Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 41. Keramahan Mahalini membuat Devano mengaguminya


__ADS_3

Keesokan harinya Mahalini tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan buat Devano dan juga buat dirinya sendiri, Mahalini yang sudah terbiasa bangun pagi merasa tidak nyaman kalau dirinya harus terus berbaring di tempat tidur, lagipula perut nya sudah agak mendingan, sejak semalam setelah minum obat dari Dokter Sanders.


Devano memilih tidur di sofa di kamar Mahalini, karena dia takut terjadi sesuatu dengan Mahalini? mengingat semalam Mahalini juga demam semalam, namun apa yang Devano lihat sekarang, sangatlah membuat hatinya di landa ke khawatiran lagi. Karena tak menemukan Mahalini di kamar nya.


Devano beranjak dari tidur nya dan berjalan ke kamar mandi, mengira Mahalini ada di sana, tapi tidak ada tanda tanda ada orang di dalam nya, sehingga membuat Devano melangkahkan kakinya keluar kamar guna menemukan Mahalini.


Sesampainya di luar kamar, Devano sudah menciun bau masakan yang di buat oleh Mahalini, membuat Devano merasa lega.


''Kamu sedang apa?'' tanya Devano berbasa basi ketika sudah berada tak jauh dari dapur.


''Kini sedang masak Tuan, maaf kalau Lini ganggu Tuan yang sedang tidur,'' jawab Mahalini menundukkan kepalanya.


''Tidak sama sekali kok, tadi aku sempat parno saja, karena melihat kamu yang sudah tidak ada di tempat tidur nya. Makanya aku mencari kamu,'' terang Devano, meski ada perasa'an canggung di dalam hatinya, tapi sebisa mungkin Devano mencoba mengobrol dengan Mahalini? Mungkin sekarang rasa cinta itu belum ada di hati masing-masing, tapi Mahalini selalu berharap kalau pernikahan akan kekal abadi sampai mau memisahkan keduanya.


Sedangkan Devano sendiri sudah tidak bisa berkata apa apa lagi saat ini, jadi Devano hanya bisa berpamitan untuk siap siap terlebih dulu sebelum berangkat ke kantor nya.


''Aku akan mandi dan bersiap siap dulu sebelum sarapan,'' Ucap Devano dengan nada datar nya.


''Baiklah Tuan,'' jawab Mahalini seraya menganggukkan kepalanya pelan.


Selesai memasak Mahalini membersihkan alat alat yang kotor terlebih dahulu, sebelum kembali ke kamar nya dan bersiap untuk kembali bekerja seperti kemarin.


''Aku bakalan di pecat nggak ya sama kepala HRD, aku selalu bolos kerja dan pagi ini aku tidak akan bolos lagi, masih banyak yang harus aku pikirkan kke depan nya,'' gumam Mahalini sembari membersihkan dan menata kembali barang barang dapur.


''Ach iya motor ku masih ada di rumah kan?'' seru Mahalini yang baru mengingat motor matic nya masih belum ia ambil. ''Bagaimana aku pergi ke kantor kalau begini? naik taksi pasti ongkosnya mahal,'' pikir Mahalini yang masih memikirkan harga.


Mahalini tidak menyadari kalau di dekatnya sudah Devano yang sedari tadi sudah mendengar gumaman nya. ''Dasar wanita pelit,'' rutuk Devano ketika mendengar Mahalini mengatakan mahal.


''Heemm,'' Devano berdeham agar Mahalini mengetahui keberadaa'an nya saat ini.


''Eech, Tu-tuan,'' Ucap Mahalini dengan gugup. ''Mau sarapan sekarang?'' tanya Mahalini ketika sudah mengatur rasa gugup nya.


''Iya, kamu masih sakit?'' tanya Devano dengan menatap perut Mahalini sekilas.


''Sudah tidak Tuan, kalau gitu Lini akan siapkan sarapan nya sekarang, dan Lini juga mau siap siap pergi bekerja juga,'' balas Mahalini dan mempersilahkan Devano untuk duduk di kursi yang sudah di tarik ke belakang oleh nya.


''Kalau kamu masih sakit, jangan pergi bekerja dulu, takutnya kamu malah kenapa napa di kantor,'' Devano mengingatkan Mahalini agar jangan bekerja dulu.


''Tapi Tuan, sejak kemarin Lini sudah bolos terus, dan pasti gajian Lini juga akan terpotong banyak karena nggak full satu bulan kerja nya,'' jawab Mahalini membuat Devano jengah.

__ADS_1


''Ya sudah, terserah kamu saja,'' gumam nya dan langsung menyendok nasi goreng dan menyuapkan ke dalam mulut nya, Devano terperangah merasakan nasi goreng yang begitu lezat dan juga nikmat itu. 'Enak banget nasi goreng ini, padahal hanya nasi goreng saja kenapa? bisa senikmat ini sich,' gumam nya di dalam hati.


Mahalini sudsh berlalu pergi menuju ke kamar nya untuk siap siap ke tempat kerjanya, tak butuh waktu lama Mahalini sudah menyelesaikan semuanya, dengan memakai kaos pendek dan celana jeans nya, Mahalini keluar dari dalam kamar nya, rambut yang di kuncir seperti kuda membuat Devano menelan ludah nya ketika melihat leher jenjang Mahalini yang membuat hasrat lelakinya menyerang tiba-tiba.


''Kamu selalu berpakaian seperti itu kalau pergi ke kantor,'' tanya Devano dingin, melihat wajah cantik Mahalini yang tanpa polesan apapun di wajah nya membuat Devano semakin tidak yakin akan bisa melepaskan Mahalini setelah tiga bulan menikah.


''I-iya, Tu-tuan,'' jawab Mahalini dengan gugup. 'Ada yang salahkah dengan penampilan ku saat ini, kayaknya enggak dech? tapi kenapa Tuan Devano menatap ku seperti itu,' batin Mahalini. Karena setiap harinya Mahalini memang selalu berpenampilan casual, mengingat dia juga akan pergi ke kampus nya setelah pulang dari tempat kerjanya.


''Di luar dingin dan kamu hanya berpakaian seperti itu,'' tanya sekali lagi sang Tuan Devano.


''Lini juga bawa baju kemeja lengan panjang kok, nanti di jalan bari di pakai,'' balas Mahalini yang sedikit merasa aneh dengan tatapan sang Tuan, yang tak lain adalah suaminya sendiri.


''Baiklah Tuan, Lini berangkat dulu,'' kata Mahalini mengulurkan tangan nya ke hadapan Devano, membuat Devano kikuk karena ulah Mahalini yang spintan mencium punggung tangan nya.


''Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini setelah mencium punggung tangan suaminya, sedangkan Devano masih tetap diam membisu di tempat nya, dia masih terkejut dengan perlakuan Mahalini barusan.


Meski mereka berdua menikah kontrak saja, Mahalini selalu menghargai Devano sebagai suami yang sesungguhnya, namun dalam masalah ranjang Mahalini hanya ingin melakukan dengan orang yang benar-benar ia cintai, meski itu semua adalah milik Devano.


''Beginian rasanya punya istri,'' guman Devano yang masih terus menatap tangan yang baru saja di cium oleh Mahalini sang istri.


Lamunan Devano tiba-tiba buyar setelah mendapatkan notifikasi pesan dari Riki yang mengatakan akan meeting sebentar lagi.


📤 -''Baiklah, aku akan segera berangkat,'' balas Devano dengan singkat padat dan jelas.


📩 -''Jangan lupa bawa kekasih ku ke kantor juga Tuan,'' isi Chat dari Riki yang berisi canda'an kepada sang sahabat.


📤 -''Boleh, dan kamu siap siap lah, akan aku kirim ke kutub utara untuk menemani teman kamu yang berada di sana,'' lagi lagi Devano membalas chat dari sang asisten.


Devano menyambar jas dan juga kunci mobil nya, dia bergegas keluar dari apartemen nya dan berharap Mahalini masih berada di bawah, namun sayang sekali, Mahalini sudah pergi dengan menggunakan taksi yang ia cegat tadi di sekitaran apartemen Devano.


Di lobby kantor Mahalini di sambut hangat oleh kedua satpam yang bertugas menjaga di sana.


''Pagi Lini,'' ucap Pak satpam ketika Mahalini menapakkan kakinya di loby.


''Assalamu'alaikum Pak?'' balas Mahalini dengan mengucapkan salam, karena menurut Mahalini? belum afdol menyapa seseorang tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.


''Waalaikum salam, maaf neng? Bapak lupa,'' jawab salah satu satpam yang kini menampakkan deretan gigi putih nya.


''Tidak apa apa kok Pak, oiya mbak Clarencia sudah datang belum,'' tanya Mahalini.

__ADS_1


''Sudah, mungkin dia sudah berada di atas neng,'' jawab Pak Sarman dengan ramah.


''Baiklah, kalau gitu Lini pamit ke dalam dulu ya Pak,'' pamit Mahalini kepada kedua satpam, berbarengan dengan Devano turun dari mobil nya.


Sedari tadi Devano sudah melihat keramahan Mahalini dengan kedua satpam yang bertugas di pintu lobby kantor.


''Assalamu'alaikum Tuan,'' sapa kedua satpam yang hanya di angguki oleh sang CEO perusaha'an nya.


Kedua satpam itupun hanya tersenyum kikuk karena tak mendapatkan balasan salam dari nya, ''Sudah, jangan di pikirkan lagi, Tuan muda memang seperti itu kan? lagian kita juga yang sok akrab dengan beliau,'' tegur Pak Sarman kepada salah satu tekan yang sama sama menjadi satpam di sana.


''Iya juga sich, tapi kamu juga mengucapkan salam tadi,'' balasnya yang tak Terima dengan ucapan sang rekan.


''Iya, aku kan reflek saja mengucapkan salam kepada Tuan Muda, ini kan gara-gara kita ngobrol dengan Lini? jadi terbawa suasana dech,'' jawab nya dengan kekehan kecil dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Devano yang baru sampai di ruangan nya segera memanggil OB yang bertugas bersih bersih di lantai atas.


''Bawakan aku secangkir kopi,'' perintah nya lewat telfon interkom nya.


Clarencia yang menerima langsung menyuruh Mahalini yang baru saja selesai membuat kan kopi untuk para karyawan yang ada di lantai atas.


''Lini, kamu bikinin Tuan muda kopi sekarang, biar aku saja yang anter kopi kopi ini kepada karyawan lain nya,'' tutur nya dengan lembut.


''Lha, kan Mbak yang di suruh bos, kenapa bisa jadi Lini sich,'' protesnya membuat Clarencia kabur dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi dan juga teh kepada karyawan yang sebelum nya pesan.


''Kebiasaan banget dech, lagian tadi di rumah kan sudah aku bikinin susu sesuai perintah Mama nya juga, tapi kenapa sekarang malah minta kopi sich?'' Mahalini meng gerutu mengingat tadi suaminya sudah di bikinin segelas susu sesuai yang di katakan oleh Mama mertuanya, karena Devano tidak boleh terlalu minum kopi di pagi hari.


''Nanti sakit perut aku yang di salahkan lagi,'' Mahalini masih terus saja meng gerutu nggak jelas, namun ketika dia mengingat kata kata sakit perut, Mahalini baru mengingat sesuatu. Kalau semalam yang menjaga dia adalah Tuan nya yang juga menjabat sebagai suami.


''Berdosa nggak ya, kalau aku meminta lebih dari sekedar di rawat seperti semalam itu,'' gumam nya pelan sehingga Devano yang sudah tidak sabaran menungy kopinya langsung beranjak dan menghampiri Mahalini yang sedang melamun di pantry.


'Mau pakai baju apapun kamu masih terlihat sangat cantik Lini? ach... ada apa dengan ku ini, kenapa sekarang malah sering memuji kecantikan Mahalini sich,'' rutuk nya di dalam hati membuat Devano mengurungkan niatnya untuk menemui Mahalini yang sedang berdiri membelakangi nya.


Devano kembali berjalan ke ruangan nya dan menghempaskan bokong nya di kursi kebesaran nya, namun tiba tiba pintu ruangan terbuka dari luar dan menampakkan Riki di sana.


Terima kasih yang sudah mampir dan Terima kasih yang sudah memberikan jempol dan komen nya kak.


Tanpa kalian apalah Almahyra di sini.


Terima kasih🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2