
Kini hari hari Mahalini hanya untuk mengurus kedua bayinya, dan diapun sering mengeluh karena ASI nya tidak terlalu lancar, sehingga kedua bayinya harus di bantu dengan susu formula, tetapi Mahalini tidak berdiam diri, dia terus berusaha untuk memperlancar air susu nya, tapi apalah daya semua usaha ia lakukan agar air susu nya bisa bertambah, dan hasil nya zong.
Untung Mahalini memiliki Mama dan Mami Amora yang begitu telaten membantu merawat kedua bayinya.
''Mama dulu seperti Lini nggak, ketika punya anak?'' tanya nya dengan lirih.
''Sabar sayang, ini masih beberapa hati, mungkin saja obat yang kita minta sama dokter belum bereaksi, kan cuma kemarin kamu meminum obat itu,'' Mama Clara tidak menjawab apa yang di tanyakan oleh Mahalini, karena Mama Clara tidak ingin membuat menantunya menjadi down, hanya karena dia tidak bisa memberi ASI eksklusif kepada kedua bayinya.
''Entahlah, Lini juga mau memberi dia ASI, bukan susu formula Ma?'' sahut nya dengan mata yang mulai berkaca kaca. ''Kemarin saja Lini sudah membuat kalian kecewa? karena tidak bisa lahiran normal, padahal Lini ingin sekali lahiran normal, dan ingin menjadi sosok Ibu yang baik bagi mereka berdua,'' kini pertahanan Mahalini runtuh sudah, air mata yang ia tahan sedari tadi mengajak sungai di kedua pipi nya, beebarey dengan Devano yang akan berpamitan berangkat ke kantor.
''Ada apa sayang, kenapa kamu menangis seperti ini,'' cecar nya dengan merangkul pundak sang istri yang sudah bergetar karena tangisan nya.
Mama Clara memberi kode kepada putra nya, agar tidak terlalu banyak bertanya kepada istri nya.
Devano yang mengerti kode sang Mama akhirnya hanya diam sembari terus menatap wajah sendu Mahalini.
''Mas titip si kembar ya, Mas harus berangkat ke kantor sekarang sayang, pekerja'an sudah menunggu dan sangat banyak?'' pamit nya seraya mengeluh soal pekerja'an nya yang sudah menggunung, di tambah lagi dia harus mencari seseorang yang kemarin sudah menghubungi istri nya, dan berakibat fatal.
''Sudah, lebih baik kamu berangkat sekarang, kasian sepupu kamu yang baru datang, langsung di beri tanggung jawab untuk mencari dalang kebusukan rekan kerja kamu,'' celetuk Mama Clara dengan mengedip ngedipkan matanya.
''Baiklah Mas berangkat dulu ya sayang, jaga diri baik baik,'' Devano mengecup kening Mahalini dan beralih menatap dua wanita di depan nya.
''Mama, Mami, Vano titip istri Vano yang cantik ini dulu ya, jangan di bikin nangis terus dong? nanti pipi diaalah tambah chubby lagi,'' ucap nya dengan sedikit menggoda Mahalini yang saat ini tengah tersenyum malu, karena ulah suaminya.
''Sudah, Mas Vano berangkat sanah, bikin aku salting saja, apalagi di sini ada Mama dan Mami,'' gumam Mahalini pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Mama Clara dan juga Mami Amora.
''Sudah sanah cepat cari uang, jangan lupa bawa sufor yang Mama Minta semalam, awas saja kalau lupa,'' Mama Clara mengingatkan kembali pesanan nya kepada sang putra.
''Iya iya, apa sich yang enggak buat istri tercinta ku ini,'' balas nya dengan mencuri kecupan dari sang istri.
__ADS_1
Mahalini meraih tangan suami nya dan mencium punggung tangan nya, tak lupa juga dia berpesan agar selalu hati hati saat mengendarai mobil nya.
''Jangan kebut kebutan Mas, hati hati dan jangan lupa makan tepat waktu,'' pesan nya yang selalu di ucapkan setiap hari, ketika suaminya akan berangkat bekerja.
''Rupanya istriku ini mulai bawel ya?!'' tukas nya dengan memijit hidung mancung Mahalini.
''Iyalah kembali bawel, kan si kembar sualdah ada di luar, jadi dia kembali lagi sebelum dia hamil dulu,'' celetuk Mama Clara yang selalu menimbrung obrolan kedua nya.
Devano berdecih, ''Mama kebiasa'an dech, selalu ikut campur kalau aku sedang ngobrol,'' seru nya dengan beranjak dari duduk nya, Mama Clara sudah membuka sandal nya dan bersiap untuk melempar ke arah putra nya, tapi Devano sudah hilang sebelum sandal terbang ke tubuh nya.
''Dasar anak durhaka,'' teriak Mama Clara tanpa sadar, sudah membuat kedua cucu nya bangun dan menangis keras akibat teriakan dari Oma nya.
''Maaf sayang, Ayah kamu tuh yang bikin darah Oma naik,'' ucap nya dengan mengambil salah satu dari kedua nya.
Mahalini hanya menepuk kening nya, melihat Mama dan suaminya selalu bertengkar, mungkin mirip dengan Tom and Jerry kali.
...****************...
Mama Agnes kini sudah memetik hasil yang ia tanam, Laki-laki yang selalu ia puja dan ia sayangi, tak lebih dari laki-laki breng sekk, dia sudah membuang Mama Agnes ketika seluruh hartanya sudah habis, karena ulah nya sendiri.
''Kenapa kamu jahat banget sama aku, kenapa sekarang kamu malah mau minggu aku sendirian, di saat aku sudah tidak memiliki apa apa lagi,'' teriak nya ketika mendapati laki-laki yang selama ini menjadi teman tidur nya.
''Tidak usah berteriak seperti itu tante, lagi pula aku juga sudah muak sama tante, harusnya tante itu mulai bertibat, karena umur nya juga sudah tua, mungkin sebentar lagi akan mati kan?!'' jawab nya dengan remeh.
Mama Agnes yang tidak terima dengan perkata'an laki-laki tersebut langsung menampar pipi putih nya, sehingga ada gambar tangan di pipi kiri nya.
''Pukul saja sampai puas, bahkan kalau kamu berani bunuh saja aku,'' tantang laki-laki itu yang ingin tau seberapa nekat wanita tua di depan nya, pikir nya.
''Baji ngan! aku bersumpah akan menghancurkan mu dengan wanita ini juga, kembalikan semua barang barang yang sudah aku berikan kepada mu, aku tidak sudi kamu menikmati barang barang yang sudah kasih sama kamu,'' lagi lagi Mama Agnes berteriak kencang, sampai seorang satpam datang menghampiri mereka bertiga yang tengah berselisih.
__ADS_1
''Maaf, kalau kalian mau bertengkar jangan di sini, para penghuni risih dengan suara kalian bertiga, lebih baik kalian selesaikan semuanya dengan baik, tanpa berteriak-teriak kayak gini,'' ujar sang satpam yang tadi mendapat laporan dari pemilik unit di lantai 5.
Apartemen yang saat ini di yempati laki-laki pemuas nafsu Mama Agnes, adalah pemberian dari Mama Agnes, dengan mengkorupsi uang biaya kuliah Almira dan juga Farel putra dan juga putri.
Tapi kayak nya Mama Agnes tidak akan bisa mengambil alih semua barang yang sudah ia berikan kepada sang lakiy, karena semua di atas namakan untuk sang laki-laki.
''Usir saja dia Pak, bikin malu saja, sudah tua masih saja mau menggoda ku Pak,'' adu sang laki-laki kepada satpam yang masih menunggu mereka bertiga untuk bubar.
''Jangan salah Pak, apartemen dengan nomor 502 itu adalah milikku,'' jawab Mama Agnes dengan yakin.
Hahaha.....
Laki-laki di depan nya tertawa mendengar jawaban dari Mama Agnes, ''Sejak kapan apartemen ku menjadi milik kamu, itu apartemen ku kalau kamu tidak tau, jangan coba coba menipuku dengan tipu muslihat kamu ya,'' balas nya dengan tatapan remeh.
'Cuich... Kamu tidak akan bisa mengambil barang yang sudah menjadi milikku, percuma kalau semua barang yang kamu kasih ke aku terus harus balik lagi ke kamu, otomatis aku yang rugi, karena aku hanya di jadikan boneka pemuas nafsu mua saja, tidak semudah itu wanita tua??' gumam nya dengan meludah ke samping.
Sang laki-laki sudah bosen dengan Mama Agnes, karena semua perminta'an nya sudah tidak bisa ia beri langsung, dia hanya berjanji dan terus berjanji saja, sampai akhirnya laki laki itupun menyelidikinya sendiri, barulah setelah terbongkar semua nya dia segera merubah nama kepemilikan apartemen dan juga mobil pemberian nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1