
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore, Mahalini sudah bersiap siap untuk segera berangkat ke kampus nya, beberapa hari ini dia sudah tidak masuk kuliah lagi.
''Alhamdulillah, selesai juga?'' gumamnya seraya mengelap tangan basah nya, sebelum pergi Mahalini memang masih membersihkan semua barang barang yang kotor di pantry.
''Sudah mau pulang,'' tanya Clarencia ketika melihat Mahalini sudah berganti dengan kaos nya.
''Iya Kak, mau ke kampus dulu, semuanya sudah Lini beresin kok? Kak Clarencia tenang saja,'' jawab nya dengan menyambar tas selempang nya yang sudah usang menurut Clarencia dan juga para karyawan di perusaha'an Devano.
Mereka tidak tau saja, kalau Mahalini mempunyai tas branded, yang kemarin di belikan oleh mertuanya.
''Lini pamit ya Kak,'' ucap nya kepada Clarencia seraya melambaikan tangan nya.
Mahalini naik lift di mana tepat di lantai 12 pintu Lift terbuka dan nampak lah Mita di luar dengan seorang teman nya, Mita menatap sinis kepada Mahalini yang mau pulang tersebut.
''Enak banget ya, jam segini sudah mau pulang saja, sedangkan yang lain masih sibuk bekerja ech ada seorang sampah yang mau pulang,'' ujar nya dengan kekehan kecil yang menyindir Mahalini.
'Ya Allah, kuatkan hamba? hamba tidak mau ribut di kantor ini, dan itu akan membuat aku malu di depan suami ku,' gumam nya di dalam hati.
''Heh! nggak usah sok polos dech, kamu itu hanya seorang sampah yang di pungut Tuan Setiawan,'' tukasnya dengan kasar.
''Maaf kak, Lini memang selalu pulang jam 3, karena Lini juga harus kuliah,'' Ucap Mahalini dengan menundukkan kepalanya.
''Alasan doang,'' sahutnya dengan sarkas.
Ketika pintu lift terbuka, nampak lah di depan pintu lift Riki tengah berdiri dengan angkuh nya dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
''Lini, ayo cepat? kita bisa telat ke kampus nya,'' ujar Riki membuat Mahalini dan juga yang lain nya terperangah, karena Riki tiba-tiba di depan pintu lift dan mengajak Mahalini ke kampus nya.
''Kamu seperti siput saja,'' rutuk Riki dengan menyentil dahi Mahalini, sontak Mahalini melotot ke arah asisten suaminya.
'Bisa bisanya Pak Riki bicara seperti itu, apa dia tidak takut kalau Mas Vano mengetahui ini semua,' batin nya.
Riki menarik tangan Mahalini yang masih tidak merespon dengan ucapan ucapan Riki barusan.
Mita dan juga teman nya hanya cengo melihat perlakuan asisten tuan muda nya memperlakukan Mahalini dengan sangat baik.
''Aku heran dengan Mahalini, sebenarnya dia itu menggunakan ilmu apa sich sehingga banyak laki-laki yang suka dan mengejar ngejar dia,'' gumam Mita pelan.
'''Aku juga tidak tau persis akan semua nya, tapi aku yakin Lini mempelajari ilmu pelet, sehingga laki-laki yang melihat nya akan bertekuk lutut kepada nya.''
Semua perkata'an teman nya di benarkan oleh Mita, karena tidak mungkin juga kali Mahalini selalu di kejar laki-laki kalau tidak memiliki ilmu pelet, pikir nya.
Di parkiran Mahalini sedang bingung karena di dalam mobil sudah ada suaminya yang sedang menunggu nya, untuk mengantarkan ke kampus nya.
''Mas Vano kok sudah ada di sini saja,'' tanya Mahalini dengan wajah kebingungan nya.
__ADS_1
''Kamu saja yang terlalu lama di dalam lift, tadi aku sempat menunggu kamu juga di depan lift, tapi pintu lift nya tak kunjung terbuka juga,'' jawab Devano dengan nerdecak kesal melihat istri nya yangasih mematung di luar mobil nya.
''Ada yang sengaja menahan Mahalini Bos, dia juga di bully habis habisan,'' adu Riki kepada bos nya yang masih berdiam di dalam mobil nya.
''Sudah lah, kita bahas itu sebentar lagi, karena Mahalini juga akan telat berangkat ke kampus nya,'' balas Devano yang tak ingin mendengarkan penjelasan dari Riki saat ini.
''Masuk lah, takutnya dosen killers kamu sudah masuk ke dalam kelas kamu sekarang,'' ucapnya dengan di angguki Mahalini.
Mahalini segera memasuki mobil Devano, dan Devano juga melajukan mobil nya menuju ke kampus Mahalini yang berjarak hanya 1 kilometer saja dari kantor Devano.
''Kenapa kamu diam saja, saat mendapatkan bullyan dari rekan kerjanya,'' tanya Devano tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah Mahalini.
''Mereka semua senior Mas, Kini juga tidak berani menyinggung mereka dan Kini juga tidak mau jadi gunjingan karena apa yang mereka ucapkan semuanya benar,'' jawab Mahalini dengan menundukkan kepalanya. Mahalini tidak berani menatap wajah suaminya yang kini tengah mengepal salah satu tangan nya karena jawaban Mahalini kepada nya.
''Jadi kamu lebih suka di bully, dari pada membela diri,'' seru Debay dengan badan yang sedikit meninggi.
''Maaf Mas,'' jawab Mahalini hanya bisa mengatakan kata maaf saja kepada suaminya.
''Sudahlah, membahas itu semua hanya bikin aku kesal saja, kalau kamu seperti itu terus? aku bakal pecat kamu dari kantor ku,'' ancam Devano, membuat Mahalini membelalakkan matanya.
Mahalini hanya diam di sepanjang jalan menuju kampus nya, saat ini hatinya resah dengan memikirkan semua ucapan Mita dan juga teman nya tadi di kantor tempat ia bekerja.
''Mas, haruskah aku pindah kerja, aku juga merasa tidak enak dengan teman yang lain nya, mereka mengira Lini anak mas di kantor itu, karena sudah memperbolehkan Lini pulang lebih awal dari yang lain nya,'' Ucap Mahalini tiba-tiba.
''Jangan aneh aneh dech, kalau kamu mau pindah bekerja, lebih baik kamu berhenti saja sekalian? dan fokus pada kuliah kamu, karena setelah itu kamu akan membantu aku di perusaha'an,'' sahut Devano dengan tatapan tajam ke arah Mahalini.
''Lebih baik kamu masuk ke kampus kamu sekarang, nanti aku jemput kalau sudah waktunya pulang, jadi? telfon aku oke,'' titah nya dengan senyuman menyeringai di bibir nya.
''Baiklah,'' Mahalini mencium punggung tangan suaminua sebelum keluar dari mobil Devano.
''Belajar yang benar?'' tukasnya setelah Mahalini keluar dari mobil nya.
Mahalini mengangguk dan melambaikan tangan nya kepada suaminya yang sudah pergi.
Mahalini menarik nafas panjang nya, dan menghembu melalui mulut nya, diapun bergegas berjalan ke kelas di mana di sana seorang teman nya sudah menunggu kedatangan Mahalini.
''Woi sob, lama tak jumpa,'' sapanya dengan ala ala anak gaul nya.
''Apaan sich, bicara yang benar, aku paling males kalau kamu bicara seperti itu,'' sahut Mahalini mendaratkan bokong nya di kursi tempat biasa ia duduki.
''Lha, apa yang salah? lho aja yang terlalu sensi dengan perkata'an ku yang memang sudah seperti ini sejak orok,'' balas nya dengan menyenggol lengan Mahalini.
''Sudah lah, aku malas debat dengan mu, yang pasti aku sedang nggak mood hati ini,'' Mahalini memejamkan matanya sejenak, dan menatap ke arah sahabat nya yang mungkin dia juga menerima Mahalini karena dia pintar dan juga pandai dalam semua hal dalam pelajaran di kampus nya.
''Apa aku bersalah kalau aku hanya lah anak pungut,'' tanya Mahalini dengan nada sedih nya.
__ADS_1
''Lha, kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak githu,'' jawab Ana ketika mendengar ucapan sahabat nya.
''Entah lah, aku merasa hidup ku percuma di dunia ini, aku juga tidak tau siapa orang tuaku yang sebenarnya, kenapa dia tega membuangku di jalan waktu itu, kenapa mereka nggak bunuh saja aku? biar aku bisa hidup dengan tenang dan juga tanpa gunjingan dari orang orang, karena aku di ounguy oleh keluarga Setiawan.'' cerita Mahalini kepada sang sahabat.
''Sudah kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, yang harus kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana mendapatkan nilai yang lebih bagus dari bulan lalu, itu saja dech,'' sambung Ana yang tak mau melihat sahabat nya merasa sedih.
Air mata Mahalini kini sudah menbanjiri kedua pipinya yang putih mulus itu. ''Aku nggak tau hati ini kenapa aku sangat sedih sekali Ana, apa mungkin aku harus berhenti bekerja ya,'' ucapnya lagi kepada Ana.
''Kalau itu baik buat kamu kenapa tidak,'' jawab nya dengan asal. ''Ech, apa kamu bilang tadi,'' tanya Ana kembali, karena dia takut ada kesalahan di pendengaran nya.
''Aku berhenti bekerja di kantor itu, dan pindah githu maksud nya,'' kata Mahalini lagi.
''Kalau kamu mau berhenti dari perusaha'an itu, lalu kamu mau bekerja di mana?''
''Bagaimana kalau bekerja dengan kamu saja di cafe, tolong dong tanyakan ada lowongan kerja apa nggak di sana,'' mohon Mahalini dengan menggenggam tangan Ana.
''Tapi apa tidak apa apa, kan tempat jauh dari rumah kamu, lagian tempat ku bekerja pulang nya juga malam lho,'' ucap Ana kemudian.
''Terus bagaimana dong?'' Mahalini menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya sendiri.
''Lebih baik kamu ijin dulu dech sama bokap dan juga adek lho tuh si Farel, gue takut terjadi sesuatu sama kamu kalau pulang malam,'' kata Ana pelan.
...****************...
Di kantor Papa Setiawan sedang bekerja dengan sangat serius, namun tiba-tiba Mama Agnes menghubungi dengan mengatakan kalau Almira sedang sakit dan di rawat di rumah sakit.
-''Hallo,'' jawab Papa Setiawan dengan datar.
-''Papa, cepat pulang? Mira sedang sakit dan sekarang dia di rawat di rumah sakit,'' ucapnya dengan nada sedikit khawatir.
-''Papa tidak bisa pulang lagi, karena baru kemarin Papa pulang, jadi Mama saja yang jaga Almira di sana, nanti Papa tranfer dech,'' balas Papa Setiawan malas, lagipula dulu nya pernah di bohongin dengan ucapan yang sama, dengan mengatakan kalau Mira sedang sakit dan di rawat di rumah sakit, tapi Almira malah asik asikan nongkrong bersama teman teman nya, jadi alasan seperti itu sudah tidak mempan lagi untuk Papa Setiawan.
-''Tapi Pa, Mira ingin bertemu dengan Papa,'' kata Mama Agnes sebelum sambungan telfon nya di putus begitu saja oleh Papa Setiawan.
Mama Agnes di seberang geram dengannkelakuo suaminya yang memutuskan panggilan nya secara sepihak.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕