
Pagi harinya Mahalini sudah sadarkan diri, dan dia kini tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur nya, lebih tepatnya lagi di brankar rumah sakit.
''Neng Lini mau sarapan?'' tanya Bi Ijah yang tengah membantu Mahalini untuk duduk.
''Lini nggak mau makan Bi? pait,'' jawab nya dengan lirih.
''Tapi, neng Lini harus banyak makan? agar cepat pulih dan pulang juga ke rumah,'' kata Bi Ijah membujuk anak majikan nya.
Sejenak Mahalini memejamkan matanya, dan menghembuskan nafas dengan kasar, mengingat kejadian kemarin yang sudah menimpanya. Tangan Mahalini terangkat dan dia memegang salah satu pipinya yang masalah bengkak dan juga nyeri.
''Sebenarnya apa yang terjadi dengan neng Lini, Bibi khawatir sekali karena semua teman neng Lini bilang kalau kemarin neng Lini tidak datang ke kampus, dan malah seperti ini kejadian nya,'' tanya Bi Ijah panjang lebar. Mahalini yang di tanya hanya tersenyum, miris dengan kehidupan nya yang begitu menyakitkan.
''Lini nggak apa apa kok Bi, mungkin orang yang menghajar Lini hanya salah paham saja sama Lini, sudahlah Bi jangan di ingat lagi kejadian yang kemarin,'' sahutnya lembut, tak lupa juga Mahalini menampakkan senyumnya di hadapan sang Bibi, seraya masih menatap lengan beserta kakinya yang membiru karena pukulan dari Mama Agnes dan juga Almira.
'Lebih baik aku pendam sendiri saja rasa sakit hati ini, biarlah mereka berdua merasa puas dengan menghajar ku kemarin, sakit di sekujur tubuhku masih bisa di obati, namun rasa sakit di dalam hatiku, tak akan mungkin bisa terobati dengan obat. Ya Allah, berilah hamba keikhlasan dan juga kesabaran yang lebih dalam menghadapi semua coba'an mu ini, hamba yakin engkau hanya ingin menguji kesabaran ku saja, dan setelah itu engkau akan memberikan sebuah kebahagia'an yang teramat indah,' gumam Mahalini di dalam hatinya. Mahalini menahan air mata nya yang sudah mulai memupuk di kelopak matanya, dia mendongakkan kepalanya agar air mata nya tidak sampai menetes, dan di ketahui oleh Bi Ijah yang kini tengah menemani nya.
Bi Ijah segera keluar dari ruangan yang di tempati oleh Mahalini saat ini, agar dia tidak melihat air mata yang akan menetes di kedua mata anak majikan nya. ''Bibi tau, neng Lini pasti sangat sedih saat ini, dan Bibi juga tau betul siapa yang berani menghajar neng Lini sampai seperti itu. Bibi berjanji akan menjaga neng Lini dengan baik setelah ini,'' janjinya yang menutup pintu ruangan. Namun Bi Ijah justru di buat terkejut dengan kedatangan Devano yang kini sudah berdiri di depan nya.
''Bi Ijah?'' sapa Devano dengan suara beratnya, Bi Ijah yang di sapa seperti itu bertingkat kaget, karena laki-laki yang menyapanya sudah ada di depan nya.
'Apakah Tuan Devano mendengar apa yang aku ucapkan barusan ya,' gumam nya yang masih memegang knop pintu ruangan Mahalini.
__ADS_1
''Bi Ijah kenapa? dan kenapa ada di luar sekarang, apa Mahalini sedang di periksa,'' tanya Devano membubarkan lamunan Bi Ijah.
''Neng Lini ada di dalam Tuan, dia sedang?'' Bi Ijah tak meneruskan ucapan nya karena Devano langsung membuka pintu ruangan begitu saja.
'Aku sudah tau kalau Mahalini sedang menangis saat ini, entah kenapa hatiku terasa sakit mengetahui semua ini,' batin Devano yang kini melihat Mahalini sedang mengusap air mata nya yang sedang mengalir.
''Apa ada yang sakit,'' tanya Devano dengan nada datar nya.
''Tu-tuan,'' ujar Mahalini dengan wajah sedihnya, lalu Mahalini menundukkan kepalanya karena tak mau di lihat oleh bos nya.
''Kamu kenapa menangis, ada yang sakit? aku panggilkan dokter,'' tanya Devano dengan nada khawatirnya, 'Sebenarnya aku tidak tega melihat tubuh kamu yang seperti ini, namun aku selalu kepikiran di saat aku sedang bekerja,' gumam Devano dengan lirih.
''Tidak apa apa kok Tuan, hanya sedikit lapar?'' jawab Mahalini dengan senyuman yang menghiasi bibir ranum nya.
''Makanlah,'' ucapnya dengan menyodorkan satu mangkuk bubur ke tangan Mahalini.
''Terima kasih Tuan,'' jawab nya dan langsung menyendok bubur tersebut dengan masih di lihatin oleh Devano.
''Kenapa nggak di makan?''
''Pahit,'' jawab Mahalini dengan singkat, yang jelas bukan bubur nya yang pahit, melainkan lidahnya yang berasal tidak enak menerima bubur.
__ADS_1
''Makanlah biar kamu cepat sembuh dan cepat pulang! apa kamu kira di sini tidak bayar.'' kata Devano dengan ketus.
Mahalini hanya bisa mengusap dadanya yang bergemuruh karena perkata'an bos nya, Mahalini menyadari kalau yang membayar rumah sakit ini adalah sang bos. ''Pekerja'an kamu semakin banyak, dan semua rencana kita gagal, karena kakek sudah tau lebih dulu sebelum aku membawa kamu ke rumah nya,'' ujar nya dengan datar, Mahalini hanya membola ketika mendengar kakek bosnya sudah tau.
'Kapan aku bertemu dengan kakek nya bos, seperti nya bisa hilang ingatan atau sudah mulai nggak waras apa. Lagian aku juga kan nggak tau letak rumah kakek nya, kenapa beliau harus tau aku tanpa harus capek capek membawa ke rumah nya,' gumam Mahalini yang kini tengah memegang bubur di tangan nya.
Devano menatap Mahalini yang tengah melamun hanya bisa menghela nafas panjang agar dia tidak marah dengan sikap Mahalini saat ini.
''Sudahlah, besok kamu sudah boleh pulang, dan aku sudah menyuruh Riki untuk menjemput kamu besok, aku harus balik ke kantor sekarang, karena kamu sudah sadar dan kayaknya sudah sangat sehat hati ini,'' ucapnya dengan panjang lebar.
Mahalini tersentak dari lamunan nya dan hanya menganga dengan penuturan dari sang bos.
Tanpa menunggu jawaban dari Mahalini, kini Devano sudah keluar dari ruangan Mahalini dan pamit dengan Bi Ijah yang masih menunggu di luar ruangan.
''Jaga dia baik baik Bi, setelah ini belikan dia makanan yang membuat dia berselera untuk makan,'' Devano mengeluarkan uang dari dalam dompet nya dan memberikan kepada Bi Ijah seraya berlalu.
''Tuan Devano sangat baik, namun dia juga sering menakutkan neng Mahalini dengan sikap dingin nya itu,'' Bi Ijah menatap kepergian Tuan Muda nya.
Bi Ijah kemudian masuk ke dalam ruangan Mahalini, di mana di sana Mahalini mulai menurunkan kakinya dari brankar yang biasa tiduri.
''Neng Lini mau kemana?'' seru Bi Ijah yang langsung menghamburkan dirinya, dia takut anak majikan nya jatuh dan Tuan mudanya akan memarahinya.
__ADS_1
''Lini mau ke kamar mandi kok Bi?'' jawab nya dengan membawa infus di tangan kirinya.