Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 60.


__ADS_3

Pagi ini Mahalini kembali bekerja sebagai OB di kantor suaminya, Mahalini di sambut dengan tatapan yang tajam dari semua teman teman nya yang juga sama sama bekerja sebagai OB.


''Ternyata kamu masih kerja di sini juga rupanya, setelah lama tidak masuk dan sekarang kamu dengan seenaknya masuk begitu saja, kamu hanya pegawai yang memakan gaji buta dari semua teman nya,'' Ujar salah satu pegawai yang juga menjadi OB. Wanita di depan nya memang tidak suka dengan Mahalini, karena menurut dia Mahalini hanya mencari perhatian Tuan nya saja tidak lebih, hanya bermodalkan paras cantik nya Mahalini bisa membuat beberapa pria di kantor tersebut jatuh hati kepada Mahalini.


''Lini sudah mengamnil cuti kok Mbak, dan asal Mbak tau kerja Lini juga di itung harian oleh HRD, jadi Lini tidak pernah memakan gaji buta yang mbak tuduhkan,'' Mahalini membela dirinya dari perempuan di depan nya.


''Sudah lah Lini, lebih baik kita ke lantai atas? masih banyak pekerja'an kita di sana, dan jangan kamu hiraukan wanita seperti dia, wanita ini hanya iri dengan kamu saja,'' Ujar Clarencia dengan menepuk bahu Mahalini dengan lembut.


''Kalau salah bilang saja salah, tidak usah mencari alasan dengan mengajak nya ke lantai atas, dia sudah seenak nya dengan selalu mengambil cuti, sedangkan gajinya tetap utuh seperti yang lainnya,'' sambung salah satu teman wanita tadi yang juga mencari kesalahan Mahalini di dalam kantor Devano.


Mahalini hanya menggeleng pelan, menanggapi semua tuduhan dari teman nya dan dia juga sudah mengeluarkan air mata akibat perkata'an dari teman teman nya.


''Semua tuduhan itu tidak terbukti mbak, jadi jangan pojokkan Lini dengan itu semua, Kini memang kemarin ambil cuti lagi? karena di kampus sedang ada kegiatan dan harus berangkat pagi juga, yang otomatis Mahalini juga tidak bisa datang bekerja,'' bohong nya, Mahalini mencoba berbohong dengan mengatakan di kampus nya sedang ada kegiatan, sedangkan Mahalini tengah pergi ke rumah Mama mertuanya dan itu tidak memperbolehkan dia untuk datang bekerja sebagai OB di kantor anak nya, lebih tepat nya suami Mahalini.


''Alasan saj,'' ketus nya dengan mendorong bahu Mahalini, seandainya tidak ada Clarencia di belakang Mahalini, pasti Mahalini sudah terjungkal akibat dorongan dari rekan nya barusan.


Mahalini hanya bisa mengusap dada dan melihat ke semua arah, di mana di sana masih banyak teman nya yang mempercayai Mahalini.


''Sudah, kamu jangan terlalu pikirkan masalah Mita, dia memang seperti itu orang nya, selalu mencari gara gara dengan semua pekerja di sini, jadi kamu sabar ya,'' Ucap Ilham dengan menepuk pelan punggung Mahalini.


Mahalini mengangguk seraya menghapus air matanya, ''Terima kasih karena kalian sudah mau mempercayai Lini,'' jawab Mahalini dengan lirih nya.


''Sudah, sekarang kita kerja di atas,'' ajak Clarencia dengan menarik tangan Mahalini untuk segera ke ruangan kerja yang harus mereka berdua bersihkan.


Mahalini tersenyum melihat kelakuan Clarencia yang masih sama seperti hati hati kemarin, ''Memang kakak tidak marah sama Lini?'' tanya nya dengan nada yang terdengar sangat lembut di telinga Clarencia.


''Marah? pasti marah lah, tapi buat apa juga harus di perlihatkan di depan banyak orang seperti tadi itu,'' jawab nya dengan terus menarik tangan Mahalini. ''Yang pasti, siang ini kamu harus traktir aku di kantin, aku juga tidak mau kamu makan nasi kotak yang selalu kamu bawa dari rumah,'' lanjut nya dengan nada tanpa dosanya.


''Kak Clarencia mau meras Lini ya?'' balas nya dengan mengerutkan dahinya.


''Bukan memeras sich, lebih kepada balas budi saja, karena aku sudah membela kamu di depan Mita tadi,'' sahut nya dengan mengedipkan matanya ke arah Mahalini.


''Ya sudah, lagian hati ini Lini juga tidak bawa bekal kok, kesiangan bangun nya,'' akunya dengan kekehan kecil yang memperlihatkan deretan gigi putih nya.


''Lha, sering sering kesiangan nya tuh, biar nanti selalu mentraktir aku makan siang di kantin,'' ucap Clarencia menggoda Mahalini.


Mata Mahalini melotot mendengar penuturan dari teman kerja nya, ''Jadi kak Clarencia mau morotin Lini saja githu,'' jawab Mahalini dengan menggelitiki Clarencia, mereka berdua tertawa riang di sepanjang lorong menuju ke tempat pantry, dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi keduanya.


''Selama ini aku tidak pernah melihat Lini tertawa seperti sekarang, entah kenapa aku merasa sangat bahagia melihat dia bisa tertawa seperti itu,'' Gumam Devano yang ingin memasuki ruangan nya.

__ADS_1


Di pantry Clarencia sedang menyuruh Mahalini untuk bikinin kopi seperti biasanya, dan sekarang tugas Clarencia adalah mengantarkan setiap kopi ke ruangan semua karyawan yang sudah memesan kopi kopi tersebut.


''Ini kopi tinggal satu buat siapa kak,'' seru Mahalini ketika melihat ada satu kopi yang masih tersisa.


''Kamu antarkan ke ruangan Bos, aku mau mengantarkan ini ke karyawan lain nya,'' jawab Clarencia dengan suara sedikit meninggi, karena posisi Mahay dengan Clarencia sudah lumayan jauh dari pantry.


''Kok Mas Vano malah minum kopi hitam lagi sich?'' gumam nya pelan, Mahalini mengambil nampan dan ingin membawa kopi tersebut ke ruangan Devano sang suami. Tapi sebelum meninggalkan pantry Mahalini mengambil satu sachet krimer dan meletakkan di atas nampan yang ia pegang saat ini.


Hari ini tidak ada camilan buat suaminya, karena kemarin Mahalini sudah larut malam pulang ke apartemen nya, dan Devano juga meminta hak nya kembali sebagai seorang suami. Membuat Mahalini kelelahan dan terbaring begitu saja di atas tempat tidur nya.


Mahalini tak lupa mengetuk pintu ruangan suaminya.


Tok tok tok


''Masuk,'' suara dari dalam terdengar begitu dingin, membuat Mahalini ragu ragu untuk masuk ke dalam ruangan suaminya.


Dengan mengela nafas panjang dan menghemnuakan dengan perlahan, Mahalini memutar handle pintu, dan terbukalah pintu ruangan dan menampakkan wajah cantik Mahalini.


Sejenak Devano menatap wajah cantik istri nya yang baru memasuki ruangan nya, ''Maaf Tuan, apa saya mengganggu anda Tuan,'' ucap nya dengan melangkah ke arah meja kerja Devano.


''Tuan?'' Devano mengweutkan kening nya mendengar kata Tuan keluar dari bibir istri nya.


''Sekali lagi kamu panggil aku Tuan, aku hukum kamu di ruangan ini,'' ancam Devano dengan seringaian di bibir nya.


''Tidak lagi,'' balas Mahalini bergidik ngeri ketika mendengar hukuman yang pasti mengarah ke ranjang, pikir nya.


''Mendekat lah,'' titah nya dengan melambaikan tangan ke arah Mahalini yang masih berdiri mematung.


''Ma-maaf Mas, pekerja'an Lini masih belum selesai, jadi Lini harus kembali ke pantry sekarang juga,'' tolak nya dengan beralasan pekerja'an nya yang belum selesai, agar terhindar dari jeratan nakal Devano.


''Siapa yang Bos di sini,'' Ucap Devano dengan nada datar nya.


''Ta-tapi,''


Belum sempat Mahalini meneruskan semua ucapan yang akan ia utarakan, Devano sudah memegang pundak istri nya, dan membawa ke sofa yang berada tak jauh dari tempat Lini berdiri. Devano mendudukkan sangat istri di atas pangkuan nya dengan mendusel dusel kan kepalanya di curuk leher Mahalini.


''Mas, jangan bikin Mahalini malu dengan tanda yang akan Mas Vano buat, lagipula masih berada di kantor,'' gumam Mahalini agar suaminya tidak berbuat yang aneh aneh di leher putih nya, tadi pagi saja Mahalini sudah mati matian menutupi semua tanda merah nya dengan fondetion, agar tanda merah hasil karya Devano tidak nampak di leher putih nya.


''Aku hanya ingin seperti ini sebentar, sebelum aku melakukan rapat sebentar lagi,'' bisiknya tepat di telinga Mahalini.

__ADS_1


''Lini, apa kamu lebih suka menjadi OB di kantor ini, sedangkan kamu istri seorang CEO di perusaha'an ini, kenapa kamu tidak menjadi sekretaris ku saja, dan bekerja di ruangan ini juga,'' tambah nya lagi, membuat Mahalini diam mematunh mendengar ucapan dari suaminya.


''Lini masih nyaman dengan pekerja'an Lini yang sekarang ini, lagi pula ada Pak Riki yang sudah membantu pekerja'an Mas Vano di kantor ini,'' jawab nya dengan sangat yakin.


''Tapi aku ingin kamu yang menjadi sekretaris,''


''Mas Vano tidak boleh egois dengan keputusan Lini, Lini juga tidak terlalu mengerti tentang masalah pekerja'an yang seperti ini,'' jawab Mahalini menoleh ke arah suaminya.


''Lini, apa kamu bahagia menikah dengan ku,'' tanya Devano semakin menenggelamkan kepalanya di curuk leher istri nya.


''Menurut Mas Vano sendiri gimana?'' bukan nya menjawab, Mahalini malah kembali bertanya kepada Devano.


''Kalau Lini akan selalu menerima Mas, lagipula sebentar lagi kita juga akan segera berpisah, karena pernikahan kita hanya sebatas perjanjian saja,'' ucap Mahalini yang kini sudah menundukkan kepalanya, menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak di relung hatinya, mengingat pernikahan nya akan usai satu bulan lagi.


''Lini, bagaimana kalau aku menyobek surat perjanjian itu, aku juga tidak mau jauh dari kamu juga, aku lebih senang dengan mu saat ini. Entah kenapa aku menginginkan seorang anak dari kamu, aku akan belajar menjadi suami yang baik kepada mu, dan juga akan membakar surat perjanjian yang pernah kita tanda tangani itu,'' Devano berkata dengan sungguh sungguh, saat ini Devano merasa nyaman berada di dekat Mahalini sang istri.


''Sebenarnya Lini juga tidak mau bercerai, karena Lini hanya ingin menikah satu kali saja seumur hidup, tapi Lini tidak boleh egois, dengan keputusan Mas Vano,'' tutur nya dengan menatap wajah tampan suaminya.


''Aku berjanji, akan membakar surat perjanjian ini, aku ingin terus hidup bersama kamu, dan menua dengan mu juga,'' tukasnya dengan menangkup wajah cantik Mahalini.


Mahalini bahagia dengan semua perkata'an yang keluar dari mulut suaminya, karena keinginan nya untuk selalu hidup dengan suaminya di kabulkan oleh Allah SWT, 'Terima kasih ya Allah, engkau sudah mengabulkan semua do'a do'a ku selama ini, mungkin aku terlalu egois dengan semua nya, tapi Lini juga tidak ingin bercerai dan itu akan di benci oleh mu ya Allah,' batin Mahalini yang mengucapkan do'a di dalam hatinya.


Bersyukur karena suaminya juga tidak menginginkan perceraian itu terjadi di dalam rumah tangga nya, Mahalini menyunggingkan senyuman nya dan memeluk tubuh kekar suaminya dengan berkata, ''Terima kasih Mas, terima kasih banyak,'' ungkapnya dengan meneteskan air mata kebahagia'an.


''Sama sama sayang?'' Devano mengusap air mata di pipi mulus istri nya, Devano mengeratkan pelukan nya dan menciumi pipi Mahalini.


''Tuan...?'' Riki cengo melihat sang bos yang sedang mencium istrinya.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2