
Pak Djarot dan istrinya sedang meracik bumbu untuk rujak buah nya, sedangkan beberapa pegawai lain nya membantu mengupas buah yang akan di jadikan rujak tersebut.
Ada beberapa buah yang sedang mereka kupas, dan ada juga yang langsung mencuci buah nya, lalu di itis seperti yang di tunjuk kan oleh Pak Djarot kepada rekan kerjanya.
''Seperti inikan Pak istisan buah nya,'' tanya Santi, mengangkat tangan nya ke atasan, agar Pak Djarot melihat buah yang sudah ia Iris.
''Iya, nggak apa apa juga meski tidak sama, terserah kamu saja ezt, asal tidak terlalu besar saja irisan nya,'' sahut nya dengan terus menggiling bumbu kacang, karena terlalu banyak untuk di ulek pakek cobek, sedangkan mereka harus terburu buru karena di kejar waktu.
''Sebenarnya di giling seperti ini tidak apa apa tha Pak e,'' tanya sang istri, karena selama ini mereka berdua membuat bumbu kacang nya dengan di ulek pakek cobek.
''Tidak apa apa kok Bune, yang penting jangan terlalu halus saja giling kacang nya, agar kacang nya masih bisa terasa ketika di kunyah nanti,'' jawab Pak Djarot. ''Kalau pakek ulekan bisa telat kita nganterin pesanan nya, tapi beruntung banget ya kita Bune, masih bisa jualan rujak buah bikinan kita lagi, walau Bapak tidak keliling lagi,'' tambah nya lagi.
Sang istri yang selalu di panggil Bune hanya mengangguk pelan, dan menginyakan ucapan suaminyaa. ''Iya Pak e, tapi kalau kita jualan sendiri tidak akan mendapatkan banyak pesanan seperti sekarang ini Pak e, paling hanya 10- 20 box saja, kalau sekarang kan? alhamdulillah sampai 100 box Pak,''
''Bune benar, kita harus bekerja dengan sungguh sungguh di sini, neng Mahalini sudah sangat baik sama kita Bune, apalagi kita juga bisa tinggal di sini, bukan itu saja, kita juga di percayakan untuk menjaga rumah catering nya, walau di luar sudah ada seorang satpam,'' tutur nya mengingat kan sang istri, kalau dirinya sekarang bisa hidup enak berkat Mahalini dan juga keluarga nya.
Bune mengangguk pelan, seraya mengemas bumbu kacang yang sudah di giling ke dalam plastik 1/4, ''Pak, apa ini sudah cukup,'' tanya nya.
''Di kira kira saja Bune, kalau bumbunya kurang tinggal bikin lagi, kacang goreng nya masih banyak kok?'' jawab nya dengan mengulas senyum manis di bibir tuanya.
__ADS_1
''Nasi kotak nya sudah siap, tinggal rujak buah nya yang belum selesai? apa akan keburu ya,'' tanya Zarine sedikit cemas.
''Keburu kok Mbak, sedikit lagi selesai?'' sambung Afrilia dengan menunjuk box box yang sudah tertata rapi.
''Baguslah, jangan sampai kita kecewakan costumer kita, Mahalini sudah mempercayakan semua nya kepada kita, jadi kita kerjanya yang semangat oke,'' seru Zarine memberikan semangat kepada semua orang yang bekerja di rumah catering Mahalini.
''Iya kak, yang kamu bilang itu benar semua nya, Bos tidak pernah menegur kita sama sekali sedari kita mulai bekerja di sini,'' balas nya dengan memasukkan box box yang berisi rujak buah ke dalam kantong kresek yang cukup besar, agar bawanya lebih gampang.
Semuanya bekerja dengan rajin dan juga tidak ada pegawai yang saling nyuruh menyuruh, mereka semua tau apa yang harus ia kerjakan, meski tidak di beri tahu oleh teman kerja nya.
Mahalini adalah seorang wanita yang baik dan juga loyal kepada semua pegawai nya, dia tidak pernah berpangku tangan ketika ada salah satu karyawan nya sedang kesusahan. Maka dari itu? semua yang bekerja di sana tidak ada yang leyeh-leyeh,swmuanya giat dalam melakukan pekerja'an nya.
...**************** ...
Devano sedang sibuk dengan semua berkas berkas nya yang masih sangat banyak, sesekali Devano memejamkan matanya sejenak, mengingat sang istri masih terus sibuk dengan rumah catering nya, meskipun di sana swmua pekerja'an nya sudah di handle oleh Zarine sahabat nya, dan Mahalini juga mempercayakan semua kepada para koki, dalam hal memasak. Sedangkan Pak Djarot di sibukkan dengan rujak buah nya saat ini, sejak di tambahkan ke menu catering, rujak buah Pak Djarot sangat di minati oleh banyak orang,di tambah lagi semua masakan yang ada di rumah catering Mahalini, selalu di post oleh sebagian besar orang orang yang sudah berlangganan di sana, jadi banyak kemungkinan mereka juga sangat berpengaruh dengan kemajuan rumah catering Mahalini selama ini.
''Kenapa Bos?'' tanya Riki ketika masuk ke dalam ruangan Bos nya.
''Bisa tidak, kalau masuk ketuk pintu dulu,'' Ujar nya dengan melemparkan bolpoin nya ke arah sang asisten.
__ADS_1
''Lha, aku kan yang jadi sasaran nya, ada hal aku sudah mengetuk pintu sejak tadi, tapi tidak ada sahutan sama sekali, jadi aku langsung masuk saja, toh di sini tidak ada bos cantik kan?'' jawab Riki yang memang sejak tadi sudah mengetuk pintu ruangan Devano berkali kali, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari sang Bos besar nya.
''Sejak kapan kamu memanggil istri ku dengan sebutan Bos cantik?'' tanya Devano dengan mengerutkan kening nya, karena sang asisten tidak lagi menyebut Mahalini dengan sebutan Nona.
''Ya kan biar semakin akrab saja Bos, lagian Bos cantik tidak mau kok aku panggil dengan sebutan Nona, dia malah memintaku untuk memanggilnya dengan nama saja,'' cerita Riki kepada sang Bos.
''Ach sudahlah, istri ku memang seperti itu orang nya, dia tidak mau di panggil Nyonya ataupun Nona sekalipun, entahlah aku jadi bingung kalau mengajak Mahalini ke pertemuan, dan para istri klien ku memanggil dia Nyonya, tapi Mahalini selalu bilang, 'lebih baik panggil Lini saja biar lebih akrab,'' Devano menirukan kata kata istri nya ketika di ajak ke pertemuan, di mana di sana banyak istri kolega nya yang ikut datang.
''Ya terima saja lah Bos, Bos tau nggak? kalau Bos cantik itu selalu merendah di hadapan para istri klien Bos, makanya semua pada senang dengan keramahan dan rendah hati nya,'' papar nya dengan panjang lebar.
Devano hanya mengangguk pelan, dan juga membenarkan semua yang di katakan oleh sang asisten, 'Yang di katakan Riki memang benar semuanya, Mahalini memang sangat baik, para istri klien dan para koleganya sangat menghormati Mahalini dan juga sangat ramah dengan nya, tak ayal semua yang di lakukan boleh semua para istri istri pengusaha berbuat hal yang demikian, karena membalas perlakuan Mahalini yang begitu sangat baik, aku sangat bangga dengan mu sayang?' gumam Devano di dalam hatinya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.