
Kini Mahalini sudah sampai di rumah Mama Clara bersama Devano, dengan semangat 45 Devano mengatakan kepada sang Mama bahwa istri ny kini sedang hamil anak nya.
''Kayak nya kamu senang banget hari ini, ada apa?'' tanya Mama Clara ketika Mahalini dan juga Devano masuk ke dalam rumah nya.
''Devano punya kabar gembira buat Mama dan Papa,'' jawab nya dengan sangat antusias.
Mama Clara mengerutkan kening nya mendengar penuturan dari putera nya.
''Kabar gembira apa sich, atau jangan jangan kamu menang tender ya,'' tebak Mama Clara.
Devano menggeleng pelan, sedangkan Mahalini hanya diam tanpa ikutan bersuara, karena suaminya sudah heboh di depan Mama mertua nya.
''Sayang, coba jelasin sama Mama sekarang, suami kamu kebanyakan main tebak tebakan, bikin Mama males dengernya,'' pinta Mama Clara kepada Mahalini sang menantu.
Mahalini hanya meremas ujung bajunya yang sedari tadi hanya terdiam, dan Mahalini melirik kepada Devano meminta dia saja yang menjelaskan semuanya kepada sang Mama.
''Mama, sebentar lagi Mama akan jadi nenek?'' Ucapnya heboh.
''Ya terus kenapa?'' sahut Mama Clara yang masih belum ngeh dengan ucapan Devano barusan.
Sedetik kemudian, Mama Clara baru tersadar akan ucapan Devano. ''Haaaahhh, nenek?'' jawab nya dengan keterkejutan nya, Mahalini menahan tawanya agar tidak sampai keluar dan itu akan membuat Mama mertua nya tersinggung dan akan marah juga, pikir nya.
''Mahalini ha-hamil,'' tanya nya dengan gugup.
Mahalini dan Devano mengangguk, Mama Clara menghambur ke Mahalini, beliau memeluk dan menciumi pipi Mahalini dengan sangat sangat lama.
''Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau sudah mengabulkan do'a do'a hamba,'' ucap Mama Clara dengan rasa bersyukur kepada sang pencipta.
''Beneran hamil sayang?'' tanya nya lagi
dengan melonggarkan pelukan nya.
Mahalini mengangguk seraya berkata, ''Alhamdulillah Ma, Lini sudah di beri kepercaya'an oleh Allah SWT, untuk mengandung,'' jawab Mahalini dengan menundukkan kepalanya.
Mama Clara mendongakkan wajah Mahalini, karena Mama Clara tidak melihat ada kebahagia'an di wajah menantu nya. ''Apa kamu tidak senang dengan kelamin ini,'' tanya Mama Clara dengan menatap wajah Mahalini.
''Lini sangat senang Ma, tapi Lini juga takut kalau Mama dan keluarga lainnya tidak senang dengan berita keramik Mahalini ini,'' sahut nya dengan menundukkan kepalanya.
''Bicara apa kamu sayang, Mama sangat senang mendengar berita ini, dan harus kamu ketahui, kalau Mama sudah sangat lama sekali menginginkan seorang cucu,'' balas nya dengan memeluk tubuh Mahalini lagi dan lagi.
__ADS_1
''Terima kasih Ma, Lini kira keluarga Mas Vano akan kecewa karena Lini cepat hamil,'' kata Mahalini lagi. Mahalini benar-benar tidak menyanhka akan disambut dengan kebahagia'an seperti ini oleh keluarga suaminya.
''Sudah, jangan terlalu pikirkan masalah itu, Mama sangat senang dan sudah tidak sabar lagi untuk menggendong Devano junior,'' gumam nya dengan senyuman nya.
''Kalau misalkan kamu menginginkan sesuatu, bilang saja sama Mama? Insya Allah akan Mama kabulkan, asalkan jangan minta bulan dan bintang saja,'' ucapnya lagi dengan sedikit canda'an di belakang nya.
Devano melihat sang Mama yang sangat bahagia dengan kabar kehamilan istri nya, Devano sempat tidak percaya dengan status nya saat ini, bahwa dia adalah seorang suami dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah untuk calon anak nya, yang kini sudah hadir di dalam rahim sang istri.
''Mama, biarkan istri Vano istirahat dulu di kamar, dia harus banyak banyak istirahat,'' ucap Debay dengan mengajak Mahalini ke kamar nya di lantai dua.
''Iya, kamu benar sayang? menantu Mama tidak boleh kecape'an apalagi tidak boleh stres, ingat kamu selalu membahagiakan istri kamu,'' pesan Mama Clara kepada Devano sang Putera.
''Iya Ma,'' jawab Devano dengan menggandeng tangan Mahalini.
Mahalini hanya mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar yang mulai sekarang akan menjadi kamar Mahalini juga, karena mulai sekarang Mahalini dan Devano akan pulang ke rumah orang tua Devano.
Setelah Mahalini pergi ke kamar nya, Mama Clara segera menghubungi kakek Bhaskara untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada mereka semua.
-'' Assalamu'alaikum Pa,'' sapa Mama Clara ketika sambungan telfon nya di terima kakek Bhaskara.
-'' Wa'alaikum salam? da apa Clara,'' tanya Kakek Bhaskara tho the poin kepada menantu nya.
-'' Alhamdulillah sehat, ada apa kamu menghubungi ku, kalian baik baik saja kan di sana, dan bagaimana kabar Mahalini sekarang?'' tanya Kakek Bhaskara panjang lebar kepada Mama Clara.
''Menantu Clara sangat baik Pa, dan Clara juga punya kabar yang sangat menggembirakan untuk Papa dan juga Mama,'' jawab nya dengan sesekali Mama Clara tertawa, karena saking bahagia nya dengan kehamilan Mahalini.
-''Kabar bahagia seperti apa yang kamu ingin katakan, cept bilang dan jangan sampai aku mati penasaran,'' tukas nya dengan kekehan kecil di seberang.
-''Saat ini menantu Clara sedang hamil Pa, dan sebentar lagi Papa akan di panggil kakek buyut oleh anak nya Devano dan Mahalini,'' jawab nya dengan heboh.
Kakek Bhaskara menutup mulut nya dengan kabar yang ia dengar dari menantu nya baru saja, kakek Bhaskara memang sudah sangat ingin sekali menimang seorang cicit dari cucu nya, tapi baru sekarang beliau mendengar kabar bahagia ini.
-'' Alhamdulillah ya Rabb, akhirnya aku akan punya cicit,'' jawab nya dengan sangat senang, kakek Bhaskara juga langsung bangun dari kursi roda nya seakan dia memiliki kekuatan dadakan, karena kabar bahagia ini.
-''Sekarang cucu ku Mahalini ada di mana, biar Papa datang ke sana sekarang,'' ucap nya dengan subringah, ''Aku mau tau keada'an dia secara langsung,'' tambah nya lagi sebelum mematikan ponsel nya.
-''Mahalini ada di rumah Clara Pa, kalau Papa mau bertemu dengan Mahalini, ke rumah Clara saja sekarang,'' jawab nya dan kakek Bhaskara sudah mematikan setelah mengetahui keberada'an Mahalini sang cucu menantu.
Kakek Bhaskara sangat senang sampai beliau tidak menyadari kedatangan sang istri yang sudah berdiri di belakang nya.
__ADS_1
''Kayaknya kamu sangat bahagia hari ini,'' ujar nya dengan berkacak pinggang, melihat suaminya yang sedang beryuforia dengan ponsel nya, yang nenek tahu begitu sich.
''Ayo nek, sekarang kita siap siap datang ke rumah Clara, aku sudah tidak tahan ingin datang ke rumah itu sekarang juga,'' ucap nya dengan mengabaikan semua pertanya'an yang di ajukan oleh sang istri.
''Kenapa harus kita yang datang ke sana, Clara dan Devano saja tidak mengingat kita di sini, apa kita sudah makan atau kita sehat, mereka semua nya sibuk dengan semua pekerja'an mereka masing-masing,'' jawab nya dengan angkuh, karena nenek Bhaskara tidak pernah mau datang ke rumah anak dan juga menantu nya, karena menurut beliau anak dan menantunya sudah tidak peduli dengan nya, dan lagi cucunya juga tidak pernah menghubungi mereka berdua, semua orang hanya sibuk dengan pekerja'an nya dan Mama Clara sibuk dengan dunia sosialita nya, pikir Nenek Bhaskara.
''Sudah jangan keras kepala untuk saat ini, aku mohon ikutlah ke rumah anak kamu, karena di sana ada cucu menantu kita yang tengah mengandung calon cicit kita,'' balas nya dengan terus terang, tadinya Kakek Bhaskara ingin memberikan kejutan kepada sang istri dengan berita kehamilan cucu menantu nya, tapi karena keras kepala sang istri, kakek Bhaskara terpaksa memberitahu kepada sang istri secara terus terang.
''Apa!!''
''Iya, Mahalini sedang hamil, dan sekarang dia ada di rumah Clara,'' potong nya dengan cepat, kakek Bhaskara sudah berjalan perlahan menuju kamar nya untuk segera bersiap siap bertemu dengan Mahalini cucu menantu nya yang sangat ia sayangi.
''Dan aku harap Devano bisa sadar dengan kehamilan Mahalini, dan dia juga bisa menerima dan membatalkan perjanjian pernikahan yang mereka lakukan di awal pernikahan nya,'' gumam kakek Bhaskara ketika sudah sampai di dalam kamar nya.
Sedangkan Nenek Bhaskara masih berdiri di ruang keluarga, dia masih terus mencerna setiap ucapan dari kakek Bhaskara barusan.
''Apa iya cucu menantu ku sudah hamil sekarang,'' gumam nya pelan seraya melangkah menuju kamar nya, di mana di sana kakek Bhaskara sudah siap dengan kemeja batik dengan celana hitam kain, meski sudah berumur namun beliau masih nampak tampan dan juga bugar, hanya karena beliau tidak boleh pergi ke kantor saja membuat dia males bergerak, jadi beliau memutuskan untuk memakai kursi roda hanya kalau dirinya sudah capek berjalan saja.
''Ayo buruan siap siap, kita berangkat sekarang? kalau kamu tidak mau pergi ya sudah, aku akan pergi sendiri ke sana,'' tukas nya dengan mengambil kaca mata yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur nya.
''Aku ikut, aku juga sudah kangen dengan cuci menantu ku Mahalini,aku juga ingin tau keada'an dia kalau dia hidup dengan bahagia dan juga di urus dengan benar oleh cucu badung mu itu,'' ungkap nya dengan lantang.
Kakek Bhaskara mengernyit dahinya mendengar ucapan sang istri, tanpa mau menjawab ucapan dari sang istri, kakek Bhaskara memilih keluar dari kamar nya, dia akan menunggu nenek Bhaskara di ruang keluarga.
Nenek Bhaskara mendengus kesal dengan sikap suaminya yang sangat menyebalkan itu, nenek Bhaskara mengambil baju dan memakainya dengan cepat, tak lupa juga beliau mengambil tas jinjing nya yang selalu ia bawa ke mana-mana.
''Ayo berangkat sekarang,'' ajak dengan terus melangkah pergi keluar rumah, tanpa mau menunggu kakek Bhaskara yang berjalan dengan perlahan karena kakinya masih terlalu sakit.
Kakek Bhaskara sudah sampai di mobil dan sudah duduk di jok belakang sang sopir bersama sang istri yang masih terlihat menyebalkan, tapi Kakek Bhaskara tidak pernah mengambil hati dengan semua ucapan sang istri, karena bagaimana pun istri nya lah yang sudah menemani nya dari nol sehingga menjadi orang yang sukses dan juga di hormati semua orang.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕