
Di dalam ruangan, Devano sedang menggeram kesal, karena dia sudah sangat lapar dan juga menginginkan secangkir kopi buatan Mahalini.
''Kenapa kamu bisa di cegat sama cewek bren**gsek itu,'' tukas nya dengan suara yang menggelegar.
''Maafkan saya Tuan, saya bisa beli sekarang juga?'' jawab Mahalini dengan menundukkan kepalanya, dia takut menatap wajah galak Devano yang sedang marah.
''Nggak usah! lebih baik kamu bikinin aku kopi, biar aku nyuruh orang lain saja untuk membelikan makanan.'' jawab nya dengan ketus, Mahalini mengangguk dan melangkah pergi untuk membuat sang Bos kopi pesanan nya.
'Apa salahku ya Allah, kenapa semua coba'an ini silih berganti. Dan sebenarnya hamba sudah tidak kuat lagi dengan semua coba'an yang telah engkau berikan kepada hamba, tapi hamba masih berharap akan menemukan kebahagiaan di hari esok. Sehingga hamba bisa terus bersabar dalam menjalani semua coba'an ini bersama seseorang yang begitu menyayangi ku,' gumam Mahalini dalam hati, tak terasa air mata nya sudah menganak di kedua pipi nya.
Dengan cepat Mahalini menghapus air mata nya, dengan lengan baju nya.
''Kini, kamu nggak apa apa kan?'' tanya Clarencia yang sudah memegang kantong plastik di tangan kanan nya.
''Ach, a-aku nggak apa apa kok,'' jawab nya dengan gugup.
''Kamu jangan ngumpetin ini semua dari ku, berbagilah kesedihan mu dengan ku Mahalini, kita kan teman? dan siapa tau aku bisa membantu kamu,'' kata Clarencia lembut, dia mengusap bahu Mahalini dengan lembut.
''Ya sudah, kamu bikin kopi buat Tuan Devano kan? sekalian ini makanan nya kamu bawa juga ya,'' Clarencia menaruh kantong plastik yang ia pegang di atas nampan yang berisi secangkir kopi. Tak lupa juga Clarencia menaruh piring di nampan tersebut.
Mahalini hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangan sang CEO.
Tok tok tok
''Masuk,'' Ucap Devano dengan suara berat nya.
Mahalini membuka pintu dengan sangat perlahan, takut nya dia malah mengganggu sang bos. ''Mau di taruh di mana Tuan?'' tanya Mahalini ketika sudah ada di depan mejanya.
''Taruh di sana saja,'' Devano menunjuk sofa yang ada tak jauh dari kursi kerjanya.
__ADS_1
Mahalini menata makanan dan juga kopi di atas meja tersebut dengan sangat hati hati, ''Sudah Tuan, apa masih ada yang bisa saya bantu?'' tanya Mahalini sebelum beranjak pergi dari ruangan sang CEO.
''Duduklah,'' Ucap Devano lembut.
Mahalini duduk di sofa tanpa bantahan. ''Ada hubungan apa kamu dengan wanita tadi, sampai sampai kamu di hina seperti itu,'' tanya Devano mengintimidasi Mahalini. Sebenarnya Devano sudah tau hubungan Mahalini dengan wanita jadi jadian tadi, yang bisa bisa nya mengaku sebagai sekretaris dan juga calon istri dari CEO perusaha'an terbesar se Asia.
''Maafkan saya Tuan, wanita tadi adalah kakak angkat Lini, gara-gara Lini ada keributan di kantor Tuan?'' jawab Mahalini dengan perasa'an campur aduk, Lini takut kalau dia akan di pecat. Dia juga takut kalau dirinya adalah biangasalah di perusaha'an ini.
''Makanlah, kamu pasti belum makan siang kan?'' kata Devano menatap Mahalini yang masih setia menundukkan kepala nya.
''Tidak Tuan, Lini membawa bekal makan siang kok,'' tolak Mahalini dengan lembut, takut sang bos merasa kecewa kepada nya.
''Kalau memang kamu bawa bekal makan siang, coba kamu ambil dan bawa bekal kamu ke sini,'' perintah Devano yang terseyum smirk.
Mahalini mengangguk dan mulai beranjak dari tempat nya, masih dengan perasa'an kacau nya Mahalini menuju pantry, di mana bekal makan siang nya ia tarok.
''Lini, kamu mau kemana lagi?'' tanya Clarencia yang melihat Mahalini membawa kotak bekal nya.
Lini ragu ragu untuk mengetuk pintu ruangan sang CEO, dia takut mengganggu kenyamanan nya, tapi Mahalini juga takut kalau sang bos harus menunggu lama.
Tok tok tok
Mahalini mengetuk pintu dengan sedikit keraguan di dirinya.
''Masuklah,'' Ucap Devano pelan.
Mahalini membuka dengan pelan, dan melangkah masuk menghampiri sang bos setelah menutup pintu terlebih dahulu.
''Maaf Tuan,'' kata pertama yang di ucapkan ketika berada di depan bos nya.
__ADS_1
''Kenapa kamu lama sekali Lini, kamu tau nggak aku sudah begitu lapar menunggu kamu? apa kamu masih nunggu antrian dulu untuk mengambil bekal kamu di pantry,'' tanya Tuan Devano memejamkan matanya. Sedangkan bahunya ia sandarkan di sandaran sofa.
''Maaf Tuan?'' jawab Mahalini dengan kata kata andalan nya.
''Selain kata maaf, apalagi yang kamu bisa ucapkan kepadaku,'' tanya Devano lagi yang kini sudah membuka matanya, dan menatap ke arah Mahalini yang masih berdiri tak jauh darinya.
''Lini, duduklah? temani aku makan siang,'' kata Devano dengan menepuk sofa di samping nya.
Dengan perasa'an takut Mahalini menuruti perminta'an sang bos, 'Mahalini, cuma makan siang saja, tidak akan kenapa napa,' batin nya, sembari mendaratkan bokong nya di sofa yang terbilang sangat empuk.
''Aku mau lihat, kamu bawa bekal apa sehingga kamu menolak pemberian ku tadi?'' tanya Devano lagi dengan melirik ke arah Mahalini yang ada di samping nya.
Dengan rasa gugup dan juga takut, Mahalini membuka bekal makan siang nya, dan memperlihatkan kepada sang CEO yang sedari tadi sudah menunggu nya.
'''Udang asam manis Tuan?'' jawab Mahalini menatap nanar bekal makan siangnya.
Devano menelan ludahnya melihat bekal makan siang Mahalini yang sangat menggiurkan itu. ''Kalau githu kita tukar saja, kamu makan punyaku, dan aku makan punyamu,'' Mahalini hanya mengangguk pelan, dan menyerahkan bekal makan siangnya kepada sang CEO.
Di sela sela makan siang nya, Devano mengutarakan apa yang kini sedang mengganjal di dalam hatinya. ''Lini, maukah kau menikah dengan ku,'' gumam nya pelan, namun masih terdengar jelas di pendengaran Mahalini.
''Ma-maksud Tu-tuan,'' tanya nya gagu.
''Maukah kamu menikah dengan ku, aku tidak tau lagi harus menikah dengan siapa saat ini, tapi ini semua karena perminta'an kakek yang sedang bersitegang dengan saudara nya, agar aku cepat menikah dan memimpin perusaha'an nya.'' jelas nya membuat Mahalini syok mendengar nya.
''Maksud ku, menikahlah dengan ku paling tidak 6 bulan lamanya, sampai aku memimpin perusaha'an tersebut, nanti asisten ku akan menjelaskan semuanya kepadamu,'' tambah nya lagi membuat Mahalini meringis, ketika mendengar kalau pernikahan nya hanya 6 bulan lamanya.
'Aku harus jawab apa ya Allah,' batin nya yang kini tengah menangis.
Akankah Mahalini menyetujui ucapan sang CEO.
__ADS_1
menut