Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 137.


__ADS_3

Tak lama kemudian Mahalini sampai ke rumah catering nya, dengan di temani sang pawang, Dwvao sengaja meliburkan diri dari kantor nya, beberapa meeting sengaja ia cancel karena mendengar sang istri ingin memeriksakan kandungan nya, dan juga akan pergi ke rumah catering nya juga.


''Itu Bu Bos sudah datang Bu, tapi kok bersama pawang nya ya,'' ucap Zarine dengan menunjuk ke arah luar, di mana di sana Mahalini berjalan dengan sangat perlahan, menginginkan perutnya yang semakin membesar.


''Kenapa Mas Vano harus ikut kw sini sich, jadi tidak enak kan? lagipula Lini hanya ingin ketemuan dengan Bu Gayatri, pemilik toko kue yang dulu Lini titipin kue,'' Mahalini sangat kesal dengan sikap posesif sang suami, dia tidak menyangka kalau suaminya bisa se posesif itu kepada nya.


''Kan tadi Mas sudah bilang sebelum kamu pergi, Mas cuma ingin melihat calon baby saja,'' jawab Devano santai, seraya terus mengikuti Mahalini masuk ke dalam.


''Kan Lini juga sudah bilang sama Mas Vano, kalau periksa nya nanti siang? bukan sekarang,'' balas nya dengan memutar bola mata nya.


Ibu Gayatri mengulas senyum melihat Mahalini yang tengah bersi tegang dengan suaminya, padahal niat Devano sangat bagus, pikir Bu Gayatri.


'' Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini sebelum masuk ke ruangan tengah.


''Waalaikum salam,'' jawab Bu Gayatri dan juga Zarine.


''Bos, kenapa bersama pawang nya,'' bisik Zarine tepat di telinga Mahalini.


''Mas Vano, kamu di katain sama Zarine,'' adu Mahalini kepada suaminya, membuat Zarine terperangah tidak percaya dengan sahabat nya, yang menjadi tukang ngadu sekarang.


''Tidak Tuan, saya hanya bercanda saja kok,'' Zarine memble dirinya sendiri, sebelum Devano menatap tajam ke arah nya.


''Zarine bilang kalau aku pergi di antar pawang nya, bikin aku kesal saja,'' tambah nya dengan mengambil minuman yang sudah ada di atas meja.


''Bos, kamu tega ya,'' gumam Zarine pelanggan, namun masih bisa di dengar oleh Devano dan juga Bu Gayatri.

__ADS_1


Ibu Gayatri yang melihat hanya menggeleng pelan, karena dia baru melihat Mahalini yang sudah merubah penampilan nya, kemarin ketika 4 bulanan Ibu Gayatri tidak bisa hadir ke acara yang di adakan keluarga Devano, karena Ibu Gayatri sendiri masih berada di luar kota, sehingga tidak ikut hadir.


Mereka ber empat sedang berdebat karena aduan Mahalini kepada Devano suaminya, sementara Ibu Gayatri hanya menjadi pendengar yang baik selama mereka sedang berdebat.


...****************...


Di kota lain, Papa Setiawan tengah di landa kesepian, mengingat semua anak anak nya yang sudah tidak tinggal bersama dengan nya.


''Perasa'an baru kemarin mereka berada di dalam dekapan ku, tapi sekarang mereka semua sudah bisa mencari uang sendiri, sehingga sudah tidak memerlukan aku lagi,'' gumam nya dengan lirih, tak terasa air mata berlinang di pelupuk mata Papa Setiawan, di tambah lagi menginginkan kelakuan istri nya yang sudah semakin liar dengan menggandeng laki-laki muda yang seumuran dengan putra bungsu nya.


''Setelah ini aku akan membicarakan ini semua kepada mereka bertiga, sesungguhnya Papa sudah tidak tahan menghadapi Mama kamu yang hanya menginginkan uang Papa saja,'' gumam nya dengan memejamkan matanya sejenak, Papa Setiawan menatap layar ponsel nya yang bergetar, pertanda ada panggilan masuk.


Papa Setiawan hanya melirik, siapa yang masih menelpon dirinya di saat seperti ini, nampak di sana ID Mama Agnes.


''Mau apa lagi nich Agnes,'' ucap Papa Setiawan dengan meraih ponsel nya yang berada di atas nakas.


-'' Aku butuh uang, bisa kirim sekarang?'' Mama Agnes langsung tho the poin kepada Papa Setiawan.


-'' Aku sudah tidak punya uang, mending kamu kerja kalau mau uang?!''


-'' Hay!! ini semua buat kebutuhan keluarga kita juga, Almira dan Farel juga butuh biaya kuliah nya,'' Mama Agnes masih terus memaksa Papa Setiawan, agar segera mengirimi dia uang, karena Mama Agnes sudah terlanjur janji kepada laki lakinya, akan membelikan sesuatu.


-'' Bilang saja sama mereka semua, aku tidak punya uang, pasti mereka akan memaklumi nya kok,'' Papa Setiawan masih terus pura pura bersikap biasa saja, padahal di dalam hatinya, beliau ingin sekali mwngumoat Mama Agnes yang sudah sangat kelewatan kepada nya.


-''Aku nggak mau tau, pokok nya harus di kirim sekarang, kalau tidak mau kirim uang lagi, lebih baik kita cerai saja,'' Mama Agnes berkata demikian, agar Papa Setiawan mau mengikuti perminta'an nya.

__ADS_1


'' Cerai, cerai ya cerai saja, aku tidak pernah melarang kamu untuk menceraikan aku, karena kamu pasti sudah punya pengganti yang lebih dariku kan!!'' Marah Papa Setiawan.


Sedangkan Mama Agnes terperangah mendengar ucapan suaminya, yang langsung menyetujui perkata'an nya. ''Sial, dia langsung menyetujui begitu saja, apa dia sudah tau dengan kelakuan ku selama ini,'' gumam Mama Agnes pelan, sehingga orang yang ada di seberang telfon tidak mendengar ucapan nya.


-'' Pokoknya aku nggak mau tau, kamu hatus kirimkan aku uang secepat nya, karena di rumah sudah tidak ada bahan makanan lagi, dan juga uang kampus Almira dan juga Farel sudsh menunggak,'' Mama Agnes masih kekeh dengan pendirian nya yang terus mendesak Papa Setiawan agar beliau mau mengirimkan uang bulanan nya.


Tapi kali ini Papa Setiawan tidak akan terpengaruh dengan semua ucapan Mama Agnes, karena Papa Setiawan sudah mengetahui semuanya dari Almira dannjuga Farel, kalau mereka berdua membiayai dirinya sendiri di kampus nya, uang yang selama ini ia kirimkan hanya masuk ke kantong Mama Agnes saja, bukan kepada Almira dan Farel.


Papa Setiawan mulai jengah mendengarkan ocehan Mama Agnes yang hanya membuat kepala Papa Setiawan semakin sakit, segera memutuskan panggilan telfon nya, dan menyimpan ponsel ke laci nakas nya, agar jalau ada yang nelfon tidak terdengar oleh nya.


''Sekarang aku tidak akan tertipu lagi sama kamu Agnes, mungkin kemarin aku selalu percaya dengan kamu yang memang bermulut manis, tapi sekarang swkuanya sudah jelas, dan sangat jelas kalau selama ini kamu minta uang kepada ku, untuk menyenangkan laki laki pemuas nafsumu saja,'' kata Papa Setiawan memberikan tubuh lelah nya, Papa Setiawan baru juga sembuh dari sakit nya, dan sekarang malah sangat istri hanya menelfon untuk meminta uang nya saja. Situ waras??.


Papa Setiawan memejamkan matanya karena rasa pening di kepalanya semakin terasa sakit, dan juga jantung nya terasa nyeri. Buru buru Papa Setiawan mengambil obat yang berada di laci nomor dua, dan segelas air untuk meminum obat nya.


''Aku harus tetap sehat demi anak anakku dan juga cucuku yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini,'' ucap nya menekan dada kirinya dengan tangan kanan nya.


nya


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2