Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 84.


__ADS_3

Siangnya, Mahalini benar-benar datang ke kantor suaminya. Di mana dia juga pernah bekerja di sana, dan tanpa alasan yang pasti Mahalini juga mengajukan pengunduran diri dari tempat nya bekerja.


Dengan wajah tegang Mahalini berjalan menuju meja resepsionis yang sedang bertugas di menyambut tamu yang datang.


''Maaf Mbak, bisa bertemu dengan Pak Devano nya,'' ucap Mahalini dengan ramah.


Penjaga yang bertugas di meja resepsionis berseru girang, mengetahui Mahalini di hadapan nya saat ini.


''Mahalini, apa kabar kamu,'' sapanya dengan antusias.


''Alhamdulillah baik Mbak, bisa bertemu dengan Pak Devano,'' jawab nya dengan bertanya sekali lagi kepada sang resepsionis.


''Mau apa kamu bertemu dengan CEO kita! bukan nya kamu sudah berhenti dari kantor ini,'' sambung salah satu yang juga bertugas di meja resepsionis.


''Lini cuma mau mengantarkan makan siang saja sama Pak Devano, tadi pagi beliau menyuruh Mahalini untuk mengantarkan makan siang nya ke kantor,'' jawab Mahalini dengan jujur.


''Lebih baik kamu taruh saja di sini, nanti aku sampai kan pada CEO kita!'' sahutnya dengan ketus.


''Nona Mahalini,'' tiba-tiba Riki menyapa Mahalini yang masih berdiri di depan resepsionis.


''Pak Riki,'' jawab Mahalini dengan ramah.


Sedangkan para resepsionis mengernyitkan dahinya, karena asisten CEO nya bersikap begitu ramah kepada Mahalini, mantan karyawan nya yang berprofesi sebagai office grils.


''Sudah lama di sini Nona,'' tanya Riki kepada istri Bos nya.


''Tidak kok Pak, baru saja tiba,'' jawab nya dengan sedikit berbohong, Mahalini takut resepsionis nya terkena masalah, karena mereka juga tidak mengetahui kalau Mahalini adalah istri dari bos besar nya.


''Pak Riki, dia Mahalini mantan karyawan di kantor ini,'' ucap salah satu karyawan yang bertugas di meja resepsionis.


''Iya, saya masih ingat dia siapa, dan dia hari ini sudah ditunggu Bos di ruangan nya.'' jawab nya dingin, berbeda ketika mengobrol dengan Mahalini.


''Mari Nona, Tuan sudah menunggu di atas,'' Riki mempersilahkan Mahalini untuk berjalan di depan, semua karyawan yang ada di sana menatap Mahalini dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


''Kenapa Pak Riki bisa bersikap hangat kepada Mahalini, sedangkan dia bersikap dingin ke kita kita,'' bisik karyawan yang menatap Mahalini.


''Entahlah, lebih baik kita lanjutkan kerja kita saja, dari pada kita terkena masalah hanya gara gara masalah ini, iya kan?'' jawab salah satu yang di angguki oleh semua nya yang sedang berjalan ke ruangan nya masing-masing.


Mahalini berjalan dengan menundukkan kepala nya, Riki yang melihat Mahalini menunduk segera mencari cara agar kecanggungan menghilang di antara nya, seperti hal nya kemarin di saat Mahalini masih bekerja, canda tawa bahkan saling berbagi satu sama lain nya.


''Apa uang kamu jatuh,'' tanya Riki memulai obrolan nya, ketika berada di dalam lift.


''Haa,'' jawab Mahalini cengo'.


Mahalini menengok ke kiri dan ke kanan, mencari apa yang di katakan Riki barusan. ''Tidak ada yang jatuh kok Pak, lagian tas Lini masih tertutup rapat, mana mungkin uang Lini bisa jatuh kan?'' jawab nya dengan wajah polos nya.


''Lagian kamu selalu menunduk, kalau kamu sedang di bully sama karyawan tadi, harus nya kamu balas dia dong? apalagi kamu adalah istri bos di perusaha'an ini,'' sambung Riki yang di sambut helengan kepala oleh Mahalini.


''Tidak ach, ngapain aku harus pamerin suami Lini di depan orang banyak, biarlah mereka yang menilai Lini seperti apa, itu hak mereka dan Lini tidak wajib untuk berkomentar apapun,'' ucap nya dengan suara lembut nya.


Mahalini masih sama dengan yang dulu, sama sama ramah dengan semua orang, meski dia juga sudah tau kalau kedua orang tuanya adalah pengusaha besar dan juga sukses.


Rendah hati dan juga adab selalu Mahalini junjung tinggi, karena dengan begitu orang orang bisa menilai sendiri, tanpa harus di koreksi lebih dulu sama? orang yang selalu terkoreksi.


Di ruangan presdir, Devano sedang menunggu kedatangan Mahalini yang menurut dia sangat lama, hanya untuk mengantarkan makan siang nya.


''Ngapain saja sich dua orang itu, menuju ke sini saja jalan nya seperti sipit saja,'' gerutu Devano yang sudah sangat lapar, karena tadi pagi dia hanya sarapan sedikit saja.


Tok tok tok


''Masuk,'' suara berat terdengar dari dalam.


Mahalini masuk ke dalam dengan gugup, karena seperti nya suami nya tengah marah.


''Pak Riki tidak ikut masuk juga,'' tanya Mahalini ketika Riki sang asisten hanya mengantarkan sampai di depan pintu.


''Lebih baik kamu masuk sekarang, sebelum si singa menemukan karena sudah sangat lapar,'' gumam nya dengan pelan, agar seseorang yang berada di dalam ruangan tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Riki sang asisten.

__ADS_1


Mahalini mengangguk dan melangkah masuk seorang diri, di dalam nampak aura kemarahan karena sudah lama menunggu kedatangan nya.


''Maaf Mas, tadi Lini masih ngobrol sebentar dengan resepsionis,'' ucap nya berbohong.


Mahalini berjalan menuju sofa dan menata semua makanan yang ia bawandi atas meja. Ada beberapa macam lauk pauk di sana, tak lupa juga Mahalini membawakan kue untuk suaminya.


''Ayo kita makan bersama,'' ajak Devano yang sudah duduk di samping istri nya.


''Lini tidak tau, makan siang apa yang Mas Vano inginkan? jadi Lini cuma memasak ini saja,'' ucap nya dengan menyendokkan nasi ke piring suaminya.


''Tidak apa apa, ini saja sudah cukup kok, dan terima kasih sudah mau mengantarkan suamimu makan siang ke kantor,'' jawab Devano merangkul pinggang Mahalini.


''Setelah ini kita periksakan baby kita,'' ajak Devano yang sudah tidak sabar melihat perkembangan janin yang di kandung Mahalini.


''Mas Vano memang nya tidak sibuk, bagaimana kalau Lini sama Mama Clara dan Mami Amora saja,'' tolak nya dengan alasan suaminya sangat sibuk, padahal tanggal cek up nya masih dua hai lagi.


''Kamu selalu mengajak Mami kalau periksa, sedangkan aku sebagai ayah nya harus melihat tumbuh kembang anak kita juga, mulai dia masih ada di dalam kandungan,'' jawab Devano yang menolak ucapan Mahalini.


''Kita makan sekarang Mas, nanti kita sambung obrolan ini lagi, tadi bukan nya kamu bilang sangat lapar,'' Mahalini mengalihkan pembicara'n nya, karena dia tidak tau mau menjawab apa kepada suaminya.


Devano mengangguk dan melanjutkan makan nya dengan sangat lahap, tak lupa juga Devano memakan kue yang tadi di bawakan oleh sang istri.


Mahalini sesekali melihat ke arah suaminya yang begitu tampan dengan setelan kerjanya, Mahalini tidak memungkiri kalau suaminya adalah seorang yang di sukai banyak wanita di luaran sana, tapi sungguh beruntung Mahalini bisa mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang berwibawa tinggi.


'Terima kasih ya Allah, engkau sudah mengabulkan semua impian ku, dan terima kasih juga sudah memberikan hamba kemudahan dalam mencari rezeki, hamba tidak akan bisa seperti ini? tanpa bantuan darimu, apalah hamba yang hanya bisa mengadu kepada mu, karena kepadamulah tempat ku meminta, dan mengadu segala apa yang terjadi, kepada hamba selama ini,' bathin nya dengan menyunggingkan senyum termanis kepada suaminya.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2