Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 169.


__ADS_3

Mahalini tersenyum ketika Mami Amora mengirimi video kedua anak nya yang begitu pandai dalam bertutur kata.


''Kenapa sayang?'' tanya Devano yang baru keluar dari kamar mandi.


''Tidak apa apa Mas, hanya Mami mengirim video si kembar, ketika dia datang ke tempat teman teman nya,'' sahut nya dengan memperlihatkan layar ponsel nya yang sudah di penuhi dengan aksi si kembar.


''Aku sangat bersyukur dengan mereka berdua sayang, entah kenapa aku juga ingin merasakan seperti itu juga, tapi Mama dulu tidak pernah mau mengajakku dalam melakukan hal baik dan semacam nya, beliau lebih percaya dengan para teman teman nya,'' gumam nya dengan senyuman datarnya.


''Tak apa, yang penting kita harus mendidik anak anak kita menjadi orang yang peduli dengan sesama, kita juga harus selalu mengajarkan si kembar dengan hal hal penting, sehingga kelak mereka tidak pernah merepotkan orang lain?'' balas Mahalini dengan mengusap rahang suami nya. 'Dan jangan seperti kamu yang kamu berhadapan dengan orang orang sekeliling nya, biarlah anak anak kita? menjadi dirinya sendiri,' bathin nya dengan mengulas senyuman manis nya.


''Kamu menggoda ku sayang? lihat, bahkan junior ku juga sudah bereaksi hanya dengan usapan tangan lembut kamu ini,'' bisik Devano dengan mendekatkan wajah nya kepada Mahalini.


''Apa sich Mas, ayo cepat ganti baju, dan kita akan berangkat sekarang! kalau tidak kita akan telat datang ke acara nya,'' ucap nya dengan menghindari ciuman Devano yang sudah berhasrat.


''Kamu tega sekali sama junior ku sayang, kamu yang menggoda, dan kamu juga yang menolak nya, arrrggghhh...'' Devano yang sudah tidak tahan hanya bisa berteriak dengan kejahilan sang istri. ''Awas saja nanti sepulang dari acara,'' ancam Devano sembari berjalan ke arah lemari, di mana baju baju yang sudah di masukkan ke dalam lemari, karena Mahalini dan Devano akan tinggal di negara tetangga selama beberapa hari.


Ya, bisa di katakan untuk hanimun yang kedua kalinya, setelah memiliki si kembar.


Mahalini hanya terkekeh geli dengan tingkah sang suami, dia sangat suka menggoda suaminya akhi akhir ini, entah kenapa dirinya hanya ingin berdekatan dengan suami nya saja.


Apa jangan jangan Mahalini malah tek dung lagi ya🤔🤔.


Nggak mungkin lah, pikir author.


Mahalini memakai hijab nya karena sudah di nerantakin oleh suaminya, malam ini Mahalini dan Devano akan menghadiri pergelaran baju baju yang di lauching oleh kedua orang tuanya, tapi Mami Amora memilih tidak ikut serta dalam acara tersebut, Mami Amora memilih untuk menjaga si kembar di kediaman nya.


''Sayang,'' Mama Clara mengetuk pintu kamar Mahalini sang menantu.


''Iya Ma,'' jawab nya dengan membuka pintu kamar hotel yang ia tempati.


''Lini tunggu Mas Vano dulu dech Ma,'' jawab nya lagi setelah membuka pintu kamar nya.

__ADS_1


''Ya sudah, kalau gitu Mama tunggu kaku di sana saja ya, jangan sampai telat lho.'' ucap nya dengan mencium pipi menantu nya.


''Baik Ma,'' balas nya dengan mencium punggung tangan Mama Clara.


Setelah kepergian Mama Clara, Mahalini kemabli masuk ke dalam, dan Devano ternyata sudah berada di belakang.


Dukk...


''Achhhh,'' teriak nya dengan memegang hidungnya. ''Mas Vano kenapa berada di sini sich!'' kesal Mahalini karena hidung nya berdenyut.


''Lha, kok bisa Mas yang di salahin sich, kan kamu sendiri yang menabrak Mas sayang,'' jawab nya dengan tegas, Devano tak mau di salahkan oleh sang istri, makanya dia lebih memilih menjawab semua apa yang di ucapkan Mahalini kepada nya.


''Sudah lah, aku akan ambil tas dulu di dalam, kamu tunggu di sini saja,'' titah nya dengan nada sinis.


''Sa-lah lagi,'' gumam Devano dengan pelanggan, agar sang empu tidak mendengar gumaman nya.


Di lantai 6 acara sudah hampir di mulai, dan Mahalini baru sampai di sana.


''Mas Vano yang kelama'an Ma,'' adu nya dengan melirik ke arah suami yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki paruh baya di samping nya.


''Coba Mama lihat Mas Vano kalau ngomong, kaku banget kan? nggak kayak ketika ngomong dengan Lini dan anak anak di rumah,'' bisik Mahalini yang mengetahui suaminya bersikap datar, ketika di ajak ngobrol oleh sesama pebisnis.


''Sudah lah, jangan di bahas lagi, nanti pawang kamu malah ngamuk lagi,'' sahut Mama Clara dengan kembali berbisik kepada Mahalini.


Mahalini hanya bisa mengangguk dan fokus ke atas panggung, menatap perempuan perempuan yang sudah mulai berjalan lenggak lenggok di atas catwalk.


''Nggak nyangka aku bisa mendesain baju sebagus itu,'' gumam nya pelan, dia merasa bangga kepada dirinya sendiri, karena Mahalini hanya belajar secara otodidak untuk mendesain baju baju yang ada di butik Mama Clara dan juga Mami Amora.


''Kenapa? kamu baru nyadar ya, kalau semua baju baju yang kamu desain terlihat bagus,'' Ucap Mama Clara mengulas senyum tipis di bibir nya.


''Iya Ma, semoga semua nya suka dengan semua rancangan yang Lini buat ya,'' jawab nya, ''Ini semua tidak luput dari dukungan Mama dan juga Mami,'' tambah nya lagi, dengan menggenggam tangan Mama Clara.

__ADS_1


''Mama juga senang, karena rancangan kamu sangat bagus, jadi semua orang orang pergi ke butik Mama untuk lihat lihat, dan akhirnya pada beli semua,'' sahut nya.


''Kenapa kalian senyum senyum, ada apa sebenarnya,'' tanya Devano ketika menyadari istri kecilnya tersenyum ke arah panggung.


''Enggak kok Mas, aku hanya bahagia melihat karyaku bisa di buat seperti ini sama Mama dan juga Mami,'' jawab nya.


''Oiya ya, bukan kah seharusnya yang pergi ke acara ini Mami Amora, tapi kenapa malah kamu?'' tanya Devano mengerutkan kening nya.


''Karena Mahalini yang ngerancang semua busana yang mereka pakek sekarang?'' Mama Clara langsung memukul Devano, karena tatapan nya penuh selidik kepada Mahalini. ''Kamu juga? kenapa kamu ada di sini, bukan nya kamu tidak ikut andil dalam acara ini,'' Mama Clara terus membela menantu nya.


''Ya, karena acara ini Vano yang membantu 50% nya,'' ucap nya dengan bangga.


''Sok, biar apa?''


''Ya biar Vano dapat ciuman lah,'' balas nya dengan santai.


''Memang kamu tidak malu dengan orang orang yang hadir ke acara ini, dengan percaya diri sekali kamu mengatakan seperti itu,'' sambung Mama Clara, sedangkan Mahalini hanya memutar bola matanya malas, mendengar ucapan suaminya yang menurut nya agak kebangetan itu.


Acara demi acara sudah selesai, dan kini tibalah giliran Mahalini dan Mama Clara naik ke atas panggung, untuk menerima bucket bunga.


Mahalini menggenggam tangan Mama Clara dengan erat, ''Jangan gugup, semua nya akan baik baik saja,'' bisik nya dengan melangkah ke arah panggung, Devano tersenyum bangga melihat istri dan Mama nya bisa berdiri di atas panggung, dengan menerima bucket dan penghargaan karena penjualan nya selama beberapa tahun terakhir, sudah melebihi dari target.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2