
Semuanya mengambil snack yang berada di dalam kantong plastik besar, dan ada jugak yang sengaja tidak memakan snack nya, karena mereka berniat akan membawa pulang snack yang ia dapat kan hari ini untuk anak anak nya di rumah.
Mahalini heran melihat snack yang ia berikan semua nya kepada para pegawai nya, malah di tarok di dalam tas nya.
''Lha, kenapa snack nya malah di masukin ke dalam tas gitu sich Mbak, kan tadi Zarine audah bilang kalau hari ini akan pesta camilan,'' tegur nya dengan tegas kepada sang pegawai, yang beberapa kedapatan memasukkan camilan nya ke dalam tas ransel nya.
''Bu Bos, maafkan saya? karena snack tersebut mau aku kasih kepada anak anak di rumah,'' jawab nya lirih.
''Iya Bu Bos, lebih baik saya bawa pulang saja snack nya, untuk anak anak di rumah, karena mereka jarang sekali makan snack seperti ini di rumah,'' papar nya dengan menundukkan kepala nya.
''Makan lah, anak nya masih banyak? nanti bungkus saja sisanya buat anak anak kalian, kalau masih kurang bilang saja sama aku nanti,'' kata Mahalini menatap kepada beberapa orang pegawai nya yang memang sudah memiliki anak, dan mereka semua harus tinggal bersama nenek nya di rumah, karena sang Ibu harus bekerja untuk menafkahi hidup nya sendiri.
Ada 6 orang yang di yingo pergi oleh suaminya, tanpa kepastian? jadi mereka mau tak mau harus bekerja keras untuk membesarkan anak anak nya, agar mereka semua tidak merasa kekurangan.
''Zarine, kamu ambil kantong plastik itu, aku mau bagi snack ini kepada Ibu Ibu yang memiliki anak,'' titah nya kepada Zarine yang memang berada tak jauh dari tempat kantong plastik, yang di letakkan di rak dapur nya.
Tanpa menjawab perintah Mahalini, Zarine segera membawa beberapa kantong plastik, Zarine juga membantu Mahalini membungkus beberapa camilan dan langsung di bagikan kepada Ibu Ibu tersebut.
''Yang tidak punya anak tidak boleh bawa pulang juga ya,'' ungkap Zarine, niat nya hanya menggoda Mahalini saja, tapi Mahalini malah menganggapnya sungguhan, dan akhirnya semua snack sudah terbungkus rapi di dalm kantong plastik berwarna putih.
''Jangan ada yang mengeluh lagi ya, kan sudah ngemil,'' celetuk Mahalini membuat mereka menjadi tertawa senang, rasa sedih yang sempat menyelimuti nya hilang sudah, karena celetukan dirinya sendiri.
Mahalini juga tidak menyadari, kalau ada seseorang yang sedari tadi sedang memantau nya dari ambang pintu, laki laki tersebut menyunggingkan Seniman nya, melihat betapa baik istri kecil nya.
''Semoga kamu selalu menjadi Mahalini yang baik dan juga rendah hati,'' gumam Devano pelan.
Ya laki-laki yang memandangi Mahalini sedari tadi adalah Devano, suami Mahalini.
''Selamat siang Tuan muda?'' sapa salah satu pegawai, yang melihat Devano berdiri di ambang pintu, dengan pandangan mengarah kepada Mahalini sang istri.
__ADS_1
''Siang,'' jawab nya dengan nada datarnya.
Mahalini yang mendengar suara Devano segera menileh ke asal suara, di mana suaminya tengah mengulas senyum manis nya.
Karena sudah ketahuan, Devano akhirnya berjalan ke arah Mahalini yang sedang duduk manis, karena dengan perut buncit nya, membuat Mahalini sedikit kesusahan dengan aktifitas nya.
''Mas Vano, Mas sudah lama di sini,'' tanya nya menyambut tangan suaminya. Di ciumnya punggung tangan Devano, membuat semua orang iri dengan kehidupan Bos nya.
''Sangat beruntung sekali Tuan mendapatkan wanita secantik Nona Mahalini,'' bisik nya kepada salah satu teman nya.
''Iya, bukan hanya cantik tapi sangat baik sama pegawai nya, aku sangat beruntung bisa terpilih bekerja di rumah catering milik Mbak Mahalini, jadi kita harus bekerja sama untuk mensukseskan usaha Mbak Mahalini, karena berkat dialah anakku bisa sekolah saat ini,'' sahut nya dengan nada lirih nya, mengingat anak nya tidak mau sekolah, karena uang sekolah nya sudah menunggak beberapa bulan, jadi sang anak merasa sangat malu, karena sering di tanyakan oleh gurunya di sekolah.
Mahalini datang sebagai pahlawan untuk anak tersebut, karena waktu itu Mahalini datang ke rumah catering nya bertepatan anak tersebut menemui Ibu nya, dan menceritakan semua nya kepada sang, Mahalini yang tak sengaja mendengar langsung mendatangi sekolah anak pegawai nya, di mana di sana memang hanya anak itu yang belum bayar uang sekolah nya.
Bahkan Mahalini melunasi uang sekolah sampai anak tersebut lulus atau tamat di sekolah nya.
Mahalini bukanlah wanita yang suka pamer dengan harta dan kekaya'an yang ia miliki saat ini, sang guru pun mendatangi rumah Ibu sang anak dan menceritakan kalau uang sekolah putranya sudah di lunasi oleh Mahalini.
Dengan berat hati sang guru pun menceritakan semuanya kepada sang Ibu wali murid nya.
Kembali pada Devano.
Mahalini di bawa ke ruangan nya, dan Devano menggiring Mahalini untuk segera merebahkan tubuh nya, agar tidak seperti kemarin yang begitu kelelahan.
''Kini tidak apa apa kok Mas, lagipula sejak Lini sampai di sini hanya duduk dan bercerita dengan Ibu dan mbak mbak nya di sana, Lini tidak melakukan apapun kok, sumpah?'' tutur nya dengan sekali tarikan nafas.
''Kamu ya kalau ngomong? Masih sama seperti dulu, selalu singkat dan juga dengan satu tarikan nafas, memang nya mau ijab kabul Bu,'' ledek nya membuat Mahalini beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan ke arah sofa, dia tidak mau di ledekin oleh suaminya.
''Lha, kok marah sich sayang? Mas Aditya kan cuma bercanda saja sayang, jangan di ambil hati oke,'' tukas nya dengan perasa'an bersalah nya.
__ADS_1
''Sudah terlanjur kesal juga Mas?'' Mahalini mengerucut kan bibir nya membuat Devano menghampiri Mahalini dan langsung mencium bibir ranum nya.
''Kamu sendiri yangenggoda Mas ya,'' gumam nya dengan suara berat nya.
''Ach, jangan gitu dong Mas, ini di tempat usaha Lini, nanti ada yang masuk lagi, kan Mahalini juga yang malu Mas,'' balas nya dengan mendorong tubuh suaminya yang kekar.
''Lagian Mas kesini mau ngapain sich, ini kan belum waktunya makan siang, kenapa sudah datang kesini saja,''
''Memang nya aku salah menemui istri sendiri di sini, kalau aku bertemu dengan istri orang baru bermasalah sayang?'' jawab nya dengan santai.
''Coba saja kalau Mas Vano berani dengan wanita lain,'' ancam nya dengan melotot ke arah suaminya.
''Kan nggak apa apa juga seorang laki-laki memiliki beberapa orang istri,'' jawab nya ngasal.
''Ich, mending golek liyane wae, moh orep bareng wong koyok ngono, toh sek uakeh wong liyane seng gelem orep keloron karo aku.''
(''Ich, mending cari yang lain saja, nggak mau hidup bersama orang yang kayak gitu, toh masih banyak orang yang mau sama aku.'') jawab nya dengan ketus.
Memang masih banyak laki-laki yang mengharapkan Mahalini, selain dia cantik, dia juga berasa dari keluarga kaya raya, yang bahkan kekaya'an nya tidak bakalan habis meski samoai 7 turunan dan 7 tanjakan sekalipun.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.