
Malam itu sungguh sangat luar biasa bagi Mahalini dan keluarga nya yang lain, di tambah sang adek Farel bs udah mau bicara lagi dengan kakak nya Almira, mengingat ketegangan mereka berdua, Mahalini sempat insecure dengan kedua kakak beradik di depan nya, sedangkan Mahalini sendiri sangat bersyukur dengan keakraban kedua nya.
''Dek, tolong ambilkan aku air dong?'' perintah Mahalini kepada adek angkat nya.
Farel yang sedang memainkan ponsel nya, beranjak dari duduk nya, dan berjalan ke arah dapur.
''Dek, sekalian aku juga dong,'' Almira juga ikut ikutan meminta tolong kepada sang adek. Tapi faktanya malah membuat Almira membulatkan matanya, mendengar jawaban yang Farel katakan.
''Ambil saja sendiri, aku bukan pesuruh mu,'' jawab nya tanpa membalikkan badan nya.
''Seperti itu sikap nya Pa, kalau aku yang menyuruh adek,'' adu Almira kepada Papa nya.
''Itu kan semua salah kamu juga dulu Nak, sehingga adek mu hilang kasih sayang nya, jadi? kamu tidak boleh sepenuhnya menyalahkan adek mu,'' Papa Setiawan mengingat kan apa yang pernah di lakukan oleh dirinya terhadap adek angkat dan juga adek kandung nya.
''Iya,'' jawab Almira singkat.
Farel keluar dari dapur dengan membawa 6 gelas jus, dan satu botol air mineral, karena Farel tau kalau kakak nya tidak bisa minum jus terlalu banyak.
''Nich kak pesanan nya, jangan lupa bayar ya,'' ujar Farel dengan meletakkan gelas dan botol di depan Mahalini.
''Tega banget sama kakak sendiri,'' rajuk nya dengan memantulkan bibir nya.
''Iya iya, untuk kak Lini hati ini gratis, tapi untuk yang lain harus bayar?'' tukas nya dengan canda'an nya, masak iya di rumah Papa nya minuman di suruh bayar sich, aneh aneh wae si Farel.
''Nich minuman nya, jangan lupa bayar,'' ucap nya ketus, ketika menaruh gelas di depan Almira.
''Terima kasih adek kyu,'' sahut nya dengan wajah yang sok imut.
''Terpaksa, jadi jangan lupa bayar,'' lagi lagi Farel meminta bayaran kepada Almira sang kakak.
__ADS_1
''Tega banget,'' gumam nya pelan.
Hanafi hanya menggeleng pelan, melihat kelakuan tiga saudara beda Ibu dan juga Ayah itu.
''Sudah tau kan? kelakuan mereka bertiga kalau sedang ngumpul,'' tanya Devano yang sedarintadi hanya diam mendengarkan obrolan kakak beradik di samping nya.
''Iya, yang aku tau sich, mereka tidak pernah bersikap seperti itu, tapi sekarang aku sudah tau banyak tentang mereka bertiga, kekanakan sekali,'' sahut nya dengan menyunggingkan senyuman nya.
''Enak saja ngatain kekanakan, pacar kak Hanafi tuh yang kekanakan, suka nyuruh orang seenak nya,'' sambung Farel tak terima di katai kekanakan oleh pacar kakak nya.
''Lha, kapan kakak nyuruh kamu dek, cuma sekarang kok,'' kilah nya dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
Mahalini menggeleng pelan, diapun sudah jengngah mendengar obrolan keduanya, yang ujung ujungnya bakalan berantem dengan satu sama lain nya.
''Lebih baik Papa istirahat saja ya, jangan dengarkan mereka berdua yang seperti kompor meleduk,'' Mahalini sengaja mengejek keduanya dengan kompor meleduk, agar keduanya menyudahi acara saling salah menyalahkan, seperti hal nya waktu dulu, Almira yang notabene nya suka nyuruh sang adek sesuka hatinya.
''Enak saja ngatain aku seperti itu,'' seru Farel.
''Tidurlah Pa, setelah ini mungkin kita akan kumpul bersama,'' kata Mahalini dengan mantap.
''Apa maksud kamu nak?'' tanya Papa Setiawan dengan rasa penasaran nya.
''Setelah pulang dari sini? Lini akan minta sama Papi untuk menempatkan di pusat saja, jadi Papa bisa dekat dengan kita bertiga,'' tambah nya.
''Apa kamu serius dengan ucapan mu?'' tanya nya dengan setengah menyelidik.
''Ya serius lah Pa, mana mungkin Lini hanya bercanda dengan Papa, nggak sopan dong cerita nya,'' sahut nya dengan melipat kedua tangan di dada nya.
''Iya iya, Papa percaya kok?'' paparnya dengan menahan senyum nya, ketika melihat wajah kesal putri angkat nya.
__ADS_1
''Tapi Papa tidak ingin bertemu dengan Mama kamu, maksud Papa Mama Agnes,'' lanjut nya dengan sangat jelas, mengingat swkarang putri angkat sudah memiliki Mama dan juga Mami, maka dari Papa Setiawan menjelaskan kalau dirinya tidak mau bertemu dengan Mama Agnes, yang tak lain adalah istri nya.
''Kenapa Papa berkata demikian, bukan nya Papa dan juga Mama masih beehuu baik selama ini,'' tanya Mahalini dengan penasaran, karena setau Mahalini Papa Setiawan tidak mengeluh tentang perbuatan istri nya.
''Papa sebenarnya sudah tau dari bulan lalu, kalau Mama Agnes kamu sudah bermain dengan para laki-laki, hanya untuk memuaskan nafsu nya, Papa sudah tidak tahan lagi Nak, biarlah Papa tetap tinggal di sini, agar kedua saudara mu tidak terlalu memikirkan tentang ini semua,''
''Tapi Kak Mira dan Farel berhak tau masalah ini Pa, agar keduanya tidak salh paham? dan menyalahkan Papa,'' kata Mahalini mengingat kan Papa nya.
Mahalini dan Papa Setiawan tidak mengetahui, kalau Farel dan Almira sudah mendengar semua nya, karena ketika Almira dan juga Farel ingin mke kamar nya karena hari semakin malam, mereka berdua tak sengaja mendengar obrolan Mahalini bersama Papa nya, tapi Farel tidak menyangka, kalau Papa nya akan menyimpan semuanya sendirian, dan hanya mau berbagi dengan Mahalini kakak angkat nya.
''Kenapa Papa tidak mau berbagi dengan kita kak,'' gumam Farel dengan nada lirih.
''Kamu tidak dengar, yang dikatakan Papa tadi, Papa tidak mau kita bersedih dengan masalah ini, makanya beliau hanya menceritakan semuanya kepada kakak mu Mahalini saja,'' sahut Almira dengan sangat pelan, agar Papa dan Mahalini tidak mendengar obrolan keduanya yang tengah menguping di luar kamar nya.
''Lebih baik kita ke kamar saja, kita coba tanyakan sekali lagi kepada Papa besok pagi, sekarang kita tidur saja? sebelum Mahalini keluar dari kamar Papa,'' balas nya dengan menepuk bahu sang adek yang sudah bergetar menahan tangis nya.
Farel hanya mengangguk, dia tidak bisa menjawab ucapan kakak nya, hatinya hancur mengetahui hal yang sebenarnya, Mama yang ia sayangi ternyata sudah menorehkan luka yang terdalam di hatinya, Farel tidak menyangka? kalau ternyata Mama nya sebesar itu, sehingga dia mau bermain dengan banyak laki-laki.
''Maafkan Farel Pa, Farel yidak bisa menjaga Mama dengan baik, tapi lebih dari itu Farel tidak mengetahui kebenaran nya, kalau Mama sejahat itu sama Papa,'' gumam nya dengan langkah yang semakin gontai.
Mama Agnes memang sudah menjadi wanita bar bar, yang setiap harinya hanya menyewa laki-laki, bergonta-ganti pasangan, tidak semerta merta Mama Agnes takut dengan penyakit yang menular, dia mengabaikan apa yang pernah di ucapkan oleh teman teman sosialita nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.