Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 64.


__ADS_3

Malam hari nya Mahalini sangat sibuk dengan membuat kue di dapur yang ada di apartemen nya.


Devano yang sedang mengerjakan beberapa berkas pekerja'an nya, sejenak menutup laptop dan beranjak dari tempat nya, berjalan menuju Mahalini di dapur.


Mahalini yang sedang sibuk tidak mengetahui kedatangan suaminya.


Grep


Devano memeluk Mahalini dari belakang, Devano mengendus-endus leher putih Mahalini. ''Mas, Lini sedang sibuk,'' gumam nya ketika tangan suaminya mulai nakal.


''Sebentar sayang, aku hanya ingin seperti ini saja kok, agar pikiran ku kembali jernih dengan semua berkas berkas yang ada di sana,'' Devano menunjuk ke arah meja di mana di sana terdapat beberapa berkas yang harus dikerjakan.


''Tapi, nanti kue Lini akan gosong, kalau Mas Vano seperti ini terus,'' jawab nya dengan menggerakkan tubuh nya karena merasa geli akibat ulah suaminya itu.


''Kenapa kamu bikin kue sebanyak ini, dan ada beberapa macam bentuk juga di sini,'' tanya Devano tanpa melepaskan pelukan nya.


''Tadi, waktu di mini market ada seorang Ibu Ibu yang memaksa mau pesan kue sama Lini Mas, jadi kalau kue kue Lini di yerima sama Ibu itu, Lini akan mengundurkan diri dari perusaha'an Mas Vano,'' jawab Mahalini sekaligus dia memberitahu kalau dirinya akan mengundurkan diri dari kantor nya.


''Kenapa kamu mau mengundurkan diri secara tiba-tiba,'' Devano mengerutkan kening nya mendengar ucapan istri nya.


''Entah lah, Lini? tadi juga sempat mencari pekerja'an juga di kampus, tapi tidak ada yang menerima Lini,'' cerita Mahalini kepada suaminya.


''Ada masalah apa di kantor, sehingga kamu mau mengundurkan diri dari sana ,'' tanya nya penasaran.


''Tidak ada masalah sich, cuma Lini tidak enak saja dengan semua yang di dapatkan Lini di sana, ka-,''


''Maksudnya,'' potong Devano.


''Ya karena gaji Lini sama dengan mereka semua, Lini pulang lebih awal dengan gaji yang sama seperti gaji para OB lainnya yang pulang jam 5 sore,'' ungkap nya dengan menundukkan kepala nya.

__ADS_1


''Kalau boleh Mas kasih saran, lebih baik kamu berhenti saja bekerja, dan fokus dalam kuliah, seperti yang tadi Mas ucap kan,'' Devano membalik tubuh katanya sehingga dia bisa saling berhadapan.


''Tapi Lini akan bosan di sini, setiap hari akan sendirian saja,''


''Kalau githu kita pindah ke rumah Mama saja, biar kamu ada teman juga di sana,'' usul Devano yang tidak ingin melihat istri nya merasa sedih.


''Entahlah, tapi nanti akan merepotkan Mama lagi,'' Devano mengerutkan kening nya mendengar istri nya mengatakan merepotkan Mama nya.


''Kamu salah besar sayang, justru Mama yang ingin kamu tinggal di sana, dia juga sudah beberapa kali membujuk ku untuk membawa kamu pulang ke rumah besar itu,'' kata Devano dengan menyentil dahi Mahalini.


Mahalini uang di sentil meringis dan mencebikkan bibir nya. ''Mas Vano kebiasa'an dech, nanti kalau Liningegat otak bagaimana,'' ucapnya cemberut.


Devano tertawa keras mendengar penuturan istri nya, mana ada hanya di sentil saja bisa mengakibatkannya gegar otak, pikir Devano.


Mahalini membalikkan tubuh nya dan mengangkat kue yang sudah matang sejak tadi, Mahalini menata semua kue kue ke atas nampan dan sesekali ia makan kue yang adandi tangan nya. Devano yang melihat hanya tersenyum tipis, namun sedetik kemudian Devano membelalakkan matanya karena yang baru di pegang istri nya sudah menempel di bibir nya.


Devano memakan kue yang di sodorkan ke mulut nya, mengunyah seraya mengedip ngedip kan matanya, menilai rasa seperti chef yang sudah handal.


''Rasa kuenya sudah enak, ada rasa manis dan juga asin yang terasa sangat gurih ketika rasa keduanya bergabung menjadi satu,'' ucapnya dengan terus mengunyah sisa kue di mulut nya.


''Mas?? Lini serius bertanya,'' rengek Mahalini dengan menghentakkan kakinya ke lantai dapur, karena kesal dengan jawaban suaminya.


''Kha, Mas juga serius sayang, kue kamu itu enak? apa kamu lupa kue seperti ini yang pernah kamu sajikan ketika para klien Mas sedang rapat di kantor kemarin,'' Devano mencoba mengingatkan kembali sang istri, kalau dia lupa dengan kue bikinan nya yang membuat semua pekerja'an nya beres saat itu juga.


Mahalini tersenyum mengingat semua nya, ''Lini lupa kalau pernah bikin kue seperti ini juga,'' sahutnya dengan wajah tanpa bersalah sama sekali. Membuat Devano semakin gemas dan juga sayang dengan istri cantik nya.


Setelah selesai membuat kue, Mahalini berjalan menuju sofa, di mana Devano duduk dengan memangku laptop, dia sedang sangat sibuk dengan semua pekerja'an kantor nya.


''Butuh bau,'' tawa Mahalini ketika melihat sang suami yang sedang sibuk.

__ADS_1


''Memang nya bisa,'' tanya Devano dengan mengangkat satu alisnya ke atas.


''Bismillah saja, Mas Devano nyepelein kepintaran Lini ya, memang nya mau di kasih apa? kalau Lini bisa mengerjakan ini,'' tantang Mahalini membuat Devano tersenyum smirk.


''Hadiah nya sebuah ciuman,'' jawab nya dengan menaik turunkan alis nya.


''Ogah,'' tolak Mahalini dengan memyambar satu berkas dan ia pelajari, dan beberapa detik kemudian Mahalini berujar.


''Mas Vano, ini seharus nya seperti ini, dan ini seharusnya seperti ini,'' tunjuk Mahalini ke salah satu gambar yang ada di berkas yang ia ambil tadi.


''Ini juga dananya terlalu tinggi, atau ini salah ketik angka juga,'' tanya Mahalini menunjuk angka yang tertera dengan jelas di berkas tersebut.


Devano mengernyitkan kening nya melihat apa yang di katakan oleh istri nya, semua yang di katakan Mahalini semuanya benar, dan Devano harus segera menyelidiki semuanya, sebelum terlambat, dan akan mengalami kerugian yang gatal kedepan nya.


Devano masih fokus dengan angka angka yang di tunjuk istri nya, dan benar saja, di sana terdapat biaya yang tanpa tau lari kemana. Mahalini memang nyata pandainya, meski dia baru berkuliah tapi mata pelajaran yang di pelajari Mahalini sudah tinggi di banding dengan sesama angkatan nya.


Devano memuji kepintaran istri nya dan dia ingin Mahalini benar-benar membantu dalam membangun perusaha'an nya untuk lebih maju lagi dari sekarang.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2