Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab. 7 Hari pertama masuk kuliah


__ADS_3

Di rumah barunya, Mahalini sedang menikmati makan malam nya bersama wanita paruh baya yang akan menemani nya selama ini.


''Bagaimana neng, makanan nya enak,'' tanya sang Bibi ketika melihat anak majikan nya begitu lahap memakan masakan sang Bibi.


''Ini enak banget Bi, Lini sangat suka,'' jawab nya dengan mulut penuhnya.


''Kalau githu habiskan neng, Bibi mau ke kamar dulu ya,'' pamit nya untuk segera menunaikan kewajiban nya sebagai umat islam yang taat agama.


''Iya Bi,'' sahutnya sembari mengangguk pelan, Mahalini terlihat begitu menikmati makan malam nya yang selama belum ia makan selama ini.


'Terima kasih ya Allah,' batinnya dengan terus melahap habis makanan nya. ''Aku bersihkan ini dulu dech, setelah itu baru sholat dan merapikan barang barang yang akan aku bawa kuliah besok,'' gumamnya pelan seraya membereskan piring kotor sisa dia makan. Tak lupa juga Mahalini mengelap meja agar terlihat lebih bersih lagi.


Mahalini memang cinta kebersihan dan tidak menyukai barang yang kotor, maka dari itu walaupun badannya sakit dia selalu memaksa untuk membersihkan semua rumah mewah yang dulu ia tempati, bukan cuma itu saja, Mama Agnes juga sangat kejam dengan Mahalini.


''Benar yang di katakan Farel tadi, aku harus bangkit dan tidak boleh lemah lagi, walaupun yang melakukan itu semua adalah Mama angkat ku, tapi mulai sekarang aku tidak boleh lemah dan harus melawan ketika ada orang yang akan berbuat jahat kepadaku,'' gumamnya dengan tekat dan semangat 45 nya.


...****************...


Pagi pagi sekali Mahalini sudah terbangun dari tidur nya, seperti biasa dia selalu melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam kebanyakan.


Mahalini yang sudah selesai membersihkan tubuh nya segera melaksanakan sholat subuh dan menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran yang sengaja di belikan Farel kemarin, karena sejatinya Mahalini tidak membawa satu barang pun dari rumah lamanya yang seperti neraka tersebut.


Dalam do'a nya Mahalini tidak henti hentinya mengucapkan syukur, karena sudah bisa keluar dari rumah Mama Agnes.


''Assalamu'alaikum Bi,'' sapa Mahalini ketika mendapati sang Bibi di dapur, dengan berbagai macam sayuran yang sudah di keluarkan dari kulkas.


''Waalaikum salam Neng? sudah bangun,'' tanya sangat Bibi yang tak menduga kalau ternyata anak tuannya juga bangun sepagi ini.

__ADS_1


''Ya harus bangun dong Biar, kan harus sholat subuh masak iya Lini harus bangun jam 7 sich, kan kabur subuh nya,'' jawab nya dengan lembut seraya menampakkan senyum termanis nya yang selama tidak pernah di lihat orang lain.


Sang Bibi hanya membalas senyum Mahalini yang nampak sangat bahagia dari raut wajahnya. ''Kalau gitu neng tunggu saja di meja makan, sebentar lagi siap sarapan nya,'' Ucap Bi Ijah ramah, namun Mahalini menggelengkan kepalanya pelan.


''Lini mau bantu Bibi masak, lagian Lini selalu masak sendiri kalau di rumah. Tak ada pembantu di sana dan hanya Lini yang bersihkan semua bagian rumah besar itu Bi?'' cerita Mahalini kepada Bi Ijah.


Dada Bi Ijah terasa sesak mendengar penuturan dari anak majikan nya yang sudah seperti pembantu di rumah sendiri. 'Tega banget istri Tuan Setiawan kepada puteri nya,' batinnya sembari mengelus dada.


''Memang nya Tuan Setiawan tidak memanggil orang untuk membersihkan rumah nya neng?'' tanya Bi Ijah yang belum tau menau soal Mahalini yang hanya anak angkat Pak Setiawan.


''Jangan lupa Bi, aku ini hanya anak pungut yang kebetulan ada di rumah mewah itu,'' jelas Lini membuat Bi Ijah spontan menutup mulutnya ketika mendengar pernyata'an yang sebenarnya.


''Bibi nggak nyangka kalau neng Lini anak angkat Tuan Setiawan,'' sahutnya dengan menganggukkan kepalanya.


''Sudahlah Bi, ayo masak sekarang? habis ini aku pergi ke kampus baru, sudah lama sekali, dan baru sekarang aku akan ngerasa'in kehidupan di kampus,'' kata Mahalini yang kini sudah mengambil alih pisau yang tadi sempat di pegang Bi Ijah.


''Neng Lini duduk saja, biar Bibi yang masak,'' Bi Ijah mau merebut pisau yang kini sedang di pagang Lini, namun dengan cepat Mahalini menaruh di belakang punggung nya.


'Kalau masih saling rebutan, entar yang ada neng Lini telat lagi ke kampus nya,' gumam nya dalam hati.


Bi Ijah melangkah pergi menuju ruangan di mana alat pel, sapu dan juga yang lain nya di simpan.


Bi Ijah mengeluarkan semuanya terlebih dulu, agar dia lebih gampang ngambilnya. Sedangkan di dapur Mahalini sudah menyelesaikan masakannya dengan cepat.


Ayam kecap, sayur asam dan tak lupa tempe goreng yang di beli Bi Ijah tadi di abang sayur.


Mahalini menata semua makanan nya di meja makan untuk segera menyantapnya, namun pertama Mahalini malah memanggil sang Bibi yang sudah mulai mengepel lantai.

__ADS_1


''Bibi, ayo makan dulu,'' panggil Mahalini dengan teriak dari ruang tamu.


''Neng Lini makan duluan saja, Bibi belum lapar,'' jawab nya, Bi Ijah masih terus saja mengepel lantai agar cepat selesai pekerja'an nya.


Mahalini hanya bisa menarik nafas panjang nya dan menghembuskan secara perlahan. ''Ya sudahlah aku makan sendiri saja,'' gumam nya seraya mengambil nasi beserta lauk pauknya.


Jam 8 pagi Mahalini sudah sampai di kampus yang kemarin di tunjuk oleh Farel, dia berjalan di lorong lorong dengan menelisik setiap sudut kampus barunya. Sampai akhirnya Mahalini berpapasan dengan seorang wanita yang cantik dan juga seksi menurut Mahalini. Tapi nyatanya Mahalini lah yang tercantik sehingga banyak para mahasiswa lainnya menatap Mahalini tanpa berkedip.


''Maaf kak, ruangan dosen di mana ya,'' tanyanya dengan sopan.


Wanita itu mengernyit alisnya ke atas, dan menarik sudut bibir nya ke atas, 'Mainan baru nich,' batin nya dengan menyeringai.


''Anak baru ya,'' tanya nya dengan mata yang tak lepas dari tubuh Mahalini.


''I-iya kak,'' Jawab Mahalini gugup.


''Kamu lurus saja, setelah belok kiri,'' jawab nya seraya melangkah pergi meninggalkan Mahalini yang masih kebingungan dengan ucapan wanita tadi.


Mahalini hanya bisa menuruti apa yang di katakan wanita barusan, namun setelah beberapa lama berjalan dan sampailah dia di depan gudang yang sangat kotor dan juga sepi.


Mahalini meringis karena ketakutan sampai akhirnya dia mendengar ada yang memanggil nya.


''Woooy! ngapain lho di sana,'' teriaknya.


''Maaf kak, saya tersesat,'' jawab Lini takut takut.


''Hahaha, tersesat katamu. Memangnya aku akan mempercayai kamu begitu saja,'' ucapnya dengan ketus.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, makasih 🙏💕🙏💕🙏💕


__ADS_2