
Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya Devano pasrah dengan kemauan Mahalini, di meja makan juga ada kedua orang tuanya yang juga memantau putri nya.
''Mas Vano sering tau Mi nggak bolehin aku untuk makan yang pedas pedas, kan bete' jadinya,'' adu Mahalini kepada sang Mami yang kini sudah berkumpul di ruang tamu nya.
''Nggak boleh seperti itu lagi oke, biarkan istri mu makan sesuka nya, asal tidak berlebihan,'' sahut Mami Amora dengan sangat lembut.
Devano hanya mengangguk pasrah, mengingat dirinya sudah terlalu melarang kemauan istri nya selama ini, ''Baiklah, tapi jangan terlalu pedas juga kan Mi,'' sambung Devano dengan menghela nafas panjang nya.
''Dan kamu juga dengerin perkata'an suami kamu, dia melarang kamu melakukan ini itu, dan makan ini itu? itu semua hanya semata mata karena dia sayang sama kamu nak?'' kata Mami Amora kepada menantunya.
''Iya Mi,'' jawab Devano dengan pasrah.
Mereka asik mengobrol sampai sampai tidak terasa sudah jam 11 malam, dan Mahalini sudah tertidur pulas di sofa yang biasa duduki.
''Kasian banget kamu sayang, gara-gara keenakan ngobrol nya, sampai-sampai kamu tidur seperti ini,'' cetus Mami Amora melihat putri nya sudah terlelap.
''Vano pindahin dulu ke kamar Ma, Mi,'' pamit Devano dengan menelusup kan kedua tangan nya ke tubuh Mahalini, untuk menggendong nya, dan di bawa nya ke kamar yang ada di lantai atas.
''Aku juga mau pamit jeng, kita ketemuan besok di tempat biasa ya,'' kata Mami Amora dengan beranjak dari tempat duduk nya, Tuan Sagara juga ikut bangun dari duduk nya dan berjabat tangan kepada sang besan.
Tak lupa juga Tuan Sagara menitipkan Mahalini kepada besan nya, ''Titip putri saya, kalau dia ada salah tegur saja,'' ungkap Tuan Sagara kepada Papa Devano.
''Pasti, Mahalini sudah saya anggap sebagai outriku sendiri, jadi anda tidak perlu khawatir lagi pada Mahalini,'' jawab nya dengan menepuk punggung Tuan Sagara.
''Baiklah, terima kasih sebelum nya,''
__ADS_1
Papa Devano mengangguk pelan, sembari mengiyakan.
Tuan Sagara dan Mami Amora sudah pulang dari rumah besar Mama Clara, sedangkan Devano tidak turun kembali kembali, dia langsung menemani sang istri yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.
Devano membuka hijab yang sedang di pakai sang istri, di tatap nya wajah Mahalini dengan lamat lamat, sungguh sangat cantik dan juga adem melihat wajah istri nya.
''Penampilan kamu seperti ini saja, masih tetap saja ada orang yang terpesona dengan kecantikan kamu sayang, tapi aku sangat bersyukur sekali sudah mendapatkan cinta kamu, dan maafkan kesalahan yang lalu ya sayang,'' gumam Devano dengan membelai pipi putih Mahalini.
Mahalini menggeliat, mungkin tidur nya terganggu oleh usapan jati besar Devano, namun matanya masih terpejam, hanya saja memiringkan tubuh nya dengan menghadap ke arah suaminya.
Devano tersenyum dengan sang istri, yang malah semakin menelusup kan wajah nya ke dada bisang Devano.
''Tidur lah sayang, aku tidak akan mengganggu kamu malam ini, dan dedek juga bobok? kasian Bunda seharian sudah capek mengurus rumah catering nya.''Bisik nya kepada calon baby nya.
Devano membenarkan selimut Mahalini dan di keduanya dengan sangat lembut dan lama di kening sang istri. Tak lama kemudian Devano sudah bergabung di dalm mimpi.
Di rumah catering, Pak Djarot dan sang istri tengah sibuk membuat bumbu kacang buat besok, tadi sore Mahalini sudah melarang Pak Djarot dan Ibu Marni untuk membuat bumbu hati ini, karena semua para pegawai yang lain nya sudah pada pulang, Pak Djarot hanya mengangguk, namun tidak mengindahkan perkata'an Mahalini.
''Pak e, apa tidak apa apa kita bikin malam ini,'' tanya sang istri yang selalu di panggil Bune.
''Tidak apa apa Bune, itung-itung Bapak tidak bisa tidur malam ini, kalau Bune mau tidur tidur saja, Bapak akan bikin sendiri, lagian besok enak tinggal membantu yang lain nya Bune,'' ujar Pak Djarot, yang masih terus menggiling bumbu kacang nya.
''Bune juga tidak bisa tidur Pak e, jadi biarkan Bune bantu Pak e saja lah,'' balas nya dengan mengambil kacang kacang yang sudah di goreng tadi sore.
Pak Djarot dan Bu Marni memang tinggal di rumah catering Mahalini, kebetulan di samping nya ada sebuah kamar yang bisa di tempati oleh mereka berdua, awal nya Pak Djarot menolak pindah dari rumah nya, karena Mahalini dan Devano akan memindahkan Pak Djarot ke tempat perumahan yang tergolong elite, dengan tegas Pak Djarot menolak ajakan tersebut, dan Mahalini langsung inisiatif lebih dulu agar keduanya mau tinggal di rumah catering nya.
__ADS_1
Pak Djarot langsung menganggukkan kepala nya. Pak Djarot bukan nya menolak rumah yang di berikan oleh Mahalini untuk nya, tapi beliau akan merasa sangat kesepian di rumah tersebut, di tambah lagi para tetangga akan sibuk dengan urusan kantor nya masing-masing, sedangkan Pak Djarot sendiri hanya penganggaran dan tidak tau mau berjualan apa dengan rumah di sana.
Kembali ke Pak Djarot.
''Bune, kalau misalkan ada anak kecil di sini sangat rame ya, tapi setelah mereka pulang semuanya langsung menjadi sepi,'' ucap nya dengan lirih.
''Iya Pak e, tapi kita harus bersyukur? karena di usia kita saat ini masih ada orang baik pada kita Pak e, Bapak tidak tau kalau tidak ada Non Mahalini, selama ini dia sangat baik sama keluarga Bapak,'' sahut sang istri dengan nada sedih nya, mengingat di hati tuanya semua orang yang biasa sayangi pergi meninggalkan mereka berdua untuk selama lama nya.
''Bapak jangan sedih gitu? Bune juga ikutan sedih kan?'' tambah nya dengan memeluk tubuh tua Pak Djarot.
Mereka berdua larut dalam kesedihan, tapi Pak Djarot buru buru mengusap air matanya dengan lengan tangan nya, ''sudah, lebih baik kita selesaikan ini segera Bune, setelah itu kita harus istirahat karena besok akan banyak pesanan di sini,'' Ucap Pak Djarot mengalihkan ucapan istri nya.
Bu Marni mengangguk dan memasukkan semua kacang ke dalam penggilingan, kini bumbu bumbu sudah siap dan besok tinggal di adon saja, lalu di bungkus plastik kecil.
Pak Djarot selalu memandang wajah istri nya yang sudah tidak muda lagi, tapi Pak Djarot sangat terharu karena hanya dia yang bertahan sampai saat ini, karena keluarga Pak Djarot sendiri pergi dan tidak mau mengakui kalau Pak Djarot adalah saudara nya, karena Pak Djarot yang sangat miskin.
Apakah itu adil bagi seseorang yang hanya dia miskin, jadi di buang begitu saja oleh saudara nya, sedangkan masih banyak orang orang yang lebih tidak mampu dari keluarga Pak Djarot, tapi semua keluarga mereka mendukung dan mensuport nya, bukan pergi meninggalkan nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.