
Papa Setiawan terlihat mengusap air mata nya yang sempat jatuh begitu saja di depan sang puteri angkat. 'Ternyata Putri yang aku temukan di tepi jalan sudah dewasa, dan kini dia sudah menemukan calon suami dan keluarga yang akan menyayangi dia dengan segenap hati, tidak seperti waktu di rumah, yang di perlakukan layaknya pembantu oleh istri ku sendiri,' gumam Papa Setiawan di dalam hati sambil terus menatap wajah puteri kecilnya itu.
Papa Setiawan merogoh saku celananya, beliau nampak mengeluarkan sebuah kalung yang entah buat siapa kakung tersebut.
''Pakailah ini Nak?'' gumam Papa Setiawan memberikan kalung tersebut kepada Mahalini.
''Maaf Pa, Mahalini tidak bisa menerima kalung ini? nanti kalau Mama Agnes dan kak Almira tau, Papa memeberikan kakung pada Lini, Papa akan kena omel??''
''Ambillah, mereka tidak akan tau kok? lagipula kalung itu milik kamu ketika kamu masih kecil,''
''Kalung Lini waktu kecil?'' tanya Mahalini lagi.
''Iya, itu kalung kamu waktu kecil, Papa sengaja menyembunyikan kalung itu dari Mama kamu, karena Papa tau kalau Mama dan kakak kamu akan merampas kalung itu dari kamu, jadi Papa ambil dan simpan di tempat kerja Papa. Mereka tidak akan tau kalung itu, pakailah nak? mungkin dengan kalung ini kamu bisa bertemu dengan keluarga kamu yang sebenarnya,'' jelasnya, Papa Setiawan memeluk sang puteri kembali.
''Maafkan Papa, karena baru sekarang memberikan kalung ini sama kamu, kemarin Papa masih sangat takut, kalau kalung ini di ambil sama Almira? dan di salah gunakan,'' tambah nya lagi.
''Sini kak? Farel pakein ya, Farel hanya bisa pakein kalung ini saja, karena Farel masih belum bekerja, jadi Farel belum bisa membelikan kakak hadiah,'' tuturnya dengan lembut seraya melilit kan kalung ayang sedari tadi di genggam oleh sang kakak. ''Sebenarnya Farel bisa membelikan kak Lini hadiah, tapi pakai uang dari pemberian Papa? itu kan sama saja Papa yang beliin buat kak Lini,'' lanjutnya lagi, Farel takut Mahalini salah faham kepadanya, karena di hari pernikahan nya dia tidak memberikan hadiah sama sekali kepada kakak angkatnya itu.
''Nggak apa apa kok dek, ini saja sudah cukup bagi kakak. Kamu belajar yang rajin? agar kelak bisa menjadi orang yang sukses, dan membantu Papa,'' pesan Mahalini.
Lama mereka mengobrol dan Mahalini sudah memakai kalung masa kecilnya yang Berliotin Naga dengan berlian berwarna biru. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar.
Tok tok tok
''Masuk,'' sahut Farel dari dalam.
Orang tersebut masuk dan mengatakan kalau acara ijab akan segera di mulai. ''Maaf Tuan, acaranya akan segera di mulai dan Tuan sudah menunggu di luar,'' Ucap Anton yang memang di suruh langsung oleh sang Tuan besar.
__ADS_1
''Baiklah, kami akan segera keluar,'' jawab Papa Setiawan.
''Papa dan adek kamu keluar dulu ya nak, baik baik di sini,'' pamit Papa Setiawan kepada Mahalini.
Mahalini mengangguk pelan seraya mengulas senyumnya.
Setelah kepergian Papa Setiawan Mahalini berjalan ke arah meja rias, dia mematutkan dirinya di depan kaca, memperhatikan kalung yang baru ia pakai.
''Ternyata aku memiliki barang yang begitu berharga dari keluarga ku, tapi apa aku bisa menemukan keluarga kembali setelah 22 tahun berlalu,'' gumam Mahalini.
Mama Devano memasuki kamar yang sedang di tempati oleh Mahalini, ''Sedang memikirkan apa sayang?'' tanya nya dengan nada lembut, namun masih membuat Mahalini terkejut dengan kedatangan sang mertua.
''Ma-ma,'' sahut Mahalini masih dalam keterkejutan nya.
''Kenapa sayang, kamu terkejut githu,'' tanya Mama Devano menelisik sang menantu.
''Tidak apa apa kok Ma, hanya Lini kaget saja dengan kedatangan Mama yang tidak bersuara itu,'' balasnya menyunggingkan senyuman nya.
''Hahaha, menantu Mama memang bisa saja ya, kemungkinan seperti Jailangkung kali ya, datang tak di undang, pulang tak di antar,'' sambungnya masih dengan tawanya.
Mahalini langsung merinding mendengar ucapan sang mertua, ''Mama, Lini merinding Mama nyebut Jailangkung di sini,'' ucap nya membuat Mama Devano menghentikan tawanya.
''Kamu benar sayang, Mama juga merinding?!''
Di sisi lain Devano sudah memulai acara ijab kabul nya.
''Saya nikahkan dan saya kawinkan, adinda Risty Mahalini binti Setiawan, dengan Ananda Devano Malik Ibrahim Bin Hutama Bagaskara, dengan mas kawin perhiasan seberat 100 gram dan uang tunai 500 juta, di bayar Tu-nai,'' Pak penghulu mengayunkan tangan Devano yang pertanda harus di ikuti setelah itu.
__ADS_1
''Saya terima nikah dan kawin nya, adinda Risty Mahalini binti Setiawan dengan mas kawin tersebut tunai,'' dengan sekali tarikan nafas Devano menyelesaikan ijab kabul nya.
''Bagaimana para saksi, sah?'' tanya Pak penghulu.
''Sah,''
''Sah,''
Semua orang bersahutan mengatakan kata sah, setelah mendengar kata sah penghulu melanjutkan dengan do'a dan di tutup dengan bacaan hamdalah.
Mahalini di ajak keluar dari kamar setelah mendengar kata sah dari semua orang di liat sana, dengan di dampingi Mama mertuanya Mahalini berjalan menuju Devano yang sudah menunggu di depan.
Devano menatap wajah cantik Mahalini yang sedang berjalan ke arah nya tanpa berkedip. ''Jangan seperti itu kalau lihat, nanti istri kamu malah takut dengan wajah kamu itu,'' seru sang Mama yang menggoda putera nya.
''Apa'an sich Ma,'' Devano mendengus mendengar godaan sang Mama. 'Memang nya dia tidak malu apa, bercanda di depan banyak orang,' batin Devano yang merasa malu dengan ucapan sang Mama.
''Tanda tangan di sini Nona,'' perintah pak penghulu kepada Mahalini.
Devano membantu Mahalini untuk duduk di samping nya, terlihat Mahalini membubuhkan tanda tangan di surat nikah pertanda dia sudah sah menjadi sepasang suami-istri.
Setelah menanda tangani surat nikahnya, Devano memakaikan cincin nikah di jari Mahalini, begitu juga sebaliknya Mahalini memakaikan cincin di jari sang suami.
Mahalini mencium punggung tangan Devano, Devano sendiri mencium kening sang istri.
''Sudah jangan lama lama nyium nya, lanjutin di kamar lagi nanti setelah acara ini,'' celetuk Mama Devano yang langsung nyablak begitu saja.
''Mama kebiasa'an dech, banyak orang tau malu?'' seru Devano pelan. Tapi ya begitulah Mama Devano tak akan mengalah begitu saja.
__ADS_1
''Sudah jangan banyak protes, nanti semua tamu yang hadir keburu pulang nungguin kalian yang tengah ciuman seperti tadi,'' sahutnya dengan santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun sang Mama memperkenalkan menantunya yang super cantik, meski tanpa make up sekalipun.
''Cantik sekali menantu kamu jeng, Devano memang tidak salah pilih wanita yang cantik seperti ini,'' puji salah satu keluarga yang sengaja di undang di hari pernikahan Devano dan Mahalini.