
Satu minggu kemudian, Mahalini, Devano dan juga Farel menyambangi Papa Setiawan yang super duper sibuk di luar kota, sampai melupakan anak anak nya yang sudah hidup terpisah satu sama lain nya.
''Sayang, kamu yakin ingin memakai baju itu?'' tanya Devano tak yakin dengan baju yang di pakai istri nya.
''Lha kenapa dengan bajuku Mas, ini baju baru kok, lagian tidak ada yang robek juga,'' jawab nya melihat pakaian nya.
''Ya emang tidak ada yang sobek sich, tapi di luar sangat panas, takut nya kamu malah kepanasan di jalan,'' Devano menjelaskan apa yang akan ia katakan tadi, sebelum Mahalini menyela tadi.
''Insya Allah tidak akan kok Mas, ya sudah? kita berangkat sekarang saja Mas, adek ku pasti sudah nungguin di depan apartemen nya,'' ajak Mahalini dengan mengambil tas jinjing nya, yang ada di atas tempat tidur nya.
Pagi ini Mahalini memakai pakaian Muslimah, dengan hijab berwarna senada dengan gamis nya.
''Kalian sudah rapi, memang nya mau kemana sayang??'' tanya Mama Clara ketika melihat menantunya dengan penampilan yang begitu cantik dan juga sangat anggun, di tambah lagi dengan hijab yang sangat cocok dengan kulit Mahalini yang putih bersih.
''Lho, bukan nya Mas Vano sudah bilang sama Mama ya,'' tanya Mahalini yang terkejut dengan pertanya'an Mama Clara, Mama mertua nya.
Mama Clara menggeleng pelan, sedangkan Devano menepuk jidad nya, karena dia lupa mengatakan kepada Mama nya, kalau minggu ini akan berkunjung ke rumah Papa Setiawan yang ada di luar kota, lebih tepat nya sich rumah dinas nya, yang di siapkan oleh perusaha'an tempat Papa Setiawan bekerja.
''Tidak, suami kamu tidak bilang apa apa sama Mama kok, makanya Mama bertanya tadi, karena kalian berdua sudah rapi sepagi ini,'' jelas nya dengan menatap horor Devano.
''Maaf Ma, Vano lupa bilang kemarin?'' sahut nya dengan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
''Mas Vano kebiasa'an dech, tadinya Lini yang mau bilang sama Mama, tapi Mas Vano bilang dia yang akan mengatakan sama Mama, karena Lininsudah ada di lantai atas,'' ungkap nya dengan panjang lebar.
''Iya iya, ini salah Devan, namanya juga lupa kok sayang, kemarin malam kan Mama sudah tidur juga? jadi Mas langsung balik saja ke kamar, karena lelah juga setelah mengantar kamu ke rumah catering juga kan?'' Bela nya dengan mengatakan yang sebenarnya kepada sang Mama.
''Sudah sudah, jangan berdebat terus, sekarang kalian berangkat saja, nanti malah kemaleman sampek nya ke rumah Papa kamu sayang?'' potong Papa Devano yang melihat Devano dan juga Mahalini akan berdebat, masalah lupa bilang kepada Mama Clara.
''Kalian tidak mau sarapan dulu?'' tawar Mama Clara yang memang sarapan pagi nya sudah siap di meja makan nya.
__ADS_1
''Nanti saja di jalan Ma, ini juga Farel juga sudah nunggu di apartemen juga,'' sambung Mahalini yang langsung di angguki oleh Devano.
''Yang di katakan istri Vano benar Ma, kasian Farel nungguin lama di sana,'' kata Devano, dengan mengulurkan tangan nya ke arah sang Mama.
''Ya sudah, kalian hati hati ya di jalan, jangan ngebut ngebut di jalan,'' pesan Mama Clara dengan mencium kening dan pipi chubby Mahalini, sang menantu kesayangan nya.
''Iya Ma, pasti?'' sahut keduanya, dan berlalu pergi menuju ke teras rumah nya, karena di sana mobil nya juga sudah siap dan sudah di panaskan juga oleh sopir nya.
''Terima kasih Mang,'' ucap Mahalini dengan mengembangkan senyuman nya kepada sang sopir.
''Sama sama Nona, ini kunci mobil nya Tuan muda, dan jangan lupa hati hati di jalan Tuan,'' ucap sang sopir dengan ramah.
''Terima kasih Pak, kalau gitu aku pergi dulu,'' pamit Devano dengan sedikit canggung, karena selama ini dia tidak pernah mengucapkan kata terima kasih kepada asisten rumah nya.
Tapi semenjak kehadiran Mahalini, Devano mencoba mengatakan kata terima kasih kepada semua orang yang sudah membantu nya.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Mahalini lembut.
Mobil membelah jalanan menuju apartemen Farel, adek angkat Mahalini. Laki-laki yang selalu berbuat baik kepada nya, dan laki-laki yang selalu membela dirinya ketika sedang di tindas Mama Agnes waktu dulu.
15 menit kemudian, mobil yang di kendarai Devano sudah sampai di depan lobby apartemen Farel, dan Mahalini melihat sang adek sudah berdiri dari duduk nya, dan berjalan menghampiri Mahalini dan juga Devano kakak ipar nya.
''Kenapa kalian lama sekali, aku sudah jamuran sejak tadi nunggu di lobby,'' tukas nya dengan membuka pintu penumpang.
''Ya maaf dek, tadi di rumah ada sedikit kendala? sehingga kita telat jemput nya,'' sahut Mahalini menoley ke belakang. Di mana di belakang ada adek angkat nya yang terlihat sangat kurus.
''Adek, kamu kok kurusan? apa kamu habis sakit?'' tanya Mahalini dengan sedikit khawatir, dulu sang adek tidak seperti sekarang ini.
Tubuh dia terbilang ideal sebagai seorang remaja, tapi saat ini sang adek malah sibuk dengan pekerja'an nya, yang mengharuskan dia selalu ontime di tempat kerja nya, kalau mau gajinya utuh.
__ADS_1
''Aku nggak apa apa kok kak, kita berangkat sekarang saja kak,'' jawab nya, ''Oiya kak, apa kita akan menjemput kak Mira juga,'' tanya Farel sedikit memelankan ucapan nya.
''Iya dek, kak Hanafi juga sudah nungguin kita di sana, jadi kita kerumah Papa bawa satu mobil saja, karena jalan nya juga sangat jauh, jadi kita bisa gantian nyetir nya nanti,'' kata Mahalini dengan semangat 45.
''Iya juga sich kak, apalagi Farel kan tidak bisa mengendarai mobil, jadi tidak bisa membantu kak Vano,'' papar nya dengan nada lirih.
''Tidak apa apa, sudah? kita mau ke rumah Papa, jadi kuta harus bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Papa Setiawan,'' sela Devano dengan menatap kedua nya.
Di sisi lain Almira tengah duduk di Terah rumah kontrakan nya, bersama dengan Hanafi seraya meminum teh buatan Almira.
''Kenapa mereka lama sekali datang nya ya kak? apa jangan jangan mereka tidak jadi ke rumah Papa,'' Ucap Almira, dengan mata menatap jalanan di depan rumah kontrakan nya.
''Nggak mungkin seperti itu kok, paling masih ada di jalan? atau terjebak macet di jalan, kan kita nggak tau? jadi jangan suudzon dulu sama adek adek kamu,'' sahut Hanafi mengingat kan sang wanita. ''Kita harus husnuzon sama mery kan, itu malah lebih baik,'' tambah nya lagi.
Almira mengangguk paham, sembari berkata, ''Iya kak, Mahalini dan Devano kan masih menjemput Farel di apartemen nya, arah dari apartemen dan rumah kontrakan ku kan memutar,'' cetul nya yang sudah mengingat kenapa ketiga nya sangat lama sampai di rumah kontrakan nya.
''Lha itu kamu tau kok,'' balas Hanafi dengan menyesap teh buatan Almira. ''Nah, itu mereka sudah datang?'' tunjuk Hanafi kepada mobil yang masuk ke pekarangan rumah kontrakan Almira.
Almira mengulas senyum, melihat mobil adik ipar nya masuk ke pekarangan rumah nya, apalagi ketika melihat wajah adek laki lakinya yang sangat ia kangenin selama ini, senyum Almira semakin merekah menghiasi bibir ranum nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.