
''Ini sudah menjadi keputusan Papa dan juga Farel kak, jadi kak Lini di sana akan kuliah dan kak Lini tidak sendiri kok? ada wanita paruh baya yang akan nemenin kak Lini di rumah itu nantinya, Papa sudah merencanakan semua ini dari jauh jauh hari, jadi bekerja samalah kak?'' jelas Farel panjang lebar, sehingga yang tadinya Mahalini menangis kini bisa menarik nafas lega, karena dia masih bisa bertemu dengan adik dan juga Papa nya, dan apa tadi? kuliah,' pikir Mahalini sehingga mengulas senyum di bibir nya.
''Baiklah, kakak akan mengikuti apa yang kamu bilang,'' gumamnya sambil menatap barang yang di beli har ini.
''Kalian toy kirimkan semua barang barang ini ke alamat ini,'' Ucap Farel kepada seorang laki-laki yang sudah di perintah oleh Pak Setiawan.
''Baik Tuan,'' jawab nya seraya mengangkat swmua barang barang tersebut.
Sedangkan Farel langsung membawa Mahalini ke tempat yang begitu indah yang tak pernah ia datangi.
''Bagaimana kak? bagus kan pemandangan nya,'' tanya Farel ketika sudah menghentikan motor sport nya.
''Bagus banget, terima kasih ya sudah mengajak kakak ke tempat ini,'' jawab nya seraya mengangkat tangannya, Mahalini berputar putar merasakan desiran angin yang berhembus.
Farel terlihat bahagia dengan melihat kakaknya yang tertawa riang seperti itu.
'Ternyata membahagiakan kamu tidak harus mahal kak, dengan cara seperti ini saja kamu sudah sangat bahagia sekali, aku jadi sedih melihat kakak tinggal di lain tempat,' gumam Farel pelan sehingga hanya dirinya yang mendengar nya.
''Kak lini tau nggak, tempat ini tak jauh dari tempat kakak sekarang,'' Farel menghampiri Mahalini yang masih sibuk melihat ke sekeliling.
''Iyakah?'' tanyanya tak percaya.
__ADS_1
''Iya kak, setelah kak Lini puas main di taman ini Farel antar kak Lini ke kampus, dan setelah itu Farel akan antar kakak ke rumah baru kakak,'' jawab Farel dengan menyunggingkan senyuman nya.
Mahalini menampakkan senyum termanis nya di hadapan sang adik, walau dia bukan adik kandungnya, namun dia sayang dengan Mahalini.
''Jadi kakak akan berpisah dengan adikku yang petakilan ini dong?'' ucapnya dengan lirih sembari merangkul tubuh sang adik.
''Farel janji akan selalu datangi kak Lini, kalau bisa setiap hari,'' balasnya dengan menyambut tangan Mahalini yang memeluk tubuh nya.
''Sudah, aku antar kakak ke kampus. Setelah itu Farel akan antar kakak ke rumah, agar kakak bisa cepat istirahat di sana,'' Farel melepas pelukan kakaknya dan menuju ke motor yang terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri.
Taman ini lumayan rame ketika hari minggu seperti ini, banyak orang berlalu lalang di sana, hanya untuk mencari makanan dan juga olahraga.
Farel menyalakan mesin motor nya untuk segera mengantarkan kakak nya ke kampus, agar dia tidak bingung ketika mau ke kampus hari senin besok.
'Mungkin jalan yang engkau berikan kepada hamba, di setiap do'a do'a yang hamba panjatkan selama ini Tuhan,' batinnya, Mahalini sangat bersyukur sekali bisa terbebas dari Mama dan juga kakak angkat nya itu, sungguh Mahalini tidak pernah bermimpi kalau kehidupan nya akan segera berubah dengan meninggalkan rumah mewah namun seperti neraka di dalam nya.
Setelah beberapa lama kemudian Farel menunjuk universitas ternama di kotanya, ''Besok kakak akan kuliah di kampus ini, jadi kak Lini harus banyak istirahat sekarang, dan di rumah juga sudah ada motor untuk kakak pergi ke kampus nya,'' Farel menjelaskan kepada sang kakak.
Mahalini mengangguk dengan cepat, matanya masih menatap lurus bangunan di depan nya, 'Nggak nyangka aku akan kuliah di sini,' gumamnya dalam hati.
''Ya sudah, sekarang antarkan kakak ke rumah saja dek. Takutnya Mama akan curiga kalau kamu lama keluar sama kakak?'' ucapnya dengan menepuk punggung Farel adek angkat nya.
__ADS_1
''Siap, kita berangkat sekarang saja ya, lagian ini sudah sore juga kak, dan Papa sudah kembali ke kantor nya sekarang?'' jawab Farel memasang kunci motor dan menyalakan nya.
Di sisi lain Agnes dan Almira sedang geram karena Mahalini belum juga pulang dari jalan jalan nya. ''Memangnya mereka berdua pergi kemana sich Ma, sampai sore begini. Mira lapar tau Ma,'' keluh Almira seraya menekan perutnya yang sejak tadi sudah berdendang ria minta makan.
''Kamu lapar? ya tinggal pesan go food saja Mira, githu saja harus di ajari!'' balas sang Mama dengan mentuwir kepala puteri nya. ''Makin dewasa, makin bodoh saja kamu,'' tambahnya lagi.
Almira yang di katai bodoh hanya mendengus kesal dengan ucapan Mama nya yang sudah melahirkan nya. ''Mama mah tega sama Mira, ngatain anak kandung sendiri, Mama harus ingat kalau Mira anak kandung Mama,''
''Sudah jangan banyak omong lagi, Mama sudah pesankan kamu makanan,'' potong Mama Agnes dengan melangkah ke arah anak tangga, dia bersiap memasuki kamarnya yang ada di lantai dua. Tapi tiba-tiba Farel berteriak dari luar rumah nya sehingga membuat Agnes menghentikan langkah kakinya, dan menatap ke arah pintu utama yang sudah di buka oleh Farel putera nya yang mulai kurang ajar kepadanya.
''Farel! kamu thu nggak punya sopan santun sama sekali ya,'' bentak Mama Agnes ketika Farel sudah ada di hadapan nya.
''Mama, gawat Ma?'' pekik Farel yang sudah mulai akting nya dari luar rumah, Farel sebisa mungkin untuk berakting agar Mama dan juga kakak nya percaya, kalau Mahalini benar-benar di culik oleh segerombolan orang berbadan besar.
''Apa sich lho Farel, ngomong nggak jelas banget,'' sahut Almira yang sudah menaruh tangan di pinggang nya. ''Atau jangan jangan kamu malah nabrak orang lagi sampai mati,'' Almira terus berperasangka buruk terhadap adiknya yang baru datang dengan berteriak-teriak nggak jelas itu.
''Lebih dari itu kak, kak Lini di culik!!'' ujarnya dengan tegas, membuat kedua wanita di depan nya melongo dengan pernyata'an Farel yang mengatakan kalau Mahalini telah di culik.
''Siapa yang berani menculik anak pungut itu, atau jangan jangan oenculiknya minta tebusan lagi,'' Mama Agnes mulai menerka-nerka, selanjutnya yang akan di lakukan oleh para penculik.
''Abaikan saja Ma, kalau para penculiknya minta tebusan, lagian bagus juga dia pergi dari rumah ini saat ini juga,'' kata Almira tersenyum senang mendengar anak pungut itu pergi untuk selama lamanya dari rumah ini.
__ADS_1
''Kak Mira dan Mama kok githu sich, Farel sedang mencemaskan kak Lini, tapi kalian malah tersenyum senang seperti itu,'' balas Farel dengan mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. Namun dalam hatinya Farel bersorak senang.