
Devano bergegas menuju ke tempat tidur Mahalini, di mana dia tengah berbaring. Nampak butiran keringat di dahinya, Devano memegang dahi Mahalini dengan punggung tanggan nya dan dia terkejut karena Mahalini tengah demam.
''Kamu demam,'' gumam Devano yang keluar dari kamar Mahalini untuk mengambil baskom dan juga air dingin untuk mengompres Mahalini.
''Sakit,'' gumam Mahalini dengan nada lirih, ketika Devano memasuki kamar Mahalini kembali dengan sebuah baskom di tangan nya.
''Apanya yang sakit?'' tanya Devano mengerutkan kening nya, mengingat Mahalini masih terpejam. Tapi tangan Mahalini memegang perutnya dengan kedua tangan nya.
''Perut kamu yang sakit,'' Devano saat ini tengah di landa ke khawatiran, mengingat Devano tak pernah merawat orang sakit sebelum nya. ''Apa aku telfon dokter saja, untuk memastikan keada'an nya,'' lagi lagi Devano hanya bergumam sembari terus menaruh kain yang sudah di basahi dengan kain basah ke dahi Mahalini.
Devano merogoh saku celananya, dan mengambil ponsel untuk menghubungi dokter pribadi nya.
-''Ada apa Van,'' tanya seseorang di seberang.
-''Cepat ke apartemen ku sekarang juga,'' perintahnya dan mematikan begitu saja sambungan telfon nya.
Seorang dokter makin sedang menggerutu setelah menerima panggilan dari Devano yang menyuruh dengan seenak nya.
''Dasar orang kaya,'' gerutunya dan berjalan ke arah nakas untuk mengambil alat alat kesehatan nya, dan segera pergi menuju apartemen Devano. Dokter tersebut tidak mengetahui kalau Devano sudah menikah.
20 menit kemudian dokter yang di hubungi Devano sudah datang dan kini sedang mengetuk pintu apartemen Devano.
Tok tok tok
Devano berjalan untuk membuka pintu apartemen nya, ''Kenapa lama banget sich,'' tukas Devano dengan sarkas kepada sang dokter.
''Ada apa sich Van, kamu saja tidak apa apa sekarang, kenapa harus menghubungi aku yang ingin tidur,'' kata sang dokter dengan ketua dan juga kesal dengan sikap Devano.
Dokter tersebut adalah saudara sepupu dari Devano, ''Nggak usah banyak omong dulu, lebih baik kamu periksa Mahalini dulu di dalam,'' ujar Devano dwngan dingin dan berjalan menuju kamar Mahalini.
Dokter tersebut hanya mengerutkan kening nya karena tidak tau menau kalau Devano sekarang malah tinggal bersama dengan seseorang di apartemen nya.
__ADS_1
Dokter pun yang mengikuti langkah Devano mengerutkan kening nya melihat seorang wanita yang sedang terbaring di ranjang. ''Devano, jangan bilang kamu bawa wanita ini dari tempat gelap ya,'' tukas Sang dokter yang biasa di panggil Sanders.
''Udah dech, kamu nggak usah banyak omong, lebih baik kamu periksa dia terlebih dulu, takutnya penyakit yang ia derita malah semakin parah,'' sahut Devano yang tak ingin menunda lagi, agar saudara sepupu nya cepat memeriksa Mahalini.
Sanders dengan patuh mengikuti perintah Devano yang notabene nya adalah laki-laki yang super dingin dan juga galak di mata Sanders selama ini.
Sanders membelalak kan matanya setelah memeriksa Mahalini. ''Dia hanya demam saja kok, kalau perutnya yang sakit karena dia sedang kedatangan tamu bulanan nya,'' jelas Sanders, Devano hanya mengangguk anggukkan kepala nya, seraya terus menatap wajah pucat Mahalini.
''Ini resep obatnya, mungkin setelah ini rasa sakit di perut nya akan segera hilang, karena itu memang sudah kodrat dari seorang wanita. Lagian kamu juga ngapain dia harus di bawa ke sini sich, mau enak enak malah zonk kan?'' ujar Sanders dengan santai nya.
''Enak enak apa maksud kamu sich, dia ini adalah istri ku,'' sahut Devano kepada Sanders.
''Jangan bicara omong kosong dech, aku tidak akan percaya sama ucapan kamu,'' balas Sanders yang masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh sepupu nya.
''Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, lebih baik kamu tanyakan saja kepada Mama dan juga Papa kamu yang ikut hadir dalam pernikahan kemarin,'' jawab Devano.
''Ya sudah, lebih baik kamu balik sekarang, aku mau pergi ke apotik untuk nebus obat nya,'' tambah Devano, yang tengah mengusir Sanders dari apartemen nya.
''Ckck, giliran sudah di tangani langsung ngusir gitu saja,'' gerutu Sanders mengambil tas nya yang di tergeletak di pinggir tempat tidur kamar Mahalini.
''Ech Van, lho nemu di mana? gadis cantik itu,'' tanya Sanders ketika melangkah keluar dari kamar Mahalini.
''Kalau lho sudah bosan sama tu cewek, boleh dech buat aku,'' seru Sanders yang langsung mendapatkan tatapan tajam. ''Kan aku bilang kalau kamu sudah bosan bro?'' goda Sanders yang ingin mengetahui sikap apa yang akan di lakukan oleh sepupu nya.
''Ngomong seperti itu lagi di depan ku, akan aku pastikan kamu tak akan lama akan ada di Kutub utara,'' ketus nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sanders kabur ketika mendengar ucapan Devano yang mengatakan Kutub utara, Sanders tau betul sifat sang sepupu yang memang tidak akan pernah main main dengan semua ucapan nya itu.
Devano memejamkan matanya sejenak, ada dua orang yang sudah menggoda dengan kata kata yang sama, membuat Devano semakin kesal mengingat kata kata itu.
Mobil Devano membelah jalanan malam yang masih begitu ramai di jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Devano mencari apotik yang masih buka untuk membeli obat yang di resep kan oleh Sanders.
__ADS_1
''Maaf Tuan bisa saya bantu,'' tanya seorang pegawai di apotik yang ia datangi.
''Aku mau beli obat ini,'' Devano memberikan selembar kertas yang tadi di tulis oleh Sanders.
''Mohon di tunggu sebentar ya Tuan,'' kata sang pegawai ketika sudah menerima selembar kertas berisi nama obat.
Tak menunggu lama pegawai laki-laki pun sudah memanggil Devano yang masih menatap ponsel nya, ''Tuan, obat nya sudah selesai,'' ujar sang pegawai memberikan kanting plastik yang berisi obat obatan Mahalini.
''Terima kasih,'' kata Devano dingin, meski dengan nada dingin, namun pegawai apotik mengangguk pelan seraya menjawab.
''Sama sama Tuan,''
Devano berjalan menuju mobil dan melaju pergi ke sebuah restoran, mengingat Mahalini pasti belum makan malam. Devano memerankan beberapa menu makanan untuk Mahalini, agar dia bisa meminum obat yang ia beli.
...****************...
''Siapa yang ngasih kain ini ke dahi ku,'' gumam Mahalini yang terbangun karena dia merasa kebelet mau ke kamar mandi. ''Apa mungkin Tuan Devan yang melakukan semua ini,'' Mahalini memegang kain yang masih basah, dan meletakkan di dalam baskom yang ada di samping nya.
''Ya Allah, kenapa perutku masih sakit sich, gimana aku mau bekerja besok?'' kata Mahalini beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan ke kamar mandi untuk membuang air kecil.
Mahalini keluar dari kamar mandi dan dikejutkan oleh kedatangan Devano yang membuka pintu kamar nya, dia membuka matanya lebar lebar, dan nampak lah di sana Devano dengan menenteng kantong plastik yang ia bawa.
''Kamu sudah bangun,'' tanya Devano meletakkan kantong plastik di atas nakas, samping tempat tidur Mahalini.
Mahalini mengangguk pelan, dan masih berdiri di depan pintu kamar mandinya.
''Duduklah di sini, dan makan lah? aku bawakan makanan buat kamu dan setelah itu minum obat nya,'' kata Devano panjang lebar.
Mahalini hanya menurut, dan mengikuti arahan Devano yang menyuruh nya duduk di sofa. Devano beejalan mengambil makanan yang ia taruh di atas nakas sebelum nya.
''Makan lah, aku akan ambilkan air buat kamu,'' tutur nya dengan memberikan kotak nasi dengan beberapa lauk di dalam nya.
__ADS_1
Mahalini lagi lagi mengangguk, menanggapi ucapan Devano, Mahalini sangat terharu dengan sifat Devano yang sangat perhatian kepadanya. Tanpa sadar air mata Mahalini menetes begitu saja, mengingat waktu dulu dia hanya bisa menangis dalam kesakitan ketika sedang datang bulan, tak ada orang yang peduli dengan nya, kecuali sang adek yang bernama Farel.
Sedangkan saat ini, Mahalini merasa sangat bersyukur sekali karena masih ada seseorang yang peduli kepada nya dengan merawatnya dan dia juga rela keluar malam malam hanya untuk membelikan obat dan juga makanan.