Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 89.


__ADS_3

Keesokan hari nya, keluarga Mahalini datang ke rumah catering RISTY. Di mana di sana sudah pada datang tamu tamu yang di undang, karena hari ini adalah acara pembukaan usaha catering yang sudah di rencanakan sebelumnya oleh Tuan Sagara dan juga Devano.


Selain acara pembuka'an usaha baru Mahalini, ternyata keluarga nya sudah merencanakan acara selamatan 4 bulan kehamilan Mahalini.


Beberapa anak yatim yang di undang sudah pada berdatangan ke tempat yang lumayan luas dan juga besar, para koki dan juga pegawai Mahalini sudah berjejer rapi menyambut kedatangan Mahalini bersama keluarga yang lain nya.


Teman baik Mahalini juga ada di jejeran tersebut dengan senyuman yang mengembang di kedua bibir nya.


Mahalini sangat terharu, mengetahui itu semua yang sudah di persiapkan untuk dirinya.


''Mas,''


''Ini untuk kamu sayang, dan tempat ini Papi yang memilih nya,'' bisik nya dengan melirik seorang laki-laki paruh baya, yang masih terlihat sangat tampan.


''Kenapa membuat kan tempat sebesar ini sich Mas, Lini bisa mencari tempat yang lebih kecil dari ini kan?'' sahut nya dengan berbisik juga.


''Sudah, ini semua untuk kamu sayang, kami menyiapkan tempat ini uy usaha baru kamu, dan juga ini untuk menebus semua salah Papi dan Mami selama ini sama kamu, jadi terima ya,'' ucap Mami Amora.


''Ayo masuk, acara akan segera di mulai,'' ajak Mama Clara dengan menggandeng tangan Mahalini.


Di dalam nampak anak anak yayasan yang sengaja di datangkan oleh sang Mami, ''Mami sengaja mengundang anak anak ini untuk mendoakan kandungan kamu dan juga usaha kamu ini, semoga kamu selalu di limpahkan kesehatan, rezeki yang berkah barokah, dan juga kasih sayang yang berlimpah dari semua orang terdekat kamu ya sayang?'' ucap Mami Amora.


Mami Amora adalah salah satu donatur tetap dari yayasan yang sengaja ia undang untuk mendo'akan putri nya dan juga calon cucu nya.


''Assalamu'alaikum adek adek,'' sapa Mahalini ramah.


''Waalaikum salam kak?'' jawab nya dengan serempak.

__ADS_1


''Bagaimana kabar nya hari ini,'' tanya Mahalini lagi dengan mengembangkan senyuman nya ketika melihat senyuman manis di bibir adek adek yang kurang beruntung itu.


''Alhamdulillah baik kak?'' sahut nya lagi, lagi lagi mereka menjawab hampura bersama'an.


''Alhamdulillah,'' jawab Mahalini dengan melangkah ke arah salah satu adek yang lumayan kecil dari mereka semua.


Mahalini menggendong balita yang masih berusia 1 tahun tersebut, Mahalini nampak sudah sangat terbiasa menggendong anak kecil, membuat Devano berdecak kagum dengan tingkah Mahalini yang garcep.


Mahalini memang suka dengan anak kecil, dulu ketika dia masih sendiri? dia selalu menyempatkan datang ke perkampungan, di mana di sana banyak anak anak yang kurang mampu, tapi setelah dia menikah dengan Devano, Lini sudah sangat jarang pergi ke sana, hanya sesekali dia menitipkan sejumlah uang kepada teman nya yang juga sering datang ke sana, teman Mahalini mengajar di sana ketika ada waktu senggang, jadi Mahalini bisa bernafas lega melihat anak anak yang dulunya tidak sekolah, kini mereka semua sudah bisa membaca dan juga ada sebagian yang sudah bekerja di salah satu bengkel dan juga sebuah warung.


Adek adek dari Yayasan membaca Al-Quran dengan di pandu Ibu kepala Yayasan tersebut, sedangkan Mahalini kini sedang memegang dot karena si kecil sedang haus.


Devano menghampiri Mahalini yang sedang sibuk dengan balita tersebut.


''Asik banget kayak nya dech, sampai sampai suami nya di cuekin gituu,'' vetus nya ketika membaca Al-Quran dan do'a sudah selesai, dan kini semua sedang menikmati makan siang nya bersama sama.


''Iya Mas, ini balita kasian banget ya, sejak bayi sudah tinggal di Yayasan kata mbak nya tadi, entah siapa orang tuanya? dia hanya di gele takkan di depan pintu tanpa sehelai kain,'' jawab Mahalini dengan mengecuo pipi balita yang masih ada di gendongan nya.


''Bagaimana, kalau besok besok kita datang ke Yayasan langsung, aku ingin melihat semua yang da di sana sayang?'' ujar Devano dengan mengelus pipi tembem bayi tersebut.


''Iya Mas, tadi Lini juga punya pikiran seperti itu juga, tapi masih nunggu waktu yang tepat, tapi sekarang Mas yang bilang begitu jadi Lini sangat sangat bersyukur sekali, memiliki suami yang gercep seperti Mas Vano,'' sahut nya dengan pelan, agar bayi yang sedang tidur dengan pulas tidak terbangun oleh karena dia yang sedang mengobrol dengan suami nya.


Tadinya bayi mungil itu akan di letakkan di atas lantai, yang hanya di apasi dengan karpet yang tidak seberapa tebal, tapi Mahalini mencegah mbak nya, dan Mahalini langsung mengambil alih, agar dia lebih lama menggendong si kecil.


''Nanti kalau anak ku lahir, Lini tidak akan pernah meninggalkan dia sendirian, karena Lini tau bagaimana rasanya sendirian waktu itu,'' gumam nya dengan nada lirih.


''Kita akan bersama untuk selamanya sayang, hanya maut lah yang akan memisahkan kita berdua,'' sahut Devano dengan memeluk sang istri yang sudah merasa sedih.

__ADS_1


''Sekarang lebih baik kita makan sekarang, '' ajak Devano kepada Mahalini, tapi Mahalini menggeleng dengan cepat, dia tidak ingin melepaskan bayi kecil dari gendongan nya.


''Lini belum lapar Mas, Mas Vano saja yang makan duluan? nanti Lini makan sendiri,'' balas nya dengan mwngulas senyum di bibir nya.


''Baiklah,'' Devano beranjak dari tempat nya, dan berjalan menuju meja yang masih banyak dengan makanan.


Devano mengambil makanan dan beberapa lauk pauk dengan nampan di bawah nya, Devano sengaja meminta nampan kepada salah satu orang dapur yang sedang menata kembali masakan yang tinggal sedikit.


Mahalini membulatkan matanya ketika melihat beberapa makanan di atas nampan, ''Mas, memang nya kamu habis dengan makanan sebanyak itu,'' Tanua Mahalini yang penasaran.


''Ini untuk kita berdua kok sayang, Mas mana mungkin bisa menghabiskan semua makanan ini sich,'' jawab nya dengan menaruh nampan di depan nya.


''Tadi Lini kan bilang nanti saja makan nya,'' sambung nya dengan mengerucut kan bibir nya.


''Mas akan suapin kamu kok sayang, jadi kamu masih tetap gendong si kecil ini,'' balas nya dengan menyendokkan nasi dan menyuapi istri nya.


Mahalini hanya membalas dengan senyuman, ketika melihat suami nya sangat perhatian kepada nya.


'Terima kasih atas nikmat yang selalu engkau berikan kepada hambamu ini Ya Allah, engkau memang maha adil dan juga maha segala galanya,' batin Mahalini dengan mengulas senyum ketika menatap wajah suami nya yang sangat tampan.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2