
Keesokan harinya Mahalini di antar oleh Devano untuk mengantarkan semua kie yang sudah di pesan sebelum nya, karena Mahalini tidak mungkin mengantarkan semua pesanan nya menggunakan motor matic. Lagipula pagi ini Devano akan mengantarkan istri nya ke rumah sakit, yang semalam sudah di bicarakan sebelum nya untuk melakukan test DNA ndi rumah sakit tersebut.
''Terima kasih Mbak Lini, semoga hati ini pesanan nya semakin bertambah ya,'' cetus pemilik toko kue tempat Mahalini mengantarkan semua kue kue nya.
''Sama sama Bu, apa tidak apa karyawan Ibu yang mengantarkan semua kue kue ini sendirian, kenapa nggak Lini saja yang mengantarkan secara langsung Bu,'' ujar Mahalini merasa tak enak hati dengan karyawan pemilik toko kue.
''Ini memang sudah tugas mereka kok Mbak, lagian bukan cuma satu rumah yang pesan kue kue Mbak Lini, tapi ada 4 orang pemesan,'' tukasnya dengan memberitahu kepada Mahalini, selain itu pemilik toko juga tidak ingin Mahalini kecape'an dan itu akan menggangu kesehatan Mahalini seperti apa yang di katakan oleh Devano sebelum nya.
''Ya sudah, kalau gitu semoga semakin di cari ya Bu kue kue Lini,'' ucapnya dengan mengulas senyuman nya.
''Amiiin ya Allah,'' jawab nya.
''Kalau gitu kita pamit dulu Bu,'' Pamit Mahalini kepada wanita pemilik toko kue, tak lupa Mahalini mencium punggung tangan Bu Savitri, karena menurut Mahalini Bu Savitri seperti Ibu nya sendiri.
Devano hanya menatap kedua wanita yang sedang mengobrol dengan sangat santai di depan toko, Devano hanya ikut mengeluarkan kue dari mobilnya tadi.
Bu Savitri melambaikan tangan nya ketika mobil yang di tumpangi Mahalini sudah beranjak pergi.
''Kalian sekarang bisa mengantarkan semua pesanan kue kue ini ke alamat masing-masing,'' perintah Bu Savitri kepada para karyawan nya yang terdiri dari 3 perempuan dan 2 laki-laki.
Karyawan perempuan untuk melayani pelanggan yang datang ke tokonya saja, sedang kan karyawan laki-laki mendapatkan tugas untuk mengantarkan semua pesanan dari para pelanggan.
Mahalini memang membuat kue 20 pecs, 10 pecah buat pesanan, dan yang 10 pecs lagi di taruh di toko tersebut,itu semua permintaan Bu Savitri.
Mahalini sendiri tidak mematok harga yang terlalu mahal,asal dia sudah dapat untung dan modalnya juga kembali itu sudah lebih dari cukup.
''Kamu yakin, akan terus membuat kue sesuai pesanan toko itu,'' tanya Devano tiba-tiba.
''Insya Allah Mas, kalau semakin banyak pesanan nya, nanti Lini akan mencari orang buat ngebantu Lini,'' jawab nya dengan pasti.
Tapi Mahalini sendiri bingung mau bikin kue pesanan toko kue tersebut di mana, masak iya dia harus bikin di rumah Mama Clara, dan itu akan tidak nyaman dengan para pekerja nya nantinya.
''Kenapa melamun begitu, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?'' tanya Devano ketika melihat sang istri malah melamun.
''Lini hanya bingung Mas, kalau misalkan usaha kue Lini bertambah banyak, dan Lini mencari pekerja yang akan membantu membuat kue, masak iya Lini harus bikin di dapur Mama sich? kan nggak enak,'' gumam nya dengan terus menatap jalanan di depan nya.
''Kita bisa bikin bangunan untuk usaha kamu nantinya, tapi Mas hanya berpesan kamu tidak boleh terlalu capek dengan usaha kamu itu, Mas masih sanggup membiayai kamu dan anak kita nantinya,'' jawab Devano yang menatap Mahalini walau hanya sekilas.
''Insya Allah Mas.'' balas nya dengan menyunggingkan senyuman nya, menampakkan deretan giginya putih nya kepada sang suami.
Devano juga membalas senyuman dari istri cantik nya, semenjak penyatuan malam itu? Devano bucin dengan sang istri, dan Devano juga berharap akan segera di berikan keturunan untuk keluarga kecilnya.
30 menit kemudian.
Devano dan Mahalini sudah sampai di rumah sakit, seperti yang di katakan oleh Tuan Sagara. Di dalam sudah nampak Tuan Sagara dan juga Nyonya Amora sedang menunggu kedatangan Mahalini dan Devano selaku anak dan juga menantunya.
''Maaf Mami, Mahaly masih mengantarkan pesanan kue dulu ke toko kue Bu Savitri,'' ucap Mahalini dengan mengambil tangan Nyonya Amora dan juga tangan Tuan Sagara. Devano juga berlaku seperti yang di lakukan oleh sang istri, karena beliau berdua adalah mertua Devano.
__ADS_1
''Tidak apa apa, Namun juga baru sampai kok, iya kan Pi,'' Jawab Mami Amora dengan meminta persetujuan sang suami.
''Iya Kak, lagian di kantor juga sudah di handle oleh asisten Papi, jadi kita bisa santai santai saja di sini,'' sahutnya dengan menatap wajah puteri nya yang begitu cantik dengan celana jeans dan juga kaos pendek berwarna hitam. Sangat pas di tubuh langsing nya.
(kalau Author bukan langsing, tapi langsung) 🤣🤣🤣✌.
Dokter memanggil Mahalini dan juga Tuan Sagara, Devano dan nyonya Amora juga ikut masuk ke dalam Devano hanya ingin memastikan dokter di rumah sakit tidak bekerja sama dengan Tuan Sagara.
Sang dokter mengambil sample darah Mahalini, Tuan Sagara dan juga Nyonya Amora. Sedangkan Devano hanya melihat saja seraya bertanya kepada dokter yang ada di hadapan nya.
''Kita kira hasilnya kapan akan keluar dokter,'' tanya Devano.
''Hasilnya akan keluar 24 jam,'' jawab nya dengan singkat.
''Apa tidak ada yang lebih cepat dokter,'' sambung Tuan Sagara yang sudah tidak sabar menunggu hasil test DNA nya bersama sang puteri.
''Itu sudah prosedur dari rumah sakit ini Tuan, saya hanya mengikuti prosedur nya saja,'' jawab sang dokter yang langsung di angguki oleh Tuan Sagara dan juga Devano, Mahalini dan Nyonya Amora hanya mendengarkan saja apa yang di ucapkan oleh sang dokter di ruangan nya.
Mahalini dan Nyonya Amora saling menguatkan, mereka tidak mau hasil test nya malah mengecewakan kedua nya.
''Sayang namun jangan khawatir ya, meski tanpa melakukan test DNA, kita sudah yakin kalau kamu adalah puteri kami yang di culik 19 tahun lalu,'' gumam Nyonya Amora dengan mengelus punggung Mahalini.
Mahalini hanya bisa tersenyum kecut, dia sangat takut kalau ternyata hasil test DNA nya negatif, dia sudah merasa bahagia dengan adanya orang tua kandung, namun dia juga takut kalau sampai harus berpisah lagi.
'Ya Allah, berilah hamba kekuatan yang lebih besar dari biasanya, agar hamba bisa bersikap sabar dan juga ikhlas dalam menghadapi ujian ini ya Allah, hamba hanya ingin mengetahui orang tua kandung ku, dan hamba tidak menginginkan hal yang lebih dari batas kemampuan hamba ya Allah,' batin nya, Mahalini sejenak memejamkan matanya, agar dia lebih tenang dan juga tidak membuat suaminya khawatir.
Tiba-tiba rasa sakit menyerang kepala Mahalini, Mahalini yang tidak mau menghawatirkan semuanya hanya bisa menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan, agar rasa sakit sedikit berkurang.
''Lini tidak apa apa kok Mi, hanya sedikit pusing saja,'' jawab nya dengan sedikit senyuman di bibir nya.
''Lebih baik kita ke ruangan dokter saja, kita periksa sekarang? agar kita tau kalau kamu sakit apa ,'' ajak Nyonya Amora sedikit memaksa kepada Mahalini.
''Lini tidak apa apa kok Mi.'' Mahalini masih menolak ajakan sang Mami, sampai akhirnya Devano dan Tuan Sagara datang menghampiri nya.
''Ada apa Mi?'' tanya Tuan Sagara kepada istri nya.
''Ini Pi, Mahalini pusing, jadi Mami pijat kening nya agar rasa pusing nya lebih mendingan dari sebelumnya,'' jawab nya dengan terus memijit kening Mahalini yang masih terasa berdenyut.
''Kamu sakit sayang, lebih baik kita periksa saja, ayo,'' ajak Devano, namun Mahalini lagi lagi menggeleng.
''Lini tidak apa apa kok, mungkin kurang darah saja,'' cetusnya yang tak mau di ajak periksa ke dokter yang ada di rumah sakit ini.
''Saya khawatir kamu kenapa napa Nak, lebih baik kuta periksa sekarang saja ya,'' Nyonya Amora sedikit memaksa Mahalini.
Dengan sangat terpaksa Mahalini hanya mengikuti apa yang di ucapkan oleh sang Mami, 'Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepada hamba Ya Allah,' gumam Mahalini di dalam hatinya.
Nyonya Amora berjalan berdampingan dengan Mahalini, menuju dokter umum untuk memerikaakan keada'an Mahalini sekarang ini.
__ADS_1
''Papi dan nak Vano lebih baik tunggu di luar saja, biar Mami dan Mahalini uang masuk ya,'' pintar Nyonya Amora kepada kedua laki-laki beda usia di depan nya.
''Tapi saya ingin mengetahui keada'an istri saya juga Nyonya,'' ujar Devano yang tak ingin terpisah dengan sang istri.
''Mas Vano tunggu di sini saja, Lini nggak apa apa kok, cuma sedikit pusing saja,'' sambo Mahalini kepada suaminya yang memaksa ikut masuk ke dalam ruangan dokter umum.
''Baiklah, kalau itu semua mau kamu,'' jawab Devano dengan pasrah. Devano tidak ingin berdebat dengan istri nya saat ini, jadi Devano sebisa mungkin harus mengikutinya, semua yang di ucapkan oleh sang istri.
''Permisi, siang dokter,'' sapa Nyonya Amora kepada dokter perempuan di depan nya.
''Siang juga Ibu, ada yang bisa saya bantu,'' tanya nya dengan sangat tamah dan juga dengan nada lembut nya.
''Begini dokter, puteri saya tiba-tiba pusing, entah kurang darah atau kelebihan,'' jawab Nyonya Amora dengan ramah juga.
''Baiklah kita langsung periksa saja, agar kita bisa mengetahui penyakit nya seperti apa ya Bu,'' kata sang dokter mengajak Mahalini untuk masuk ke dalam ruangan yang hanya di tutup dengan tirai.
Mahalini berjalan mengikuti sang dokter menuju ranjang di ruangan sebelah nya.
''Tensi nya normal, lainnya juga normal, tidak ada penyakit yang serius,'' gumam nya pelan, tapi Dokter wanita itu berjalan menuju nakas di mana di sana terdapat alat tes kehamilan. Diapun mengambil satu tes kehamilan dan di berikan kepada Mahalini.
''Cobalah di dalam kamar mandi,'' perintah sang dokter yang masih membuat Mahalini bingung dengan ucapan sang dokter.
Tapi Mahalini mengikuti arahan dari dokter tersebut, berjalan menuju ke kamar mandi dan menampung air seninya.
Menunggu beberapa menit dan nampak lah 2 garis di tes tersebut, mata Mahalini membualat sempurna melihat dia garis di tes kehamilan, ''Ya Allah, ternyata hamba akan menjadi seorang Ibu,'' gumam nya dengan rasa yang sulit untuk di ungkapkan, rasa sedih karena dia takut di ceraikan oleh Devano, rasa bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ibu dari baby nya.
Mahalini mengelus perut datanya dengan pelan seraya berkata, ''Ternyata kamu sudah bersemayam di rahim Bunda sayang??'' ucapnya dengan air mata yang sudah tergenang.
Dokter di luar menunggu Mahalini yang masih setia di dalam kamar mandi dokter wanita itupun mengetuk pintu.
Tok tok tok
''Bu, anda baik baik saja kan?'' panggil nya dengan suara khawatir, Nyonya Amora yang mendengar panggilan sang dokter pun menghampiri sang dokter dan bertanya kepada nya.
''Ada apa dokter, kenapa puteri saya ada di dalam?'' tanya nya dengan rasa khawatir.
''Tidak apa apa kok Bu, dia hanya buang air kecil saja di dalam,'' jawab sang dokter berbohong.
Akan kah Devano akan menerima berita kehamilan Mahalini, dan apakah surat perjanjian tersebut sudah ia bakar atau masih di simpan oleh Devano.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.