Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 54.


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Mahalini berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dari keringat, kemudian Mahalini melanjutkan sholat maghrib dan membaca surah Al-Waqiah semabari menunggu adzan isya' di kumandangkan.


Selesai membaca Surat tersebut Mahay melanjutkan untuk sholat Isya' karena adzan sudah di kumandang kan dengan sangat merdu.


Setelah merapikan mukenah dan Al-Qur'an nya, Mahalini membaringkan diri di tempat tidur nya, bersama'an Devano yang keluar dari kamar mandi, hanya dengan menggunakan handuk yang di lilitkan ke perut nya saja, pemandangan seperti itu tidak pernah Lini lihat sebelum nya, karena memang keduanya menggunakan kamar yang terpisah.


Mahalini menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, agar dia tidak melihat tubuh kekar suaminya, dan di tambah perut kotak-kotak nya nampak membuat laki-laki di depan nya terlihat sangat seksi di mata Mahalini.


'Ya Allah, salahkah hambamu ini melihat tubuh suami ku sendiri, dosakah hamba ketika hamba meminta hal yang lebih dari yang sekarang,' gumam nya dalam hati.


''Kamu kenapa,'' tanya Devano dingin.


''Kenapa kamu nggak pakek baju,'' jawab Mahalini dengan suara sedikit meninggi.


''Apa salah nya dengan aku tidak memakai baju, semua nya sama saja,'' tukas nya dengan tanpa rasa bersalah sama sekali.


''Tapi kamu bertelanjang di depan ku,'' ujar Mahalini yang masih menutup wajah dengan telapak tangan nya.


Devano bukan nya segera memakai bajunya, dia malah semakin menghampiri Mahalini yang sedang tiduran dengan kedua telapak menutupi wajah nya.


''Pergi, jangan mendekat,'' teriak Mahalini tanpa sadar.


''Jangan berteriak-teriak, nanti di kira aku ngapa ngapain kamu lagi,'' balas Devano membungkam mulut Mahalini.


Wajah mereka sangat dekat, hembusan nafas pun sangat terasa hangat di wajah Mahalini. Devano menatap wajah cantik sang istri yang berada di hadapan nya.


'Kenapa aku baru menyadari, kalau dia sangat lah cantik,' bagian Devano yang terus menatap wajah sang istri.


''Tuan, lepaskan tangan mu, Lini tidak bisa bernafas,'' ucap Mahalini yang membuyarkan lamunan sang CEO.


Mata sebanyak-banyaknya masih menatap wajah cantik nya, lalu turun ke arah bibir ranum Mahalini yang membuat hasrat Devano semakin meninggi.


Devano meraup wajah Mahalini dan mencium bibir manis nya, membuat Mahalini membelalakkan matanya karena kaget dengan perlakuan Devano.


Mahalini mendorong tubuh kekar yang saat ini sedang menciumi bibir ranum nya, ''Tuan lepaskan, Lini tidak bisa bernafas,'' gumam nya membuat Devano mau tak mau melepaskan ciuman tersebut.


''Kenapa Tuan malah mencium ku begitu, ini ciuman pertamaku kali,'' tukas nya dengan jujur.


Devano yang mendengar ucapan Mahalini tersenyum puas, karena dialah yang mengambil ciuman pertama sang istri.


''Apa sebelum nya kamu tidak memiliki kekasih,'' tanya Devano dengan tersenyum smirk.


Mahalini menggeleng pelan, Devano kembali tersenyum senang dengan jawaban Mahalini yang sangat memuaskan bagi Devano.


''Apa kamu tidak menginginkan nya,'' tanya Devano dengan suara berat nya, matanya mulai satu menatap wajah Mahalini yang begitu cantik di matanya.


Mahalini yang tak mengerti hanya membalas menatap Devano di depan nya, '''Ma-maksud Tuan apa?'' tanya nya dengan sangat penasaran.


''Aku menginginkan kamu Lini, aku mau kamu,'' Ucapnya dengan kembali mencium bibir ranum Mahalini. Bibir Mahalini seakan candu bagi Devano saat ini, di tambah dengan pengakuan nya tadi, yang mengatakan itu adalah ciuman pertama-nya.


''Tapi Tuan, perjanjian itu,'' jawab Lini mendorong tubuh Devano agar menjauh dari tubuh nya.


''Kita bahas besok saja masalah surat perjanjian itu, sekarang aku sangat ingin,'' gumam nya lirih, Devano menindih tubuh Mahalini, sedangkan tangan nya mulai nakal memasuki baju Mahalini.


Mahalini masih saja mendorong tubuh Devano dari tubuh nya, namun kekuatan Mahalini kalah besar dengan Devano,sehingga dia hanya pasrah dengan sikap Devano.

__ADS_1


''Tapi Tuan,''


''Lini, aku mohon? ini sangat menyiksa ku,'' potong Devano dengan menciumi leher Mahalini.


-Adegan Malam pertama nya di skip ya kak, Bunda? Terima kasih.


...****************...


Keesokan harinya


Devano terbangun kesiangan akibat pergulatan semalam bersama Mahalini, Devano menatap ke arah samping nya, ternyata sangat istri juga masih tidur dengan sangat pulas nya, Devano menghadang sinar matahari yang menimpa wajah putih Mahalini, Devano tak henti henti nya memandang wajah cantik Mahalini.


''Ternyata kamu sangat cantik sayang?'' gumam Devano dengan mengelus wajah cantik sang istri.


Mahalini yang terganggu dengan tidur nya, menggeliat dan mengerjapkan matanya, perlahan membuka matanya dan melihat wajah tampan suami nya yang sudah mengambil harta berharga nya.


''Tu-tuan,'' Ucap Mahalini dengan gugup.


''Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Tuan lagi,'' sahut nya dengan nada datar nya.


''Ma-maaf Tuan, ech maksut nya Mas,'' jawab nya dengan tergagap.


Devano menyunggingkan senyuman nya, karena sudah berhasil melakukan penyatuan dengan sang istri, meski awalnya Mahalini sangat tidak menginginkan semua nya, tapi kembali lagi? Mahalini menginginkan hidup di surga nya Allah, jadi mau tak mau dia harus melayani suaminya, agar dia juga tidak berdosa karena sudah menolak permintaan dari suami sah nya.


''Jam berapa sekarang Mas?'' tanya Mahalini kepada Devano, sedangkan tangan kanan nya mengucek mata indah nya yang masih terlihat sangat mengantuk.


''Sekarang sudah jam 8 pagi,'' jawab nya dengan santai.


''Haaaa,'' kaget nya dengan menyingkap selimut nya.


''Achhh,'' teriak nya dan menarik selimut nya kembali.


''Mas Vano kenapa nggak pergi ke kantor,'' tanya nya dengan memegang erat selimut nya.


''Suka suka aku, mau ke kantor atau nggak,'' tukas nya, menaik turunkan alisnya.


Mahalini jengah mendengar ucapan Devano, dia beranjak dari ranjang nya dan hendak turun, Mahalini kembali mengaduh sakit di **** ***** nya.


''Kenapa?'' tanya Devano khawatir.


''Nggak, nggak apa apa kok, cuma sedikit perih saja,'' jawab nya dengan sedikit rasa malunya.


''Masih sakit,'' tanya Devano yang kini memegang bahu Mahalini.


''Bukan sakit seperti itu sich, lebih tepat nya hanya perih saja,'' ucap Mahalini dengan jujur.


''Biar aku gendong ke kamar mandi saja,'' Devano langsung menggendong tubuh Mahalini yang di lilit dengan handuk.


''Lini bisa sendiri Mas,'' Mahalini sedikit meronta ingin di turunkan, tapi Devano tidak menghiraukan kata kata Mahalini.


Sesampainya di kamar mandi, Devano mendudukkan Mahalini di atas closed dan mengisi bathtub dengan air hangat, setelah nya barulah Mahalini di gendong kembali ke dalam bathtub.


''Kamu mandi di sini saja, aku mandi di shower saja,'' Ucap Devano setelah mendudukkan Mahalini di dalam bathtub.


Bathtub dan shower terhalang kaca, jadi Mahalini tidak protes dengan kata kata Devano.

__ADS_1


Hanya butuh lima menit Devano sudah menyelesaikan ritual mandinya dan keluar dari kamar mandi, Devano mengambil baju di lemari kamar nya.


Selang beberapa detik, pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok


''Devano, kamu sudah bangun belum!'' teriak Mama Clara dari luar kamar nya.


''Iya Ma, Devano sudah bangun,'' jawab nya dengan sedikit teriak.


Devano berjalan menuju pintu kamar nya, di mana sang Mama masih tetap berdiri menunggu Devano keluar dari kamarnya. Devano sudah tahu akan hal itu jadi sebelum menyelesaikan memakai bajunya, Devano memilih membuka pintu sebelum sang Mama berteriak kembali.


''Ini sudah siang, kenapa kalian berdua belum juga turun dan sarapan,'' Mama Clara mencecar dengan pertanya'an yang sedari tadi sudah ia tahan.


''Devano baru bangun Ma, dan kenapa Mama baru bangunin Devano sekarang?'' yukas nya dengan merapikan kaos nya.


Mama Clara melongo ke dalam kamar, di mana di sana sudah rapi, karena sebelum memakai baju? Devano memilih mengganti sprei yang ada noda darah nya dengan sprei yang baru.


''Menantu Mama di mana?'' tanya nya masih melongo ke dalam.


''Lini masih di kamar mandi Ma, sudah lah Ma, mending Mama tunggu di bawah saja, sebentar lagi Devano dan Lini akan turun kok,'' secara tidak langsung Devano sudah mengusir sang Mama dari depan kamar nya.


Mama Clara mengerti dan tersenyum, karena melihat wajah sumringah putera nya. ''Ya sudah Mama tunggu di bawah saja,'' ungkap dengan berbalik badan dan melangkah pergi dari hadapan putera nya.


''Semoga di rumah ini cepat hadir seorang malaikat kecil, yang membuat rumah ini semakin rame dan hidup kembali.


Mahalini keluar dari kamar mandi dengan tertatih, karena masih terasa nyeri di **** ***** nya. Devano yang melihat Mahalini sudah keluar dari kamar mandi segera menghampiri nya dengan membawa sebuah paperback yang berisi baju Mahalini, tadi Mama Clara datang untuk memberikan paperback yang di pesan oleh Devano kepada seorang tangan kanan nya, dan ternyata Mama Clara lah yang menerima paperback tersebut dan memberikan nya kepada Devano.


''Kenapa jalan nya seperti siput githu sich,'' tanya Devano yang memang tidak paham dengan Mahalini yang berjalan sedikit mengangkang.


''Ini gara gara mas Vano tau nggak sich, jadi jangan salahkan Lini kalau jalan seperti ini,'' jawab nya dengan ketus.


Devano terkekeh geli dengan ucapan ketus istri nya, ''Ternyata kamu juga bisa marah ya,'' ucap nya dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya.


Mahalini terpukau dengan suaminya, selama ini dia tidak pernah melihat sang suami tertawa lepas seperti itu, meski tersenyum tapi semua senyuman nya hanya karena terpaksa saja.


''Kenapa kamu melihat ku seperti itu,''


''Aku agak kaget saja, ketika melihat Mas Devan tersenyum lepas seperti tadi,'' jawab nya dengan lembut, tapi tak lama kemudian Mahalini menuntut kepalanya, karena malu dengan semua ucapan kepada suaminya.


'Apa setelah ini, aku akan berpisah atau akan terus di samping Mas Devan,' lirih nya dengan mata yang sudah berkaca kaca, mengingat dirinya kini sudah tidak perawan lagi.


''Heyyy, kamu kenapa?'' tanya nya lagi dengan mendongakkan kepala Mahalini, agar dia bisa menatap wajah cantik sang istri.


''Lini hanya memikirkan kerja'an Mahalini saja Mas, Lini takut di pecat dari sana dan itu akan susah mencari pekerja'an lagi,'' ungkap nya dengan sedikit berbohong, karena yang sebenarnya bukan masalah pekerja'an nya yang kini tengah ia pikirkan, tapi nasib nya sebagai seorang istri.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih🙏💕🙏💕🙏💕


__ADS_2