
Devano menghampiri Mahalini yang masih betah duduk di kursi taman yang ada di belakang rumah kakeknya.
''Kayaknya betah banget di sini ya, sampai sampai tidak ingat dengan hari kepulangan kita hari ini,'' ujar Devano yang kini tengah melipat kedua tangan nya di ambang pintu.
''Ech Tuan Devan, maaf? bukan betah begitu, tapi Lini tidak ingat kalau hari ini kita akan kembali ke sana,'' jawab nya tak enak hati dengan Devano.
'Kenapa akhir akhir ini sering lupa ya, apa sudah terjadi sesuatu dengan kepalaku? di saat kak Mira dan Mama Agnes menyiksa ku kemarin,' Mahalini memikirkan kejadian yang menimpanya kemarin, di mana dia di siksa habis habisan oleh Mama dan juga kakak angkat nya, padahal Mahalini tidak pernah berbuat salah kepada mereka berdua, tapi mereka berdua selalu mencari gara gara dan mencari kesempatan untuk selalu menyiksa ku seperti kemarin.
''Ech dia malah ngelamun lagi,'' gweytu Devano ketika melihat istri di depan nya tak merespon ajakan suaminya.
Tapi? beberapa saat kemudian Mahalini dan juga Devano di kagetkan dengan suara yang serak, ''Maaf Tuan dan Nona, di cari Tuan besar? beliau sudah menunggu di meja makan,'' Ucap kepala pelayan yang di tuhaskan untuk memanggil Devano dan Mahalini untuk segera menuju ke meja makan.
''Baiklah, sebentar lagi aku akan menyusul,'' jawab Devano mengibaskan tangan nya.
Mahalini hanya menoleh tanpa menjawab ucapan dari kepala pelayan di rumah besar ini. ''Tapi Lini berkeringat seperti ini? apa iya, Lini akan makan dengan peluh seperti ini tuan,'' gumam Mahalini pelan.
''Lagian sudah mandi pakek acara lari segala, mengelilingi halaman seluas ini,'' ejek Devano membuat Mahalini kesal.
''Ini semua bukan salah Lini Tuan, tapi semua ini salah kepala pelayan tadi yang tidak mengijinkan Lini untuk membantu di dapur, jadi Lini kabur ke taman ini dan berlari begitu saja, tanpa niatan sebelum nya,'' jelasnya, yang tak terima di ledek seperti itu oleh suaminya.
''Sudah, lebih baik kita masuk saja dulu, nanti keburu Singa jantan dan juga Singa betina pada ngamuk gara-gara menunggu kita yang lama di sini,'' Devano mengulurkan tangan nya kepada Mahalini, yang hanya di pandangi begitu saja, tanpa mau membalas uluran tangan dari sang suami.
Devano pun kesal, karena tangan yang ia ulurkan tidak ada balasan dari Mahalini, Devano menyentak lengan Mahalini yang ada di depan nya.
''Tuan, mau kemana?'' seru Mahalini yang masih terkejut dengan sentakan dari Devano.
''Ke dalam lah, masak ia ke kamar!'' ketus nya dengan terus menarik tangan Mahalini ke meja makan. Di mana di sana sudah ada dua orang yang sedang menunggu kedatangan nya.
__ADS_1
''Keburu lapar aku menunggu kalian berdua,'' ujar sang nenek yang sudah lapar, dan lebih parah nya lagi suaminya melarang dirinya untuk sarapan lebih dulu, karena harus menunggu cucu dan juga cucu menantunya.
''Kenapa kalian tidak makan saja dulu, kami bisa nyusul kok,'' jawab Devano santai.
''Tuh kamu lihat sendiri kan! cucu kesayangan kamu saja ngomong seperti itu, dia sama sekali tidak menyayangi kita lagi, dan harusnya kita tidak usah bela belain untuk menunggu kedatangan dia di meja makan ini,'' omel sang nenek, yang tak terima dengan jawaban sang cucu barusan.
''Maafkan kamu nek, ini semua salah Lini karena Tu.. maksudnya Mas Devano masih menunggu Lini yang sedang mengatur nafas karena habis mengitari halaman belakang,'' sahut Mahay dengan sedikit berbohong.
''Sudah tidak usah di permasalahkan lagi, sekarang kita makan bersama, karena setelah itu kalian berdua tidak akan ke sini lagi kalau tidak suruh terlebih dulu,'' Sang kakek menjadi seorang penengah di antara ketiganya.
Akhirnya mereka semua sarapan dengan keheningan, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring, sehingga menimbulkan suara, ting ting ting.
...****************...
Di perusaha'an Devano kedatangan Almira yang ingin melamar pekerja'an di sana, ya Almira memang gencar mengejar Devano yang notabene nya orang terkaya nomor 2 di kotanya, dengan modal tampang cantik dan juga seksi Almira berani masuk ke dalam perusaha'an, dengan dalih ingin melamar pekerja'an sebagai karyawan magang.
''Aku nggak percaya kepada kalian semua, pasti Devano sekarang berada di ruangan nya kan?'' seru Almira yang merasa di bohongi oleh resepsionis yang sedang bertugas jaga di sana.
''Benar Nona, Tuan sedang pergi keluar kota, ada pekerja'an di sana,'' tukasnya yang mulai kesal menghadapi sikap angkuh Almira, yang seakan-akan dia adalah wanita sang bos di perusaha'an ini.
'Sudah jelek, tidak sopan pula memanggil nama Tuan Muda dengan nama doang,' gerutu salah satu teman yang sama sama sedang bertugas menjadi resepsionis juga.
''Sudah, lebih jalian diam saja di sini, dan biarkan aku menemui devai di dalam,'' Almira masih ngotot ingin bertemu dengan Devano.
Resepsionis yang sudah tidak tahan dengan ocehan Almira segera memanggil satpam yang berada tak jauh dari tempat ia bekerja.
''Pak satpam,'' teriak wanita yang bertag nama Ernik di dada sebelah kiri.
__ADS_1
Satpam yang di panggil langsung datang menghampiri Ernik yang tadi memanggil nya. ''Ada apa Er,'' tanyanya dengan sedikit panik.
''Bawa wanita ini keluar, wanita ini setres dan ingin menemui presdir kita,'' jawab nya dengan menunjuk ke arah Almira yang masih berdiri angkuh di depan nya.
''Kalau kalian berani macam macam dengan saya, aku pastikan kalian akan segera di pecat dari kantor ini, karena aku adalah calon istri Devano CEO dari perusaha'an ini,'' Almira dengan yakin mengaku dirinya sebagai calon istri sang presdir.
''Jangan mimpi di siang bolong Nona, lebih baik anda keluar dari kantor ini, sebelum aku menarik tangan anda dengan kasar,'' kata salah satu satpam yang merasa tidak yakin dengan ucapan wanita di depan nya.
''Kalian lihat saja nanti, akan aku pastikan kalian semua di pecat dan akan segera menjadi pengangguran,'' ancam Almira kepada semua karyawan yang sedang berada di depan nya, mereka menghadang Almira karena dia ngotot ingin bertemu dengan sang presdir.
Riki yang kebetulan sedang turun ke bawah melihat ada keributan di depan, Riki dengan garcep menghampiri kerumunan, di mana sana sudah ada banyak para karyawan yang sedang menonton tontonan gratis.
''Ada apa ini,'' tanya Riki membuat semua para karyawan menundui hormat ketika Riki membelah kerumunan, dan dia mendapatkan wanita berparas angkuh tengah bersedekap.
''Maaf Pak, wanita ini mengaku sebagai calon istri presdir, dan dia juga membuat ulah di kantor ini,'' lapor satpam yang tadi berdebat dengan Almira.
''Maaf Nona, anda siapa? dan kenapa anda mengaku sebagai calon istri presdir,'' tanya Riki menatap wajah Almira yang berdandan tebal dengan berpakaian baju yang kurang bahan.
''Aku tidak mengada ngada kok, memang aku adalah calon istri presdir kalian, jadi kalian semua jangan berbuat ulah dengan ku,'' Almira tidak merasa takut sama sekali ketika berhadapan dengan Riki, Riki masih tergolong orang yang di hormati oleh semua karyawan yang bekerja di perusaha'an Devano, tapi Almira tidak ada sopan sopan nya berbicara dengan Riki sang sekretaris.
''Seret wanita gila ini keluar kantor, sebelum ada klien yang datang ke sini,'' perintah Riki kepada kedua satpam di depan nya.
''Baik Tuan,'' ucap keduanya serempak, ''Dengan senang hati kami laksanakan perintah Tuan Riki,'' tambah nya lagi, aeraya menarik lengan Almira dan membawa keluar perusaha'an, kedua satpam itu menghempaskan Almira ke jalan dengan sangat keras, sehingga Almira terhuyung? namun tidak sampai jatuh setelah dia bisa mengimbangi tubuh nya. yang sempat oleng ke kiri dan ke kanan.
Kedua satpam menatap Almira dengan wajah sinis nya, ''Kasian sekali dia bermimpi ketinggian, dengan mengaku ngaku calon istri presdir kita,'' ledek salah satu satpam yang tidak menyukai Almira.
Almira mengepalkan tangan nya dengan sangat erat, sehingga membuat kuku kuku cantik nya menancap di kulit putih nya, ''Awas saja, kalau aku benar-benar menjadi istri Devano, akan aku lempar kalian ke jalanan sehingga membuat kalian mati di jalanan itu juga,'' gumam Almira mengangkat sudut bibir nya ke atas.
__ADS_1