Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 91.


__ADS_3

''Baik Nyonya,'' jawab Zarine kepada Nyonya Amora, Mami Mahalini.


Kebetulan sisa makanan lumayan banyak, dan dari pada mubazir? Mahalini sekeluarga memutuskan untuk membagi bagi kan semua sisa makanan tersebut, kepada orang orang di sekitar rumah catering RISTY.


Sedangkan anak anak yayasan sudah membawa semua makanan, jadi sisa makanan tersebut untuk warga sekitar.


''Maaf Nyonya, makanan nya terlalu banyak, dan ini juga sudah 100 bungkus lebih,'' kata Zarine ketika menghampiri Mami Amora.


''Kalian juga bawa pulang makanan makanan itu, biarkan yang di bungkus itu saja ezt, agar kalian juga bisa bawa pulang, makan bersama keluarga kalian,'' jawab Mami Amora dengan lembut.


''Terima kasih Nyonya,'' sahut Zarine dengan membungkukkan setengah badan nya.


''Iya sama sama,'' jawab nya dengan senyuman.


Mami Amora sengaja menyuruh memasak banyak hari ini, selain buat makan makan bersama anak anak yayasan, Mami Amora juga ingin berbagi dengan semua para warga di dekat usaha putri nya, sedangkan makanan makanan yang tadi di suruh bungkus pun, bukan sisa dari yang di letakkan di atas meja para tamu, melainkan Mami Amora memang sengaja menyuruh memisahkan semua makanan tersebut di wadah lain, agar mereka semua tidak mendapatkan sisa dari tamu tamunya.


Semua orang hari ini sangat bahagia dengan kehadiran calon cucu yang masih ada di dalam kandungan Mahalini.


''Sayang, mulai saat ini kamu tidak boleh terlalu lelah, dan kamu harus selalu menjaga kesehatan kamu juga,'' pesan Mami Amora yang memang sangat khawatir dengan putri semata wayang nya.


''Iya Mi, kan sekarang Lini sudah punya karyawan yang banyak, jadi Lini mungkin hanya sesekali akan datang ke sini,'' sahut nya dengan mengulas senyum, Mahalini tidak mau membuat sang Mami merasa khawatir kepada nya.


''Itu bagus,'' sambung Papi Sagara dengan mengacungkan jempol ke arah Mahalini.


''Itu semua berkat Papi dan juga Mas Vano, Mama Clara juga,'' ucap nya dengan kelehan kecil.


''Mami tidak termasuk di dalam nya,'' ucap Mami Amora dengan mimik wajah sedih nya.


''Ya kan Lini sudah bilang Papi, yang artinya ada Mami juga di dalam nya dong, seperti Mama Clara? berarti ada Papa juga,'' jawab nya dengan jelas.


'Mana mungkin bisa di sebut swmua nya sich kan capek?' pikir Mahalini dengan tersenyum di dalam hatinya.


Semua para pekerja sudah selesai membagi bagikan semua makanan yang di bungkus tadi, dan setelah itu mereka sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing, hanya ada petugas keamanan yang berjaga fi sana, Papi Sagara sudah menyiapkan semua nya untuk usaha baru putri nya, dan dia juga sudah merekomendasikan beberapa makanan yang sudah ada di buku menu catering Mahalini.


Papi Sagara juga sudah meminta pata koki yang bekerja untuk menyediakan makanan yang dia bisa selama ini, jadi ketika Mahalini mau membuat menu baru di dalam nya Papi Sagara sangat welcome sekali, menginginkan sang putri yang suka memasak dan masakannya sangat enak.

__ADS_1


Semua orang sudah kembali termasuk keluarga Mahalini dan juga Devano, di perjalanan pulang? Mahalini melihat sebuah gerobak yang menampakkan rujak manis, dan Mahalini meminta suami nya untuk memutar arah ke tempat Bapak tersebut.


''Sayang, kamu yakin akan mwmakan rujak manis di pinggir jalan?'' tanya Devano meyakinkan istri nya kembali.


''Yakin Mas, itu makanan bersih kok, karena Lini yakin tidak semua makanan di pinggir jalan itu kotor,'' jawab nya dengan semangat.


Devano hanya mendesah pasrah dengan perminta'an istri nya, dan yang di katakan istri nya adalah benar, tidak semua penjual jorok, pikir Devano lagi.


Devano memarkirkan mobilnya di tepi jalan, sedangkan Mahalini sudah keluar lebih dulu dari dalam mobil nya, ketika mobil sudah benar-benar berhenti.


''Pak rujak manis nya dia ya, yang pedes,'' kata Mahalini yang sudah memesan, tanpa menunggu kedatangan suami nya lebih dulu.


Dengan semangat sang Bapak penjual menjawab, ''Siap Nona,'' jawab nya dengan senyuman yang terukit di bibir tuanya.


''Kayak nya Bapak senang banget saya membeli dagangan Bapak,'' tanya Mahalini yang mengambil irisan mangga di dalam gerobak.


''Iya Nona, alhamdulillah sekali, ternyata masih ada yang beli dagangan Bapak,'' sahut nya dengan terus mengiris buah, dan di letakkan di atas mika.


''Memang nya sejak tadi tidak ada yang membeli dagangan Bapak sama sekali,'' tanya Mahalini, menatap raut wajah Bapak penjual yang terus mengembang kan senyuman nya.


''Astaghfirullah adzim,'' Mahalini menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, mendengar penuturan dari sang Bapak.


Mahalini sejenak menoleh ke arah suami nya yang juga sempat mendengarkan cerita dari sang Bapak penjual rujak manis.


''Memang nya Bapak tinggal di mana sekarang?'' tanya Mahalini lagi.


''Saya tinggal di kompleks X neng?'' jawab nya, sedangkan tangan nya memasukkan rujak manis dengan bumbu kacang yang sudah di bungkus ke dalam plastik.


''Berarti dekat dengan rumah makan kita dong Mas,'' Ucap Mahalini dengan menatap wajah suami nya.


Devano mengangguk dan menatap wajah Bapak penjual sejenak, lalu berkata. ''Memang nya Bapak tidak punya anak, sampai harus bekerja seperti ini sampai malam,''


''Bapak dulu punya anak, tapi Allah lebih menyayangi dia, dan Bapak hanya bisa ikhlas menerima itu semua, karena putera Bapak sudah di panggil sang Maha Kuasa.'' jawab nya dengan lirih, sedangkan air mata nya sudah menggenang di kelipak matanya.


''Kenapa gitu Pak, apa putra Bapak sakit atau bagaimana,'' tanya Mahalini yang sudah sangat penasaran dengan cerita sang Bapak penjual.

__ADS_1


''Putra Bapak kecelaka'an neng, dan langsung meninggal di tempat 5 tahun lalu, sedangkan kita juga sudah tua tidak mungkin memiliki anak lagi,'' jawab nya dengan mengusap air mata yang sudah menetes di pipi nya.


Mahalini tersentak kaget, dan langu memeluk sang Bapak penjual karena reflek, sebagai seorang anak Mahalini juga merasakan kesedihan yang mendalam, yang kini tengah di alami oleh Bapak tersebut.


''Bapak yang sabar ya, dan bapu juga tidak boleh terlalu malam jualan nya, karena Bapak juga harus menjaga kesehatan nya,'' kata Mahalini yang sudah melepaskan pelukan nya, sedangkan tangan nya mengelus pundak sang Bapak dengan lembut.


''Bagaimana bisa Bapak pulang tanpa membawa uang sepeser pun neng, dan belum lagi buah buahan nya juga akan busuk kalau tidak laku yerjual, karena Bapak tidak memiliki lemari pendingin di rumah,'' jawab nya dengan sangat jujur, sejujurnya Bapak tersebut sangat malu mengungkapkan semua nya kepada orang lain, tapi beliau juga sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi sekarang, sejak kemarin buah buahan nya selalu di buang karena sudah rusak, belum lagi beliau harus membeli kebutuhan rumah nya untuk tetap bertahan hidup.


Devano mengeluarkan sejumlah uang dan di berikan kepada sang Bapak. ''Lebih baik Bapak pulang saja, dan ini untuk Bapak ya,'' gumam nya dengan memberikan beberu lembar uang pecahan seratus ribuan kepada sang Bapak.


''Tapi nak? ini sangat banyak,'' tolak nya dengan mendorong tangan Devano.


''Tidak apa apa kok Pak, ini rezeki Bapak? dan rezeki tidak boleh di tolak,'' sahut nya dengan menyodorkan kembali.


''Ambillah Pak, dan cepat pulang? mungkin Ibu juga sangat khawatir kepada Bapak karena sudah sangat malam, Bapak tidak pulang,'' sambung Mahalini dengan memberikan langsung uang tersebut.


Mahalini sengaja memasukkan uang uang tersebut langsung ke saku baju sang Bapak, dengan senyum manis nya Mahalini menepuk-nepuk punggung tangan sang Bapak, denganeminta do'a? agar dirinya di beri kesehatan dan juga kelancaran dalam mencari rezeki yang halal.


''Saya hanya minta di do'akan saja Pak, semoga kehamilan saya lancar sampai besok lahiran,'' tukas nya lembut.


''Iya neng, Bapak akan selalu mendo'akan kalian berdua semoga selalu di beri kesehatan, di lancar dalam usaha nya, di lancarkan juga rezeki nya. Rezeki yang halal dan juga barokah, '' jawab nya yang di amini oleh Mahalini dan Devano.


Devano sangat bahagia melihat wajah Bapak di depan nya yang terus mengembangkan senyuman nya, meski beliau tidak seberuntung dirinya.


Devano juga tau arti berbagi dengan sesama dari sang istri, sejak dulu Devano tidak turun langsung kalau memberikan bantuan nya kepada Yayasan, Devano hanya menyuruh sang asisten untuk mentransfer sejumlah uang kepada beberapa yayasan. Namun hari ini devano melihat langsung kebahagia'an Bapak tersebut.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2