
Sebelum sampai ke apartemen Devano, Mahalini meminta sang suami agar berhenti dulu di pasar dekat dari restoran tadi. Namun Devano tidak menggubris ucapan Mahalini, Devano malah membawa Mahalini ke sebuah Mall untuk berbelanja kebutuhan apartemen nya.
''Lebih bersih di sini,'' seru Devano ketika mobil sudah sampai di parkiran Mall. Mahalini hanya diam tak menjawab ucapan Devano.
''Ayo turun,'' ajak Devano yang masih terlihat hanya diam saja, sedangkan Mahalini sendiri sedikit menahan perut nya yang sedikit sakit.
Mahalini hanya mengikuti dari belakang, sesekali Mahalini memegang perutnya yang terasa semakin sakit, mungkin karena efek tamu bulanan nya kali ya.
''Apa Tuan tidak malu belanja bersama saya di Mall ini,'' tanya Mahalini tiba-tiba, seraya bersikap biasa tanpa memperlihatkan rasa sakitnya yang ia rasakan saat ini.
''Kenapa harus malu,'' jawab Devano datar dan tanpa menoleh ke belakang, di mana Mahalini berada.
Dengan cepat Mahalini belanja mengambil bahan bahan yang di perlukan saja, karena perutnya yang semakin sakit.
''Yakin, hanya mau belanja ini saja,'' tanya Devano cepat, menatap troli yang hanya berisi beberapa belanja'an saja.
''Besok besok Lini yang belanja sendiri saja Tuan, kalau boleh? Lini juga ingin cepat pulang,'' pinta Mahalini membuat Devano mengerutkan kening nya karena Mahalini tidak seantusia yang ia bayangkan sebelumnya.
''Ya sudah, kita bawa ke kasir belanja'an nya,'' sahut Devano yang di angguki oleh Mahalini.
''Maaf, Tuan saja yang ke kasir, masih ada barang saya akan beli di tempat lain,'' kata Mahalini yang langsung berjalan dengan cepat tanpa menunggu jawaban Devano.
Mahalini berjalan menuju ke rak tempat pembalut, karena dia mengingat tidak memiliki stok di rumah nya. Devano hanya mengangkat satu alisnya melihat Mahalini ke tempat roti tawar yang tak bisa di makan itu.
Devano yang sudah selesai dengan membayar belanja'an nya menunggu Mahalini di luar. Mahalini membawa kantong yang berisi dia pak pembalut di dalam nya.
''Sudah,'' tanya Devano dingin.
Mahalini mengangguk dan menyodorkan minuman dingin kepada sang Tuan, berharap Tuan nya tidak memarahinya. Sedangkan Mahalini tengah memegang botol minuman yang tidak pernah Devano lihat sebelum nya.
__ADS_1
Ya iyalah, mana pernah Devano minum yang seperti itu? kan itu hanya minuman buat wanita datang bulan saja🤦♀️🤦♀️.
...****************...
Almira dan Mama Agnes kini tengah di landa kegalauan, karena Almira sudah di tolak secara mentah mentah oleh sang Tuan Muda yang berparas tampan dan juga kaya raya, sedangkan Mama Agnes sudah tidak pernah di hubungi oleh suaminya, dan sudah beberapa bulan ini sang suami tidak pernah pulang ke rumah nya, hanya untuk sekedar menengok puteri dan putera nya juga.
Namun tanpa sepengetahuan Mama Agnes, Papa Setiawan hanya menyambangi Farel sang putera yang memang tinggal terpisah oleh Mama dan juga kakak nya.
''Kakak nggak ngerasa kalau akhir akhir Papa kamu tidak pernah pulang, apa dia sesibuk itu di perusaha'an nya ya,'' tanya Mama Agnes kepada Almira yang sedang memainkan ponselnya.
''Nggak tau lah Ma, yang penting Almira masih dapat transferan dara Papa itu sudah cukup, masalah Papa yang tidak pulang jangan di khawatirkan lagi dech, lagian siapa sich yang suka sama Papa yang sudah berumur itu,'' cetus nya tanpa berpikir kalau ucapan nya adalah menuju ke arah anak yang durhaka kepada ayah nya.
''Tapi Mama khawatir, Papa kamu punya selingkuhan di sana Kak, memang Papa tidak seganteng dulu? tapi dia sekarang sudah banyak uang, dan kalau semua itu sampai terjadi bisa bisa uang bulanan kita terpotong, karena Papa kamu punya selingkuhan di luaran sana,'' balas Mama Agnes yang membuat Almira berpikir cukup keras, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Mama nya.
''Yang di katakan Mama benar, tapi masak iya Papa masih doyan begituan sich, sudahlah Ma? jangan bikin aku tambah puyeng dengan urusan Mama dan Papa, aku mau tidur ngantuk,'' pungkasnya dan meninggalkan sang Mama yang masih diam di sofa ruang keluarga nya.
Di sisi lain Mahalini tengah meringkuk di kasur nya, setelah dia membereskan barang belanja'an nya ke dalam lemari pendingin, Mahalini tidak mengatakan kalau dirinya tengah menahan sakit di perutnya. ''Aku harus cepat sembuh, agar besok bisa bekerja lagi,'' gumam nya sembari menekan perutnya yang sakit.
''Bos, kamu tidak pulang?'' tanya Riki ketika masih melihat Devano berada di dalam ruangan nya.
''Aku harus menyelesaikan ini dulu,'' balasnya cepat dan kembali menatap layar laptop yang masih menyala.
''Aku temani saja dech, aku takut pengantin baru ini sampai larut malam di sini,'' Ujar Riki yang langsung mendapatkan lemparan pensil dari Devano.
''Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku hanya ingin menyelesaikan ini dulu,'' jawab Devano seraya mengetik keyboard di laptop nya.
Riki benar-benar membantu pekerja'an Devano, agar sahabat nya bisa cepat pulang dan berkumpul dengan sang istri.
Beberapa jam sudah berlalu dan kini semua pekerja'an Devano sudah selesai semua nya, tinggal membereskan sisa sisa kekacauan yang di buat sendiri.
__ADS_1
''Akhirnya selesai juga,'' seru Riki dengan merentangkan kedua tangan nya ke samping kiri dan kanan.
''Ayo pulang sekarang,'' ajak Devano seraya beranjak dari duduk nya dan mengambil jas yang ia sampirkan ke sandaran kursi kerjanya.
''Bagaimana kabar Mahalini sekarang,'' tanya Riki yang berbasa basi kepada sahabat nya, sekaligus bos tempat ia bekerja.
''Tadi sich baik baik saja, entah sekarang aku juga belum tau, tapi aku harap dia baik baik saja di apartemen,''
''Aku harap kamu menjaga Mahalini dengan sangat baik Van, aku khawatir Mama dan juga kakak angkat nya berbuat macam macam sama dia,'' Riki mengingat kan sahabat nya agar dia lebih waspada lagi dalam menjaga istri nya.
Riki tak mengetahui yang sebenarnya, tentang Devano dan juga Mahalini. Yang Riki ketahui hanyalah pernikahan kilat dan tanpa di dasari cinta, tapi di balik semua itu ada surat perjanjian nikah kontrak yang tidak di ketahui oleh semua orang, termasuk sahabat nya sendiri.
''Pelan pelan bawa mobilnya, dan aku harap kamu bisa mencintai Mahalini dan juga menyayangi dia, dan misalkan kamu sudah bosan dengan nya? aku masih bisa menerima Mahalini untuk menjadi istri ku kelak,'' Ujar Riki menggoda sang sahabat.
''Breng**sek lho,'' Devano melemparkan jas ke arah Riki yang sudah kabur karena ucapannya yang berniat menggoda sahabat nya.
Devano kesal dengan ucapan sang asisten yang mengatakan akan menerima istri nya di kala Devano sudah merasa bosan.
''Shiitt,'' Devano meninju kemudi nya mengingat ucapan sahabat nya tadi.
Devano tidak terima dengan perkata'an yang di lontarkan sahabat nya, namun Devano sendiri tidak bisa berbuat apa apa dengan semua itu, karena dia terikat dengan kontrak pernikahan nya bersama Mahalini.
Di dalam surat terdapat beberapa poin yang tidak memperbolehkan mengurusi urusan masing-masing, baik Devano maupun Mahalini tidak boleh ikut campur.
Awalnya Devano bersikap biasa saja kepada Mahalini, tapi semakin kesini Devano merasa sangat tergantung dengan Mahalini, ya walaupun mereka hanya kemarin menikah, tapi sebenarnya Devano merasa bahagia ketika Mahalini tinggal di apartemen bersama nya.
Bayangan bayang Mahalini terlintas di benak Devano, membuat Devano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi nya, agar dia cepat bertemu dengan wanita cantik yang sudah berstatus sebagai istri nya.
Peejalan dari perusaha'an hanya di tempuh 20 menit saja, Devano menekan kode pin yang ada di pintu masuk nya, sepi dan juga gelap, ketika Devano sudah berada di dalam apartemen nya.
__ADS_1
''Kemana dia,'' gumam Devano menyalakan lampu di dalam, Devano berjalan menuju kamar Mahalini yang juga dalam keada'an gelap gulita, karena lampu di kamar Mahalini juga tidak menyala
''Apa dia sudah tidur di jam segini ya,'' tukas nya dan berjalan menuju kamar nya, namun langkah Devano teehenti ketika mendengar suara rintihan Mahalini dari dalam, Devano mengurungkan niat nya dan berjalan masuk ke dalam kamar sangat istri, tak lupa Devano menyalakan lampu di kamar Mahalini.