Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 52.


__ADS_3

Mama Clara membawa Mahalini ke salah satu Mall terbesar di kotanya, setelah baju yang di pesan datang. Tidak mungkin juga Mahalini datang ke Mall dengan kain sarung dan juga kaos yang kedodoran, itu kan aneh banget.


Mahalini di bawa ke toko baju dan juga perlengkapan kerja lainnya, ''Maaf Nyonya, bisa saya bantu,'' tanya sangat karyawan yang bersikap ramah dengan Mama Clara, sedangkan dengan Mahalini dia bersikap angkuh.


''Aku mau cari baju buat menantu ku ini, carikan yang paling bagus,'' jawab Mama Clara yang mengerti dengan tatapan karyawan toko, sedangkan Mahalini yang sudah sering di remehkan oleh orang lain hanya bersikap biasa biasa saja.


''Kenapa sayang? apa kamu tidak suka sama baju baju yang ada di sini,'' tanya nya dengan sedikit keras, agar pegawai tadi bisa mendengar ucapan Mama Clara.


''Lini mau beli sepatu saja Ma, baju baju Lini yang di beliin Mas Devan juga masih banyak yang Lini nggak pakek,'' jawab nya polos, padahal Mama Clara hanya mau pergi dari toko yang sudah merendahkan menantu nya saja, hanya dengan penampilan yang sederhana seseorang bisa menghina orang lain begitu saja.


''Lebih baik kita ke toko sebelah saja,'' ajak Mama Clara dengan menggandeng lengan Mahalini.


Pegawai tadi hanya cengo' melihat kepergian dua orang tadi yang sempat ia pandang remeh. ''Harusnya kamu lebih sopan lagi tau nggak, tidak usah bersikap sinis seperti itu sama pembeli,'' tegur salah satu teman yang juga bekerja di toko tersebut.


''Ya kali aku harus bersikap baik dengan gembel,'' tukas nya dengan nada ketus.


''Kalau manajer toko ini tau kelakuan kamu seperti itu, bisa bisa kamu di pecat dari sini,'' satu teman nya juga mengingat kan sang teman, tapi apalah daya? sikap sombong nya tidak akan pernah berubah hanya karena teguran dari kedua teman nya yang sama sama pekerja, sedangkan wanita culas yang merasa dirinya paling cantik dan juga paling seksi di toko ini, adalah kesayangan sang manajer toko, jadi omongan omongan teman teman nya hanya di anggap sampah saja oleh pegawai tersebut.


''Memang kamu pegawai kesayangan manajer, tapi membuat toko sepi pembeli apa tidak akan mengalami kebangkrutan nantinya,'' sambung salah satu teman nya yang sudah jengah melihat perilaku teman nya.


''Sudahlah, biarkan mereka pergi dan aku juga tidak akan terlalu capek melayani wanita yang sok kaya itu,'' jawab nya ketus dan berlalu pergi meninggalkan ke-tiga teman nya yang masih mematung di tempat nya.


''Kalau seperti ini terus, kita nggak akan dapat gaji kita lagi, sedangkan aku sangat membutuhkan gaji itu untuk di kirim ke kampung,'' ucap salah satu pegawai toko dengan sedikit pelan.


''Kamu yang sabar, pasti ada jalan nantinya,'' seorang teman menepuk bahu nya dengan sangat pelan, agar dia bisa ikhlas dalam menerima cobaan tersebut.


Mama Clara dan Mahalini masuk ke toko sepatu, mencari ukuran sepatu untuk sang menantu. ''Kamu pilih pilih saja dulu, Mama mau pergi ke toilet sebentar?'' pamit Mama Clara dengan meninggalkan Mahalini sendiri di dalam toko.


''Mau cari apa Kak,'' tanya sang pegawai yang kinindatang menghampiri Mahalini.


''Saya mau cari sepatu kets Kak, bisa tunjukkan di mana tempat nya,'' sahut Mahalini dengan ramah.


''Mari ikuti saya Kak, di sini banyak pilihan sepatu kets yang kakak tanya,'' jawab sang pegawai tak kalah ramah dari sebelum nya.

__ADS_1


''Maaf Kak, ada yang lebih murah dari ini tidak?'' tanya Mahalini dengan memegang sepatu di tangan nya.


''Ada, di sebelah sini kak,'' sahutnya dengan senyuman simpul di bibir nya, pegawai tersebut juga mengerti, Mahalini tidak mungkin membeli sepatu mahal walaupun itu semua memakai uang dari suaminya.


''Kakak masih kuliah atau sudah bekerja,'' tanya sang pegawai ketika melihat penampilan Mahalini.


''Alhamdulillah, saya sudah bekerja, dan juga kuliah kak, ya itung itung buat beli perlengkapan kuliah dan juga makan Kak,'' jawab Mahalini dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya kepada sang pegawai.


''Bagus dong Kak, aku juga sebenarnya ingin kerja dan juga kuliah, tapi waktunya belum bisa, jadi cuma bekerja saja sekarang,'' balas wanita cantik yang bekerja di toko sepatu.


''Mungkin lain kali bisa kuliah Kak,'' kata Mahalini memberikan semangat kepada sang pegawai.


Almira yang melihat Mahalini berada di Toko sepatu segera menghampiri hanya untuk mempermalukan nya saja.


''Orang miskin sok so'an masuk ke dalam toko ini, jangan sok jadi orang,'' seru Almira membuat beberapa pelanggan yang ada di sana menatap ke arah Mahalini dan juga sang pegawai yang sedang melayani Mahalini.


''Lebih baik ke pasar saja sanah, kamu mana ada uang untuk beli sepatu di toko ini, atau jangan jangan kamu mau maling ya,'' Almira mulai menghina Mahalini, seakan tidak punya rasa malu Almira bertingkah seperti orang yang tidak punya etika sama sekali, jangan etika dia punya, adab pun dia tidak akan memilikinya.


Mahalini yang di hina hanya diam saja, karena percuma meski Mahalini membalas perlakuan Almira, Almira tidak akan merasa puas sebelum membuat orang di hadapan nya tumbang dan juga malu.


''Baik kak?'' jawab sang pegawai dan segera membawa sepatu pilihan Mahalini ke meja kasir.


Karena Mama Clara belum juga kembali ke toko tersebut, Mahalini mengeluarkan uang yang tadi Devano berikan kepada nya.


Almira bersecak kesal, ketika melihat Mahalini dwngan buru buru pergi setelah membayar nya. Salah satu teman yang datang bersama dengan Almira di buat kaget, dengan sikap Almira yang di tujukan kepada Mahalini.


''Kenapa kamu malah bersikap seperti itu kepada Mahalini, bukankah dia adikmu?'' tutur nya dengan kening mengkerut, karena belum mengerti dengan sikap Almira barusan.


''Siapa bilang dia adekku, hanya orang bodoh saja yang mengakui wanita itu adalah adekku, adekku hanya Farel bukan Lini, Lini hanya anak yang di buang orang tuanya di tempat pembuangan sampah!!'' ungkap nya dengan nada yang semakin sombong di depan orang orang yang tak sengaja melihat nya.


''Sudah lah, kalau dengar kamu bicara seperti itu,kepala menjadi pusing. Lebih baik kita ke restoran saja? perutku juga sudah minta di isi,'' potong nya dengan nada datar. Teman Almira sebenarnya sudah mengetahui itu semua, tapi Almira selalu mengulang cerita itu setiap kali bertemu dengan Mahalini, membuat dirinya merasa jengah ketika bepergian bersama teman angkuh nya itu, siapa lagi kalau bukan Almira.


Keluar dari toko sepatu, Mahalini menatap ke segala arah untuk melihat siapa tau Mama mertua nya sudah keluar dari toilet. Mahalini yang berjalan mundur tidak sengaja menabrak seorang pria paruh baya, sehingga membuat ponsel yang di pegang pria tersebut jatuh ke lantai Mall, Mahalini yang terkejut segera membalikkan tubuh nya, sejenak menatap benda pipih yang terjatuh di lantai Mall.

__ADS_1


''Maaf Tuan, saya tidak sengaja,'' ucapnya dengan meraih benda pipih yang ada di bawah kakinya.


Di saat Mahalini berjongkok untuk mengambil ponsel di lantai, sebuah kalung yang ia kenakan keluar dari dalam bajunya, memperlihatkan kepada seorang pria di depan nya.


''Maaf Tuan, kalau ponsel nya rusak biar saya ganti saja,'' kata Mahalini melihat ponsel yang ia ambil dari lantai dalam keadaan mati.


Namun pria paruh baya di depan nya tidak merespon ucapan Mahalini, dia hanya menatap tajam kalung yang di pakai Mahalini sekarang. 'Mungkin aku salah lihat dan juga mungkin salah mengenali kalung itu, tapi tidak menutup kemungkinan, kalung itu adalah kalung pemberian ku dulu,' batinnya berkecamuk memikirkan kalung yang sempat di pakaikan di leher sang puteri dulu sebelum dia di culik.


''Tuan, maafkan saya? saya bisa ganti ponsel anda,'' ucap Mahalini dengan sekali lagi, sehingga lamunan pria paruh baya itu buyar begitu saja.


''Sudah, tidak apa apa, aku bisa perbaiki ini kok? lagipula kamu sedang mencari siapa sehingga tidak melihat jalan,'' tanya laki-laki tersebut, mencoba terus bersikap baik di depan nya, sedangkan pandangan nya masih terus menatap kalung beserta liontin yang di pakai Mahalini.


Ya, kalung itu selalu Mahalini pakai, setelah Papa Setiawan memberikan nya tepat di hati pernikahan nya dengan Sebanyak-banyaknya satu bulan yang lalu, Mahalini sendiri masih penasaran dengan kalung yang dia pakai, karena tidak pernah menemukan di Toko Toko perhiasan maupun di Toko online sekalipun, jadi Mahalini tidak ingin melepaskan kalung pemberian sang Ayah satu bulan lalu.


''Sayang, ternyata kamu ada di sini? tadi Mama mencari kamu di toko sepatu itu, tapi Mama tidak ketemu dan kata pegawai di sana kamu sudah pergi,'' Ucap Mama Clara yang tiba-tiba datang begitu saja.


''Iya Ma, tadi Lini hanya membeli sepatu ini saja kok,'' jawab nya, mencoba untuk tersenyum di depan sang mertua, sebenarnya di dalam hati Mahalini merasakan ketakutan karena sudah merusak ponsel pria paruh baya itu.


''Saya permisi,'' putus pria paruh baya itu, lalu kemudian pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Mahalini.


''Siapa itu sayang, kok kayak nya datar banget mukanya,'' seru Mama Clara yang masih menatap pria paruh baya yang sudah melangkah jauh.


''Lini merusak ponsel nya, tadi saat Lini melihat ke seluruh toko untuk mencari keberada'an Mama, Lini tidak sengaja menabrak Bapak itu, dan ponsel nya terjatuh ke lantai, saat Lini ambil? ponsel nya sudah mati,'' jawab Mahalini dengan jujur, meski jujur itu selalu membuat sesak di dada, namun hanya kejujuran lah yang bisa membuat seseorang mahu ke depan, bukan nya mundur kebelakang, seperti orang nanam padi yang terus mundur kebelakang.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕


__ADS_2