
''Bapak benar-benar tidak mau pindah dari sini,'' tanya sang istri dengan hati hati.
''Mau pindah kemana lagi Bu, bukan lah kita sudah tidak memiliki sanak saudara, anak juga sudah di panggil oleh sang maha Kuasa lebih dulu, jadi Bapak sekarang hanya memiliki Ibu dan Mahalini di sini, biarlah Allah yang mengatur semua nya Bu, kita cukup sabar dan ikhlas menjalani kehidupan ini semua,'' jawab Pak Djarot dengan menatap wajah sendu istri nya, keduanya memang sudah tidak muda lagi, tapi dengan tinggal di samping rumah Catering dan bekerja di sana, Pak Djarot dan sang istri bisa melupakan masa masa tuanya, karena di sana begitu rame dan begitu hangat, dengan canda'an semua yang bekerja di rumah Catering tersebut.
''Di sini kita bisa tersenyum, karena banyak anak anak yang selalu berceloteh dan bersenda gurau dengan yang lain nya, jadi Ibu juga tidak mau pindah dari sini Pak, tapi kalau misalkan ada keluarga neng Mahalini yang meminta kita pindah dari sini bagaimana?'' ujar nya dengan menundukkan kepala nya.
'Jadi ini yang di pikirkan oleh istri ku selama ini, tapi siapa yang mau mengusir kita dari sini, semua keluarga neng Lini sudah tau semua nya, dia tidak apa apa, dan kenapa Bune baru memikirkan sekarang,' bathin Pak Djarot mulai menerka berkata yang ada di dalam hati istri nya.
''Jangan terlalu berpikiran yang aneh aneh, lebih baik kita istirahat sekarang, karena besok masih banyak yang harus kita selesai kan bersama yang lain nya,'' perintah Pak Djarot dengan menuntun istri nya ke dalam kamar yang sangat nyaman untuk di yempati oleh kedua nya, karena Mahalini mengubah semua perlengkapan rumah yang di huni oleh Pak Djarot dan istri nya.
Mahalini juga bersikap sama kepada semua para karyawan nya, ketika ada karyawan nya yang kekurangan dan Mahalini mengetahui, dia langsung garcep menangani semua para karyawan nya, Mahalini tidak pernah pilih kasih dalam memberikan sesuatu kepada semua para karyawan nya.
...****************...
Khalid dan Khanza sangat senang ketika kedua orang tuanya datang untuk menjemput nya, di rumah sang Oma.
__ADS_1
''Bunda,'' teriak Khanza dengan berlari ke arah Mahalini yang baru masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.
''Kenapa Bunda datang nya lama, kita berdua sudah menunggu kedatangan Bunda dan Ayah,'' ujar nya dengan bergelayut manja kepada sang Bunda.
''Bunda kan perginya hanya 3 hati sayang, kenapa kalian sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan Bunda dan juga Ayah,'' tanya nya dengan mengangkat satu alisnya ke atas.
''Kita kan kangen sama Bunda,'' sahut Khanza.
''Kamu saja yang kangen, aku biasa saja,'' sambung Khalid dengan santai nya.
''Bukan gitu maksud Abang Bun, adek saja yang terlalu berlebihan, dia sama sekali tidak ingat sama Bunda, dia sibuk pergi dengan Oma selama beberapa hari ini, tapi kenapa ucapan nya seperti itu, seolah olah sangat kangen sama Bunda, padahal kemarin yang sering hubungi Bunda kan Abang bukan adek,'' jawab nya dengan sedikit dengusan, karena sang adek sudah mengada ngada kalau dirinya sangat kangen sama Bunda nya.
''Abang, jangan bicara seperti itu? kita nggak akan dapat hadiah kalau tidak baik baikin Bunda,'' bisik Khanza tepat ke telinga saudara kembar nya.
''Tu kan, Bunda dengar sendiri kan, adek baik sama Bunda karena dia ingin mendapatkan hadiah dari Bunda, bukan karena kangen?'' ucap nya dengan senyuman meledek sang adek.
__ADS_1
''Ich Abang tidak setia lawan, adek jadi males kalau ngomong sama Abang, tidak bicara lagi sama Abang!'' Ucap Khanza yang sudah mode sedih.
''Sudah sudah, kalian ini saudara? sebagai saudara yang baik kalian tidak boleh saling bertengkar, atau saling mengejek satu sama lain nya, kalian harus saling menjaga dengan satu sama lain nya, Bunda lebih suka yang seperti itu,'' kata Mahalini dengan menyentuh hidung mancung Khanza dan juga Khalid.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1