
Setelah acaranya usai, semua keluarga besar yang di undang sudah kembali ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Papa Setiawan dan juga Farel yang langsung kembali ke tempat kerja dan juga apartemen nya.
Papa Setiawan langsung balik ke perusaha'an tempat ia bekerja, karena Papa Setiawan tidak mengambil cuti, jadi Papa Setiawan memilih langsung balik ke tempat kerja setelah acara nikahan Mahalini, tanpa mau mampir terlebih dulu ke rumah nya. Entah karena apa Papa Setiawan dan Farel tidak ingin pulang ke rumah nya.
Sedangkan Farel kembali ke apartemen yang selama beberapa bulan ini ia tempati, Farel pikir dengan hidup sendiri lebih an dari sang Mama yang suka teriak teriak nggak jelas di rumah nya, membuat Farel menguras isi tabungan nya untuk membeli sebuah apartemen yang tak begitu mewah, tapi nyaman di tempati, tidak seperti di rumah nya sendiri, yang mewah dan juga luas? tapi hidup di dalam sana layaknya berada di neraka, karena menurut Farel sangat Mama lebih menyayangi sangat kakak saja, karena dia wanita dan juga bisa di ajak kompromi buat nguras uang orang orang yang gampang di bodohi.
Setibanya di apartemen Farel mengajak sang Papa untuk singgah ke tempat istirahat nya, ''Papa nggak mampir dulu,'' kata Farel yang masih duduk di sampingnya.
''Kapan kapan saja, ini sudah malam? nanti Papa kena macet di jalan,'' jawab Papa Setiawan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
''Ya sudah kalau begitu, Papa hati hati di jalan ya,'' pesan nya kepada sang Papa yang langsung di angguki Papa Setiawan.
Farel melambaikan tangan nya ketika mobil Papa nya sudah melaju pergi dari hadapan nya.
Farel masuk ke dalam dan di sana Farel di sapa oleh seorang satpam yang bertugas jaga di sana, ''Malam den Farel?'' sapanya dengan senyuman yang ramah.
''Malam juga Pak,'' Farel menjawab sapa'an sang satpam tak kalah ramah. ''Tumben Bapak sendirian, biasanya ada kang Dadang yang nemenin,'' tanya Farel kepada kak Niman yang sedang berdiri di samping nya.
''Dadang masih ke warung den, beli kopi? katanya biar nggak ngantuk nanti pas jaga nya,'' balasnya cepat.
''Och gitu ya Pak, ya sudah selamat berjaga,'' kata Farel yang langsung pergi begitu saja dari hadapan kang Niman.
__ADS_1
''Kebiasa'an banget den Farel, dasarnya medet ya tetep medet!'' gerutu kang Niman yang kini sudah di tinggal pergi.
Kang Niman biasanya kalau bertemu dengan Farel selalu meminta jatah rokok kepadanya, sedangkan Farel sendiri belum bekerja dan hanya bisa meminta uang kepada sang Papa, sedangkan satpam di apartemen nya selalu minta jatah rokok setiap harinya.
''Akhirnya sampai juga di kamar,'' gumam Farel yang kini tengah membaringkan tubuh lelah nya, namun semua itu terbayar dengan sebuah kebahagia'an, karena Farel bisa bertemu dengan sang kakak yang sudah beberapa bulan terakhir tidak pernah bertemu.
''Kak Lini semakin cantik saja, semoga kak Lini selalu di limpahi dengan kebahagia'an bersama suami dan juga keluarga suaminya,'' Farel memejamkan matanya mengingat sang kakak masih berada di rumah nya. Dengan tingkah kejam sang Mama selalu mencari cari kesalahan Mahalini, agar dia tidak mendapatkan jatah makan.
''Maafkan Farel kak, hanya bisa membantu kak Lini sedikit dari siksaan Mama dan juga kak Mira,'' keluh nya, Farel pun memejamkan matanya karena rasa ngantuk yang sudah mendera sejak mengingat Mahalini kakak angkatnya.
...****************...
Di dalam kamar yang sudah di hias sedemikian rupa, membuat Mahalini tidak bisa melepas rasa lelah nya, karena di atas ranjang sudah ada sang suami, sejak tadi Devano sudah berbaring di sana tanpa menghiraukan keberada'an Mahalini yang kini sudah sahabat menjadi istri nya, ya walaupun hanya istri di atas kertas saja, tapi setidaknya Devano pura-pura baik sama Mahalini untuk malam ini saja.
Mahalini hanya bisa menghela nafasnya, dia menuju ke lemari yang berada di pojokan, Mahalini mengambil selimut dan juga bantal di samping Devano. Sebenarnya Mahalini bisa tidur di mana saja, mengingat kehidupan nya sejak dulu sudah merasakan dingin nya lantai? ketika dirinya di kurung di dalam gudang, karena telat pulang dari sekolah nya.
Rasa lelah yang sudah mendera di tubuh nya membuat Mahalini cepat tertidur pulas di lantai dengan beralaskan selimut yang ia ambil dari dalam lemari.
Jam 1 malam Devano terbangun karena mengingat sesuatu yang membuat dia langsung beranjak turun dari tempat tidur nya, Devano melupakan kalau Mahalini saat ini sudah menjadi istri sah nya.
''Kenapa aku sampai lupa sama Mahalini ya, tidak seharusnya aku meninggalkan dia bersama kakek dan juga nenek tadi,'' gumam nya pelan seraya mengacak-acak rambut nya, karena Devano baru tersadar dengan kenyata'an itu.
__ADS_1
''Ach, siapa sich yang narik kursi di sini,'' ketus Devano ketika kakinya tersandung, Devano mencoba meraba sesuatu yang sudah membuat dia tersandung dengan tangan nya, tapi Devano langsung mundur karena ada rambut di sana.
Devano yang penakut segera menyalakan lampu kamarnya, dan nampak lah Mahalini yang sedang terlelap tidur, sehingga tidak menghiraukan meski tadi sudah kena tendang kaki Devano.
''Sial, kenapa dia tidur di sini sich! memang nya tidak dingin apa?'' gerutu Devano. Sejenak Devano terdiam menatap wajah cantik Mahalini yang sedang tidur.
''Tidur nya saja seperti kerbau, meski kena tendang nggak merasa terganggu sama sekali,'' lagi lagi Devano bergumam dengan tingkah sang istri.
Devano mengangkat tubuh Mahalini ala bridal style, untuk di taruh di tempat tidur nya. ''Kurus banget nich cewek, apa dia tidak pernah makan makanan yang bergizi ya, sehingga tubuh nya kurus seperti ini,'' pikir Devano, karena tubuh Mahalini terlalu ringan ketika di angkat tadi.
Devano memutuskan pergi ke kamar mandi dan keluar menuju dapur, karena dia melewatkan makan malam nya karena ketiduran sejak selesai acara nikahan nya tadi.
Devano mengambil sisa kue di dalam kulkas yang sengaja di taruh Mahalini tadi, dia juga membuka tudung saji yang di mana masih ada sisa makanan juga di sana, mungkin itu jatah Devano karena tadi tak ikut makan malam bersama.
''Devano, kamu belum tidur?'' tanya sang nenek yang tiba-tiba berada di belakang nya.
''Bukan belom tidur sich nek, lebih tepatnya Devano lapar, makanya makan ini,'' sahut nya tanpa menatap ke arah sang nenek.
''Kamu lapar gara-gara olahraga malam bersama Mahalini githu,'' nenek Devano salah faham sehingga berkata demikian kepada cucunya. ''Ach... senang nya, pasti sebentar lagi aku akan mempunyai cicit,'' lagi dan lagi neneknya salah menafsirkan perkata'an Devano. Membuat Devano kesal mendengar pernyata'an dari sang nenek.
''Huch....'' dengus Devano dan kembali ke kamarnya dengan membawa sepiring nasi beserta pasukan pasukan nya.
__ADS_1
pertemuan nya