebatan di meja makan nya.


''Nah itu Mama pintar, kalau aku harus ke apartemen dulu, aku bisa telat ke kantor nya,'' aku Devano yang memang sudah pukul 7 pagi.


''Harus nya kamu bilang sama istri kamu, biar bisa bawa baju ganti juga? kasian istri kamu memakai baju bekas kamu dan juga kebesaran seperti itu,'' Papa Sanders membela sang menantu yang juga di angguki oleh Mama Clara.


''Devano memang bukan suami idaman banget Pa, harusnya dia bisa belajar sedikit dari Papa, agar bisa romantis sedikit dengan istri nya, lha ini malah di suruh pakek baju bekas nya, dasar semprul,'' sambung Mama Clara yang juga membela Mahalini.


''Anak kalian itu sebenarnya siapa sich, aku atau Lini, kenapa semua nya pada ngebela Lini githu,'' kesal nya, Devano dengan cepat menghabiskan roti di tangan nya, sebelum menyambar susu coklat di samping nya. ''Aku berangkat ke kantor dulu,'' pamit nya setelah menaruh gelas ke atas meja.


Devano beranjak dari duduk nya, Mahalini juga sudah berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Devano. Devano yang masih belum peka dengan ukuran tangan Mahalini hanya bisa diam, sesaat kemudian Devano mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, dan memberikan kepada Mahalini.


Mahalini juga bingung ketika di kasih uang di tangan nya, sedangkan dia tidak minta. ''Mas, aku mau salim? bukan minta uang,'' ucap nya dengan mengembalikan uang nya lagi kepada Devano, namun di tolak begitu saja.


''Pegang saja,'' ucapnya seraya menyambut uluran tangan Mahalini, Mahalini mencium punggung tangan Devano dengan takdim.


''Istri mau cium tangan malah di kasih uang, gimana sich?'' seru Mama Clara yang kesal melihat putera nya yang bodoh nya minta ampun.

__ADS_1


''Memang nya selama ini istri kamu tidak pernah cium tangan, sehingga kamu tidak ngeh dengan ukuran tangan itu,'' tambah nya lagi dengan wajah datar nya.


''Tiap hari Lini mencium tangan Mas Devano kok Ma, tapi Lini selalu mengambil duluan tangan nya, karena Lini juga harus buru buru pergi ke tempat kerja juga, sebelum terkena macet,'' aku Mahalini yang tidak mau di salahkan dalam ini.


''Lha tuh, istri nya saja setiap hati cium tangan, masak iya masih harus selalu bilang kalau mau cium tangan,'' gerutu Mama Clara.


''Oiya, nanti Mama mau belanja bersama Lini di Mall, kartu nya mana,'' kini giliran tangan Mama Clara yang menengadah kepada sang putera.


''Mama kan sudah punya kartu sendiri, kenapa harus minta kartu Devano sich,'' meski kesal dengan sang Mama, Devano masih membuka dompet nya kembali, dan memberikan black card nya ke tangan sang Mama.


''Aku mau belanja keperluan menantu Mama, jadi sudah sewajarnya memakai uang dari suaminya sendiri, kalau pakek uang Mama itu namanya memberi bukan menafkahi,'' balas Mama Clara dengan senyum sinis nya. ''Sudah sana pergi,'' kini Mama Clara malah mengusir putera nya agar cepat pergi dari rumah nya, untuk segera berangkat ke kantor nya.


Mahalini yang melihat pertengkaran kecil antara Mama dan anaknya hanya bisa menahan tawanya saja, tanpa mau mengeluarkan sama sekali, hanya pembela'an saja yang keluar dari mulut Mahalini.


''Aku berangkat ke kantor dulu, nanti aku jemput kamu ke sini ,'' kata Devano kepada Mahalini ketika mau berangkat ke kantor nya.


''Iya Mas, hati hati,'' ucap Mahalini yang langsung di angguki Devano.


Devano melangkah kan kakinya keluar menuju mobil yang sudah di siapkan oleh sopir pribadi Mama nya.


''Ini kuncinya Tuan,'' ucapnya ketika melihat Devano keluar dari pintu utama dan menghampiri sang sipit yang sedatintadi sudah menunggu nya.


''Hati hati Tuan,'' sahut sang sopir, yang lagi lagi mengingat kan Devano agar lebih berhati-hati lagi dalam berkendara, agar dirinya aman dan juga selamat dari mata bahaya.


Sepeninggal Devano Mama Clara merasa sangat senang, karena bisa meminta black card nya dari tangan putera pelit nya. ''Setelah ini, kita belanja belanja, kita habisin uang suami kamu itu sayang,'' ujar Mama Clara dengan nada senang nya.


Mahalini hanya mengangguk, tanpa tau mau menjawab seperti apa ucapan Mama mertua nya.


''Baiklah, puas puasin kalian berdua di Mall, Papa juga mau berangkat ke kantor dulu,'' pamit Papa Sanders, Mama Clara mencium punggung tangan Papa Sanders, Mahalini juga tidak ketinggalan juga mencium punggung tangan Papa mertua nya.


''Baik baik di rumah ini,'' ucap Papa Sanders sebelum pergi dari hadapan sang menantu.


''Iya Pa,'' balas nya dengan mengulas senyum di bibir ranum nya.


''Sudah, kamu habiskan dulu sarapan kamu, Mama akan memesankan baju buat kamu pakek hati ini ke Mall,'' ucap Mama Clara yang kini sudah memegang benda pipih yang bermerek Apel di gigit tikus tersebut. Mama Clara mencari toko baju yang bisa mengantarkan barang pesanan nya secepat mungkin, karena dia dan menantu nya? ingin segera keluar dari rumah dan bersenang-senang dengan menantu cantik nya di salah satu Mall terbesar di kota nya.


''Mama siap siap dulu ya, sebentar lagi baju yang Mama pesan akan datang, kamu tunggu di sini dan habiskan sarapan nya dulu,'' jelas nya dengan meninggalkan Mahalini sendirian di meja makan nya, Mahalini masih menatap roti yang sudsh di kasih selai kacang di atas nya hanya di lihat saja oleh nya.


''Nona mau sarapan lainnya,'' tanya sang Bibi yang datang menghampiri Mahalini di meja makan nya.

__ADS_1


''Iya Bi, Lini tidak terbiasa sarapan roti di pagi hari, karena bawa'an nya akan lemas dan juga cepat lapar juga,'' jawab Mahalini dengan jujur, karena kejujuran tidak lah membuat seseorang merasa rendah di mata orang lain, tapi karena kejujuran kita bisa lebih di hargai lagi oleh orang tersebut.


''Biar Bibi siapkan dulu sarapan Nona,'' tukas nya seraya ingin melangkah pergi.


''Bair Mahalini makan di dapur saja Bi, lagian di sini tidak ada orang, jadi Lini tidak nafsu makan kalau hanya sendirian,'' kata Mahalini yang juga ikutan beranjak dari duduk nya, dan berjalan mengikuti sang Bibi ke arah dapur, di mana di sana para pelayan sedang sarapan bersama.


Melihat kedatangan Mahalini bersama Bibi Surti, mereka menghentikan suapan ke mulut nya. Bi Surti yang yang mengerti segera berkata, ''Nona Lini mau makan di dapur ini,'' ujar nya dengan mengulas senyum kepada Mahalini yang ada di belakang nya.


''Kalian tidak usah sungkan, karena Lini makan di sini, Lini hanya ingin mencari teman saja kok, biar makan nya nafsu dan habis banyakan dari biasanya,'' bohong nya, Mahalini sendiri merasa malu dengan semua pekerja di rumah ini, karena dia baru dia hari sekarang berada di rumah mertua nya, jadi Mahalini harus menyesuaikan diri untuk selalu bergabung dengan semua pelayan di rumah ini.


''Mari Nona duduklah,'' ucap salah satu pelayan yang seumuran dengan Mahalini, dengan menyodorkan kursi ke hadapan sang majikan barunya.


''Tidak terima kasih, lebih baik saya duduk di bawah saja bersama kalian, biar lebih akrab lagi,'' sahut nya dengan senyuman yang selalu ia perlihatkan kepada semua orang.


''Tapi Nona, nanti Nyonya bakalan sama kita,'' sambung pelayan yang lainnya, merasa tak enak hati dengan majikan barunya yang juga ikutan duduk di lantai seperti mereka semua.


''Tidak apa apa kok, Bibi? bawa sama cobek nya sekalian ke sini,'' ujar Mahalini yang kini sudah memegang nasi dengan lauk ikan bakar, sambal terasi dan juga sayur, seperti yang di makan semua pelayan di sana.


''Kenapa tidak makan daging Nona,'' tanya Bibi Surti.


''Ini saja sudah mantep Bi, lagian Lini tidak terlalu suka dengan daging dagingan,'' balasnya dengan menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan menggunakan tangan kanan nya yang sudah di cuci tadi sebelum makan.


Semua orang melihat Mahalini dengan kekaguman masing-masing, Mahalini sangat lah sopan dan juga ramah dengan semua orang di rumah ini, dia juga tidak segan makan bersama para pelayanan di dapur, dengan dalih ingin makan lebih banyak lagi, namun alasan semua itu kebohongan semata, karena Mahalini hanya ingin kebersama'an dengan orang orang sejatinya sama dengan dirinya, tapi takdir berkata lain, dengan Mahalini menikah dengan Devano kini dia lebih di segani oleh orang-orang di sekitar nya.


Takdir Tuhan memang tidak pernah salah, namun untuk mencapai semuanya itu harus dengan usaha dan juga do'a yang selalu di panjatkan oleh Mahalini kepada Tuhan semesta alam, Mahalini selalu berdo'a ingin di naikkan derajat nya lebih tinggi dari sebelum nya, dan benar? Allah mengabulkan semua do'a Mahalini selama ini, dengan mengirimkan Devano sebagai suaminya sekarang, Mahalini lebih di hargai lagi sebagai anak manusia, bukan seperti kata Mama Agnes kemarin yang mengatakan kalau Mahalini hanyalah anak sampah.


.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2