
Kicauan burung saling bersahutan, menyambut pagi yang begitu indah, langit biru terhampar begitu luas di angkasa.
Papa Setiawan mengawali paginya dengan minuman teh hangat yang baru di bikin oleh asisten rumah nya, yang terletak di pinggiran kota.
''Bapak tidak pulang ke rumah nya minggu ini,'' tanya sang asisten, yang memang sudah sangat lama bekerja di rumah dinas Papa Setiawan.
''Tidak Jum, aku malas pulang ke rumah, lagipula anak anak ku sudah tidak ada di rumah itu lagi, hanya istri ku saja yang tinggal di sana sendirian, jadi untuk apalagi aku pulang ke rumah itu lagi, kalau hanya untuk bertengkar saja,'' cerita Papa Setiawan kepada asisten nya.
''Kalau begitu Bapak ke rumah neng Mahalini saja Tuan, mungkin neng Lini kangen sama Bapak, tapi tidak bisa nyamperin Bapak ke sini,'' tukas nya dengan sedikit ragu.
Ya, kemarin sebelum menikah dengan Devano, Mahalini beberapa menyambangi Papa Setiawan di rumah yang saat ini di yemoati, namun sudah sangat lama sekali Mahalini tidak datang lagi ke rumah dinas sang Papa.
Tapi Papa Setiawan sangat mengerti, kalau putri angkat nya sangat lah sibuk dengan usaha nya, dan di tambah saat ini sudah ada rumah catering yang harus ia urus juga, meski sudah memiliki banyak pegawai, tapi nyatanya Mahalini lebih suka menangani nya sendiri.
''Entahlah Jum, aku hanya ingin hidup tenang saja di masantuaku nanti, tidak ada orang yang mengajak berantem lagi kedepan nya,'' jawab nya dengan nada datar.
Matanya menerawang langit biru nanti luas di atas sana, di tambah lagi dengan awan putih yang sudah mulai menutupi sedikit demi sedikit.
Sang asisten hanya mengangguk pelan, dia juga paham dengan keada'an Tuan nya saat ini, istri nya memang sangat angkuh dan juga keras kepala, mengingat sang asisten pernah bertemu dengan Mama Agnes, ketika datang menjenguk suaminya.
''Kalau begitu, saya permisi dulu Pak, mau melanjutkan masak nya,'' pamit nya seraya berlalu meninggalkan Papa Setiawan sendirian di teras rumah nya.
''Sebenarnya ingin sekali melihat Mahalini saat ini, di tambah lagi sekarang usia kandungan nya juga sudah mulai menginjak 5 bulan,'' gumam Papa Setiawan, menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi yang ada di teras rumah nya.
''Papa kangen kamu nak, Papa juga ingin memeluk kamu seperti ketika kamu kecil dulu, Papa juga sany menyayangi mu dari dulu sampai sekarang, dan sampai kapan pun juga, Papa akan selalu menyayangi kamu,'' gumam nya lagi.
...****************...
__ADS_1
''Ada kabar apa hari ini,'' tanya Mahalini yang baru datang ke rumah catering milik nya.
''Ada banyak kabar yang akan membuat kamu senang juga bahagia tentunya,'' sahut Zarine, dia berjalan dari arah dapur, melihat bahan apa saja yang akan ia beli nanti siang di pasar dekat rumah catering RISTY.
''Oiya, kabar apa saja sich Rin?'' y tanya nya dengan penasaran.
''Duduk lah, kita bahas semua ini dengan santai dan juga, kamu tidak boleh terlalu capek? seperti kemarin yang membuat kamu kelelahan,'' kata Zarine, Mahalini mengangkat satu alis nya karena dia tidak merasa kelelahan kemarin.
''Pegawai mana yang kelelahan, apa dia sekarang baik baik saja,'' tnya Mahalini yang mengira pegawai nya lah yang kelelahan.
''Pegawai siapa sich, yang aku maksud barusan adalah kamu sayang, kamu yang sangat kelelahan dan meninggalkan semua perintah Allah SWT, termasuk sholat, salah satunya itu,'' balas Zarine dengan mengatakan sholat.
Ya, Mahalini kemarin terlelap, sampai tidak melaksanakan sholat maghrib, sholat isya, dan juga subuh. Maka dari itu Devano menghubungi Zarine tadi pagi, dan menceritakan semua nya kepada Zarine, kalau Mahalini tidak boleh mengerjakan apa apa pagi ini.
''Rupanya aku ya, kemarin aku sangat ngantuk, dan tidak tau kenapa tidur nya malah bablas sampai pagi,'' Mahalini terkekeh karena sahabat nya mengetahui nya dengan sangat jelas.
''Ngacok lho ya Lin, mana ada aku memelihara begituan! mending memelihara tuyul yang bikin aku kaya mendadak.'' cetus nya dengan sedikit tinggi.
Mahalini tertawa melihat sahabat nya marah seperti itu, ''Kenapa nggak memelihara sekarang saja, jadi kita saingan dech,'' balas Mahalini membuat Zarine memutar bola matanya malas.
''Sudah ach, aku ingin memberi tahu kalau pesanan hari ini sangat banyak, dan ada juga yang memesan rujak buah juga, hebat kan?''
''Iya, kalian semua memang hebat hebat, aku bangga dengan kalian semua yang bekerja dengan semangat 45,'' kata Mahalini memuji semua para pegawai nya.
''Terima kasih pujian nya Bos, tapi tanpa Bos kita tidak akan bisa seperti ini dan mempunyai pekerja'an tetap juga,'' Ucap salah satu pegawainya, yang kebetulan berada tak jauh dari tempat Mahalini duduk saat ini.
''Sudah ach, aku malas kalau di panggil Bos Bos itu, mendingan kita berhenti dulu sejenak, kita nyemil dulu bagaimana?'' celoteh nya membuat para pegawai nya menatap ke arah Mahalini.
__ADS_1
''Mau nyemil apa sich Lini, snack saja tidak ada juga,'' Ujar Zarine yang tak melihat apapun di dekat Mahalini.
''Ya kita tinggal ambil di mobil, tadi aku tidak bisa bawanya, karena terlalu berat untuk di bawa ke dalam sendirian,'' celetuk nya, mengangkat satu alis nya ke atas, membuat Zarine gemas kepada sang Bos.
''Ya sudah, kalian ambil anak di dalam mobil Bos kita, dan setelah itu kita berhenti sejenak untuk berpesta snack dulu,'' seru nya membuat semua para pekerja tertawa terbahak bahak dengan ucapan Zarine barusan.
''Zarine kamu bisa saja dech, masak iya kita pesta snack sich? sejak kapan ada pesta seperti itu juga,'' jawab salah satu pegawai yang lebih sedikit tua darinya.
''Ya adalah Bu, kan memang kita mau nyemil, jadi lebih keren dengan sebutan pesta snak, asal jangan snack yang 500 ya Bu,'' Ibu itupun menghampiri Zarine dan menggetok dahinya.
''Awww sakit tau Bu, bagaimana kalau aku gegar otak, kan kasian pacarku jadi duda sebelum menikah,'' tutur nya dengan mencebikkan bibir nya.
''Mana ada duda sebelum menikah, yang ada tuh hanya mantan pacar? bukan duda, ngerti nggak,''jelas nya yang di tertawakan oleh pegawai lain nya.
Mahalini sangat bahagia melihat para karyawan nya yang bercengkrama, dan di tambah lagi mereka semua sudah seperti saudara bagi Mahalini, tak ada perbeda'an antara pegawai dengan sang bos, mereka berhak mengutarakan apa yang membuat dia tidak nyaman dengan keada'an di sana.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1