Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 173.


__ADS_3

''Untung saja kamu Bos di perusaha'an ini, kalau kamu bukan Bos sudah aku tendang oantat kamu itu,'' gerutu Riki yang kesal dengan atasan nya.


''Ada apa Pak, kok mukanya lecek gitu,'' tanya Fania sekretaris Devano.


''Ya memang lecek, belum di setrika saja,'' sahut nya dengan acuh tak acuh, ''Ada apa kamu datang kemari,'' tanya Riki yang dalam mode kesal.


''Harus nya Pak Riki tidak boleh bersikap seperti itu kepada saya Pak, selalu saya ini adalah sekretaris atasan anda,'' balas Fania yang tidak suka dengan nada bicara Riki, asisten pribadi Devano.


''Sudah, jangan banyak omong kau, apa yang kamu mau sehingga datang ke ruangan ku hari ini,'' tanya Riki mengabaikan ucapan Fania tadi.


''Ada berkas yang harus di tanda tangani oleh Pak Riki, tapi seperti nya Pak Riki sedang marah sama seseorang, tapi malah aku yang kena imbas dari kekesalan orang tersebut,'' vetus nya yang amemang sudah biasa bercanda dengan Riki, asisten Bos nya.


''Tak usah banyak bertanya, dan apa kamu juga bersikap seperti ini juga dengan atasan kamu yang super jutek dan nyebelin itu,'' tanya nya dengan mendongak kan kepala nya, sehingga Riki dan Fania bisa bertatapan langsung.


''Tidak, lagian mana berani aku bersikap seperti ini kepada Bos, yang ada aku langsung di usir dari kantor ini, jadi aku memilih yang aman saja dech,'' balas nya dengan meletakkan berkas yang perlu tanda tangan Riki saat ini.


''Oiya Fania, besok Bos kaku akan datang ke kantor, jangan ada yang salah dengan semua pekerja'an yang akan membuat Bos besar marah dan membanying semua yang ada di dalam ruangan nya,'' ungkap Riki kepada sekretaris Devano.


''Siap Pak, tapi saya masih ingin cuti besok, jadi semua pekerja'an ku besok aku limpahkan kepada Pak Riki saja, agar setelah aku kembali ke kantor pekerja'an ku tidak terlalu banyak,'' cetus nya dengan senyuman smirk.


Ya, besok Fania sudah mengajukan ijin untuk memeriksa kehamilan nya yang baru beberapa bulan di dalam rahim nya, Riki pun tidak lupa dengan kegiatan Fania di tanggal 15, karena setiap tanggal 15 Fania akan selalu meminta cuti untuk memeriksakan kandungan nya, mulai dari bulan kemarin.

__ADS_1


''Puas puasin saja kamu besok, jadi setelah kamu masuk kembali ke kantor, akan aku beri hukuman yang setimpal, karena sudah membully ku,'' ucap nya dengan setengah menyeringai.


''Sudahlah, itu semua tidak penting bagi Pak Riki, tapi bagiku sangat penting, karena semua itu menyangkut calon baby ku, dan Pak Riki juga harus ingat, kalau aku juga bisa mengadu pada istri Bos, hanya cukup satu kali tekan saja,'' balas nya dengan tak mau kalah dari Riki.


''Sudah, sekarang kamu kembali ke meja kamu, aku semakin pusing dengan kehadiran kamu yang selalu mengoceh nggak jelas itu,'' usir Riki kepada sang sekretaris.


Fania yang di usir hanya tersenyum devil, karena dia juga sudah puas berdebat dengan asisten Bos nya yang gampang tersulut emosi.


'Dasar Pak Riki, pantes saja tidak ada wanita yang mau sama dia, selain jail, kepo dan juga sering marah marah nggak jelas, dasar orgil,' bathin Fania ketika akan beranjak keluar.


''Jangan mengumpat ku Fania,'' seru Riki dengan tatapan tajam nya. Fania yang di teriaki hanya cengengesan, dengan menampakkan deretan gigi yang di pagari dengan kawat gigi.


...****************...


Di rumah Catering RISTY


''Bunda, Khanza boleh ikut Bunda tidak ke rumah Catering, Khanza setiap hati hanya bermain dengan Abang Khalid saja,'' Khanza merengek ketika melihat Mahalini melangkah keluar dari rumah nya.


''Memang nya kenapa kalau main dengan Abang sayang, atau Abang nakal sama adek?'' tanya Mahalini kepada putri kecil nya.


''Masak setiap hati adek selalu bermain dengan Abang sich Bunda, adek juga ingin main dengan teman baru juga, apalagi sekarang kan hati minggu, pasti di tempat kerja Bunda banyak anak kecil yang main di sana kan??'' jawab Khanza dengan kritis.

__ADS_1


''Sejak kapan putri Ayah pintar ngomong seperti ini,'' tanya Devano yang baru sadar, kalau putri kecilnya sudah mulai pintar bicara.


''Adwk kan memang selalu pintar dalam berbicara Ayah, Ayah saja yang selalu sok sibuk dengan pekeeja'an di kantor, sehingga tidak memperhatikan tumbuh kembang putri nya,'' balas nya dengan panjang lebar, membuat Devano terdiam seketika.


Devano memandang ke arah Mahalini, meminta jawaban kepada sang istri, karena putri kecilnya pandai bicara seperti, Mahalini yang mendapatkan tatapan dari suaminya, hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanya'an yang di lemparkan oleh Devano, sang suami.


Setelah lama perdebatan dengan Khanza, akhirnya Mahalini memutuskan untuk mengajak kedua anak kembar nya ke rumah Catering nya.


''Baiklah, kalian berdua boleh ikut Bunda ke rumah Catering, tapi sebelum itu kalian berdua harus berpamitan dengan Oma dan juga Opa ya,'' perintah nya.


''Siap Bos??'' jawab Khanza dan juga Khalid dengan semangat empat lima nya, karena selama ini sang Bunda memang tidak pernah mengajak keduanya.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2