Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 76.


__ADS_3

Seperti biasanya Mahalini mengerjakan semua pekerja'an nya dengan senyuman, walaupun itu semua harus di jaga ketat oleh Mama Clara sang mertua, namun Mama Clara juga tidak ingin terlalu menekan Mahalini agar meninggalkan semua kegiatan nya.


''Sayang, kamu sudah minum obat?'' tanya Mama Clara ketika sudah berada di dapur.


''Belum Ma, sebentar lagi,'' jawab nya dengan lembut.


''Sayang, minum dulu obat nya,'' kata Devano tiba tiba, dengan memberikan obat dan juga segelas air putih hangat kepada Mahalini.


''Mas, Lini bisa ambil sendiri, dan bukan nya Mas Vano bekerja saat ini?'' tanya nya dengan nada menyelidik.


''Iya, Mas kerja kok? tapi Mas sengaja pulang karena ingin makan siang dengan kamu juga,'' jawab nya dengan penuh perhatian. ''Minumlah sayang?'' tambah nya lagi, Mahalini mengambil obat dari tangan suaminya, seraya mengucapkan terima kasih.


''Terima kasih Mas Vano,'' ucap nya mengulas senyum bahagia nya.


Devano membalas senyuman sang istri, betapa bahagia nya Devano melihat senyuman manis yang terpangpang di bibir ranum nya.


Devano juga sempat mencicipi kue buatan Mahalini yang akan di antarkan sore ini ke toko kue Bu Savitri.


''Ini, kue pesanan Bu Savitri hari ini,'' tanya nya dengan menunjuk ke arah kue yang sudah selesai.


''Iya Mas, nanti Lini akan minta anter sopir Mama untuk mengantarkan kue kue ini,'' jawab nya dengan kembali mengemas kue yang sudah dingin.


''Biarkan Mang dadang saja yang mengantar semua kue ini ke sana sayang, kamu tidak boleh capek,'' kata Devano mengingat kan sang istri.


''Lini tuh sebenarnya tidak capek Mas, sedari tadi Lini cuma memberi arahan kepada mbak mbak di sini Mas,'' ucap nya pelan.


''Lini hanya bertugas meng absen bahan apa saja yang akan di masukkan ke dalam baskom, dan mbak mbak nya yang ngadepin semua nya,'' jelas nya, ketika Mahalini melihat suaminya hanya mengernyit dahinya, karena tidak mengerti dengan ucapan nya.


''Jadi semua ini yang bikin bukan kamu?'' tanya nya lagi.


''Bukan Mas, Linincuma masukin bahan bahan ke dalam baskom, setelah itu mbak dan juga Bibi yang bantuin ngadepin dan meng oven semua nya,'' tambah nya lagi, yang di angguki oleh Devano.

__ADS_1


''Tapi rasanya sama kok?''


Mahalini yang malas berdebat hanya menggeleng pelan sembarinterus mengemas kue kue yang mau di antarkan ke toko milik Bu Savitri.


Pesanan hari ini sangat lah banyak, dan Mahalini merasa sangat bersyukur ketika semua orang bisa di mintai tolong oleh nya, sehingga dia tidak merasa capek sama sekali dalam membuat pesanan kue kue milik nya.


Semenjak Mahalini hamil Devano sangat posesif dengan sang istri, Mahalini selalu di jaga ketat oleh suami nya, dan Devano juga sebisa mungkin pulang ke rumah disaat jam istirahat, seperti hari ini dia menyempatkan diri untuk pulang ke rumah nya, untuk memantau secara langsung? pekerja'an sang istri yang sedang membuat kue pesanan dari beberapa orang, melewati Bu Savitri.


Kehamilan Mahalini termasuk golongan ternyaman untuk semua Ibu Ibu hamil, karena Mahalini tidak mengalami yang namanya mual muntah, hanya yang di alamai oleh Mahalini adalah pusing dan juga kepala nya yang sangat sakit.


Beberapa kue yang sudah selesai di kelas, segera di antar oleh sopir Mama Clara, seperti kemauan Devano tadi. Mahalini hanya manut dan dia tidak ingin menentang apa yang di ucapkan oleh suami nya.


...****************...


Di Toko kue Bu Savitri sudah menunggu kedatangan sopir yang di perintahkan untuk mengantarkan pesanan kue kue nya.


''Mang Dadang,'' tanya Bu Savitri ketika melihat mobil masuk dan melihat seorang laki-laki paruh baya berjalan menghampiri nya.


''Iya Bu, saya Dadang? saya di suruh Nona Mahalini untuk mengantarkan kue ini ke sini,'' jawab nya dengan sopan.


''Sama sama Bu,'' jawab nya lagi.


''Arief dan Hidayat, bantuin Ibu ngangkatin kue kue ini ke dalam,'' panggil nya dengan sedikit keras, karena keberada'an kedua karyawan nya ada di dalam toko.


''Iya Bu,'' jawab nya dengan balik teriak dan segera berlari keluar toko, menghampiri mobil Mahalini yang terparkir di depan toko Bu Savitri.


Mereka berdua menurunkan semua kue kue dari dalam mobil, Mang Dadang juga ikut membantu kedua karyawan mengangkat kue di bawa masuk.


''Sebagian taruh sini, dan sebagian lagi kalian berdua antarkan ke alamat yang sudah ada di HP masing-masing,'' kata Bu Savitri ketika melihat kedua karyawan nya melangkah masuk dan menaruh semua kue tersebut.


Sedangkan ketiga karyawati nya, juga ikut memisahkan kue yang akan di antarkan kepada beberapa costumer yang sudah memesan.

__ADS_1


''Ech, sejak Mbak Lini titip kue di sini? toko kue Bu Savitri rame lagi ya,'' ucap salah satu karyawati yang tengah sibuk mengikat beberapa kue yang sudah di pisahkan dan akan segera di antarkan ke rumah para pelanggan nya. ''Iya, yang kamu katakan itu benar sekali, memang ya Mbak Lini membawa hoki buat kita kita di sini,'' sambung salah satu nya dengan memberikan alamat di atas kue yang akan di antarkan.


''Iya, kita sangat bersyukur, dengan adanya Mbak Lini toko kue ini kembali rame pengunjung,''


Mereka semua nya tengah senang dengan banyak nya kue kue yang mereka jual selama Mahalini menitipkan kue kue nya di sana, selain rasanya enak? kue Mahalini juga harga nya standart, dari kalangan bawah juga bisa membeli nya.


''Jangan ngobrol terus, cepat kerjakan semua nya, ini sudah hampir sore lho, dan kue kue itu sudah di tunggu oleh para costumer costumer lainnya,'' seru Arief mengagetkan ketiga teman nya.


''Bawel banget lho, ini juga sudah selesai? cepat antarkan sekarang, nanti kena semprot lagi sama Bu Dawiya tuh,'' memberikan 5 kotak kue pesanan kepada Arief.


''Sudah berangkat sekarang, nunggu apalagi coba,'' cibir nya.


''Nunggu ciuman kamu,'' jawab nya singkat, dengan tawa'an yang keras.


''Semprol lho,'' balas nya dengan melemparkan buku kearah Arief yang masih berdiam di depan nya.


Gelak tawa terdengar dari Arief yang sudah membawa lari kue kue yang akan ia antarkan kepada pelanggan nya sore ini.


''Ech kamu tau nggak, kalau Arief itu suka sama kamu tau nggak,'' ujar salah satu teman yang juga bekerja di Toko kue Bu Savitri.


''Sotoy lho, tau dari mana lho kalau Arief suka sama aku, dia itu tampan? lha aku jelek gini, mana ada yang suka sama aku,'' jawab nya miris.


Sebenarnya dia juga suka dengan rekan kerjanya, tapi dia juga sadar kalau dirinya sangat jelek dan tidak akan pantas dengan Arief yang orang nya sangat tampan dan juga coll.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2