
''Aku masih belum percaya dengan kata kata kamu barusan, dan kamu harus ingat dengan jelas. Kalau aku sampai mendengar ada yang tidak beres dan itu berasal dari kamu, aku bakalan tidak segan segan untuk membuat perhitungan dengan kamu!'' ancam Devan kepada Mahalini.
Mahalini hanya menundukkan kepalanya mendengar semua ucapan dari putera pemilik perusaha'an tempat ia bekerja saat ini.
'Aku hanya ingin bekerja di kantor ini, bukan untuk mencari musuh? tapi kenapa aku di sangka untuk memata matai kantor ini, apa salahku,' gumam Mahalini di dalam hatinya, sedangkan dia sendiri sudah menahan tangis di pelupuk matanya yang sedang memaksa untuk keluar.
'Jangan nangis Mahalini, kamu tidak bersalah? kenapa kamu harus takut dengan ancaman yang di beri oleh putera pemilik perusaha'an ini,' lagi lagi Mahalini hanya bisa berperang dengan pikiran nya. Sehingga dia tidak terlalu menyimak perkata'an perkata'an selanjutnya.
Setelah kepergian Devan, Mahalini segera pergi menuju toilet untuk karyawan, dia mulai menangis di sana. Sungguh kejam bukan Devan yang selalu di sanjung oleh semua karyawan di kantor nya, telah mengancam seorang gadis yang baru pertama kalinya mulai bekerja.
''Apa salahku ya Allah, sehingga semua orang membenci ku seperti itu?'' lirih nya dengan terus mengeluarkan air mata nya yang sejak tadi ia tahan di hadapan Devano.
''Kamu harus semangat Lini, kamu harus bangkit dan kamu harus buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa hidup tanpa rasa kasihan dari seseorang,'' Mahalini menyemangati dirinya sendiri.
Tiba-tiba Mahalini mendengar seseorang mengobrol di luar yang sedang memperbaiki penampilan nya.
''Ech kamu tau nggak, CEO baru kita itu Pak Devano tau nggak,'' kata salah seorang karyawan wanita kepada teman nya.
''Iya, aku sudah dengar kok? kalau Pak Devano yang akan menggantikan Tuan Hutama, lagian kalau bukan Pak Devano yang menggantikan nya siapa lagi, dia anak tunggal di keluarga besarnya,'' jawab nya panjang lebar.
''Iya juga sich, Pak Devano juga hebat, selain dia masih muda, tapi dia sudah harus memimpin perusaha'an besar keluarga nya,''
''Yang aku dengar sich Pak Devano tidak mau menjadi CEO, tapi demi membahagiakan Mama nya dia mau menggantikan Papa nya di perusaha'an ini,'' balasnya dengan menyudahi mencuci tangan setelah membenarkan tampilan nya.
Mahalini yang masih ada di dalam hanya bisa menjadi pendengar yang baik, dan dia tidak peduli kalau Devano akan menjadi pewaris di perusaha'an Bagaskara Grub.
__ADS_1
Di sisi lain, Devano tengah menghubungi seseorang untuk mencari tau soal Mahalini, dia harus mencari tau kalau ternyata Mahalini jadi mata mata dia akan segera mendepak dari perusaha'an ini.
-''Cari tau secepatnya wanita di dalam foto itu, aku mau dia dari keluarga mana,'' perintah Devano kepada orang suruhan nya.
-''Baik Tuan muda,'' jawab nya singkat, dan panggilan pun terputus begitu saja setelah seseorang mengatakan kesanggupannya.
Devano kini sedang tidak tenang dengan pikiran pikiran jeleknya, kepada Mahalini yang satu kampus dengan nya.
''Aku masih tidak percaya dengan perempuan itu, dia baru dua minggu kuliah dan sekarang dia sudah bolos dari kampus nya,'' gumam nya, bertepatan dengan masuk nya dengan seorang wanita paruh baya dan juga laki-laki paruh baya.
''Siapa yang kamu sebut bolos Devan?'' tanya wanita tersebut dengan lembut kepada putera tunggalnya.
''Mama sama Papa kapan masuk nya, kok Devan tidak mendengar pintu di buka?'' tanya Devan seraya mengerutkan kening nya, karena sangat Mama dan juga Papa nya tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan nya.
Wanita paruh baya itu adalah Mama Devano, Mama Magdalena namanya.
Devano tidak menggubris ucapan dari Mama nya, dia malah menekan tombol di telfon nya. ''Antarkan aku kopi dan juga teh ke dalam ruangan ku!'' titah nya. Sebelum mendengar jawaban iya dari seberang telfon Devano malah memutuskan panggilan nya begitu saja.
Beberapa menit kemudian.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dari luar, dan Devano segera menyuruh orang tersebut segera masuk ke dalam.
''Maaf Tuan Muda, minuman nya?'' kata Clarencia sopan seraya menaruh gelas ke atas meja.
__ADS_1
Devano mengernyit dahinya. ''Kemana teman kamu itu, bukan nya dia yang harus mengantarkan minuman ke ruangan ku!'' tanya Devano dingin.
''Maaf Tuan, Mahalini sudah pulang karena dia harus masuk ke kampus sore ini,'' jawab nya dengan sopan, namun kepalanya tetap tertunduk.
''Baiklah, kamu kembali lah,'' sahut Tuan Hutama yang tidak mengerti dengan puteranya.
Clarencia mengangguk dan melangkah pergi, sedangkan Mama Magdalena sudah tidak sabar ingin mengorek sesuatu dari putera nya mengenai gadis yang sedang ia tanya barusan.
''Kenapa kamu malah tanya teman nya dia, bukan nya dia yang selalu mengantarkan minuman ke ruangan ini,'' tanya nya dengan rasa penasaran nya.
''Mama nggak tau saja, yang di tanya putera kita itu lebih cantik dari wanita barusan itu, dan dia baru masuk bekerja tadi pagi,'' jawab Tuan Hutama mendahului putera nya.
''Kenapa karyawan sekarang bisa bekerja sesuka hatinya sich Pa, ini kan belum waktu nya pulang kantor,'' tanya Devano yang mengerti peraturan kantor nya.
''Dia kan harus kuliah, jadi perusaha'an mengijinkan semua orang pulang lebih dulu kalau dia harus kuliah, lagian OB baru itu kerja buat sambilan saja, agar ada pemasukan buat dia makan sehari hari, masak ia Papa harus menolak dia untuk bekerja di kantor ini sich?'' sahut nya dengan menatap putera nya, dengan tatapan penuh pertanya'an yang belum terjawab.
''Kayak nya kamu tidak suka dengan Mahalini dech, dia gadis baik dan dia juga tidak punya keluarga, makanya dia memilih bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya sendiri, apa salah nya coba,'' lagi lagi Tuan Hutama berkata panjang lebar kepada putera nya.
Devano hanya terdiam, dia belum membaca CV Mahalini yang ada di atas meja nya, 'Apa benar dia tidak punya keluarga, lalu bagaimana dia bisa kuliah di kampus elit kalau dia saja baru bekerja saat ini,' batin nya berkecamuk dan terus penasaran dengan kehidupan Mahalini. Wanita cantik dan lugu di kampus nya kini sedang bekerja di kantor nya menjadi office girls.
''Sudah kamu jangan terlalu banyak pikiran, besok masih ada acara yang akan menguras tenaga kamu, jadi lebih baik kamu cepat pulang dan beristirahat lah dengan tenang, biar Papa yang akan meng-handle pekerja'an hari ini,'' kata Tuan Hutama yang tidak di gubris sama sekali oleh Devano.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like, komen, dan favorit kan ya kak, makasih 🙏💕🙏💕🙏💕
__ADS_1
yang sedang