
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Mahalini di perbolehkan pulang? karena sudah semakin membaik. Seperti kata Devano yang mengatakan kalau Riki yang akan menjemput Mahalini di rumah sakit tempatnya ia di rawat.
Riki berjalan keruangan Mahalini dengan mendorong kursi roda, takutnya Mahalini masih belum bisa melangkahkan kakinya seperti hal yang beberapa hari di katakan oleh CEO di perusaha'an terbesar nya.
''Maaf Pak Riki, kenapa Pak Riki membawa kursi roda?'' tanya Mahalini yang bingung dengan sekretaris Devano.
''Saya membawakan ini untuk kamu keluar dari rumah sakit ini,'' jawab nya seraya terus melangkah menghampiri Mahalini yang masih duduk di tepi tempat tidur nya.
''Maaf Pak? saya bisa jalan sendiri kok tanpa kursi roda yang di bawa Bapak,'' Mahalini membalas ucapan Riki.
''Bukan kah Tuan Devano bilang? kamu masih belum bisa berjalan,'' tanya nya, masih dengan kebingungan, karena melihat Mahalini yang sudah sangat sehat.
''Mari Pak?'' ajak Mahalini yang sudah kangen dengan rumah nya, walaupun rumah tersebut hanya bisa di sebut sebagai gubuk saja.
Riki yang di utus untuk menjemput Mahalini di rumah sakit hanya bisa cengo' dengan sikap Mahalini yang sudah merindukan rumah nya.
''Bi, Bibi tidak memberitahu Farel keada'anku sekarang kan?'' tanya Mahalini yang sudah duduk manis di dalam mobil yang di kendarai Riki, lebih tepatnya mobil kantor.
''Bibi tidak memberitahu dengan Farel keada'an neng Lini saat ini, Bibi takut neng Lini marah sama Bibi,'' jawab Bi Ijah dengan menileh ke belakang. Bi Ijah duduk di depan, lebih tepatnya di samping Riki yang menyetir mobil.
''Memang nya kenapa Lini, kok adwk kamu tidak boleh tau dengan keada'an kamu sekarang?'' tanya Riki yang sudah di liputi dengan ke kepoan.
''Pak Riki kepo banget sich!'' seru Mahalini, Mahalini sudah sedikit akrab dengan Riki yang notabene nya sebagai sekretaris Devano di perusaha'an nya.
Riki sendiri sudah mengetahui rencana bos nya, yang bilang akan menikah kontrak dengan Mahalini. Awalnya Riki dan Ferdi cukup terkejut dengan ucapan sahabat nya yang mengatakan akan menikahi Mahalini dalam waktu dekat ini.
''Aku akan menikah dengan Mahalini dalam waktu dekat ini, dan mungkin setelah dia keluar dari rumah sakit nanti,'' ujar nya dengan nada dinginnya.
__ADS_1
''Lho bercanda kan Bro,'' tanya Ferdi yang belum percaya dengan ucapan sahabat nya.
''Apa mukaku terlihat sedang bercanda.'' cetus nya dengan menatap kedua sahabat nya. ''Aku sudah di desak agar segera memberikan cicit, aku juga tidak tau sekarang, harus senang atau sedih. Karena pernikahan ini hanya di atas kertas saja,'' Devano menjelaskan alasan kenapa dia harus menikah dengan Mahalini kepada kedua sahabat nya.
Riki yang mengingat penjelasan dari sahabat nya langsung menggelengkan kepalanya, agar kembali fokus pada jalanan yang saat ini ia lalui bersama Mahalini dan juga Bi Ijah.
''Kira kira kamu kapan kembali bekerja?'' tanya Riki menatap Mahalini dari kaca di atasnya.
''Insya Allah besok Pak, kangen ya sama Lini??'' godanya dengan cekikikan ala Mahalini ketika sedang berbaur dengan karyawan lainnya.
''Maaf, kamu tidak masuk daftar tipeku,'' sahut Riki singkat.
''Yaelah, Lini bercanda kali Pak Riki. Lagian cewek yang suka sama Pak Riki cantik cantik kok? iya kan Pak,'' balas Mahalini dengan mengulas senyum manis di bibir nya.
Tak terasa mereka bertiga sudah memasuki halaman rumah Mahalini, Mahalini yang sudah kangen dengan rumah nya segera turun dari mobil dan merentangkan tangan nya, seraya berkata. ''Welcome to home,'' teriak Mahalini, membuat Riki yang ada di dalam mobil hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Mahalini yang sedang merasakan hembusan angin segera menoleh dan menjawab. ''Terima kasih Pak,''
Setelah kepergian Riki, Mahalini segera masuk ke dalam rumah nya sembari terus melangkah menuju kamarnya yang sudah empat hari tidak ia tempati.
...****************...
Keesokan harinya seperti biasanya, Mahalini pergi ke tempat kerjanya dengan mengendarai motor matic nya.
Senyuman terus terpantri di bibir ranum nya seakan menambah nilai plus di wajah Mahalini.
''Pagi Lini?'' sapa satpam yang sudah sangat mengenal Mahalini.
__ADS_1
''Pagi juga Pak,'' jawab Mahalini yang baru mau masuk ke lobby kantor. ''Pagi ini Bapak beda banget dari hari hari biasanya,'' tambah Mahalini yang menatap wajah sang satpam.
''Iya Lini, aku bahagia banget hari ini, karena istri Bapak akhirnya hamil juga,'' tutur nya dengan sumringah, karena selama 5 tahun menikah sang satpam belum juga di karuniai seorang anak, jelas ada kebahagia'an di wajah nya.
''Wach selamat ya Pak, akhirnya Bapak akan segera di panggil Ayah juga?'' seru Mahalini ikut bahagia mendengar kabar pagi ini. ''Itu semua berkat kesabaran dan juga keikhlasan Bapak dan istri selama ini,'' Mahalini mengulas senyum.
''Ya sudah kalau gitu Lini ke atas dulu ya Pak, sekali lagi selamat dan terus semangat,'' pamitnya, seraya menyemangati sesama karyawan yang bekerja di perusaha'an Devano.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi sudah melihat interaksi antara Mahalini dengan satpam yang bertugas menjaga di depan pintu masuk kantor.
''Rupanya dia bersikap baik kepada semua karyawan yang ada di sini, pantas saja banyak yang suka dengan dia,'' gumam Devano pelan, namun itu semua masih di dengar oleh sang sekretaris.
''Tuan,'' ujar Riki di sela sela Devano masih menatap ke arah Mahalini yang sudah mulai pergi dari hadapan sang satpam.
''Ada apa Riki,'' tanya Devano datar.
''Bisa kita turun sekarang, di dalam sudah ada klien kita yang menunggu di ruang meeting,'' jawab Riki menoleh ke arah Devano yang masih duduk di dalam mobilnya.
''Baiklah,'' sahutnya dan bergegas keluar dari mobil nya, dia berjalan dengan gagah nya dengan memasukkan tangan kiri nya ke dalam saku celananya.
''Pagi Tuan Muda,'' sapa satpam dengan sedikit membungkuk kan tubuh nya.
Devano tak menjawab, dia hanya mengangguk sebagai jawaban sapaan karyawan nya.
Semua karyawan yang lain juga melakukan hal yang sama, namun Devano hanya menjawab dengan anggukan tanpa senyuman di bibir nya. Lift yang ia tunggu akhirnya terbuka dan Riki dan Devano masuk ke dalam lift.
''Mahalini sudah mulai bekerja hari ini. Setelah selesai meeting aku ingin Mahalini ke ruangan ku,'' kata Devano kepada sang sekretaris.
__ADS_1
''Baik Tuan?'' sahut Riki yang sudah mengerti dengan maksud Tuan Muda nya, Riki sekilas tersenyum smirk ketika mengetahui Tuan mudanya sudah mulai menyukai seorang wanita, meski awalnya hanya akan menikah kontrak, namun siapa yang tau kedepan nya akan seperti apa? itulah kehidupan.