
Devano segera menjauh ketika melihat Almira kakak ipar nya, membawa istri nya ke ruang tengah nya untuk berkumpul bersama keluarga nya.
''Sayang, kenapa kamu tidak memanggil Mas sich?'' ucap nya dengan pura pura baru muncul.
''Tidak apa Mas, kan sudah ada kak Mira yang bantuin Lini,''
''Mas masih belum percaya sepenuh nya sama dia tau nggak dek, entah kenapa aku tidak mempercayai nya,'' canda nya dengan menatap horor Almira.
''Kenapa masih tidak percaya sama aku, aku kan tidak mengganggu hubungan kamu dengan adekku lagi, ya maaf kali soal dulu yang sempat menggoda kamu, itu semua aku lakukan hanya untuk melakukan tugas ku sebagai anak, ketika kita di perintah Mama kalian, apa yang kalian lakukan? pasti akan menuruti nya kan? karena tidak mau di anggap sebagai anak yang durhaka'' jawab Almira dengan sarkas.
''Kakak, aku percaya kok sama kakak, sudah lah? abaikan saja ucapan Mas Vano, mungkin dia sedang datang bulan, makanya tensi berat,'' bukan nya membela sang suami, Mahalini malah membela kakak angkat nya.
''Tega banget kamu sayang kepada suami kamu sendiri, kenapa kamu malah membela kakak angkat kamu sich,'' Devano merajuk kepada istri nya.
''Apa'an sich Mas, kamu itu sudah tua sekarang, bahkan kamu juga sudah di panggil ayah oleh anak anak mu nantinya, sekarang saja mereka belum bisa ngomong,'' cetus nya dengan melipat kedua tangan di depan dada nya.
Devano semakin merajuk ketika di katain tua sama Mahalini, sungguh tega sekali Mahalini sama suaminya.
''Jangan kayak anak kecil,'' ujar Mama Clara yang sudah jengah dengan drama yang setip hari ia tonton di rumahnya.
''Mama selalu begitu sama putra kandung nya, atau apa mungkin aku bukan anak kandung Mama, sehingga Mama begitu tega sama Devano,'' bertambah sudah kelebayan nya.
Devano tidak malu sama sekali di depan semua orang yang kini tengah menatap nya, Devano hanya ingin melihat istri nya kembali tertawa itu saja, masalah malu soal belakangan, pikir Devano dengan terus menggoda sang istri.
Lelah terus menggoda sang istri, Devano mendengar suara tangisan kedua bayi nya yang ada di kamar tak jauh dari merey duduk santai.
__ADS_1
''Ma, si kembar nangis,'' seru Devano dengan melangkah menghampiri sang anak di dalam kamar.
''Ada apa sayang? kenapa kamu menangis seperti orang tua sich, kamu ini masih bayi dan tidak seharus nya tangisan mu seperti ini,'' ucap Devano yang sudah menggendong anak laki-laki nya, sedangkan anak gadis sudah berada di dalam gendingan Almira yang juga ikutan berlari tadi.
''Kalian berdua bawa keluar, biar Mama ambilkan dot nya dulu,'' perintah Mama Clara dengan menuju ke dapur untuk mengambil susu yang sudah tadi di pompa oleh Mahalini.
''Anak Bunda kenapa menangis seperti itu sich, haus ya? atau mau minum langsung sama Bunda,'' tanya mahal kepada putra nya kecil nya.
''Pakek dot saja sayang, kasian dia nya takut nya nanti malah keselek, karena Asi kamu yang deras banget,'' kata Mama Clara yang sudah memegang dua botol dit berisi asi yang di pompa Mahalini tadi sore.
''Baiklah, Lini mah orang nya penurut, tidak seperti kamu yang suka ngejawab kalau Mama sedang ngomong,'' tukas nya dengan bibir di monyongkan.
''Kalau kamu seperti ini terus, bisa bisa aku makan sekarang kamu sayang,''
''Enak saja kamu, jangan ngacok dech! di perut nya masih ada luka nya dan luka itu belum sembuh malah mau di makan,'' seru Mama Clara yang menganggap omongan putra nya beneran.
''Lama lama aku enek berada di sini Mas, serasa sedang nonton drama ikan terbang saja, yang salbut, bulet dan car kacer.
''Ayo Pa kita pulang sekarang saja, mataku sakit lihat ginian terus dari tadi,'' ucap Almira mengajak Papa Setiawan untuk kembali ke rumah kontrakan nya.
''Kalian tidak mau makan malam di sini?'' tanya Mama Clara, ketika melihat Papa Setiawan mengangguki ajakan Almira.
''Tidak usah tante, nanti Bunda Mas Hanafi mengajak kita makan malam di restoran, sekalian Bunda Mas Hanafi mau bertemu dengan Papa juga,'' tolak Almira dengan sopan.
''Baiklah, semoga sukses ya pertemuan nya Pa, soal surat surat nya Almira sudah ada yang ngurus, mungkin dalam dua hari ini akan beres semua nya, jadi Papa tinggal akad merey berdua saja, takutnya keburu makan daging mentah,'' celetuk Devano yang kini sudah menjadi seorang pelawak ketika sedang ngumpul di rumah besar nya.
__ADS_1
''Vano, memang nya kamu tidak malu berkata seperti itu kepada Papa mertua kamu itu,'' Papa Devano menegur putra nya yang berkata awut awutan kepada mertua nya.
''Tak apalah Pa, Papa Setiawan orang nya asik kok Pa, tidak seperti Papa yang kamu kalau di ajak bercanda,'' Papa Devano meraih bantal dan melemparkan ke arah putra nya yang petakilan.
''Tidak apa apa kok Pak, saya lebih suka dengan sifat Nak Vano yang seperti ini, dari pada sifat dingin nya yang hanya membuat suasana mencekam, seakan-akan kita mau berperang saja, rasa takut terus menyelimuti hati dan pikiran selalu berpikir hal hal yang negatif, tapi dengan sifat seperti ini, saya lebih senang Pak,'' ungkap Papa Setiawan.
''Dia memang orang nya seperti itu, sehingga membuat lawan bisnis nya mengkisut ketika berhadapan dengan Devano,'' semua orang pada tertawa mendengar penuturan dari Papa Devano.
''Kan emang sifat Devano mengambil dari sifat mu itu, masak kamu tidak merasa sich,'' sambung Mama Clara.
Lagi lagi ruangan itu di isi dengan tawa renyah dari setiap orang orang yang sedang menyambangi sang bayi kembar.
''Kalau Papa tidak mau pulang, aku akan pulang duluan saja ya,'' bisik Almira yang sudah sejak tadi di hubungi oleh Bunda Hanafi.
''Ya sudah, saya pulang dulu Pak Bu, titip putri saya dan juga kedua cucu di sini,'' pamit nya dengan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan besan nya.
Akhirnya Papa Setiawan dan Almira pulang dengan perasa'an lega nya, setelah menerima tekanan bathin dan juga tekanan dari tatapan horor Devano, dasar laki-laki menyebalkan, sungguh sangat sangat benci aku ke kamu Deva, bathin Almira yang kini sudah ke dalam mobil yang di kendarai oleh Hanafi.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.