Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 147.


__ADS_3

Semua orang di sana terkejut dengan sosok laki-laki yang bahkan mungkin kamu dalam menanggapi hal hal yang demikian, tapi hari ini ndi depan Mahalini laki-laki tersebut nampak bersikap hangat, seperti sedang bertutur kata dengan putri nya di rumah.


''Kenapa bengong gitu, yang saya katakan benar kan?!'' ucap dengan datar, ketika para wanita tengah memerhatikan nya.


''Apakah aku salah melihat kamu Pa,'' tanya sang istri yang sudah keterangan dengan sikap suaminya.


''Tidak salah, aku hanya ingin bersikap layak nya sebagai seorang Papa kepada putri nya saja tidak lebih, jadi kalian jangan salah paham begitu kepada saya,'' sahut nya dengan panjang lebar.


Mahalini mengulas senyuman nya, ''Ach, terima kasih Tuan, sudah mau memperhatikan aku, tidak seperti kedaulatan Mama ku ini,'' balas Mahalini dengan menutup mulut nya, karena dia menahan tawa nya, lagi lagi Mahalini mau mengerjai Mama nya.


''Sayang?'' kata Mami Amora dengan pelan.


''Ach, maaf Mami, Kini cuma bercanda kok, maaf Tuan saya memang selalu mengerjai kedua Mama ku ini, tapi semua yang saya katakan dari tadi tidak benar, jadi jangan salah paham dengan kedua Mama cantik ini,'' Mahalini merasa bersalah ketika salah satu tamu Mama nya menganggap semua candaan Mahalini benar ada nya.


Laki laki paruh baya tersebut lantas terkekeh dengan penuturan Mahalini, yang sudah di kira serius oleh nya.


''Hahahaha,'' meledak lah sudah tawa si laki-laki paruh baya membuat sang istri semakin penasaran, lalu bertanya.


''Kenapa Papa tertawa begitu, kan tidak ada yang lucu sama sekali,'' tegur nya.


''Tidak apa apa kok Ma, memang kamu tidak salah mengajak Papa untuk datang ke butik ini, yang tadi nya Papa kira akan sangat membosankan, tapi malah sebaliknya. Papa merasa di sini adalah tempat yang ternyaman bagi Papa saat ini, orang orang nya humble dan selalu ada saja yang bisa membuat seseorang merasa nyaman dengan canda recehan nya. Papa sangat suka sekali.'' Jawab nya membuat semua ke empat wanita di depan terperangah tidak percaya dengan apa yang beliau katakan barusan.


''Memang nya Tuan selama ini tidak pernah tertawa se renyah ini ya Nyonya,'' bisik Mahalini yang menjadi penasaran.


Wanita paruh baya itupun menggeleng pelan. ''Aku selama ini selalu bersikap tegas dan selalu tidak peduli dengan semua orang, yang hanya mau menjilat di belakang ku, mereka semua baik dengan keluarga ku hanya karena kita kaya, maka dari itu mereka semua bersikap seperti itu, namun jauh di lubuk hatinya mereka hanya ingin uang kita saya saja, jadi aku mau tak mau harus bersikap demikian, karena aku tidak suka dengan kepura-puraan seseorang, menurut ku hanya bersifat melebih lebihkan saja,'' jujur nya dengan kepala tertunduk.


Mahalini terperanjat dengan semua yang ndi tuturkan oleh laki-laki paruh di depan nya. Mahalini yang hanya ingin menghibur laki-laki itupun beranjak dari duduk nya dengan berjalan menghampiri nya, Mahalini meraih tisu dan juga minuman di depan nya.

__ADS_1


''Minumlah dulu Tuan, maaf sebelumnya? saya tidak bermaksud berbuat demikian, tapi saya juga sering bersikap seperti itu kepada kedua Mama dan juga Mami, agar kita tidak terlalu serius dalam menjalani kehidupan ini, tapi kalau sampai perkata'an saya sampai menyinggung Tuan, saya benar-benar minta maaf,'' dengan mata yang sudah berkaca kaca Mahalini mencurahkan semua isi hatinya.


Tidak di pungkiri candaan mereka bisa membuat orang salah kira, dan banyak yang berspekulasi yang bukan bukan.


''Tidak apa apa, kok kamu tidak salah?'' sahut nya dengan memijat pelipis nya, sedangkan air mata nya mengucur begitu saja, ketika mengingat canda'an Mahalini tadi, sepasang suami istri itu langsung mengingat putri sulungnya yang sudah tiada karena keegoisan dia, menjodohkan dengan laki-laki brengsek. Sehingga membuat putri nya mengalami kekerasan rumah tangga dan berujung bunuh diri.


''Maafkan suami ku ini, dia mungkin terbawa perasa'an, ketika Lini bercanda seperti tadi mengingat kan kami tentang putri sulung ku yang sudah tiada,'' sambung sang istri mewakili suaminya yang kini sudah terisak.


Mahalini menutup mulutnya tidak percaya, tapi itulah kenyata'an nya.


Mahalini mendekat dan merengkuh laki-laki paruh baya yang sudah berusia sama dengan Papa nya, ''Boleh saya memanggil Ayah,'' tanya Mahalini yang masih memeluk, bahkan terhalang dengan perut yang sudah membesar.


''Kalau Ayah kangen dengan putri pertamanya, Ayah boleh datang ke rumah Lini, mungkin Lini bisa menghibur Ayah nantinya, pesan Lini jangan terlalu di pikirkan semua yang sudah terjadi, dan jangan lah kita melihat ke belakang lagi, karena perjalanan kita ke depan nya masih sangat panjang, bahkan masih banyak batu krikil yang akan membuat kita tersandung, jadi pesan Lini, Ayah harus menerima semua takdir yang Allah berikan kepada Ayah, hanya sabar dan ikhlas yang bisa bikin hati kita adem, harta tidak menjamin hidup kita menjadi tenang, karena yang membuat kita bahagia adalah kebersama'an dengan keluarga yang kita cintai dan kita sayangi,'' ucap Mahalini dengan menepuk pelan punggung laki-laki paruh baya tersebut.


''Terima kasih sayang?'' sahut nya dengan meneteskan air matanya.


Mahalini mengusap air mata tersebut dengan jari jari lentik nya, ''Kenapa jadi melow gini sih,'' gumam Mahalini ketika menyadari ada 4 pasang mata yang tengah memperhatikan nya.


''Sejak istri ku berceramah panjang lebar tadi,'' jawab nya dengan mengangkat satu alis nya ke atas. ''Aku baru tau kalau istri ku ternyata seorang penceramah yang handal, sehingga kedatangan suaminya tidak di pedulikan lagi,'' lanjut nya dengan memasukkan tangan ke dalam saku celananya.


''Ish... Jangan mendramatisir seperti itu,'' jawab Mahalini yang kini sudah meraih tangan suaminya, dan mencium punggung tangan nya.


''Iya iya maaf, jangan seperti itu lagi bikin Lini malu saja dech?'' bisik nya.


''Vano, ada apa kemari?'' tanya Mama Clara dengan menatap wajah putra nya yang sedang menahan kesal kepada Mama nya.


''Vano hanya akan mengambil gak Vano saja kok Ma, lagian tadi pagi Vano sudah melarang dia untuk keluar rumah, agar dia bisa istirahat, kasian dia kalau berjalan jalan dengan perut segede gaban ini,'' jawab nya santai, namun pandangan mata Mahalini sudah melotot ke arah nya.

__ADS_1


''Apa sich sayang, kenapa melotot seperti itu,'' tanya Devano yang belum ngeh dengan apa yang ia katakan barusan.


''Nggak apa apa,'' jawab nya dengan ketua.


''Kalau gitu Lini pamit dulu ya Ma, Mi, Ayah dan juga Nyonya, soalnya pawang Lini sudah menjemput, takut nya dia sampai menggigit sehingga menyebabkan rabies,'' pamit nya dengan menyindir suami nya.


Semua orang menahan tawa ketika mendengar pamitan Mahalini, yang berujung dengan meledek suaminya.


''Memang nya aku hewan guk guk guk,'' sahut nya dengan muka datar nya.


''Sudah ayo pergi sekarang, sebelum aku berubah pikiran Mas, lagian di ruangan Mama sedang ada tamu penting juga kan, kita tambah malu,'' bisik nya dengan mengulas senyum jahat nya.


''Awas saja nanti di rumah, akan aku buat kamu tidak bisa berjalan.'' Devano membalas bisik Mahalini dan membuat bulu kuduk nya berdiri, ketika mendengar hukuman seperti apa yang akan di berikan oleh suami nya kepada nya nantinya.


''Mampus dech gue,'' gumam Mahalini di dalam hatinya, dan melangkah pergi menuju ke loby suami nya yang terparkir di halaman butik Mama dan juga Mami nya.


NB. Maaf bab ini panjang ya kak, dan maaf juga kalau bikin bosan dengan kata-kata nya yang itu itu saja.


(sebenarnya author tidak lancar dalam bahasa Indonesia, karena sehari harinya selalu berbicara dengan bahasa Madura) hihihi, maaf 🤭🙏.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2