Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 35. Kekonyolan Mahalini


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang dengan merdu, Mahalini bangun dari tidurnya seperti biasanya, ketika masih berada di rumah sebelum sebelumnya. Dia tidak ingat kalau dirinya saat ini tinggal di rumah kakek dari suaminya, sedangkan Mahalini tidak membawa mukenah nya ketika waktu kemarin di jemput dari rumah sederhana nya.


Mahalini menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku, namun dirinya di kejutkan oleh sesuatu yang ia senggol dengan lengan nya.


Mahalini mengucek matanya, melihat ke sebelah nya yang terdapat Devano yang tertidur pulas tepat di samping nya.


''Astaghfirullah hal adzim,'' Mahalini sangat terkejut, ketika melihat wajah Devano hanya berjarak sejengkal saja, makan dari itu Mahaliy spontan mengucapkan kata istighfar, sehingga membuat Devano terkejut dan membuka matanya seraya berkata.


''Apa sich berisik banget?'' kata Devano ketus, karena tidurnya terganggu dengan ucapan Mahalini barusan.


''Perasa'an semalam Lini kan? tidur di bawah, tapi kenapa sekarang sudah ada di atas tempat tidur saja,'' gumam nya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Devano yang ada di samping nya.


''Iya, kamu tidur nya kayak kebo, aku bopong saja kamu sudah kayak orang mati,'' sahut Devano dengan kesal.


Devano berbalik membelakangi Mahalini yang masih terkejut dengan keada'an nya sekarang ini. Mahalini mengingat kembali dirinya yang tidur hanya menggelar selimut saja di lantai.


Dia bergegas melihat tempat dia tidur semalam yang ternyata masih tergeletak jelas di bawah. ''Sudahlah, bodo amat! kenapa aku harus memikirkan ini semua sich, sedangkan aku tidak apa apa malam tadi,'' gumam nya sembari beranjak dari tempat tidur nya.


Devano yang merasakan Mahalini turun dari tempat tidur nya langsung bertanya sambil berbalik menatap ke arah Mahalini. ''Mau kemana kamu pagi pagi gini?'' tanyanya penasaran, karena ini masih subuh dan itu masih terlalu pagi untuk bersiap bekerja.


''Maaf Tuan, saya mau ke kamar mandi dan menunaikan sholat subuh juga,'' jawab Lini dengan lembut dan masih dengan suara khas bangun tidur. Membuat Devano meremang mendengar suara serak Mahalini yang begitu menggoda.

__ADS_1


'Sial!! kenapa suaranya membuat ku menjadi tergila-gila sama dia sich,' batin nya yang langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain nya.


Kesadaran Devano sudah 100% terkumpul, dan ketika melihat ke arah di mana Mahalini tadi berada sudah tidak menemukan lagi sosok wanita yang sudah membuat paginya menderita. Namun sekilas Devano melirik ke arah kamar mandi yang mendengar suara gemericik air di dalam nya.


''Ach, aku lupa nggak bawa mukenah kesini?'' gumam nya pelan setelah menyadari kalau dirinya tidak ada mukenah.


''Tuan, bisakah saya meminjam mukenah Bibi yang bekerja di rumah ini, karena Lini lupa tidak membawa mukenah kemarin, saking buru buru berangkat ke sini,'' jelas Mahalini tanpa ada sedikit rasa malu kepada bos sekaligus merangkap sebagai suaminya.


Devano melihat wajah Mahalini yang setengah memohon kepadanya di buat gemas, dan akhirnya Devano beranjak dari tidur nya, dia lalu berjalan ke arah lemari? terlihat Devano mengambil bungkusan yang masih terlihat begitu rapi, karena sangat empu belum membuka sama sekali sejak kemarin.


''Ini punya kamu, cepatlah sholat nanti keburu habis waktunya,'' kata Devano memberikan bungkusan tersebut kepada Mahalini, karena itu adalah hak Mahalini.


''Buka saja, tak usah mengumpat ku,'' ujar Devano yang kini sudah kembali ke ranjangnya, dia masih sangat mengantuk setelah tidur ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


Mahalini membuka bungkusan tersebut dan dia begitu sangat kaget dengan apa yang ia lihat di dalam bungkusan tersebut, di mana di sana terdapat mukenah, sajadah, tasbih dan juga Al-Quran kecil yang sangat bagus dan juga lucu, menurut Mahalini.


Iyalah, isinya seperti itu. Kan seperangkat alat sholat, jadi harus lengkap semuanya di dalam nya kan, gimana sich Lini, hehehe.


Tanpa babibu lagi Mahalini segera memakai mukenah tersebut dan menggelar sajadah nya, Mahalini tidak mau membuang buang waktu lagi untuk melaksanakan sholat subuh nya, sedangkan Devano masih menatap Mahalini yang sudah mulai melaksanakan sholat subuh nya.


'Harusnya aku menjadi imam yang baik buat dia, tapi aku masih ngantuk dan juga capek setelah acara kemarin,' kata Devano dalam hatinya.

__ADS_1


Selesai nya sholat Mahalini berdo'a sebentar dan melanjutkan membaca Al-Quran yang baru di dapat nya. Terlihat Mahalini sangat senang hanya mendapatkan sebuah Al-Quran yang bagi Devano sangatlah biasa saja. Tapi tidak untuk Mahalini yang begitu bahagia mendapatkan benda kecil namun sangat mulia tersebut.


Mahalini sengaja membaca beberapa surat di dalam nya, sebelum dia turun ke lantai bawah untuk sekedar membantu para pelayanan yang sudah bergelut dengan alat masaknya dan juga sayur-sayuran, yang akan mereka masak untuk sarapan pagi ini.


''sangat merdu,'' kata yang tidak sengaja keluar begitu saja dari bibir Devano.


Devano terus menatap ke arah Mahalini, yang masih setia duduk di bawah hanya beralaskan sajadah kecil pemberian nya, ketika Mahalini akan berdiri Devano pura pura memejamkan matanya, agar dia tidak merasa malu karena sudah ketahuan memperhatikan Mahalini sejak tadi.


Mahalini menaruh mukenah dan yang lain nya di atas nakas, dan diapun segera turun dari kamarnya menuju dapur yang sudah sangat ramai dengan para pelayan dan juga Koki di sana.


''Pagi Nona,'' sapa kepala pelayan dengan ramah.


''Pagi Pak, apa saya bisa ikut memasak di dapur ini,'' tanya Mahalini setelah menjawab sapa'an dari kepala pelayan.


''Maaf Nona muda, lebih baik Nona muda kembali saja ke kamar, pekerja'an ini akan cepat selesai? karena sudah di kerjakan oleh para ahli nya,'' cegah kepala pelayan tersebut, karena dia tidak ingin melihat Tuan besarnya marah, karena harus melihat cucu menantunya yang berada di dapur.


Mahalini cemberut dan langsung beranjak pergi, namun bukan pergi ke kamar nya, melainkan dia pergi ke halaman belakang nya, dia berlari mengitari halaman belakang yang terbilang sangat luas, sehingga hanya 5 kali putaran saja, Mahalini sudah ngos ngosan di buatnya.


''Hanya lima kali putaran saja, sudah begini? apa, aku bertambah gemuk ya kok kayaknya aku tidak seperti biasanya sich?'' pikir nya dengan mengatur nafas yang masih tersengal sengal.


''Kayak mulai besok aku harus melakukan diet ketat, agar tubuhku tetap kurus,'' lagi lagi Mahalini berpikir demikian, padahal halaman nya saja yang terlalu luas, sehingga membuat si pelari merasakan capek dan lelah janya dengan berlari dengan beberapa kali putaran saja.

__ADS_1


__ADS_2