
Mahalini hanya menganggukkan saja apa yang di ucapkan oleh Papa nya. Tiba-tiba Mahalini di panggil oleh Vero agar membantunya membereskan semua piring piring kotor yang sudah menumpuk di atas meja.
''Lini, bisa bantu kami buat angkatan piring piring kotor di sana,'' Vero menunjuk meja yang sudah penuh dengan piring kotor.
''Iya kak?'' jawab Mahalini sembari menoleh ke arah sang Papa.
''Pa, Lini kerja dulu. Papa jaga kesehatan ya selama di sana,'' ucap nya seraya mengulurkan tangan nya dan mencium punggung tangan keriput Pak Setiawan.
Pak Setiawan mengangguk dan tersenyum melihat puteri nya yang berjalan menjauh.
''Pak Setiawan ya,'' tanya seseorang yang baru datang menghampiri Pak Setiawan yang masih terus saja menatap puteri nya dari kejauhan.
''Iya, saya sendiri,'' jawab Pak Setiawan dengan ramah seraya menatap lawan bicara nya.
''Ternyata Pak Setiawan masih sangat suka dengan daun muda ya,'' ejek nya dengan santai, Pak Setiawan mengerutkan kening nya mendengar pertanya'an dari orang itu.
''Maaf, anda mungkin salah paham. Dan mana mungkin saya suka sama anak ku sendiri,'' jawab Pak Setiawan dengan santai tapi menusuk jantung orang di depan nya.
''Sebelum membuat persepsi yang tidak benar, lebih baik anda cari tau dulu tentang wanita yang bersama saya barusan,'' lanjut nya masih dengan santai nya.
''Pak Setiawan jangan berbohong dech, lagian kalau memang gadis itu adalah puteri anda, kenapa dia bekerja menjadi OB di perusaha'an ini,'' sambung laki-laki itu yang masih tidak mau mengalah.
Mahalini menatap Papa nya yang masih mendapatkan hinaan segera menghampiri nya dengan langkah tergesa-gesa. ''Maaf Tuan, kenapa anda suka sekali membuat fitnah, beliau adalah Papa ku, ya meski beliau bukan Papa kandungku? tapi beliau lah yang sudah mengasuh dan membesarkan aku sampai detik ini, dan apa salah nya juga kalau saya bekerja sebagai OB di perusaha'an ini, toh di sini tidak larangan sama sekali. Anak siapa yang harus bekerja di kantor ini kan, jadi stop jangan memfitnah Papa saya lagi, sebelum nya saya minta maaf sudah melawan anda, tapi saya juga tidak suka melihat Papa ku di fitnah seperti itu,'' seru Mahalini dengan lantang, dia sudah tidak lagi memikirkan kalau dia harus di pecat dari perusaha'an ini hanya karena melawan klien dari perusaha'an Bagaskara Grub.
__ADS_1
''Nak?'' Pak Setiawan memegang bahu Mahalini yang sudah bergetar karena melawan orang penting yang hadir di acara tersebut.
''Sudah Pa, jangan khawatirkan Lini lagi, Papa tunggu di sini, Lini ambil tas dulu,'' kata Mahalini memegang tangan Pak Setiawan dengan lembut, setelah itu Mahalini melangkah pergi dari hadapan laki-laki yang sudah mengejek Papa nya.
Mahalini sudah tidak peduli lagi dengan pekerja'an nya? yang penting bagi Lini sekarang adalah martabat Papa sudah di selamat kan.
''Lini, kamu mau kemana?'' tanya teman kerjanya sesama OB.
''Lini mau pulang kak, mungkin setelah ini Lini tidak lagi bekerja di sini lagi, karena Lini yakin bakalan di pecat dari sini,'' balas Mahalini mengambil tas dari loker nya.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Mahalini setelah menjabat tangan teman teman nya.
''Waalaikum salam?'' jawab teman teman nya hampir bersama'an.
Sepeninggal Mahalini beberapa teman teman nya memuji keberanian Mahalini tadi, yang membela Papa nya di depan para tamu undangan.
''Iya kamu benar banget, lagian mana ada sich seorang anak membiarkan Papa nya di ejek seperti itu di depan banyak orang?'' sambung lain nya.
''Iya, tapi nggak bakalan seberani Mahalini kan? mungkin Mahalini berpikir dia akan di pecat karena sudah menyinggung tamu yang hadir di perjamuan hari ini,''
''Tapi aku berdo'a, kalau Mahalini tidak di pecat dari sini, meski dia anak baru di sini, tapi dia sangat gesit dan tidak mengeluh kalau yang lain nya minta bantuan sama dia,'' seru lain nya.
''Sudah kalian lanjut bekerja saja, masalah Mahalini biar kepala HRD saja yang mengurus,'' sela Vero karena melihat pekerja'an nya yang masih menumpuk di luar.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Devano tidak mengetahui masalah yang sedang di hadapi Mahalini tadi, karena dia sedang berada di dalam toilet.
''Ada apa Pa?'' tanya Devano ketika melihat semua orang sudah mulai berbisik satu sama lain nya.
''Salah satu klien kita menyinggung Papa nya OB baru di kantor ini, jadi wanita itu langsung menghampiri dan membela Papa nya,'' kata sang Ayah menjelaskan titik masalah yang terjadi pada acara di kantor nya.
''Maksud Papa, Mahalini,'' tanya Devano penasaran.
Sang Papa hanya mengangguk pelan, ''Mahalini ternyata anak angkat Pak Setiawan, manager di kantor cabang kita di semarang?'' jelas Papa Devano.
''Terus mereka sekarang kemana?'' tanya Devano sembari melihat ke sekitar, namun tidak nampak Mahalini di mana-mana.
''Dia sudah pergi bersama Pak Setiawan, mungkin dia mengira kalau dia salah dan dia pikir dia di pecat dari pekerja'an nya,'' jawab nya menatap wajah putera tunggal nya.
''Pa, aku tidak mungkin memecat Mahalini hanya karena salah paham ini, tapi Devano penasaran dengan semua ini, Papa pasti ada yang tidak di ceritakan sama Devan kan,'' tanya Devano setengah menyelidik, karena Devano tidak yakin Mahalini bersikap seperti itu dengan tamu di sini.
''Klien itu menyangka Mahalini selingkuhan Pak Setiawan, mungkin Mahalini melihat Papa nya ketika dia sedang mengejek Papa nya, makanya Mahalini langsung menghampiri nya dan mencoba menjelaskan semuanya di depan banyak orang, dan ternyata Mahalini adalah anak angkat Pak Setiawan,'' jawab nya dengan santai .
''Kalau itu aku sudah tau Pa, Devano pergi dulu,'' ujar nya dengan langkah panjang menuju ke arah parkiran, sedangkan Mama nya hanya berteriak memanggil putera nya yang pergi tanpa menunggu acara selesai.
''Aku harus bertemu dengan Mahalini sekarang, aku tidak mau kehilangan dia dari kantor ku,'' gumam Devano seraya melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih sepi, karena semua orang masih sibuk dengan pekerjaan nya.
Di rumah kecil nya Mahalini berada, dia sedang menangis mengingat dia dan ayah nya di hina seperti tadi, ''Apa salah nya coba, seorang Ayah memeluk puteri nya dan mengelus elus puteri nya,'' ucap nya yang di dengar langsung oleh Bi Ijah.
__ADS_1
''Sudah neng, lebih baik neng Lini makan siang sekarang? nanti neng maag nya kambuh,'' Bi Ijah mengingat anak majikan nya agar tidak lupa dengan makan siang nya.
''Taruh saja Bi, Lini masih kesal?'' cetus nya dengan deraian air mata yang terus mengalir.