
Mahalini sengaja tidak keluar dari kamar nya setelah bersitegang dengan Devano tadi, hanya saja Mahalini baru ingat kalau di luar ada seorang suami yang sedang menunggu untuk makan malam, jadi mau tak Mahalini beranjak dari duduk nya yang masih mengenakan mukenah, karena dia baru selesai membaca Al-Qur'an, agar bisa mendapatkan barokah dari Al-Qur'an itu sendiri.
Setelah membuka mukenah dan melipat dan mengembalikan ke tempat nya, Mahalini bergegas keluar dari kamar dan tidak menemukan Devano di sana, tak ingin ambil Mahalini segera berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam buat suaminya, meski di dalam kontrak tidak tertulis untuk melayani sang suami, tapi Mahalini ingin selalu melayani suaminya dengan kewajiban memasak, kalau masalah bathin Mahalini tidak pernah berpikir sampai ke sana, karena dia berpikir pernikahan nya tidak akan lama lagi akan segera selesai.
Mahalini memotong sayur kangkung dan juga membersihkan ikan di dapur, tak lupa juga Mahalini mencuci beras untuk segera di taroh di magic com, agar nanti nasi dan juga lauk nya bisa mateng bersama.
Tak butuh waktu lama, kini Mahalini sudah menyelesaikan masakan nya, dan sedang memindahkan semua makanan yang sudah matang ke meja makan, yang berada tak jauh dari dapur.
Di sana sudah ada ikan gurame goreng, cah kangkung dan juga sambal terasi, semua kesuka'an nya, karena Mahalini sendiri masih belum mengetahui makanan kesuka'an suaminya.
''Alhamdulillah selesai juga,'' Ucap Mahalini seraya meregangkan otot-otot nya yang sedikit kaku.
Mahalini melihat Devano keluar dari kamar dengan sebuah laptop di tangan nya, sedang berjalan menuju ke ruang tamu.
Apartemen Devano hanya satu lantai namun begitu luas untuk di tinggali berdua saja. Mahalini berjalan menghampiri Devano yang masih dengan laptop di tangan nya.
''Maaf Tuan, makan malam nya sudah siap? mau makan sekarang atau nanti,'' tanya Mahalini dengan dia pertanya'an kepada Devano.
Karena Devano masih terus terdiam Mahalini berkata lagi, ''Kalau Tuan masih belum mau makan, biar Lini makan duluan? soalnya sudah kelaparan,'' perkata'an Mahalini barusan membuat Devano menghentikan jari jarinya yang sedang menari dengan lincah di atas keyboard laptop nya.
Kruyuk kruyuk
__ADS_1
Perut Mahalini berbunyi yang lumayan keras di depan Devano, membuat sang empu merasa sangat malu dengan perut yang menurut sangat kurang ajar.
'Kamu kok bikin aku malu saja sich, pakek bunyi bunyi di depan laki-laki dingin lagi,' rutuk Mahalini yang meyalahkan perut nya karena berbunyi di depan suami kontrak nya.
Devano menahan senyum karena bunyi perut Mahalini barusan. ''Ya sudah kita makan sekarang saja,'' ajak Devano dengan menaruh laptop di atas meja.
Berjalan terlebih dulu ke meja makan, Mahalini mengikuti Devano dari belakang, dan Mahalini juga masih menundukkan kepalanya karena masih malu dengan kejadian tadi di depan Devano.
Devano yang berhenti dengan mendadak membuat Mahalini menabrak punggung kekar sang suami, ''Aduch...'' tungis nya seraya memegang dahi yang lumayan sakit. ''Keras amat nich bahu, kayak batu saja,'' gumam Mahalini dengan masih mengusap dahi yang masih berdenyut.
''Kamu hanya masak makanan ini buat makan malam kita?'' tanya Devano mengerutkan kening nya.
''Memang nya Tuan mau makan apa sich?'' tanya Mahalini bingung dengan Tuan nya. ''Kalau Tuan tidak mau makan ya sudah, Lini akan makan sendiri. Lagian Lini kan tidak tau makanan apa yang Tuan suka,'' tambah nya lagi, mengingat Tuan nya belum mengatakan makanan kesuka'an nya kepada nya.
''Kalau Tuan Devan tidak suka, ya tinggal pesan saja sekarang,'' lanjut nya yang kini sudah duduk di kursi meja makan nya, mengambil piring dan mengambil nasi serta lauk pauk yang sudah ia masak tadi.
Devano hanya diam memandangi makanan di depan nya, dan sesekali menatap ke arah Mahalini yang sedang mengambil cah kangkung dan menaruu di piring nya.
''Ayolah Tuan coba dulu makan sedikit, kalau tidak enak? Tuan bisa memesan makanan dari luar, dan lagi? Lini tidak mau masak banyak lagi, dan akan memasak sesuai porsi Lini saja,'' ujar nya dengan menatap wajah tampan CEO di depan nya. Wajah yang begitu membuat sebagian wanita ingin memiliki nya hanya untuk mendapatkan gelar nama Nyonya Devano Baskhara saja.
Rasa penasaran dengan makanan di depan nya, membuat Devano hanya menelan ludah nya saja. Mahalini yang geram melihat wajah mematung Devano beranjak dari duduk nya, dan berjalan mengitari meja makan nya, karena Mahalini ada di seberang meja.
__ADS_1
Mahalini mengambil piring yang ada di depan Devano dan menyendokkan nasi dan juga mengambilkan ikan serta cah kangkung ke dalam piring nya. Devano hanya melihat Mahalini saja, tanpa mau duduk di kursi yang ada di depan nya.
Mahalini mengambil satu sendok nasi, yang sudah di kasih ikan dan juga cah kangkung, lalu menyuapkan ke mulut Devano yang masih tetap berdiri.
Devano memelototkan mata nya, merasakan makanan yang sudah berada di dalam mulut nya yang di paksa oleh Mahalini.
''Bagaimana rasa nya,'' tanya Mahalini ketika melihat suaminya hanya melotot.
''Biasa saja kok, tapi? perutku sudah sakit karena lapar, jadi dari pada aku memesan makanan dan harus menunggu dengan lama, bisa bisa lambung ku kambuh,'' bohong nya, kini Devano sudah menyambar piring yang ada di tangan Mahalini, Devano terus menyuapi nasi ke dalam mulut nya dan tak lupa dia menambah lagi cah kangkung yang masih lumayan banyak di meja, sesekali Devano mengambil sambel di cobek kecil, dan lagi lagi Devano hanya memelototkan matanya karena masakan Mahalini sangat lezat dan nikmat saat berada di lidah nya.
''Bilang nya biasa saja, tapi doyan githu,'' Mahalini meledek Devano, karena dia begitu lahap dengan makanan nya.
''Sudah jangan banyak tanya, lebih baik besok kamu buatkan aku sarapan dengan lauk cumi asam manis dan juga segelas susu coklat seperti biasa nya,'' Devano memerintah Mahalini yang sedang sibuk memakan makanan nya, hanya menatap Devano, sesekali Mahalini tersenyum melihat Devano yang kini sudah menambah sampai 3 kali.
''Ach, kenyang nya,'' gumam Devano menyambar gelas minuman nya, Mahalini sengaja membuatkan Devano jus apel malem ini, karena adanya hanya buah apel yang ada di lemari pendingin.
''Biasakan mengucapkan Alhamdulillah, kalau selesai makan,'' tukas Mahalini yang mulai merapikan meja makan, dan membawa piring piring kotor ke dapur.
''Jangan memerintah ku,'' seru Devano dengan asal.
''Padahal aku kan bilang hal kebaikan, dari pada harus bilang kenyang githu, mending mengucapkan Alhamdulillah,'' gerutu Mahalini, ketika melangkahkan kakinya masuk ke dapur.
__ADS_1
'Kenapa thu cewek pintar masak sich, dan lagi? masakan enak banget dan cocok dengan lidah ku,' gumam Devano di dalam hatinya. 'Dan kenapa pula aku tidak marah ketika di tegur oleh nya, bukan nya aku tidak suka dengan orang yang bertingkah di depan ku,' Devano memikirkan semua sifat yang ia perlihatkan kan kepada semua orang, malah berbanding terbalik kepada Mahalini. Pikirnya.
yang