
Sore itu Mahalini di jemput oleh Riki ke rumah sederhana nya, di mana Mahalini malam nanti akan di ajak mengunjungi kakek Bagaskara dan juga kedua orang tuanya, tapi sebelum ke rumah besar nya? Devano meminta Riki untuk membawa Mahalini ke salah satu salon yang sudah di booking Devano sejak kemarin, sebelum Mahalini mengalami kekerasan dari saudara angkat dan juga Mama angkat nya.
''Pak Riki, kenapa Lini di bawa ke sini?'' tanya Mahalini dengan lembut. Mahalini hanya menatap salin kecantikan itu dari dalam mobil.
''Lini, lebih baik kita turun dulu,'' ajak Riki dengan membuka pintu mobil depan, sedangkan Mahalini membuka pintu mobil belakang, karena Mahalini duduk di kursi belakang Riki.
Mahalini masih berdiri di samping mobil, sedangkan Riki sudah ada di depan salon kecantikan yang ia tuju, Riki berdecak melihat Mahalini masih tetap saja berdiri di samping mobilnya.
''Apakah kamu mau berdiri di sana terus, dan nantinya akan telat kita ke rumah besar Tuan Bagaskara,'' ujar Riki.
Mahalini pun segera melangkah mengikuti Riki dari belakang.
''Selamat datang Tuan,'' sapa sang pegawai yang bertugas menyambut tamu.
Riki hanya mengangguk pelan, seraya berkata, ''Saya mau penampilan Nona ini di rubah seperti yang di katakan Tuan Devano,'' Ucap nya kepada pemilik salon yang juga datang menyambut kedatangan Mahalini.
''Nona Mahalini,'' tanya sang pemilik salin dengan ramah.
''Iya, saya Mahalini,'' jawab Mahalini bingung, karena wanita cantik di depan nya mengetahui namanya.
''Mari Nona ikut saya ke dalam,'' ajak sang pemilik salon yang terkenal dengan nama Mami itu.
Mahalini menatap Riki yang hanya diam saja di tempat nya, ''Pak Riki,'' sapa Mahalini dengan sedikit takut.
''Masuklah Lini, lebih cepat lebih baik,'' gumam Riki yang kini sedang di tatap oleh Mahalini.
''Tapi Pak,'' sahut Mahalini dengan nada takutnya.
''Masuklah!'' titah nya dengan nada dingin, Mahalini hanya bisa mengangguk ketika melihat wajah datar Riki di depan nya.
'Padahal aku kan cuma nanya doang, kenapa Pak Riki dingin gitu sich? sebelas dua belas belas dengan bos nya,' gerutu Mahalini di dalam hatinya.
__ADS_1
''Duduklah Nona,'' kata sang Mami.
''Nyonya boleh memanggilnya saya Lini saja, nggak enak rasanya kalau di panggil nona seperti itu,'' balas Mahalini dengan senyum di bibir nya.
''Baiklah kalau itu mau Nona,''
Mahalini mulai di rias secantik mungkin, walau hanya dengan make up tipis, namun Mahalini sudah terlihat begitu cantik, di tambah dengan gaun yang sudah di siapkan oleh sang Mami di salon miliknya.
Mahalini hanya menurut saja apa yang di katakan Mami yang turun langsung merubah penampilan Mahalini.
Devano yang sudah di antar supir ke salon tersebut sudah tidak bisa menahan diri untuk segera bertemu dengan gadis nya.
''Riki, apa yang mereka lakukan di dalam. Kenapa lama sekali mereka di sana, apa mereka tidak tau kalau saya buru buru,'' seru Devano yang beranjak berdiri dari kursinya.
''Mohon di tunggu Tuan, sebentar lagi Nona Lini bakalan keluar juga,'' jawab Riki yang sudah bosan menunggu Mahalini di dalam salon sejak tadi sore.
'Tuan Devan saja marah, hanya menunggu 20 menit di sini, lha aku sejak tadi bos nungguin di sini, bosen banget,' batin Riki yang menggerutu kesal karena ucapan CEO nya.
Tak lama kemudian Mahalini keluar dengan gaun yang begitu indah dan juga pas di tubuh ramping nya, wajah yang begitu cantik dengan rambut yang terurai menambah kecantikan Mahalini yang selama ini di lihat oleh Devano dan yang lain nya.
Riki yang mendengar kalimat tersenyum hanya menahan tawa, agar dia tidak terkena hukuman kalau sampai di dengar oleh Tuan nya.
''Tuan,'' sapa pemilik salon kepada Devano, namun Devano masih menatap ke arah Mahalini yang tampil cantik malam ini.
''Tuan,'' lagi, Mami memanggil tapi masih tetap sama.
''Tuan, bisakah kita berangkat sekarang,'' Ujar Riki dengan menepuk punggung sangat Tuan, membuat Devano sadar dari lamunan nya.
Demi mengurangi rasa keterkejutan nya, Devano berpura-pura melihat jam tangan yang melingkat di pergelangan tangan nya. ''Baiklah, kita berangkat sekarang,'' jawab Devano mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
''Mari Nona,'' ajak Riki dengan setengah membungkuk mempersilahkan Mahalini dan juga Devano untuk berjalan di depan nya.
__ADS_1
''Terima kasih Mami,'' ucam Mahalini sebelum benar-benar pergi dari tempat ia berdiri.
''Sama sama Nona,'' jawab nya dengan mengulas senyum, Mahalini membalas senyuman Mami dan berlalu menuju ke mobil yang sudah di tunggu oleh Devano.
''Masuklah, kamu ini sangat lama sekali,'' gerutu Devano yang melihat Mahalini berjalan dengan tertatih Ratih karena high heels yang terlalu tinggi.
''Maaf Tuan, sepatunya terlalu tinggi,'' gumam nya ketika sudah masuk ke dalam mobil. Devano tak menjawab ucapan Mahalini, dia mulai sibuk dengan ponselnya.
Devano mengecek ponsel nya yang sedari tadi sudah banyak pesan masuk ke benda pintar yang ia pegang.
''Mereka sudah tidak sabaran, Riki percepat laju mobilnya,'' perintah Devano.
''Baik Tuan,'' jawab nya dengan mempercepat laju kendara'an yang ia kendarai.
Di sisi lain Tuan besar dan istri nya sudah tidak sabaran menunggu kedatangan cucu dan juga cucu menantunya.
''Lama banget cucu kamu itu nek,'' Ujar kakek Bagaskara yang sudah lelah mondar mandir sejak tadi.
''Lebih baik Mama dan Papa duduk saja, nanti rematik nya kumat,'' seru Mama Devano yang sudah tidak tahan lagi melihat orang tuanya yang sejak tadi nggak bisa diam di tempat nya.
Sesaat setelah perdebatan antara Mama Devano dan kakek Bagaskara, seru mobil memasuki pelataran rumah nya, yang mereka yakini Devano sudah datang.
Kakek Bagaskara sudah menyilangkan kedua tangan nya di dada bidang nya, sedangkan sang Mama hanya menggeleng melihat tingkah Papa mertuanya yang semakin menjadi jadi itu.
''Kakek,'' sapa Devano ketika memasuki rumah sang kakek, beda dengan Mahalini yang mengucapkan salam ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sang kakek.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Mahalini dengan lembut.
''Waalaikum salam?'' jawab semua orang hampir bersama'an.
Mama Devano dan semua orang di sana terpana dengan penampilan Mahalini yang begitu cantik dan anggun, meski mereka sudah tau kehidupan Mahalini yang begitu miris ketika di ingat kembali.
__ADS_1
''Ayo masuk sayang?'' Ucap Mama Devano menghampiri Mahalini yang masih berdiri di ambang pintu.
Mahalini mengulurkan tangan nya, mencium punggung tangan semua orang yang terdiri dari kakek, nenek, Mama dan juga Papa nya Devano.